Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Lahirnya Malaikat Kecil


__ADS_3

Gio, Mariana, dan Seruni masih menunggu Flora yang akan dibawa ke ruangan bersalin. Gio berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Rasa panik, cemas, bahagia, melebur menjadi satu di dalam hati Gio. Semua perasaan itu benar-benar membuat isi kepala Gio berhenti berkerja.


“Gio, kamu gak capek, gak pusing jalan mondar-mandir kaya gitu?” tanya Mariana.


Mata Mariana lelah melihat keponakannya berjalan mondar-mandir bak setikraan tepat di hadapannya.


“Gak, Tante,” jawab Gio tanpa berhenti berjalan mondar-mandir.


“Tapi tante yang pusing.” Perkataan Mariana langsung membuat Gio berhenti berjalan.


Gio berhenti melangkah dan langsung menghampiri istrinya.


“Mereka lama banget sih?” gerutu Gio.


“Sabar dong. Mungkin mereka lagi ngurus beberapa prosedur,” ucap Mariana.


“Tapi aku gak tega lihat Flora kesakitan kaya gini,” ucap Gio. “Gak ada apa obat yang bisa bikin Flora gak sakit kata gini?”


“Ini sudah biasa dialami oleh perempuan yang mau melahirkan. Nanti kalau anak kalian sudah lahir juga gak akan sakit lagi,” jelas Mariana.


“Kalau gak mau sakit ya lewat jalur operasi,” imbuh Mariana.


“Kenapa gak bilang dari tadi sih, Tan? Kalau tahu mending Flora dioperasi saja,” ucap Gio.


Pandangan Gio beralih ke arah Flora. Melihat istrinya kesakitan wajah Gio menjadi tidak tega.


“Sayang ... kamu operasi saja ya,” tawar Gio.


Tentu saja Flora langsung menggelengkan kepalanya. “Gak mau?”


“Dari pada kamu kesakitan kaya gini,” ucap Gio.


“Gak mau,” tolak Flora.


“Tapi ....”


Mariana mendekati Gio lalu menoyor kepala keponakannya.


“Bersyukur istri kamu bisa melahirkan secara normal. Kalau lahir normal itu sakitnya cuma sebentar beda sama operasi beda sama operasi. Kalau operasi sakitnya lama,” jelas Mariana.


“Lagian ini sudah telat. Kamu gak dengar tadi Dokter bilang, istri kamu sudah pembukaan delapan dan bayi kalian sudah ada dalam posisinya untuk keluar,” jelas Mariana.

__ADS_1


Gio manggut-manggut seolah mengerti apa yang dijelaskan oleh tantenya.


Obrolan mereka terhenti saat Dokter Marissa kembali ke ruangan itu. Dokter Marissa segera memerintahkan dua orang perawat untuk membawa Flora ke ruang bersalin.


“Sabar ya, Ibu Flora,” ucap Dokter Marissa.


Flora menganggukkan kepalanya untuk merespon ucapan Dokter Marissa.


Tidak menunggu lagi, Flora langsung dikeluarkan dari ruang rawatnya dan dibawa ke ruangan khusus untuk persalinan.


Flora sedang dibawa ke ruang bersalin. Sedari tadi pula Flora tidak berhenti mengerang. Rasa sakitnya sudah tidak tertahan lagi.


Flora terus menggenggam pergelangan tangan suaminya untuk menahan rasa sakitnya. Tidak jarang juga kuku panjangnya menggores kulit tangan suaminya.


Flora sudah masuk ke dalam ruangan bersalin. Kontraksi yang dialami Flora semakin kuat. Tidak jarang membuat Flora berteriak kesakitan.


Bukan hanya itu, tidak jarang juga Flora melampiaskan rasa sakitnya kepada Gio, dari mencakar dan juga mengigit tangan Gio.


Saat itu yang bisa dilakukan oleh Gio hanyalah pasrah. Gio rela menjadi pelampiasan rasa sakit istrinya yang sedang berjuang untuk melahirkan anak mereka.


Kalau gak inget enak pas bikinnya, aku gak rela ngerasain sakit digigit sama dicakar begini.


Dokter Marissa kembali memeriksa Flora dan ternyata sudah pembukaan sempurna. Flora sudah siap untuk melahirkan.


Flora mengangguk lalu mulai melakukan apa yang diperintahkan oleh Dokter Marissa.


