
Malam minggu adalah hari yang Flora tunggu. Rencananya Flora akan mengajak ibunya pergi ke pusat perbelanjaan. Selain mengajak ibunya berjalan-jalan, Flora juga akan menemani Tiara untuk berbelanja pakaian untuk calon anaknya.
"Ibu sudah siap?" tanya Flora.
"Sudah, Nak," sahut Seruni.
"Kita mampir dulu ke rumah mbak Tiara ya, Bu," ucap Flora.
Seruni mengangguki ucapan Flora. Flora lebih dulu keluar dari dalam rumah dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah kontrakan mereka. Sambil menunggu ibunya yang sedang mengunci pintu Flora mengirim pesan pada Tiara.
"Wah, seneng ya jadi Flora… punya bos yang baik, tidak pelit. Mobil juga dikasih." Flora menghentikan gerakan tubuhnya yang akan masuk ke dalam mobil saat telinganya mendengar sindiran ibu-ibu tukang gosip.
"Ya jelas 'kan Flora juga pinter merayu." Flora tahu ucapan dua ibu-ibu itu adalah sindiran bagi dirinya.
Flora ingin sekali mencakar wajah dan membungkam mulut ketiga ibu-ibu yang bergosip tentang dirinya.
"Flora …." Seruni mencegah Flora yang ingin membalas perkataan para tetangganya.
"Ya jelas Flora pintar merayu, lah wong ibunya juga hebat dalam hal merayu laki-laki," ucap salah satu dari ibu-ibu tukang gosip itu.
Sudah cukup! Flora sudah kehabisan kesabaran. Jika dirinya yang dihina ia masih bisa menahannya tetapi jika ibunya yang mereka hina, Flora sudah tidak bisa tinggal diam.
Flora menutup pintu mobilnya dengan sangat keras membuat Seruni dan tiga ibu-ibu itu terjengit kaget. Flora melangkah menghampiri ketiga ibu-ibu yang menghina ibunya dengan tatapan tajam.
"Apa kalian tidak bisa diam?" bentak Flora.
"Mulut-mulut kami, terserah kami mau bicara atau tidak," sahut salah satu ibu-ibu tukang gosip itu.
"Apa mulut kalian hanya bisa digunakan untuk membicarakan hal buruk tentang orang lain?" tanya Flora dengan nada yang mulai meninggi.
"Hei diam kau. Berani sekali kamu membentak orang yang lebih tua dari kamu. Apa ibu kamu itu tidak mengajarimu sopan santun?"
Teriakan salah satu ibu-ibu itu menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar mereka. Banyak orang berkerumun untuk melihat pertengkaran mereka.
"Apa kalian tidak malu mengatakan itu padaku? Siapa sebenarnya yang tidak punya sopan santun di sini … aku atau kalian?" tegas Flora.
"Flora … sudah, Nak … kita pergi saja dari sini," ajak Seruni.
Seruni meraih pundak Flora dan berniat untuk menjauhkan Flora dari ibu-ibu itu.
"Gak, Bu." Flora menyingkirkan tangan ibunya yang ada di pundaknya. "Mereka kalau didiemin malah jadi ngelunjak."
Bersyukur ada ibu Rt yang datang dan melerai pertengkaran itu.
__ADS_1
"Sudah, sudah, ini ada apa?" tanya seorang wanita yang menjabat sebagai ibu RT di kompleks tempat tinggal Flora.
Tidak ada yang menjawab. Ibu RT memandang Flora. Setelah itu ibu RT menghela nafas saat melihat tiga perempuan sebaya nya.
"Apa kalian tidak bosan menganggu Flora dan ibunya?" Ibu RT menggelengkan kepalanya pada tiga ibu-ibu yang ada di hadapannya.
Ketiganya hanya bisa mendengus dan ngedumel tidak jelas mendengar perkataan dari ibu RT.
"Dengar … jika kalian sekali lagi kalian berani menghina kami lagi … aku tidak akan segan-segan pada kalian," ancam Flora.
"Sabar Flora," ucap Seruni. Tangannya mengusap pundak Flora berharap bisa menenangkan menenangkan anaknya.
"Iya Nak Flora … sabar. Mereka akan senang jika melihat kamu marah seperti ini," sambung ibu RT.
"Ayo Flora … sebaiknya kita pergi!" ajak Seruni.
Flora berbalik dan kembali masuk ke dalam mobil lebih dahulu. Seruni hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat sikap anaknya.
"Maafin sikap Flora, Bu," ucap Seruni pada ibu RT.
"Tidak apa-apa, Bu Seruni." Ibu RT mengusap lengan Seruni.
