Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Makin Cinta


__ADS_3

Flora sedang membereskan pekerjaannya saat tiba jam pulang kerja. Selesai dengan itu, Flora beranjak dari meja kerjanya lalu mengetuk pintu ruangan atasannya yang berstatus sebagai kekasihnya.


Tok Tok


Flora mengetuk pintu ruangan kerja Gio sebelum masuk ke dalam ruangan itu. Flora mendorong pintu dan masuk ke dalamnya. Senyumnya mengembang saat melihat wajah kekasihnya.


Flora melangkah mendekati kekasihnya yang sedang duduk di kursinya. Terlihat sekali jika kekasihnya itu sangat lelah.


"Kamu masih belum selesai?" tanya Flora.


Gio yang sedang memeriksa setumpuk berkas yang ada di hadapannya menoleh ke arah Flora. Rasa lelah seakan hilang setelah melihat senyum pada bibir kekasihnya.


"Sedikit lagi," sahut Gio.


Gio menyenderkan tubuh belakangnya pada punggung kursi, lalu menyuruh Flora untuk mendekat. Gio mengulurkan tangannya setelah Flora berada dekat dengan dirinya.


Flora menerima uluran tangan Gio, lalu berdiri di hadapan Gio dengan bersender pada sisi meja. Dengan senyumnya, Flora mengusap salah satu sisi wajah Gio.


"Kamu terlihat sangat lelah," ujar Flora.


"Ya, ini semua karena sekertarisku memberikan jadwal pekerjaan yang padat padaku," ledek Gio membuat Flora terkekeh.


"Aku paling suka wajah kamu kalau lagi serius bekerja. Gantengnya pake banget," goda Flora.


Gio tersenyum tipis mendengar perkataan Flora. Gio menarik tangan Flora yang masih berada di salah satu sisi wajahnya lalu mengecup panggung tangannya.


"Sudah pinter gombal ya. Belajar darimana sih?" ledek Gio.


"Dari kamu lah," balas Flora membuat mereka tertawa bersama.


Keduanya nampak sangat bahagia bisa sering menghabiskan waktu bersama. Meski begitu pada saat jam kerja mereka bersikap profesional sebagai atasan dan bawahan. Dan pada saat jam istirahat ataupun jam pulang kantor, mereka kembali menjadi sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta.


Bunyi dering ponsel milik Gio mengalihkan perhatian mereka. Gio meraih ponselnya yang ada di meja. Nomor ponsel papanya nampak pada layar ponselnya. Segera Gio menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari papanya. Gio menempelkan benda pipih itu ke dekat telinganya dan mulai berbicara dengan papanya. Tidak lama setelah itu, Gio mengakhiri sambungan telepon dengan papanya.


"Ayo kita pulang!" ajak Gio yang langsung diangguki oleh Flora.


Gio beranjak dari kursi dan melingkarkan tangannya ke pundak Flora. "Kita ke rumahku dulu ya. Papa katanya pengin ketemu calon menantunya."


"Hah! Bapak Farhan mau ketemu aku?" Flora menunjuk dirinya sendiri.


"Ya iya, memang siapa lagi calon mantu papa, Sayangku," ucap Gio seraya mencubit pipi gemas kekasihnya.


"Awwww!" Flora memekik seraya mengusap pipinya yang baru dicubit Gio. "Ada apa bapak Farhan ingin ketemu sama aku?"

__ADS_1


Gio mengangguk, "Katanya papa pengin ngajak kamu makan malam bersama di rumah."


"Kamu mau, 'kan?" tanya Gio dan Flora langsung menganggukkan kepalanya.


Gio melihat ada keraguan dalam diri kekasihnya. Segera Gio memberikan kecupan pada ujung kepala Flora.


"Jangan khawatir, Sayangku. Aku sudah menceritakan tentang hubungan kita pada papa dan papa sangat senang," ucap Gio.


"Benarkah?" Flora mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah Gio.


"Apa aku kelihatan sedang berbohong," ucap Gio.


"Wajahmu selalu menyakinkan membuat banyak perempuan tertebak olehmu karena ucapan manismu," ledek Flora.


Flora ingin berlari setelah meledak Gio. Namun, sepertinya Gio sudah mengetahui langkahnya. Dengan cepat Gio menarik tangan Flora untuk mencegah kekasihnya itu pergi.


Segera Gio melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Flora.


Kini keduanya berdiri saling berhadapan dengan jarak yang begitu dekat dan hanya dibatasi oleh kain yang menempel pada tubuh mereka.


"Gio jangan seperti ini! Bagaimana jika nanti ada yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan ini?" Flora berusaha melepaskan diri dari Gio. Namun, semakin Flora berontak maka Gio akan semakin mengeratkan pelukannya.


