
Matahari sudah bersinar begitu terik, tetapi Felicia dan Kenzo masih betah menghabiskan waktu di kolam berenang. Felicia berada di dalam air dan bergerak ke sana ke mari seperti putri duyung.
Kenzo sendiri memilih duduk di tepi kolam untuk menikmati panas matahari dengan kaki yang sengaja ia celupkan ke dalam air. Matanya bergerak mengikuti pergerakan Felicia. Ada tawa kecil di bibirnya melihat istrinya yang berenang dengan sangat lincah.
"Kenzo, ayolah sini." Felicia memanggil suaminya dari dalam air.
"Felicia kamu sudah terlalu lama berenang. Ayo naiklah," perintah Kenzo.
Felicia menggeleng. "Tidak mau. Aku masih ingin berenang."
"Nanti kamu kedinginan. Kamu bisa sakit, Feli," ucap Kenzo.
"Tidak. Airnya sangat hangat karena cahaya matahari." Felicia terus saja berenang tanpa menghiraukan omelan suaminya.
Kenzo menggelengkan kepalanya saat perkataannya tidak dihiraukan oleh istrinya. Dirinya sudah merasa lelah dan memilih untuk lebih dulu masuk ke dalam rumah.
"Ya sudah, aku masuk dulu," ucap Kenzo. "Cepatlah naik. Jangan terlalu lama berendam."
Felicia berhenti berenang saat melihat suaminya beranjak dari tempat yang sebelumnya ia duduki. Ia tidak ingin ditinggal sendiri.
"Kenzo, tunggu aku!" Felicia berenang ke seberang untuk menghampiri suaminya.
Pergerakan Felicia berhenti saat tangannya menyentuh dinding kamar mandi. Ia memunculkan dirinya dari dalam air. Tubuhnya masih terendam setengah di dalam air, pandangannya menatap lurus ke arah suaminya yang sedang berdiri di depannya.
"Kenzo, tolong aku." Felicia mengulurkan tangannya kepada Kenzo, meminta pada suaminya untuk menariknya ke dalam air.
"Ck, kamu sungguh menyusahkan." Meskipun menggerutu, tetapi Kenzo mau saja menuruti kemauan istrinya.
Kenzo menarik Felicia dari dalam air, tetapi tanpa ia sangka Felicia lebih dulu menarik tangannya. Kenzo kehilangan keseimbangan tubuhnya dan kembali masuk ke dalam air.
Byuur
Felicia tertawa puas saat berhasil mengelabui suaminya dan membuat suaminya masuk ke dalam air bersamanya.
"Kita seri suamiku," ucap Felicia diikuti tawanya.
Beberapa saat kemudian tawa itu luntur ketika Felicia melihat suaminya muncul dari dalam air. Sorot mata suaminya memperlihatkan kemarahan.
"Kenzo ... maaf." Felicia berucap masih dengan menahan tawanya.
"Kamu berani melakukan ini padaku?" Kenzo berjalan di air yang membenamkan setengah tubuhnya.
"Kenzo, maaf. Aku hanya bercanda," ucap Felicia.
Kali ini Felicia sudah tidak bisa bergerak karena Kenzo sudah mengunci pergerakan tubuhnya. Suaminya sudah menghimpitnya di antara tubuhnya dan dinding kolam.
__ADS_1
Keduanya berdiri berhadapan di tepi kolam dengan setengah tubuh mereka yang terendam air. Tidak ada jarak di antara mereka, hanya kain yang menempel di tubuh Felicia yang memisahkan mereka.
Pandangan mereka bertemu pada satu titik yang sama. Tatapan nakal suaminya berhasil menciptakan kegugupan pada diri Felicia.
"Ki-ta masuk saja ke da-lam. A-ku sudah mulai ke-dinginan." Felicia bicara dengan gagap karena rasa gugupnya.
"Jangan khawatir, aku akan menghangatkan tubuhmu nanti," ucap Kenzo.
"A-pa?" Kegugupan yang dirasakan oleh Felicia membuat isi kepalanya berhenti bekerja.
Tubuh Felicia bergetar saat tangan Kenzo memegang pinggangnya lalu merayap naik dan berhenti di lehernya. Debaran jantungnya makin tidak bisa Felicia hindari.
"A-pa yang i-ngin ka-mu la-ku-kan?" Kegugupan yang memuncak membuat Felicia tidak bisa bicara dengan normal.
Felicia masih menunggu jawaban dari Kenzo, tetapi suaminya justru diam dengan pandangan menurun.
Pandangan Felicia mengikuti arah pandang suaminya. Ternyata suaminya sedang memandang kedua gundukan di dadanya.
Felicia menyilangkan kedua tangannya di depannya dada untuk menutupi kedua gundukan itu.
"Aku ke-dinginan. Ayo kita keluar dari kolam ini," ajak Felicia.
"Sudah aku bilang, aku akan menghangatkan dirimu," goda Kenzo.
"Aku akan menghangatkan tubuhmu sama seperti malam itu," bisik Kenzo.
Bagaimana jika nantinya ada yang melihat saat mereka bermesraan di tempat itu?
"Ini hukuman untukmu karena sudah berani mengerjaiku," bisik Kenzo.
