
Menghabiskan waktu bersama dengan istrinya sudah menjadi keputusan Kenzo. Meskipun banyak pekerjaan yang sedang menunggunya di kantor. Kenzo sudah melimpahkan semua pekerjaannya hari itu pada Alan dengan janji bonus yang besar.
Kenzo mendatangi istrinya yang sedang memasak sarapan di dapur. Kenzo menyingkirkan Felicia dari depan kompor lalu mengambil alih tugas itu dari istrinya.
"Kenzo apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Felicia.
"Aku yang akan membuatkan sarapan," jawab Kenzo.
"Sini biar aku saja." Felicia mencoba menyingkirkan Kenzo dari depan kompor, tetapi Kenzo justru mengangkat tubuh Felicia dan mendudukkannya di atas meja dapur.
"Tetap diam di sini," perintah Kenzo.
"Tapi —"
"Tetap diam atau aku akan membuatmu diam seperti semalam," ancam Kenzo.
Felicia langsung membungkam mulutnya dengan telapak tangannya takut jika Kenzo menciumnya seperti semalam.
"Bagus, jadilah anak yang penurut," ucap Kenzo seraya menahan tawanya.
Felicia tetap duduk di tempatnya. Matanya tidak berhenti menatap wajah suaminya yang sedang memasak. Ada sesuatu di wajah suaminya yang membuat Felicia tidak bisa berhenti menatapnya.
"Aku tahu jika aku ini sangat tampan. Tapi jangan melihat aku seperti ingin memangsaku," ledek Kenzo.
Eh?
"Jangan terlalu percaya diri. Aku mengagumimu karena kamu mirip sekali dengan papah Evano," kilah Felicia.
"Benarkah?" goda Kenzo.
"Tentu saja benar." Felicia melihat ke arah lain untuk menghindari tatapan Kenzo.
Kenzo tersenyum-senyum sendiri di tempatnya. Menggoda istrinya itu sangat menyenangkan. Apalagi saat melihat rona merah muncul di wajah istrinya. Ugh itu sangat menggemaskan!
"Sudahlah, ayo kita sarapan," ajak Kenzo.
"Eh sudah matang ya." Felicia melihat dua tumpuk roti bakar yang sudah tertata di atas piring lalu ia pun turun dari meja dapur.
"Aku akan buatkan teh untukmu," ucap Felicia.
"Hmmm, aku akan taruh ini di meja makan." Kenzo meninggalkan dapur untuk menaruh dua piring roti bakar buatannya.
Tidak lama Felicia datang dengan membawa dua cangkir teh hangat. Ia menaruhnya di atas meja makan.
"Ini untukmu teh dengan sedikit gula," ucap Felicia.
"Terima kasih," ucap Kenzo.
Keduanya duduk di meja makan dan mulai sarapan bersama. Felicia memakan sarapan yang dibuat oleh Kenzo dengan lahap. Sepertinya Felicia sangat kelaparan, dalam sekejap satu tumpuk roti bakar sudah berpindah ke perutnya. Bukan hanya itu saja secangkir teh juga menyusul ke perutnya.
__ADS_1
"Kamu sepertinya sangat kelaparan?" ledek Kenzo.
"Aku sudah kelaparan sejak semalam. Setelah kita ...." Felicia merendam ucapannya. Ia merasa malu untuk melanjutkan kalimatnya.
Kenzo tidak perlu bertanya lagi lanjutan dari kalimat yang Felicia katakan. Mendengar itu Kenzo juga menjadi merasa canggung.
"Ehmm ... kalau kamu masih merasa lapar aku akan membuatnya lagi untukmu," ucap Kenzo.
"Tidak usah. Aku sudah merasa kenyang sekarang," tolak Felicia.
"Baiklah kalau begitu," ucap Kenzo.
Sejenak suasana menjadi hening. Mereka tenggelam dalam diam, tetapi saling mencuri pandang. Perasaan canggung muncul di dalam diri mereka masing-masing setelah apa yang sudah mereka lakukan semalam.
"Kenzo," panggil Felicia.
"Ada apa?" Kenzo langsung melihat ke arah Felicia saat istrinya itu memanggilnya.
Jantung Felicia berdegup begitu kencang saat matanya bertemu dengan mata Kenzo. Bibirnya terasa kaku untuk bicara.
"Feli, ada apa? Kenapa kamu malah jadi diam?" tanya Kenzo.
"Emmm, tidak apa-apa. Tapi bisakah kamu menemaniku berbelanja nanti?" tanya Felicia.
"Belanja?" tanya Kenzo yang langsung diangguki oleh Felicia.
"Iya, bahan makanan kita sudah menipis," ucap Felicia.
"Bisa nanti saja atau malam saja? Mamah mau datang sebentar lagi untuk mengantar asisten rumah tangga untuk di rumah ini," ucap Kenzo.
"Oke, itu tidak masalah," ucap Felicia.
"Oh ya Kenzo, apa kamu sudah menghubungi tukang servis AC?" tanya Felicia.
Kenzo baru saja akan meminum teh yang dibuat oleh istrinya dan ternyata istrinya sudah kembali bertanya. Cangkir teh yang baru sampai di bibirnya kembali Kenzo taruh di atas meja.
"Belum," jawab Kenzo.
