Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Kecurigaan Flora


__ADS_3

Kandungan Flora memasuki bulan ke dua. Gio juga sudah tidak merasakan mual lagi. Hanya sesekali saat Gio mencium bau yang sangat menyengat.


Justru kini yang menunjukkan perubahan adalah Flora. Sikap Flora berubah menjadi posesif bahkan terkesan agresif.


Tentu saja Gio sangat menyukai perubahan sikap Flora, apalagi sikap agresifnya. Terkadang Flora sendiri yang mengajaknya untuk bermain di atas ranjang. Tentu saja Gio tidak akan pernah merasa keberatan pada saat istrinya yang memintanya lebih dulu.


Siang itu tepatnya pada jam makan siang, Flora datang ke kantor suaminya untuk mengantar makan siang untuknya. Gio masih tidak ingin makan apapun terkecuali masakan yang dibuat oleh istrinya.


“Kamu masih sibuk?” tanya Flora.


Gio mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya setelah mendengar suara istrinya.


“Kamu sudah datang rupanya.” Gio beranjak dari kursinya untuk menghampiri istrinya.


Gio memberikan kecupan di kening juga perut istrinya.


“Aku sudah bawakan makan siang.” Flora menunjukan rantang susun berisi makan siang untuk Gio.


“Ini sudah waktunya makan siang,” ucap Flora. “Kita makan siang bareng,” ajak Flora.


Keduanya melangkah bersama menuju sofa yang ada di ruangan itu. Flora menata makanan di atas meja. Lalu mengambilkan makan siang untuk suaminya.


“Ini untukmu.” Flora menyerahkan makanan untuk Gio.


“Terima kasih.” Gio menerima makanan dari Flora. “Kamu juga makan yang banyak.”


Flora dan Gio makan bersama tanpa saling mengeluarkan kata. Mereka hanya fokus dengan makan siang mereka.


“Sayang, setelah ini aku ada meeting di luar kantor. Jika ingin pulang ... aku akan meminta Abi untuk mengantarmu,” ucap Gio.


“Tidak usah,” tolak Flora. “Rencananya aku ingin pergi berbelanja bersama mbak Tiara dan juga ibu,” ucap Flora.


“Baiklah, aku akan meminta Abi mengantarkan kalian pergi,” ucap Gio.


“Tidak usah, Suamiku. Sudah ada supir yang mengantar kami,” ucap Flora.


“Baiklah kalau begitu. Tapi jaga dirimu baik-baik,” pesan Gio. “Jangan terlalu lelah, ingat kondisimu juga.”


“Siap, Papa.” Flora berucap dengan menirukan suara anak kecil yang langsung membawa tawa di antara Flora dah juga Gio.


“Sudahlah, habiskan makananmu sekarang. Jangan biarkan anak kita kelaparan,” suruh Gio yang langsung dianggukki oleh Flora.


Selesai makan siang Flora membereskan rantang makan siang yang sudah kosong.


“Aku pergi dulu,” pamit Flora.


“Aku akan mengantarkanmu ke lobi,” ucap Gio.


“Baiklah, ayo,” ucap Flora.


Gio melangkah dengan melingkarkan tangannya di sepanjang pinggang Flora. Meraka melangkah menuju lobi. Sepanjang perjalanan ke lobi keduanya mengobrol kecil, kadang mereka tertawa kecil di sela obrolan membuat orang yang melihatnya merasa iri pada kebahagiaan mereka.


“Sudah sampai,” ucap Gio saat mereka sampai di lobi.

__ADS_1


“Terima kasih sudah mengantarku,” ucap Flora.


“Sama-sama, Sayangku,” balas Gio.


“Pak Roni sudah datang. Aku pergi dulu,” pamit Flora.


“Hati-hati di jalan. Kabari aku jika jika ada masalah.” Gio berucap seraya mengecup kening istrinya.


“Iya, Suamiku. Aku pergi dulu.” Flora meraih tangan suaminya untuk ia kecup punggung tangannya.


Gio membukakan pintu mobil untuk Flora. “Hati-hati di jalan.”


Pandangan Gio beralih pada supir keluarganya. “Pak Roni, bawa mobilnya hati-hati. Kabari aku jika ada masalah.”


“Baik, Pak Gio,” sahut Pak Roni.


“Pak, kita mampir ke tempat ibu Seruni ya,” suruh Flora.


“Baik, Bu Flora,” sahut Pak Roni.


Gio menutup pintu mobil, tangannya melambai ke arah Flora saat mobil itu mulai melaju.


