Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Suka dalam Duka


__ADS_3

Flora sampai ditempat acara pertunangan Daniel dan Maura. Setalah memarkirkan mobilnya, Flora keluar dari dalam mobil dan melangkah masuk ke dalam sebuah gedung. Flora terperangah saat melihat dekorasi acara pertunangan itu, sangat mewah!


Tenyata Flora datang terlambat, acara tukar cincin sudah dilangsungkan. Sampai di tempat itu, Flora mengedarkan pandangan mencari sosok yang ia kenal. Beruntung banyak staf di tempatnya bekerja sudah banyak yang datang.


"Mutya," panggil Flora.


Flora yang sedang mengobrol mengalihkan pandangannya ke arah Flora.


"Hai, Flora."


Flora dan Mutya saling mencium pipi satu sama lain. Begitupun dengan teman-teman perempuannya yang lain.


"Flora, kamu sendirian?" tanya Mutya. "Di mana bos Gio? Dia belum kembali juga?" lanjut Mutya.


"Ya, mungkin urusannya masih banyak," jawab Flora sedang sedikit gugup.


"Flora."


Panggilan dari seseorang mengalihkan pandangan Flora. Senyum Flora mengembang saat melihat Daniel.


"Hai," sapa Flora. "Selamat untuk pertunanganmu." Flora memberikan pelukan pada Daniel.


"Terimakasih sudah mau datang," balas Daniel.


"Cieee, yang sama-sama sudah move on," ledek Mutya.


"Apaan sih?" ujar Flora.


"Oh iya, Flora ... ikut denganku sebentar," ajak Daniel dan Flora menganggukinya.


"Kami permisi dulu. Nikmatilah pestanya," ucap Daniel.


"Awas loh, Pak. Nanti bisa clbk lagi," ledek salah seorang teman Flora.


"Kalian ada-ada saja. Jangan ngomong sembarangan nanti timbulnya fitnah," balas Flora diikuti tawa kecilnya.


Daniel dan Flora menjauh dari kerumunan. Daniel membawa Flora ke sisi lain tempat pesta itu.


"Aku belum memberikan selamat padamu ... selamat ya karena kamu sudah menemukan ayah kandungmu," ucap Daniel. "Aku tidak menyangka jika kita tenyata bersaudara."


"Aku benar-benar merasa sedang dipermainkan, Daniel," keluh Flora.


Daniel meraih tangan Flora dan menggenggamnya. "Dengar, Flora jangan bersedih. Pasti semuanya akan baik-baik saja. Lagi pula Gio bisa menjadi kakak yang baik untukmu dan juga untukku."


Daniel mencoba menggoda Flora agar Flora tidak merasa sedih. Namun, sepertinya usahanya gagal. Meski Flora menunjukkan senyumnya, tetapi Daniel tahu jika Flora hanya menunjukkan senyum terpaksanya.


Kalian memang sedang dipermainkan Flora. Tapi aku tidak bisa memberitahukan dirimu. Ini kejutan untuk kalian.


"Daniel."


Daniel dan Flora menoleh dan melihat Mariana berdiri tidak jauh dari tempat mereka.

__ADS_1


Mariana melangkahkan kakinya untuk menghampiri Flora dan Daniel. Saat Mariana berada tepat di depan mereka, Mariana langsung menatap tajam Flora.


"Apa kamu sedang mencoba menggoda anak saya lagi!" tuduh Mariana.


Flora menggelengkan kepalanya, "Tidak."


"Jangan bohong! Apa si Gio sudah bosan dan mencampakkan dirimu jadi kamu sedang berusaha mendekati anak saya lagi!" Mariana terus berucap tanpa memberi Flora kesempatan untuk membela dirinya.


"Mah, Cukup!" Daniel yang tidak tahan lagi menghentikan makian ibunya kepada Flora.


"Mah, sudah cukup. Tidak bisakah mamah tidak berpikiran negatif terus kepada Flora!" ucap Daniel. " Aku dan Flora hanya mengobrol saja," jelas Daniel.


"Mengobrol di tempat sepi seperti ini dan itupun hanya berdua ...." Mariana menunjukan senyum sinisnya. "Mamah tidak percaya. Ingat Daniel ... kamu sudah bertunangan."


"Terserah jika Mamah menuduh aku dan Flora. Tapi satu hal yang harus Mamah ingat! Meskipun aku belum bertunangan, aku juga tidak akan bisa bersama Flora. Aku dan Flora, kami bersaudara. Flora anak kandung om Farhan ...." Daniel langsung menghentikan ucapnya saat menyadari jika dirinya sudah kelepasan bicara.


Mata Flora terbelalak, ia merasa terkejut saat Daniel mengatakan hubungan dirinya dengan Farhan. Sama halnya dengan Mariana, perempuan itu merasa sangat terkejut setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Daniel.


"Apa katamu, Daniel?" tanya Mariana.


"Iya, Mah. Sebenernya Flora anak kandungnya om Farhan," jawab Daniel.