"Kenapa belum?" tanya Felicia.
Kenzo mengira jika Felicia sudah melupakan tentang pendingin ruangan di kamarnya. Kenzo sengaja tidak memanggil servis AC agar Felicia tetap bisa tidur satu kamar dengannya.
"Kamu bisa sementara tidur di kamarku," jawab Kenzo.
"Hah, tidur satu kamar denganmu?" Felicia sedikit terkejut saat Kenzo mengatakan agar mereka kembali tidur di dalam satu kamar.
"Kenapa kamu terlihat terkejut seperti itu? Kita ini suami istri jadi wajar saja jika kita tidur satu kamar," ucap Kenzo.
Felicia mengedipkan matanya dengan bibir yang sedikit terbuka. Ia merasa belum percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
__ADS_1
"Sudahlah aku mau berenang. Jika kamu masih memerlukan tukang servis ac kamu panggil saja sendiri," ucap Kenzo sebelum ia beranjak dari meja makan.
Dia kenapa lagi? Tadi sikapnya manis sekali padaku dan sekarang dia bersikap acuh lagi.
Felicia membereskan meja makan setelah Kenzo pergi. Selesai dengan urusan di dapur Felicia kembali ke kamarnya.
Sejujurnya Felicia merasa bingung apa yang akan ia lakukan di rumah. Felicia berjalan ke dekat jendela. Dari tempatnya berdiri ia melihat suaminya sedang berenang. Sepertinya menyenangkan juga berenang. Sudah lama juga dirinya tidak berenang.
Felicia menjauh dari jendela. Ia berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian renang. Pakaian dengan model two piece warna biru muda dipilih oleh Felicia. Setelah memakainya Felicia mematut dirinya di depan cermin.
Apa ini tidak terlalu seksi?
Felicia terus memperhatikan pantulan dirinya di cermin yang ada di hadapannya. Pakaian renang yang ia kenakan terlihat seperti dirinya hanya sedang memakai pakaian dalam. Felicia bergidik saat membayangkan jika suaminya sampai melihatnya dengan pakaian seperti itu.
Padahal Kenzo sudah beberapa kali melihat tubuhnya yang polos, tetapi saat ia memakai pakaian renang dengan model seperti itu Felicia merasa malu sendiri.
Felicia memutuskan untuk mengganti pakaian renangnya. Ia memakai pakaian renang model one piece berwana hitam tanpa lengan. Meski terbuka di bagian lehernya, setidaknya pakaian renang itu bisa menutupi sebagian tubuhnya.
Felicia lebih dulu melingkar handuk ke pinggangnya. Ia berjalan keluar dari kamarnya dengan langkah santai. Dari dalam ruang tengah Felicia bisa melihat Kenzo yang sedang berenang. Rasanya ia juga sudah tidak sabar untuk menceburkan dirinya ke dalam bak raksasa itu.
Felicia tidak langsung pergi ke kolam berenang, tetapi berbelok ke arah dapur. Ia mengambil sirop rasa jeruk dari dalam lemari pendingin. Ia tuang sedikit ke dalam gelas dan menambahkan air dingin dan juga es batu. Dua gelas sirop rasa jeruk sudah siap, Felicia pun membawanya ke area kolam berenang.
"Hai, Tuan Kenzo. Aku bawakan minuman untukmu." Felicia berucap dengan sedikit berteriak.
Felicia mendudukkan dirinya di tepi kolam dengan kaki sengaja ia celupkan ke dalam air. Dengan setianya ia duduk menunggu suaminya untuk menghampirinya.
Kenzo sendiri sedang berenang ke tepian untuk menghampiri istrinya. Ia sengaja memunculkan wajahnya di depan Felicia untuk mengejutkannya.
"Aaaaaa!" Felicia memekik saat Kenzo menarik kakinya dari dalam air.
Jika saja Kenzo tidak muncul dari dalam air dan menahan tubuh Felicia sudah dipastikan Felicia akan tercebur ke dalam kolam berenang.
"Kamu kenapa suka sekali mengejutkan aku?" omel Felicia.
"Kamu sudah memakai pakaian renang kenapa malah duduk di sini saja." Kenzo mengambil minuman yang ada di samping istrinya lalu meminumnya.
"Sebentar lagi," jawab Felicia.
"Apa yang kamu tunggu? Apa kamu menunggu sampai aku menceburkan dirimu?" Kenzo kembali menggoda istrinya.
"Aku akan melenyapkanmu jika kamu berani melakukannya," ancam Felicia.
Kenzo naik ke atas kolam untuk meletakkan gelas di atas meja di dekat kolam berenang. Setelah itu Kenzo kembali ke tepi kolam berenang dengan senyum jahilnya. Kenzo membungkukkan tubuhnya untuk mengangkat tubuh Felicia.
"Kenzo apa yang ingin kamu lakukan?" Felicia meronta saat Kenzo mengangkat tubuhnya.
"Kamu ingin berenang, 'kan? Jadi ayo kita berenang," ucap Kenzo.
Felicia tahu apa yang akan dilakukan oleh Kenzo. Ia terus meronta agar Kenzo mau menurunkannya. Keinginannya terkabulkan Kenzo menurunkan, tetapi tidak ke lantai, melainkan ke kolam berenang.
__ADS_1
"Kenzo!"
Byur