-


-


-


“Pak Roni, pulang saja dulu. Nanti kalau kami sudah selesai ... aku akan menghubungi Pak Roni,” ucap Flora.


“Baik, Bu.” Pak Roni kembali melajukan mobilnya.


Flora, Seruni, dan Tiara masuk ke pusat perbelanjaan. Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah sebuah toko pakaian.


Ketiganya menaiki lift dan naik ke lantai lima di pusat perbelanjaan itu. Sampai di lantai lima, ketiganya turun dari dalam lift dan melangkah menuju toko yang menjual pakaian, tas, dan juga sepatu.


“Flora, apa yang ingin kamu beli?” tanya Tiara.


“Aku ingin membeli kemeja untuk Gio,” jawab Flora.


“Manisnya,” goda Tiara.


“Aku mau ke toko sebelah. Aku mau beli baju untuk anak aku dulu,” ucap Tiara.


“Aku juga ingin membeli pakaian untuk calon anak aku. Tapi aku bingung karena aku belum tahu jenis kelaminnya,” ucap Flora.


“Jangan beli apapun untuk calon anak kamu sebelum usia kandungan kamu lebih dari tujuh bulan, pamali,” pesan Tiara.


“Iya, Flora. Benar kata Tiara,” imbuh Seruni.


“Baik, Bu. Aku ikut kata kalian saja,” ucap Flora.


“Ya sudah, aku pergi dulu,” pamit Tiara.

__ADS_1


Setelah Tiara pergi, Flora dan Seruni berkeliling di toko itu dan membeli sesuatu yang mereka sukai. Flora sudah dapat beberapa pakaian untuk Gio dan juga dirinya. Setelah itu Flora kembali menghampiri ibunya.


“Ibu sudah selesai?” tanya Flora.


“Sudah, Nak,” jawab Seruni.


“Ayo, kita ke kasir untuk membayar ini,” ajak Flora.


Selesai membayar, Flora dan Seruni keluar dari toko. Bersamaan dengan itu Tiara pun sudah selesai berbelanja.


“Kalian sudah selesai?” tanya Tiara.


“Sudah, Mbak,” jawab Flora.


“Baiklah, kita mau ke mana lagi setelah ini?” tanya Tiara.


“Aku lapar, Mbak. Aku mau makan es cream,” ucap Flora.


“Baiklah, bumil.” Tiara mengusap perut Flora yang masih rata.


“Ayo kita ke cafe,” seru Flora.


Ketiganya melangkah menuju salah satu cafe di pusat perbelanjaan itu. Sesampainya di cafe Flora langsung memesan banana split. Tidak tanggung-tanggung, Flora memesan dua porsi banana split.


“Flora ... apa kamu ingin sakit perut?” ucap Seruni.


“Tapi Ibu ... bukan aku yang menginginkannya, tapi cucu Ibu,” kilah Flora.


“Tapi —” Ucapan Seruni terpotong oleh Tiara.


“Ibu ... sudahlah. Biarkan saja, Flora makan apapun yang dia inginkan,” ucap Tiara.


“Huuff, kamu terlalu memanjakan Flora,” keluh Seruni.


“Aku bukan memanjakan Flora. Tapi ... calon keponakan aku,” ucap Tiara diikuti tawa kecilnya.


Tidak lama pesanan mereka datang. Flora langsung memakan habis satu porsi banana split itu.


“Ini sangat enak,” ucap Flora.


“Ya sudah habiskan satu porsi lagi, biar tubuh kamu makin gendut,” ledek Tiara dan dibalas cibiran oleh Flora.


Flora kembali menyendok banana split . Namun, entah apa yang membuat Flora mendadak menghentikan gerakannya. Pandangannya terus tertuju pada dua orang yang baru saja memasuki cafe.


Flora melihat Gio berjalan dengan merangkul pundak seorang perempuan yang sangat Flora kenali. Mata Flora terbelalak saat melihat wanita itu sedang hamil besar.


“Flora, ada apa? Kenapa berhenti makan?” tanya Seruni.


“Itu Gio, Bu.” Flora terus menatap Gio.


Flora dan Tiara mengikuti arah pandang Flora. Benar saja, tidak jauh dari tempat duduk mereka terlihat Gio sedang duduk bersama seorang perempuan yang Flora kenali sebagai Rosa, mantan pacar Gio.


Melihat kedekatan Gio dan Rosa membuat pikiran negatif Flora muncul. Apalagi saat melihat Rosa hamil.

__ADS_1


__ADS_2