Flora mulai mengejan untuk mendorong bayi dalam perutnya keluar. Tangannya terus menggenggam tangan suaminya untuk membatunya bertahan.


Akan tetapi Flora tidak tahu jika suaminya merasa lemas melihat proses melahirkan itu. Kakinya bahkan serasa sudah menjadi jeli. Jika saja Gio tidak merasakan goresan dari kuku istrinya mungkin Gio sudah tergeletak.


Bersyukur proses persalinan itu tidak berlangsung lama. Bayi dalam kandungan Flora seakan tidak sabar untuk keluar dari dalam perut ibunya. Dalam waktu setengah jam bayi itu lahir.


Tangis bayi yang menggema di ruangan bersalin itu membuat semua orang menarik napas lega mereka. Flora dan Gio bahkan sampai menangis haru. Perasaan mereka sungguh bahagia, rasa lelahnya kini terbayar sudah.


“Anak kita sudah lahir, Sayang,” bisik Gio. “Terimakasih banyak ya.”


Flora mengangguk bersamaan dengan Gio yang memberikan kecupan di pipinya. Malaikat kecil yang mereka tunggu selama 9 bulan telah lahir. Keluarga mereka akhirnya lengkap sudah.


Flora merasa sangat lelah, tetapi tidak sebanding dengan kebahagiaan yang ia dapatkan. Kini dirinya sudah berubah status, dari seorang anak gadis menjadi seorang istri, dan kini statusnya sudah menjadi seorang ibu.


“Ini, Pak ... bayi Anda.” Seorang suster menunjukan bayi yang baru saja Flora lahirkan kepada Gio. “Bayinya cantik dan sempurna ya.”

__ADS_1


Bayi perempuan yang lahir dengan bobot 3,5 kilogram dan panjangnya 50 cm itu terlahir dengan sempurna.


“Hah, apa ... Sus?”


Entah karena lelah atau rasa bahagia yang tidak bisa Gio ungkapan membuat Gio menjadi gagal Fokus.


“Ini bayi yang baru saja istri anda lahirkan.” Perawat mengulangi perkataannya.


“Bayi saya?” tanya Gio yang langsung dianggukki oleh perawat itu.


Flora yang juga melihat suaminya rasanya ingin tertawa dan juga ingin memukul kepala suaminya.


“Silahkan kalau mau gendong,” ucap perawat itu. “Sementara itu saya akan membersihkan istri Anda.”


“Tidak!” Dengan cepat Gio menolak untuk menggendong anaknya.


Flora menaikan satu alisnya saat melihat Gio tidak mau menggendong putrinya sendiri.


“Tapi —” Ucapan perawat itu langsung dipotong oleh Gio.


“Saya tidak bisa mengendong seorang bayi,” sela Gio. “Saya takut kalau nanti saya menjatuhkannya.” Gio berucap seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Flora dan perawat itu terlihat menahan tawa mereka setelah mendengar jawaban dari Gio.


“Baiklah saya akan menaruhnya ke ruang bayi dulu,” ucap perawat itu. “Saya juga tidak bisa menanggung resiko jika bayi ini jatuh dari tangan Anda.”


“I-itu lebih baik,” gagap Gio.


Perawat itu akhirnya membawa bayi mungil itu ke ruangan bayi.


Sementara itu Gio melangkah mendekati istrinya. Seorang perawat terlihat sedang membersihkan tubuh istrinya, dari bekas persalinannya.


Gio melihat wajah istrinya sangat ceria, terlihat sekali kebahagiaan terpancar dari wajah cantiknya. Tidak ada kekalahan dalam diri istrinya. Tubuh Gio kembali merasa lemas dan ia juga merasa mual saat melihat kain yang banyak terdapat banyak darah.


“Sayang, aku tinggal sebentar ya,” ucap Gio.


“Kamu mau ke mana?” tanya Flora.


“Ke toilet.” Bicara Gio tergagap karena menahan sesuatu yang bergejolak dalam perutnya.


“Kamu tidak apa-apa, 'kan? Wajah kamu pucat,” tanya Flora.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Aku tinggal bentar ya. Aku akan panggil ibu untuk menemanimu di sini,” ucap Gio yang langsung dianggukki oleh Flora.


“Dia kenapa?” Flora merasa heran saat Gio pergi dari ruangan itu dengan terburu-buru.


__ADS_2