Mata Felicia membulat saat Kenzo mencium bibirnya, meraupnya dengan sangat rakus. Felicia sampai tidak bisa mengimbangi ciuman yang diberikan oleh suaminya.
Akan tetapi makin lama ciuman itu makin terasa lembut hingga menarik diri Felicia untuk membalas ciuman itu. Tangan Felicia mulai bergerak naik berakhir melingkar di leher Kenzo. Matanya terpejam saat menikmati kebersamaan itu.
"Hei, dasar tidak tahu malu. Kalau mau mesra-mesraan di kamar! Jangan di tempat terbuka seperti ini."
Felicia langsung mendorong tubuh Kenzo dari hadapannya. Ia menolehkan pandangannya ke asal suara dan mendapati adik iparnya, Kenzi berdiri tidak jauh dari kolam berenang.
Kenzo juga menolehkan pandangannya ke asal suara, ia juga mendapati saudara kembarannya berdiri tidak jauh dari tempatnya.
"Mengganggu saja," gerutu Kenzo.
Jika saja Kenzi tidak mengganggunya, mungkin sudah dipastikan mereka akan bercinta di tempat itu.
Felicia memilih untuk naik ke atas kolam lebih dulu disusul oleh Kenzo. Keduanya kembali melingkarkan handuk ke pinggangnya dan masuk ke dalam rumah mengikuti Kenzi.
__ADS_1
"Jangan harap lain kali kamu bisa lolos," bisik Kenzo.
Felicia menyipitkan matanya ke arah Kenzo. Jujur saja Felicia sempat terkejut dengan sikap Kenzo. Selama ia mengenal Kenzo, laki-laki itu sangat dingin dan tidak terlihat memiliki sifat jahil.
Mereka sampai di ruang tengah. Terlihat ada Violetta di tempat itu. Felicia memilih berjalan lebih cepat dari Kenzo untuk menghampiri ibu mertuanya.
"Mah, apa kabar?" tanya Felicia seraya mencium pipi kanan dan kiri ibu mertuanya.
"Mamah baik. Kalian bagaimana?" Violetta bertanya balik pada menantunya.
"Kami baik," jawab Felicia.
"Kalian habis berenang?" tanya Violetta.
"Iya, Mah," jawab Kenzo.
"Jangan percaya, Mah. Mereka sedang bermesraan di kolam berenang saat kita datang. Aku baru saja memergokinya," ucap Kenzi.
"Benarkah?" Violetta bertanya pada Kenzi seraya menahan tawanya. Apalagi saat melihat wajah menantunya yang memerah bak udang rebus.
"Tentu saja benar, Mamah. Anakmu yang satu ini mana pernah berbohong," jawab Kenzi penuh dengan rasa percaya dirinya.
"Pantas saja mereka tidak mengetahui kedatangan kita." Violetta merasa sangat bahagia jika memang anak dan menantunya sudah bisa dekat satu sama lain. Mengingat pernikahan yang mereka jalani atas dasar perjodohan.
"Itu benar, Mamah. Mereka sungguh keterlaluan. Jika saja aku tidak datang .... Mamah pasti tahulah mereka akan melakukan apa." Dengan santainya Kenzi duduk di sofa yang ada di dekatnya masih dengan menunjukkan wajah tengilnya.
"Kenzi, awas saja jika kamu bicara macam-macam lagi. Aku akan membungkam mulutmu selamanya!" ancam Kenzo.
Bukan Kenzi namanya jika takut dengan ancaman kembarannya. Saudara kembar Kenzo itu justru tergelak bahkan sampai memegangi perutnya.
"Lihat saja, Mah. Sebentar lagi mereka akan memberikan mami seorang cucu," ucap Kenzi.
"Itu bagus. Mamah sama papah akan sangat senang jika itu sampai terjadi," imbuh Violetta.
"Kenzi ...." Kenzo menggeram tertahan, ia sudah tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Sikap tengil saudara kembarnya bisa membuatnya kehabisan kata-kata. Maka selama ini jika dirinya sedang berdebat dengan kembarannya Kenzo lebih memilih untuk mengalah dan pergi.
"Kenzi berhentilah menggoda mereka. Kamu tidak melihat wajah kakak iparmu sudah sangat merah," ucap Violetta.
Mendengar itu ketiganya sama-sama melihat ke arah wajah Felicia. Benar saja wajah Felicia sudah sangat merah.
Karena rasa malu yang tidak tertahankan membuat Felicia berbalik untuk memeluk Kenzo. Felicia membenamkan wajahnya ke perpotongan leher suaminya untuk menyembunyikan wajahnya yang merah.
"Sebaiknya kalian mandi. Jangan sampai kalian masuk angin," suruh Violetta.
"Iya, Mah." Kenzo dan Felicia menyahut bersamaan.
__ADS_1
"Ingat ya hanya mandi. Jangan sampai melakukan hal lain." Kenzi mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda kakak serta kakak iparnya.
"Astaga, Kenzi!" Saking kesalnya Kenzo melempar bantal sofa tepat mengenai wajah Kenzi yang justru makin membuat Kenzi serta ibunya tertawa lepas.