
Bukannya mau bahagia di atas penderitaan orang lain, tetapi kata 'barang bekas' yang Kenzo luncurkan untuk Vera terdengar begitu manis di telinga Felicia. Bagaimana bisa Kenzo bersikap kejam pada perempuan yang pernah mengisi ruang di hatinya. Mungkin ini yang disebut dengan mencintai berakhir dengan membenci.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Suara dingin Kenzo membuyarkan renungan Felicia.
"Tidak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu saja," jawab Felicia.
"Kalau ingin melamun jangan di tempat umum," omel Kenzo.
"Memang kenapa? Tidak ada larangan tertulis 'Di Larang Melamun' di tempat ini," balas Felicia.
"Ya Tuhan." Kenzo menggeram tertahan untuk menahan rasa kesalnya.
"Felicia, apa kamu tidak dengar waiters ini sudah beberapa kali menanyakan kamu mau pesan makanan apa." Kenzo menunjuk seorang waiters yang berdiri di samping meja mereka.
Felicia menoleh ke arah waiters yang berdiri di samping mejanya. Ia tersenyum lucu dengan menunjukkan deretan giginya.
"Maaf," ucap Felicia.
"Tidak apa-apa, Bu." Waiters perempuan itu menyahut dengan menahan tawanya.
"Ibu mau pesan apa?" tanya waiters.
Felicia membuka buku menu yang ada di hadapannya. Dirinya berguman seraya membolak-balikkan buku menu yang ada di tangannya.
"Aku mau pesan ... Okonomiyaki, chicken teriyaki,tempura, moci, chicken katsu, tempura, onigiri, dan mie ramen. Untuk minumnya saya mau jus strawberry 2 gelas," jawab Felicia.
Mata Kenzo membulat dengan sempurna setelah mendengar berapa banyak makanan yang dipesan oleh istrinya.
"Sudah itu saja." Felicia memberikan buku menu kembali pada waiters.
Pandangan Felicia mengarah pada Kenzo, tetapi Felicia merasa bingung saat suaminya menatapnya dengan alis yang terangkat sebelah.
"Ada apa? Kenapa menatapmu dengan aneh seperti itu?" tanya Felicia.
"Apa makanan yang kamu pesan tidak kurang banyak?" tanya Kenzo.
Felicia mengerucutkan bibirnya, dirinya tahu jika pertanyaan suaminya itu ditujukan untuk menyindirnya.
"Suamiku, kamu tahu sekarang aku tidak makan untuk diriku sendiri, 'kan? Ada anak kamu di perutku," jelas Felicia.
"Tapi tidak sebanyak itu juga," omel Kenzo.
"Kamu berjanji akan memberikan apapun yang anakmu mau dan itu semua yang anakmu inginkan saat ini," ucap Felicia.
"Alasan," ucap Kenzo.
"Jangan marah-marah, lebih baik kamu pesan makanan yang ingin kamu makan," ucap Felicia.
Kenzo hanya mampu menghela napas saat istrinya berusaha menguji kesabarannya. Pandangan Kenzo mengarah pada waiters yang dengan sabar menonton perdebatan dirinya dan sang istri.
"Mba, berikan aku satu porsi chicken katsu dan untuk minumannya berikan aku jus jeruk saja," ucap Kenzo.
__ADS_1
"Baik, Pak." Waiters itu mencatat makan yang Kenzo pesan. Setelah membaca ulang makanan yang suami-istri itu pesan waiters itu pergi. Namun, baru saja akan berbalik Felicia memanggilnya.
"Mba," panggil Felicia.
Waiters tersebut kembali menoleh ke Felicia. "Ya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"
"Aku minta satu porsi sushi untuk dibungkus," ujar Felicia.
"Baik, Bu," sahut waiters.
"Sudah atau ada lagi yang ingin kamu pesan?" tanya Kenzo.
"Ya hanya itu saja. Tapi aku tidak tahu nanti," jawab Felicia dengan entengnya.
Lain halnya dengan waiters yang mencoba menahan tawanya. Kenzo justru sedang menahan rasa kesalnya.
"Berikan apa saja yang ingin istriku pesan." Kenzo berucap pada waiters dengan menahan rasa kesalnya.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap waiters.
Beberapa saat setelah menunggu akhirnya semua pesanan yang Felicia dan Kenzo pesan datang. Begitu banyak makanan yang Felicia pesan membuat meja mereka penuh di dengan makanan.
"Silakan dinikmati," ucap waiters yang sebelumnya melayaninya pemesanan mereka.
"Terimakasih banyak ya, Mba," ujar Felicia.
"Sama-sama, Bu." Setelah tugasnya selesai waiters itu meninggalkan meja yang menjadi tempat duduk Felicia dan Kenzo.
Kenzo tidak tahu apakah istrinya kesurupan atau memang wanita yang sedang hamil porsi makannya bertambah hingga semua makanan yang Felicia pesan masuk ke dalam perutnya dalam sekejap.
