Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Datangnya Adam


__ADS_3

Kalian lelah? Sama aku pun juga lelah mikirin besok mau nulis apa, mau bikin yang bagaimana? Hihihi.


Curhat dikit ....


Flora berulangkali menarik napas lalu menghembuskanya kembali untuk meredam emosinya. Ia masih tidak percaya jika Daren baru saja mengungkapkan rasa cinta pada dirinya melalui sepucuk surat.


“Dia benar-benar sudah hilang akal,” maki Flora.


Flora kembali berkonsentrasi dengan pekerjaannya yang ada di layar komputer. Baru saja Flora berkonsentrasi dengan pekerjaannya suara gaduh dari depan ruangannya kembali mengganggunya.


“Susan ada apa lagi ini?” Flora bertanya dengan nada kesal.


“Maaf, Bu. Orang ini menyerobot masuk.” Susan menunjuk seorang laki-laki seumuran mendiang Farhan.


Flora beranjak dari kursinya untuk menghampiri Susan berserta laki-laki.


“Anda siapa?” tanya Flora.


“Saya Adam,” jawab laki-laki itu.


“Saya tidak perlu memperkenalkan diri saya lebih lanjut lagi karena saya tahu pasti kamu sudah mengenal saya,” jelas Adam.


Flora pun mengangguk lalu mengalihkan pandangannya ke arah Susan, memberi isyarat pada sekretarisnya untuk keluar dari ruangannya.


“Tinggalkan kami berdua! Saya mengenal beliau,” suruh Flora.


“Baik, Bu,” sahut Susan.


“Satu lagi, Susan ... jangan biarkan satu orang pun masuk ke sini tanpa izin dariku,” ucap Flora yang langsung diakui oleh Susan.


Flora mempersilahkan kepada Adam untuk duduk setelah Susan keluar dari ruangannya.


“Silahkan duduk, Om ... atau lebih tepatnya saya memanggil anda dengan sebutan papa,” ucap Flora.


“Saya tidak akan memaksamu untuk memanggil saya dengan sebutan itu,” balas Adam. “Saya mendengar kabar hilangnya Gio. Apakah kamu sudah menemukan keberadaannya?” tanya Adam setelah ia duduk di sofa.


Flora menyusul Adam duduk di sofa, tepat di hadapan sofa yang diduduki oleh Adam.


“Belum.” Flora menggelengkan kepalanya. “Tidak ada jejak yang tertinggal di tempat itu. Yang bisa memberikan kami petunjuk untuk menemukan pelaku dan keberadaan Gio,” jawab Flora.


“Tapi saya tahu siapa pelakunya,” ucap Adam. “Sebenarnya saya malu untuk memberitahukan hal ini pada kamu,” lanjut Adam.


Flora beranjak dari tempat duduknya lalu mengambil posisi duduk tepat di samping Adam. Flora meraih pergelangan tangan Adam dan bertanya dengan tidak sabarnya.


“Siapa, Om ... siapa?” tanya Flora.


“Daren ....” Adam menjawab dengan wajah yang tertunduk. “Anak saya sekaligus kakak dari suami kamu sendiri.”


Adam pun menceritakan bagaimana ia tahu jika Daren adalah pelakunya dari hilangnya kepada Flora.


Awalnya Adam yang ingin bertemu dengan Daren untuk meminta maaf dengan datang ke rumah Daren. Adam datang tanpa memberitahukan kedatangannya pada Daren sebelumnya.


Tanpa disengaja Adam mendengar pembicaraan Daren dengan seseorang disambungan telepon. Daren berkata pada seseorang di seberang telepon itu untuk tidak membiarkan seseorang tahu jika dirinya adalah dalang dari hilangnya Gio. Daren juga berkata untuk kembali memeriksa tempat dirinya membuang tubuh Gio.

__ADS_1


“Apa Om tahu di mana Deren membuang tubuh Gio?” tanya Flora diikuti air matanya yang sudah mengalir deras.


Adam menggeleng,” Tidak, Nak. Saya langsung pergi dari tempat itu Karena saya takut Deren akan mengetahui keberadaan saya di sana.”


Seketika tubuh Flora merosot ke lantai tangisannya kembali pecah setelah mendengar pernyataan Adam.


“Maafkan saya, Nak. Daren melampiaskan kemarahannya terhadap saya kepada kalian,” ucap Adam.


Bersamaan dengan itu Daniel masuk keruangan Flora. Daniel langsung menghampiri Flora dan mengangkat tubuh Flora untuk kembali duduk diatas sofa.


“Flora, apa yang terjadi?” tanya Daniel.


Pandangan Daniel mengarah pada Adam. “Om Adam? Apa yang Anda lakukan di sini? Dan apa yang terjadi kepada Flora.”


“Daren adalah dalang dari hilangnya Gio,” ungkap Flora di sela isak tangisnya.


“Apa maksud kamu, Flora?” tanya Daniel.


“Saya mendengar sendiri pembicaraan Daren dengan seseorang di telepon,” aku Adam.