"Gio ...."


Flora ingin mengalihkan pandangannya untuk menghindari tatapan kekasihnya itu. Namun, Gio mencegahnya. Jantung Flora semakin berdebar kencang saat Gio mulai mendekatkan wajahnya.


"Gio ...." Ucapan Flora terhenti saat Gio mencium bibirnya.


Flora sempat terkejut mendapat serangan dadakan dari Gio, membuat Flora tidak bisa menghindar ataupun menolaknya.


"Balas aku, Flora!" suruh Gio.


Suara Gio yang begitu lembut seperti sebuah mantra yang membuat Flora menuruti permintaan Gio. Tangan Flora mulai naik dan melingkar ke leher kekasihnya. Perlahan Flora pun mulai membalas ciuman yang diberikan oleh kekasihnya.


Mata mereka sama-sama terpejam, hanyut dalam ciuman pertama mereka setelah menjadi sepasang kekasih. Keduanya sama-sama menarik diri setelah merasa hampir kehabisan napas.


"Ada lipstik di bibir kamu." Flora mengusap lipstik yang menempel pada bibir Gio lalu menunduk malu.


"Apa kamu masih belum bisa mempercayai ku sepenuhnya?" tanya Gio.


"Bukan itu maksudku. Setelah aku berhasil melupakan Daniel, aku jatuh hati pada mu. Aku hanya takut untuk kehilangan lagi," sahut Flora.


Flora memeluk tubuh Gio, merebahkan kepalanya pada pundak kekasihnya itu.

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu, Gio. Berjanjilah untuk mencintaiku seperti ini selalu," pinta Flora.


"Aku tidak akan pernah bisa menolak permintaan kamu, Sayangku." Gio membalas pelukan Flora serta kembali memberikan kecupan di ujung kepala Flora.


"Ayo kita segera pulang. Jangan buat papa menunggu kita," ucap Gio yang langsung diangguki oleh Flora


Keduanya sama-sama menarik diri dari pelukan itu dan saling berbalas senyuman bahagia. Gio menggenggam tangan Flora dan melangkah bersama-sama keluar dari ruangan kerjanya.


Keduanya berjalan dengan tangan yang menyatu dan langsung menjadi pusat perhatikan para karyawan di kantor itu. Sudah banyak yang mengetahui tentang hubungan asmara mereka di kantor itu, termasuk Daniel dan Mariana. Ada yang mengucapkan selamat dan ada juga yang mencibir Flora. Namun, Flora tidak mengambil pusing cibiran mereka.


"Aku yang bawa mobilnya saja," ucap Flora. Flora menolak saat Gio akan mengambil alih kemudi mobilnya.


"Kenapa?" tanya Gio.


"Wajahmu nampak sangat lelah. Aku tidak bisa membiarkan kamu mengemudikan mobil dalam keadaan seperti ini," sahut Flora.


"Baiklah, Sayangku." Gio berjalan memutari mobil Flora dan masuk dalam mobil dan duduk pada bangku penumpang.


Flora sudah duduk di bangku kemudi dan siap untuk melajukan mobilnya. Jalanan sudah mulai padat membuat laju mobilnya tersedat.


Flora sedang berkonsentrasi mengemudikan mobilnya di jalanan yang padat. Sekali ia melihat ke arah Gio yang sedang tertidur. Wajahnya nampak sangat tenang. Flora tidak bisa menahan perasaannya, ia gerakan tangannya untuk mengusap sisi wajah Gio.


Kamu terlihat seperti bayi kalau lagi tidur kaya gini. Aku jadi makin menyukai kamu.


"Mandangnya biasa saja kali. Ampe segitunya."


Eh?


Flora menarik tangannya dari wajah Gio saat tiba-tiba mata Gio mulai terbuka. "Sejak kapan kamu bangun?"


"Aku bangun dari tadi saat merasa ada yang mengusap wajahku. Kamu terlalu sibuk memperhatikan wajahku, membuat kamu tidak menyadarinya," ledek Gio.


"Sudahlah, kamu tidur lagi saja. Kita masih terjebak macet," suruh Flora.


"Bilang saja masih ingin diam-diam melihat wajah tampan aku," ledek Gio.


"Jangan terlalu percaya diri," balas Flora.


"Itu kenyataan! Tidak ada wanita yang bisa berpaling dari wajah tampan aku," ucap Gio penuh rasa percaya diri.


"Awas saja jika berani tebar pesona sama perempuan lain."


Gio tergelak melihat ekspesi kesal bercampur rasa cemburu pada wajah Flora.

__ADS_1


__ADS_2