
Aura sedang membolak-balikkan ponsel pemberian Gavindra. Bibirnya mengulas senyuman, tetapi wajahnya menujukkan kebingungan melihat benda pilih yang ada di tangannya. Tidak tahu apa yang membuat benda itu terasa aneh? Padahal dari segi bentuk, benda pipih itu sama saja. Entah apa yang membuat Aura merasa penasaran dengan benda itu? Mungkin satu nomor yang hanya tersimpan di ponsel itu.
"Ck, aneh! Kenapa dia posesif sekali? Padahal aku ini bukan siapa-siapa-nya dia?" batin Aura.
Senyuman tergambar di bibir Aura membayangkan jika Gavindra ternyata menyukainya, tetapi dengan segera pikiran itu ditepis oleh Aura.
"Itu tidak mungkin! Mentang-mentang dia yang beli. Jadi bisa seenaknya bersikap seperti ini," gumam Aura.
Aura tidak lagi memikirkan tentang Gavindra. Ia lebih memilih untuk melihat-lihat fitur canggih di gawai tersebut. Namun, kegiatannya terhenti saat ada pesan yang masuk di aplikasi ponselnya. Ada nama Gavindra muncul di layar ponselnya.
"Baru saja aku memikirkan pria itu dan sekarang dia mengirim pesan," batin Aura.
Aura membuka aplikasi untuk melihat apa yang ditulis oleh Gavindra.
"Kamu di mana?" tanya Gavindra.
Tanpa berpikir panjang, Aura membalas pesan dari Gavindra.
"Di rumah sakit," jawab Aura.
"Oh, ya sudah," ucap Gavindra.
"Udah begitu saja?" Aura bicara dalam hatinya.
"Ada apa?" tanya Aura.
"Gak apa-apa. Cuma mau tes apa kamu tahu caranya menggunakan ponsel itu atau tidak," jawab Gavindra.
Mata Aura terbelalak saat membaca balasan dari Gavindra. "Apa dia sedang menghinaku? Aku menyesal sudah bertanya."
Aura menggeram, rasanya ingin mencabik-cabik wajah pria itu.
"Pria itu kenapa begitu menyebalkan?" ucap Aura.
Aura ingin mengumpat, berteriak memaki Gavindra. Ia juga ingin mundur, takut tidak bisa menghadapi sikap pria itu, tetapi saat melihat ibunya masih terbaring di ranjang rumah sakit Aura mengurungkan niatnya.
"Aku harus bertahan demi ibu. Ck, tapi pria ini kenapa begitu menyebalkan!" Aura bicara dalam hati seraya menghentak-hentakan kakinya menimbulkan suara haduh.
"Ada apa, Nak? Kenapa kamu terlihat kesal?" tanya Hani, ibunya Aura.
Aura tersentak saat tiba-tiba mendengar suara ibunya. Aura beranjak dari tempat duduk untuk menghampiri ibunya.
"Ibu kenapa bangun? Aura berisik ya? Maaf ya, Bu." Aura merasa tidak hati membuat ibunya dari istirahatnya.
"Ibu belum tidur kok," ucap Hani. "Oh ya kamu belum jawab pertanyaan Ibu. Kenapa kamu terlihat kesal?" tanya Hani.
"Tidak ada apa-apa, Bu. Hanya ada orang yang membuat Aura kesal," jawab Aura.
__ADS_1
Hani mengangguk-anggukkan kepala merespon ucapan Aura. Tidak sengaja Hani melihat benda pipih di tangan Aura membuat rasa penasarannya datang.
"Ra, ini punya siapa?" Hani menarik tangan Aura agar bisa melihat benda yang ada di dalam genggaman tangan Aura.
"Oh ini, Bu..." Aura merasa bingung untuk menjawabnya. Tidak mungkin ia jujur bahwa Gavindra yang membelikan ponsel itu.
"Ra ... Ibu tanya kenapa kamu malah diam?" tanya Hani sambil mengusap lengan Aura.
"Maaf, Bu." Bella tersentak. Perasaannya makin tidak karuan saat ibunya menatapnya curiga.
"Ra …," panggil Hani.
"Jelas ini bukan milik Aura," ucap Aura.
"Lalu? Darimana kamu mendapatkan benda ini?" tanya Hani lagi.
"Ini punya teman, Bu. Dia meminjamkan kepada Aura," kilah Aura.
"Teman?" Wajah Hani masih menunjukan rasa ketidakpercayaan.
"Iya, Bu. Mana mungkin Aura bisa beli benda yang mahal sepeti ini." Aura menjawab dengan terbata-bata.
Aura melihat ke atas, ke bawah, ke kanan, dan kirinya. Ia berusaha mencari alasan yang tepat, Aura tidak ingin ibunya berpikir yang macam-macam.
