
Keyakinan Flora jika suaminya masih hidup ternyata tidak salah. Suaminya benar-benar masih hidup dan kini ada di hadapannya, sedang memberikan kehangatan dan kenikmatan untuk dirinya.
Rasa rindu setelah berpisah berbulan-bulan seolah terbalaskan. Pada malam itu mereka melepaskan kerinduan, menghabiskan malam yang panjang dengan menyatukan tubuh.
Setelah beberapa saat yang lalu mereka selesai melepas rindu, kini keduanya tengah berlomba meraup udara dan memasukannya ke dalam rongga paru-paru mereka.
Mungkin pada awalnya Flora pernah berpikir, akankan ia bisa melakukan hubungan suami-istri dengan Gio dengan wajah barunya? Akankah nantinya ia merasa seperti berhubungan dengan laki-laki asing?
Ternyata tidak?
Ternyata Flora tidak merasa seperti itu. Sentuhan yang Gio berikan di tubuhnya masih sama. Kelembutan yang Gio berikan pun masih sama.
Kini Flora sedang menatap wajah suaminya yang ada di sebelahnya. Menatapnya penuh rasa cinta dan kerinduan. Matanya, senyumnya yang menawan seolah membius dirinya.
Flora ingat betul waktu pertama kali bertemu dengan Gio saat masih menjadi Elang. Rasa rindu pada suaminya membuat Flora berharap jika Elang adalah Gio. Ternyata permintaan konyolnya itu terkabul.
“Kamu capek?” tanya Gio saat melihat istrinya menatapnya dalam diam.
Flora menggeleng.
“Gak ada yang sakit, 'kan?” Gio bertanya lagi.
Flora menggeleng lagi.
“Terus kenapa kamu lihatin aku terus. Aku tahu aku ini sangat tampan. Tapi jangan lihatin aku sampai kaya gitu,” goda Gio.
“Lagi pengin saja liatin kamu,” jawab Flora tanpa mengalihkan pandangannya dari Gio.
“Atau kamu mau lagi?” goda Gio.
Flora langsung memberikan cubitan di perut Gio, membuat suaminya memekik.
“Awwww!” pekik Gio.
“Gak berubah ya rasa percaya dirinya,” ejek Flora disambut kekehan Gio.
”Aku lagi lihatin wajah kamu. Aku jadi berasa selingkuh sama Elang,” ucap Flora.
“Pantas saja Bella tergila-gila sama Elang, lihat wajah kamu saja rasanya pikiranku menjadi tenang,” ucap Flora. “Apa lagi senyummu.”
“Ya sudah, aku jadi Elang saja,” ucap Gio.
“Enak saja!” Flora memeluk tubuh suaminya seperti tidak mengizinkannya untuk pergi. “Kamu itu Gio suami aku dan ayah dari anak aku. Bukan Elang mantan kekasih Bella.”
“Cie ... cemburu,” ledek Gio dibalas cibiran oleh Flora.
“Aku sangat mencintaimu, Gio. Aku tidak bisa jauh lagi darimu,” ucap Flora.
“Aku sangat mencintaimu. Saat aku ini Gio atau juga saat aku menjadi Elang,” ucap Gio.
“Apa maksudmu? Jadi saat kamu masih menjadi Elang kamu sudah memiliki perasaan kepadaku?” tanya Flora.
“Memangnya kamu tidak bisa merasakannya?” tanya Gio. “Dasar tidak peka.”
Eh?
“Untuk apa aku selalu diam-diam memperhatikanmu, aku rela menggendongmu dari tepi pantai sampai kamar hotel, dan rela berlari-lari hanya karena ingin melihatmu sebelum kamu kembali ke Jakarta,” aku Gio.
__ADS_1
“Awalnya aku tidak menyadarinya. Tapi saat kamu jauh dariku aku baru menyadarinya. Saat aku mendengarmu sakit, aku merasa khawatir bahkan seperti kehilangan akal,” ucap Gio.
“Cie ... sampai segitunya,” ledek Flora.
“Tapi aku juga tidak memungkirinya, waktu itu saat pertama kali aku melihatmu, aku merasa senang. Mungkin karena matamu ini?” aku Flora. “Aku juga sangat ingin melihatmu sebelum aku kembali ke Jakarta. Bahkan kamu tahu ... aku pernah berharap jika Elang itu kamu dan tenyata harapanku terkabul.”
Gio memberikan kecupan di ujung kepala Flora seraya mengusap pundak polosnya.
“Selamanya aku hanya akan menjadi Gio untukmu dan hanya milikmu,” ucap Gio.
“Kamu tahu, Gio? Aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganku dan anak kita nanti ... jika kamu tidak kembali,” ucap Flora.
“Kamu pasti akan baik-baik saja. Banyak orang yang menyayangimu di sisimu,” ucap Gio.
“Tetap saja rasanya berbeda,” ucap Flora. “Dan sekarang aku tidak akan membiarkanmu untuk pergi lagi,” ucap Flora.