“Daniel panggil Abi! Suruh dia memesan tiket ke Amerika sekarang! Aku harus menemui Daren,” perintah Flora.


“Apa kami pikir aku akan membiarkan kamu untuk pergi ke sana dalam kondisi seperti ini, Flora?” ucap Daniel. “Jika memang benar Daren yang melakukan ini semua, dia bisa saja mencelakaimu.”


“Yang dikatakan oleh Daniel benar, Flora. Kita tidak bisa melakukan apapun kepada Daren di sana. Dia punya banyak anak buah Amerika,” sambung Adam. “Jika ingin menangkap dia ... pancing dia ke sini!” suruh Adam.


“Bagaimana caranya?” tanya Daniel.


Flora langsung menghapus air matanya. Rasa sedihnya kini sudah berganti dengan kemarahan. “Aku yang akan memancingnya untuk datang ke sini.”


“Aku minta jangan sampai orang lain tahu tentang ini,” pinta Flora.


“Baik, Flora ... jangan khawatir,” ucap Daniel disusul oleh anggukan kepala oleh Adam.


“Sebaiknya kamu pulang. Jangan paksakan kondisimu sekarang untuk bekerja,” suruh Daniel.


“Baiklah,” jawab Flora seraya mengangguk.


“Aku akan mengantarmu pulang,” ucap Daniel.


Sebelum Flora beranjak dari sofa, pandangannya mengarah kepada Adam.


“Om Adam sekarang tinggal di mana?” tanya Flora.


“Saya tinggal di hotel di dekat sini,” jawab Adam.


“Kenapa Om gak tinggal di rumahku saja?” tawar Flora.


“Tidak, Nak. Jika nanti Daren tahu saya tinggal denganmu, pasti dia akan sangat marah,” ucap Adam. “Sekali lagi tolong maafkan saya tidak.”


“Tidak apa-apa, Om. Terima kasih untuk informasinya,” ucap Flora.


“Dan satu lagi ... saya tidak akan menghalangi kalian untuk menghukum Daren,” ucap Adam.

__ADS_1


*****


Flora sudah sampai di rumahnya dengan diantar oleh Daniel. Dengan segera Flora mengusap jejak air matanya sebelum ia turun dari dalam mobil milik Daniel.


“Jangan khawatir, Flora. Semuanya pasti akan baik-baik saja,” ucap Daniel.


“Jujur aku belum siap menerima kemungkinan terburuk tentang Gio,” jawab Flora.


“Tapi Flora sebaiknya kamu mulai menyiapkan diri dari sekarang,” ucap Daniel. “Yang terpenting sekarang kita harus bersiap untuk menghadapi Daren.”


“Iya.” Flora mengangguk dengan wajah tertunduk. “Terima kasih sudah mengantarku.”


-


-


-


Hari sudah menjelang sore, Flora yang masih berada di kamar keluar setelah mendengar bibi mengetuk pintu kamarnya. Flora membuka pintu dan mendapati bibi ada di depan kamarnya.


“Ada apa, Bi?” tanya Flora.


“Ada tamu yang mencari Ibu,” jawab Bibi.


“Siapa?” tanya Flora.


“Siapa ya, bibi lupa namanya,” jawab bibi. “Laki-laki, Bu. Ganteng pisan.”


Eh?


“Oh iya itu namanya kaya nama burung, Bu,” jelas bibi.


“Nama burung? Bibi ngaco nih.” Flora menahan tawanya. “Ya sudah, ayo kita lihat, Bi.”


Flora dan bibi melangkah bersama ke ruang tamu. Namun, keduanya terkejut saat tidak mendapati seseorang di ruangan itu.


“Loh, Bi ... mana orangnya?” tanya Flora.


“Tadi di sini, Bu ....” Bibi pun tidak kalah bingung. “Ke mana orangnya ya, Bu?”


“Aku juga gak tahu, Bi. Aku 'kan baru datang ke sini sama Bibi,” balas Flora.


“Coba saya tanya penjaga di luar dulu ya, Bu,” ucap bibi dan langsung dianggukki oleh Flora.


Baru saja bibi akan keluar dari rumah, mereka mendengar suara gaduh di jalanan. Banyak orang yang berlarian. Flora yang penasaran ikut keluar rumah.


“Pak Roni, ada apa?” tanya Flora kepada sopirnya.


Belum sempat pak Roni menjawab, penjaga di rumahnya berlari menghampiri dirinya.


“Bu, orang yang tadi ke sini kecelakaan. Mobilnya menabrak pohon di pertigaan jalan,” jelasnya. “Kalau tidak salah ... namanya ... Elang Ardiansyah.”


“Elang Ardiansyah? Kamu yakin?” Flora bertanya untuk kembali memastikan.

__ADS_1


“Iya, Bu. Bibi ingat sekarang ... tamu yang tadi ke sini namanya Elang,” sambung bibi.


Mendadak perasaan Flora menjadi tidak enak. Flora berjalan keluar melewati pintu gerbang rumahnya. Flora melangkah secepat yang ia bisa ke tempat kecelakaan Elang yang memang tidak jauh dari rumahnya.


__ADS_2