Bersamaan dengan ibu RT yang pergi meninggalkan tempat itu, semua orang yang menonton pertengkaran itu juga membubarkan diri.
Seruni memberikan senyuman pada anaknya lalu mengusap sisi wajah anaknya.
"Anak ibu jelek lah kalau lagi marah begini," ledek Seruni.
Flora tidak ingin menyahut dirinya masih kesal dengan apa yang sudah dilakukan oleh ketiga ibu-ibu tetangga mereka. Flora tidak habis pikir kenapa mereka selalu saja mencari keributan dengan dirinya dan juga ibunya. Punya salah apa dirinya dan juga ibunya, Flora merasa tidak pernah mengusik kehidupan mereka.
"Sudah jangan dipikirkan, katanya mau jalan-jalan. Pasti Tiara juga sudah menunggu di rumahnya," bujuk Seruni.
Flora menganggukkan kepalanya untuk merespon perkataan ibunya. Dengan senyum tipis di bibirnya Flora menyalakan mesin mobil lalu melajukannya.
Mobil Flora berhenti tepat di depan rumah Tiara, Flora membunyikan klakson mobilnya untuk memberi isyarat jika dirinya sudah datang.
Tidak lama perempuan yang sudah ia anggap sebagai kakak perempuannya keluar dari dalam rumahnya. Perutnya sudah sangat membesar karena kehamilannya sudah memasuki bulan ke delapan.
"Flora kenapa lama sekali? Aku sudah menunggumu dari tadi," ucap Tiara setelah masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang belakang.
"Maaf Mbak … ada sedikit masalah tadi," sahut Flora.
"Tadi kamu yang ribut-ribut?" tanya Tiara.
__ADS_1
Flora mengangguk-anggukkan kepalanya seraya melajukan kembali mobilnya.
"Aku aneh sama mereka deh Mbak, kenapa mereka selalu mencari masalah dengan aku dan ibu?" keluh Flora.
"Paling mereka cuma sirik saja," sahut Tiara.
"Tapi lama-lama kalau mereka di diemin jadi ngelunjak," kesal Flora.
"Ya itu juga benar. Kadang-kadang kita juga harus melawan untuk membela diri," sambung Tiara. "Sudahlah lupakan mereka. Lebih baik kita bersenang-senang."
"Tiara benar, Nak. Kita lupakan saja, nanti kalau mereka sudah bosan juga mereka akan diam sendiri," ucap Seruni. "Kita diam bukan berarti kita kalah, 'kan."
"Iya, Bu," sahut Flora.
Flora kembali berkonsentrasi mengemudi. Malam Minggu membuat jalanan sangat macet. Flora harus berkali-kali berhenti karena padatnya jalanan kota itu.
Berulang kali Flora melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Seharusnya mereka sudah sampai di pusat perbelanjaan yang akan mereka tuju, namun mereka masih terjebak macet.
"Kapan ini akan berakhir," keluh Flora.
"Ya ampun sejak kapan kamu menjadi tidak sabaran begini, Flora?" ledek Tiara.
Flora memutar bola matanya merasa jengah karena sedari tadi Tiara dan ibunya tidak berhenti untuk menggodanya. Bersyukur kemacetan berakhir, Flora bisa melajukan mobilnya dengan lancar.
Gedung pusat perbelanjaan sudah ada di depan mata, Flora langsung membelokan laju mobilnya memasuki area pusat perbelanjaan. Setelah mobil Flora melaju melewati pintu masuk, segera Flora melajukan mobilnya untuk mencari tempat parkir yang kosong. Beruntung Flora tidak harus menunggu waktu lama untuk menemukan tempat untuk memarkir mobilnya.
"Akhirnya sampai juga…." Flora menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi dan merenggangkan otot-ototnya yang kaku.
"Yuk kita turun!" ajak Tiara yang langsung diangguki oleh Flora dan seruni.
Flora mematikan mesin mobilnya terlebih dahulu. Setelah mencabut kuncinya Flora keluar dari dalam mobil menyusul ibu dan sahabatnya.
"Sudah dikunci mobilnya?" tanya Tiara.
"Sudah, Mbak," jawab Flora.
Setelah memastikan apakah mobilnya benar-benar terkunci, ketiganya melangkah bersama masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu.
Ketiganya sudah berada di dalam pusat perbelanjaan dan mereka akan berbelanja baju bayi untuk Tiara lebih dahulu. Saat akan masuk ke toko pakaian bayi, mata Flora melihat laki-laki yang sangat ia kenali sedang berjalan mesra dengan seorang wanita.
"Astaga … siapa lagi itu perempuan?" gumam Flora sambil menepuk keningnya sendiri.
Masih slow up all. Badan masih belum vit. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.
__ADS_1