"Aku mau makan es krim," jawab Felicia.
Belum sempat Kenzo merespon keinginan istrinya ponselnya lebih dulu memanggilnya. Kenzo merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Ada nama Alan tertera di layar ponselnya.
"Tunggu sebentar," ucap Kenzo pada Felicia.
Felicia mengangguk untuk merespon perkataan Kenzo.
Felicia memilih untuk menikmati kue moci yang sebelumnya ia pesan sembari menunggu suaminya selesai bicara dengan seseorang yang ada di seberang telepon.
"Siapa yang telepon?" Felicia bertanya pada Kenzo setelah suaminya selesai bicara di telepon.
"Alan," jawab Kenzo.
"Ada apa? Apa dia merindukanmu?" ledek Felicia.
"Jangan konyol." Kenzo mengukir senyuman tipis di bibirnya.
"Ada panggilan darurat. Aku harus segera kembali ke kantor," ucap Kenzo. "Apa makan es krimmu bisa ditunda dulu?"
Felicia mengangguk. "Tidak masalah."
__ADS_1
"Kamu mau aku antar ke kantor atau pulang ke rumah," tanya Kenzo.
"Aku mau pulang saja. Biar Gavindra pusing sendiri memikirkan pekerjaannya," ucap Felicia diikuti tawanya.
"Tapi kamu tidak usah mengantarku. Kamu akan bolak-balik nanti. Aku akan naik taksi sendiri," ucap Felicia.
"Aku tidak mengizinkannya. Kamu tidak akan percaya jika kamu akan langsung pulang," tuduh Kenzo.
Padahal dalam hatinya, Kenzo mengkhawatirkan keamanan istrinya. Semenjak Kenzo tahu mengenai kehamilan istrinya, dirinya selalu mencemaskan keselamatan sang istri. Hanya saja Kenzo malu untuk mengakuinya.
"Aku lelah dan sedikit mengantuk, pasti aku akan langsung pulang," ucap Felicia.
"Aku tetap tidak akan mengizinkannya. Aku akan meminta salah satu orangku untuk mengantarmu pulang," ucap Kenzo.
"Baiklah terserah padamu saja," ucap Felicia.
Ya ampun posesif sekali dia.
Kenzo memanggil salah seorang pelayan di restoran itu untuk meminta tagihan makan yang mereka pesan. Setelah membayar semuanya keduanya beranjak dari tempat mereka untuk meninggalkan restoran.
Kenzo sudah menghubungi salah satu anak buahnya untuk datang ke pusat perbelanjaan itu. Ia tidak akan membiarkan istrinya untuk pulang sendiri. Keamanan istri dan calon anak mereka adalah yang paling utama.
Sepanjang perjalanan mereka ke lobby tangan Kenzo tidak jauh dari pinggang istrinya, membuat banyak pasang mata yang merasa iri melihat kemesraan mereka. Kenzo dan Felicia tidak mempedulikan tatapan semua orang, mereka tetap merasa nyaman dengan kedekatan mereka.
"Kenzo," panggil Felicia tanpa menghentikan langkahnya.
"Hmm, ada apa?" tanya Kenzo.
"Apa kata-katamu tadi tidak keterlaluan pada Vera?" tanya Felicia.
Sebenarnya Kenzo juga sadar ucapannya pasti sangat menyakiti hati Vera, tetapi mungkin dengan itu Vera akan sadar jika mereka tidak akan lagi bisa bersama.
"Kadang kita harus bicara kasar untuk membuat seseorang mengerti, Feli," jawab Kenzo.
"Iya benar juga sih." Felicia bicara seraya menganggukkan kepalanya.
"Sudahlah jangan bahas dia. Merusak suasana saja," ucap Kenzo seraya mengusap kepala istrinya.
Langkah mereka terhenti ketika sampai di lobby. Tidak lama menunggu mobil milik anak buah Kenzo sudah terlihat masuk ke area pusat perbelanjaan dan berhenti tepat di hadapan mereka.
Setelah mobil itu berhenti Kenzo membukakan pintu mobil penumpang belakang untuk Felicia.
"Kamu hati-hati di jalan. Kabari aku jika sudah sampai di rumah," pesan Kenzo.
"Iya, kamu juga hati-hati di jalan," balas Felicia.
Kenzo menarik tengkuk Felicia untuk mendaratkan kecupan di keningnya.
Felicia merasa terkejut dengan itu. Ia merasa malu saat banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka.
"Dasar tidak tahu malu. Ini di tempat umum." Felicia bicara setengah berbisik pada Kenzo.
__ADS_1
"Memang kenapa? Tidak ada tanda larangan tertulis di sini jika 'Di Larang Mencium Kening istri sendiri' di sekitar sini," balas Kenzo.
Apa yang bisa Felicia lakukan saat itu kecuali tersenyum malu dan salah tingkah.