
“Aku mencintaimu.” Flora berbisik lalu mendaratkan kecupan di pipi Gio.
Gio menjauhkan wajahnya agar bisa melihat wajah istrinya dengan jelas.
“Jangan merayuku di sini, Sayangku,” goda Gio.
“Kamu ini ....” Flora selalu saja kehabisan kata-katanya jika sudah berbicara dengan Gio.
“Sudahlah ayo kita keluar. Aku merasa tidak enak jika kita terlalu lama berada di sini,” ajak Flora.
“Ayo kita lanjutkan saja di rumah, di kamar kita bisa lebih bebas bermesraan,” ucap Gio disusul gelengan kepala Flora.
Flora yakin kebahagiannya tidak akan pernah hilang jika Gio sudah kembali di sisinya. Suaminya itu selalu tahu bagaimana caranya membuat dirinya tertawa dan melupakan kesedihannya.
“Terima kasih,” ucap Flora setelah menerima obat untuk suaminya dari apotik yang ada di dalam klinik itu.
“Sudah dapatkan obatnya?” tanya Gio.
Flora mengangguk. “Ayo kita pulang. Kamu tidak bisa kembali ke kantor dalam keadaan seperti ini.”
Kini giliran Gio yang mengangguk. Keduanya keluar dari klinik 24 jam itu menuju ke mobil mereka. Langkah mereka terhenti saat melihat Vera berdiri di samping mobil mereka.
Keduanya kembali melangkah untuk menghampiri Vera.
“Hai, jadi ... kamu Vera? Istrinya Elang?” tanya Flora.
“Ya,” jawab Vera.
Pandangan Vera beralih pada Gio. Wajahnya memang sangat mirip dengan Elang, suaminya.
“Apa dia suamimu?” tanya Vera.
“Ya,” jawab Flora. “Kenalkan dia Gio,” ucap Flora.
Gio dan Vera berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri mereka.
“Gio.”
“Vera.”
Mendadak timbul rasa cemburu dan kekhawatiran pada diri Flora. Akankah Vera juga mengira jika Gio adalah suaminya?
“Bella benar-benar sudah gila,” ucap Vera. “Dia begitu terobsesi dengan Elang hingga menjadikan suamimu seperti Elang.”
“Jujur kami terkejut melihat Bella seperti itu tadi. Aku pikir Bella adalah perempuan yang baik,” ucap Flora. “Aku sangat berhutang budi padanya karena sudah menolong suamiku. Tapi tenyata akhirnya jadi seperti ini,” ucap Flora.
“Aku juga merasa sangat kasihan padanya. Cintanya tidak terbalas menjadikan dia seperti itu,” ucap Vera.
“Emmm ... Vera aku minta maaf sudah merepotkanmu. Membuatmu datang jauh-jauh hanya untuk membantu masalah rumah tangga kami,” ucap Flora.
__ADS_1
“Harusnya aku yang minta maaf. Karena masa laluku dengan Bella, kalian mendapat masalah seperti ini,” ucap Vera.
“Lalu wajah mendiang suamimu ini ....” Flora berkata dengan penuh rasa keraguan.
“Wajahnya memang mirip, tapi dia bukan suamiku. Aku sadar suamiku memang sudah tiada,” ucap Vera. “Aku sudah ikhlas, lagi pula aku akan menempuh hidup baru bersama pria lain.”
“Selamat untukmu,” ucap Flora dan Gio bersamaan.
“Baiklah, aku harus pergi,” pamit Vera.
“Pergi? Kenapa terburu-buru?” tanya Flora. “Tinggallah di sini untuk beberapa hari,” pinta Flora.
“Tidak bisa, aku masih banyak urusan. Aku berharap Bella gak menganggu kalian lagi,” ucap Vera.
“Kali ini aku gak akan tinggal diam jika Bella kembali mengusik rumah tangga kami lagi. Dia sudah dua kali melukai suamiku,” ucap Flora.
“Baiklah, jaga diri kalian. Sampai jumpa lagi.” Vera dan Flora saling mencium pipi kanan dan kiri satu sama lain.
“Kamu juga jaga dirimu baik-baik, Vera,” balas Flora. “Dan sekali lagi terimakasih banyak.”
Flora dan Gio melambaikan tangan mereka ke arah Vera yang sudah pergi bersama mobilnya.
“Ayo, kita juga harus pulang. Wajahmu terlihat sangat pucat,” ajak Gio.
“Ya, aku sedikit lelah,” ucap Flora.
Pasangan suami istri itu masuk ke dalam mobil yang sama. Mereka pergi meninggalkan tempat itu bersama dengan mobil mereka.
Tidak terasa satu bulan sudah berlalu. Masalah dengan Bella juga sudah terselesaikan. Kini Bella juga berada di rumah sakit jiwa untuk menjalani perawatan. Beruntung masalah mereka dengan Bella tidak mempengaruhi kerja sama antara perusahaannya dengan perusahan milik Mahendra.