"Ponsel Aura rusak, Bu. Jadi teman Aura meminjamkan ponsel ini agar dia bisa menghubungi Aura," jelas Aura.
"Ya sudah jangan bahas Aura mulu. Sekarang Ibu istirahat saja. Ini sudah malam Ibu harus banyak-banyak beristirahat. Kalau besok Ibu sudah jauh lebih baik kata Dokter Ibu sudah bisa pulang," ucap Aura sambil merapikan
"Iya, Nak. Ibu juga sudah tidak betah di sini," ucap Hani.
Setelah memastikan ibunya tertidur, Aura kembali duduk di kursi yang tidak jauh dari ranjang. Aura kembali fokus pada benda pipih di genggamannya. Ada pesan lagi yang masuk ke ponselnya dan itu jelas dari Gavindra.
"Besok kamu sekolah, 'kan?" tanya Gavindra.
"Iya," jawab Aura.
"Di mana sekolahmu?" tanya Gavindra lagi.
"Di sekolah Tunas Bangsa. Aku mendapatkan bea siswa penuh untuk masuk ke sana," jawab Aura.
Aura menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh Gavindra. Pria itu sudah seperti wartawan mencecar dirinya dengan banyak begitu banyak pertanyaan. Semuanya selesai setelah rasa kantuk menghampiri Aura.
******
Keesokan harinya Aura mengurungkan niatnya untuk pergi ke sekolah. Dokter sudah memperbolehkan ibunya untuk rawat jalan. Aura sangat senang, tetapi ada kebingungan dalam dirinya. Bagaimana ia membayar sisa pembayaran rumah sakit?
Seluruh uang yang ada di dalam tabungannya sudah digunakan seluruhnya untuk membayar biaya rumah sakit, itupun hanya uang mukanya saja.
__ADS_1
Aura berjalan ke bagian informasi untuk mengetahui jumlah uang yang harus ia bayar. Aura berjalan dengan langkah berat seolah ada beban berat yang sedang ia bawa. Kasir sudah ada di depan mata, Aura berjalan dengan terus menatap tempat itu. Ia berharap tidak akan pernah menggapainya.
Aura berhenti satu langkah di depan menjadi kasir. Ia menatap wanita yang ada di balik meja dengan tatapan penuh arti.
"Ada yang bisa saya bantu, Mba?" tanya wanita itu dibalas anggukkan kepala oleh Aura.
"Saya mau tanya sisa pembayaran pasien atas nama Hani Anggara," jawab Aura dengan terbata-bata.
"Saya akan mengeceknya. Tunggu sebentar," suruh Wanita itu.
"Baik," balas Aura.
Aura berdiri di depan meja kasir sambil berharap-harap cemas. Dalam hatinya Aura berdoa, berharap tunggakan biaya perawatan ibunya tidak banyak.
"Maaf, Mba. Biaya perawatan atas nama Hani Anggara sudah dibayar lunas," jelas wanita itu.
"Apa?" Aura merasa terkejut membuatnya berteriak.
"Sttt, maaf Mba ini di rumah sakit. Tolong jangan berisik," ucap salah seorang perawat yang melintasi tempat itu.
"Oh iya, maaf," ucap Aura.
Pandangan Aura kembali mengarah ke petugas di kasir dengan begitu banyak tanda tanya di kepalanya.
"Bagaimana bisa tagihan ibu saya lunas. Saya sangat ingat belum melunasinya. Tolong cek lagi, mungkin ada kesalahan," pinta Aura.
"Sebentar saya akan mengeceknya kembali," ucap petugas kasir itu.
Aura kembali menunggu. Tidak lama kasir itu mengatakan jika ada yang melunasi tagihan ibunya.
"Benar Mba, sudah lunas," ucap wanita itu.
"Boleh saya tahu siapa yang melunasinya, Mba?" tanya Aura.
"Namanya ... Gavindra Abimana Ferdinand," jawab wanita itu.
Apa? Pria itu lagi?
"Kalau begitu terima kasih, Mba. Saya permisi dulu," ucap Aura.
Aura berjalan meninggalkan kasir kembali ke tempat ibunya dirawat. Sambil melangkah Aura masih memikirkan tentang Gavindra. Saat baru bertemu Gavindra terlihat begitu kasar dan arogan. Namun, tidak disangka Gavindra menunjukan kebaikannya. Pria itu susah sekali untuk ditebak.
"Ck, apa pria itu sedang berusaha menujukan kekuasaannya?" batin Aura.
Apapun itu Aura merasa harus berterima kasih kepada Gavindra.
Maaf banget baru nongol ada banyak kesibukan di Rl.
__ADS_1