"Jangan bercanda!" Mariana merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Mereka sudah melakukan tes DNA dan hasil tes DNA mereka cocok, Mah," jelas Daniel.


"Jadi kamu dan Gio ... kakak-beradik!"


Flora mengangguk dengan wajah yang tertunduk.


"Nanti Daniel ceritain, Mah. Untuk sekarang tolong mamah rahasiakan tentang hal ini dari siapapun," pinta Daniel.


"Aku juga mau berterimakasih pada Anda, Nyonya ... karena sudah tidak merestui hubungan kami selama ini," ucap Flora.


"Baiklah, saya permisi dulu. Dan untuk kamu Daniel ... selamat untuk pertunangan kamu," ucap Flora.


Pandangan Flora beralih ke Mariana. "Saya permisi, Nyonya. Selamat malam."


"Ya, iya ... selamat malam," balas Mariana dengan gugupnya.


Mariana masih merasa sangat terkejut mengetahui hal itu. Tenyata perempuan yang ia benci selama ini adalah keponakannya sendiri.


"Ini bukan mimpi 'kan, Nak?"


"Apaan sih, Mah. Ini nyata, Flora itu keponakan mamah dan kakak sepupu aku."


*****


Waktu terus berlalu, Sudah lama juga Gio tidak masuk ke kantor dan Daniel yang menduduki kursi kepemimpinan itu sampai Gio kembali. Banyak yang mempertanyakan akan keberadaan Gio dan juga hubungannya dengan Flora.


"Apa Gio sama sekali tidak mengunjungimu, Flora?" tanya Daniel.

__ADS_1


"Sama sekali tidak," jawab Flora.


"Kamu tidak berniat untuk menghubunginya lebih dulu?" tanya Daniel lagi.


"Aku sangat ingin, tapi aku takut ... aku takut akan melukai perasaannya," jawab Flora.


Panggilan telepon di ponsel Flora menghentikan obrolan mereka. Kening Flora mengerut saat melihat nomor ibunya muncul pada layar ponselnya. Dengan segera Flora menerima panggilan itu.


"Halo, Bu ...," sapa Flora.


Tidak berselang lama, Flora memekik. "Apa? Ayah masuk rumah sakit."


Daniel yang mendengar itu pun ikut dibuat terkejut.


"Ada apa Flora? Om Farhan kenapa?" tanya Daniel setelah Flora selesai menelfon.


"Kata ibu ... ayah kena serangan jantung. Sekarang beliau dibawa ke rumah sakit," jawab Flora.


Flora segera beranjak dari kursi disusul oleh Daniel. Keduanya pun pergi ke rumah sakit bersama-sama.


-


-


Flora dan Daniel melangkah dengan berlari kecil di lorong-lorong rumah sakit. Keduanya menuju ruangan ICU.


"Ibu, bagaimana keadaan ayah?" tanya Flora setelah bertemu dengan Seruni.


"Ayah kamu kritis, Nak," jawab Seruni.


"Kenapa ini bisa terjadi, Bu?" tanya Flora.


Seruni berpikir sejenak sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menceritakan semua pada Flora.


"Ikut ibu sebentar!" ajak Seruni


Seruni membawa Flora duduk di kursi tidak jauh dari ruang ICU. Anak dan ibu itu duduk bersebelahan. Seruni meraih tangan Flora lalu menggenggamnya.


"Nak, sebelumya ibu minta maaf karena sudah menyembunyikan hal ini dari kamu." Seruni menarik napasnya sebelum kembali bicara. "Sebenarnya ibu dan ayah kamu sedang mempersiapkan pernikahan kamu ...." Ucapan Seruni terpotong oleh Flora.


"Pernikahan Flora? Ini maksudnya apa sih, Bu?" tanya Flora tidak mengerti.


"Iya, Nak. Kami sedang mempersiapkan pernikahan kamu dengan ... Gio," jawab Seruni.


"Pernikahan aku dan Gio? Bu ... ini maksudnya apa? Bagaimana bisa kalian merencanakan pernikahan untuk kami," ucap Flora.


"Ayah kamu sudah cerita semua sama ibu. Tenyata Gio bukan anak kandung kamu, Nak. Jadi kalian tidak punya hubungan darah sama sekali. Ayahmu dan ibu sedang menyiapakan pernikahan kalian, tapi karena terlalu bersemangat, ayah kamu sampai tidak memperhatikan kesehatannya," terang Seruni.


"Ibu sedang tidak berbohong 'kan, Bu?" tanya Flora dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Apa Gio sudah tahu tentang hal ini?"


"Belum, Nak. Sekarang coba kamu hubungi Gio, suruh dia pulang. Ayah kamu butuh Gio," suruh Seruni.

__ADS_1


Flora mengangguk dengan diikuti tetesan cairan bening dari matanya. Segera Flora merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Gio.


Jangan lupa tekan love, jempol, dan komentarnya.


__ADS_2