Gio makin mengeratkan pelukannya serta tangannya mengusap pundak polos Flora. Satu tangannya Gio gunakan untuk menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
“Sekarang tidur. Lupakan semua kenangan buruk itu,” ucap Gio yang langsung diangguki oleh Flora.
“Dan ... makasih ya untuk yang tadi,” bisik Gio.
Flora kembali mengangguk. Namun, dengan wajah yang merona.
Gio mematikan lampu kamar mereka sebelum keduanya akhirnya terlelap bersama.
*****
Keesokan paginya, Flora bangun pagi. Tidak seperti biasanya kini Flora bangun dengan wajah yang ceria. Mimpi buruk yang empat bulan Flora alami, kini telah berganti dengan mimpi yang indah.
“Tumben, Nak ... masak?” tanya Seruni.
“Selamat pagi, Bu,” sapa Flora.
“Pagi, Nak,” balas Seruni.
“Kamu lagi masak apa?” tanya Seruni.
“Ini ... Gio minta dibikinin sandwich telor,” jawab Flora.
“Ibu senang lihat kamu ceria seperti ini lagi. Semoga tidak ada yang kembali mengganggu kalian,” ucap Flora.
“Amiin,” sahut Seruni.
“Sudah matang. Aku panggil Gio dulu,” ucap Flora.
Seruni mengangguk. “Iya, Nak.”
Flora melepaskan celemek di tubuhnya dan menggantungnya ke tempat semula. Flora melangkah ke kamarnya untuk membangunkan suaminya.
“Gio, ayo bangun,” ucap Flora.
Flora berdecak saat Gio tidak merespon panggilannya. Flora duduk di tepi ranjang lalu menepuk-nepuk pundak suaminya.
“Sayang, ayo ... bangun,” ucap Flora.
“Iya,” sahut Gio.
__ADS_1
Gio tidak bangun, tetapi justru berbalik dan memunggungi Flora.
“Gio, ayo bangun! Hari ini aku harus ke kantor dan juga aku ada janji dengan Dokter Marissa,” ucap Flora.
“Aku sudah pulang kamu tidak perlu ke kantor,” ucap Gio.
Kini Gio berbalik memindahkan kepalanya ke atas pangkuan istrinya. Wajahnya menghadap langsung ke perut buncit istrinya. Satu kecupan ia berikan di perut yang sudah tidak lagi rata itu.
“Pagi, anak papa,” sapa Gio.
“Pagi, Papa,” sahut Flora yang menirukan suara anak kecil.
Gio bangun dan mengambil posisi duduk. Satu kecupan Gio berikan di bibir Flora.
“Pagi, Sayang,” sapa Gio.
“Pagi juga,” balas Flora.
“Bangunlah, aku sudah bikin sarapan yang kamu minta,” ucap Flora.
Gio mengangguk untuk merespon ucapan istrinya.
“Dengar, Sayang ... mulai hari ini aku yang akan ke kantor. Kamu cukup diam di rumah dan jaga kondisi kamu,” ucap Gio.
“Iya, Suamiku. Tapi hari ini aku harus ke kantor ada beberapa berkas yang mesti aku periksa,” ucap Flora yang langsung dianggukki oleh Gio.
“Dan siangnya, aku mau bertemu dengan Dokter Marissa untuk memeriksakan kandunganku,” ucap Flora.
“Apa kita sudah bisa tahu jenis kelamin anak kita?” tanya Gio.
“Tentu sudah,” jawab Flora.
“Apa kamu sudah tahu jenis kelaminnya?” tanya Gio.
Flora menggeleng. “Belum ... aku menunggumu.”
Mendadak wajah Flora menjadi muram bahkan ada air mata yang menggenang di pipinya.
Gio membawa Flora masuk ke dalam pelukannya dan mengecup ujung kepala Flora. “Aku sudah kembali. Jadi ... ayo kita lihat jenis kelamin anak kita.”
Flora mengangguk dalam pelukan Gio. Satu tetes air mata keluar dari mata Flora. Air mata yang menjadi pengiring akan kebahagiaannya. Keyakinan yang tidak pernah pupus kini berbuah manis, Gio kembali sebelum anaknya lahir ke dunia.
Dering ponsel Gio mendadak berbunyi, membuat Gio dan Flora mengalihkan perhatiannya mereka. Flora menarik dirinya lebih dulu dari pelukan itu lalu beranjak dari atas tempat tidur untuk mengambil ponsel milik Gio.
Flora melihat ada nama Mahendra tertera di layar ponsel itu. Flora menaikan satu alisnya merasa heran dengan itu.
“Siapa yang telepon, Sayang?” tanya Gio.
“Pak Mahendra,” jawab Flora.
“Om Mahendra? Ada apa beliau menelpon?” ucap Gio.
Gio menerima ponsel yang diberikan oleh istrinya. Gio menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu.
“Halo ... Om Mahendra,” ucap Gio.
“ ... ”
__ADS_1
“Apa? Bella bunuh diri!”