Badai sudah berlalu kini Flora dan Gio menjalani rumah tangga mereka dengan tenang. Kebahagian selalu terasa di antara mereka. Apalagi dalam hitungan minggu, akan ada bayi kecil lahir yang akan melengkapi keluarga kecil mereka.
Jam sudah menunjukan pukul 7 pagi. Gio berdiri di depan cermin di dalam kamarnya. Dirinya sedang memakai kemeja kerjanya, tetapi matanya terus memandang Flora dan senyumnya tidak berhenti saat melihat wajah istrinya yang masih terlelap.
Setelah selesai memakai pakaiannya, Gio berjalan ke tempat tidur untuk membangunkan istri tercintanya.
“Sayang, bangun.” Gio mengusap sisi wajah Flora untuk membangunkan istrinya.
Mendengar suara suaminya, mata Flora mulai membuka. Setelah mengedipkan matanya beberapa kali, mata Flora pun akhirnya terbuka sempurna.
Yang pertama kali Flora lihat adalah senyum suaminya.
“Selamat pagi,” sapa Flora dengan senyumannya.
“Selamat pagi juga,” sapa balik Gio.
Flora bangun untuk mengambil posisi duduk. Tangannya menahan perutnya yang sudah makin terasa berat.
“Kamu kok sudah rapi saja?” tanya Flora. “Kamu kebiasaan deh gak mau bangunin aku.”
__ADS_1
Flora melipat kedua tangannya di depan dada seraya mengerucutkan bibirnya.
“Kamu sudah gak mau dilayani sama aku,” keluh Flora.
Gio tersenyum lalu duduk di hadapan istrinya. Satu kecupan Gio berikan di bibir istrinya.
“Bukan begitu, Sayangku. Aku kasihan sama kamu. Beberapa malam ini kamu susah tidur jadi aku gak tega untuk bangunin kamu,” ucap Gio.
Flora masih diam dengan memasang wajah masam kepada suaminya.
“Sudah jangan cemberut lagi, nanti cantiknya ilang loh,” ledek Gio. “Nih aku sisain dasinya biar kamu bisa pasangin.” Gio menunjukan dasi warna biru di tangannya kepada Flora.
Wajah masam Flora berubah sumringah. Mungkin bawaan bayi atau apa, Flora ingin selalu melayani suaminya. Jika tidak dirinya akan merasa kesal.
“Baiklah, sini.” Flora mengambil alih dasi dari tangan Gio, lalu melingkarkan dan mengikatkan dasi itu leher suaminya.
“Sudah selesai,” seru Flora.
“Terima kasih anak papa.” Gio mengecup perut Flora.
“Kok cuma anaknya doang yang dicium?” protes Flora. “Mamanya gak nih.” Flora kembali mengerucutkan bibirnya.
“Nih bibir minta dicium ya.” Gio mendaratkan kecupan di bibir Flora yang langsung membuat senyum Flora mengembang.
“Sudah atau mau yang lebih?” Gio mengigit bibir bawahnya untuk menggoda Flora.
Flora memutar bola matanya. Lalu menarik kedua sisi wajah suaminya. “Pagi-pagi jangan mesum.”
“Aku juga gak tahu, kalau deket sama kamu bawaannya pengin gigit mulu,” ucap Gio yang membuat Flora tertawa kecil.
“Aku ke kamar mandi dulu, setelah itu kita sarapan,” ucap Flora. “Kalau ngeladenin kamu gak akan ada habisnya.”
Flora beranjak dari atas tempat tidur. Satu tangannya memegangi perutnya yang besar dan terasa berat.
“Sini aku bantu.” Gio mengulurkan tangannya untuk membatu Flora berdiri.
“Apa rasanya sangat berat?” tanya Gio.
“Tentu saja. Tubuhku semakin gemuk dan perutku juga semakin besar,” ucap Flora.
Flora melangkah ke kamar mandi untuk sekedar mencuci wajah dan menggososok gigi. Selesai dengan itu Flora keluar dari kamar mandi, bersama dengan suaminya Flora pun keluar dari kamar itu.
“Pagi, Bu.” Flora dan Gio bersama-sama menyapa Seruni.
“Pagi, Nak,” balas Seruni. “Ayo kita sarapan. Ibu sudah siapin sarapan untuk kalian,” ucap Seruni.
“Asyik, nasi goreng,” seru Flora.
“Ayo duduk, Sayang.” Gio menarik kursi untuk tempat duduk Flora.
__ADS_1
Ketiganya duduk bersama di meja makan dan mulai sarapan bersama dengan hangat dan dengan suasana tenang.
Flora dan Gio juga selalu berharap rumah tangga mereka akan selalu tenang dan hangat seperti itu.