
Kenzo keluar dari kamar pengantinnya lebih dulu lalu turun ke restoran untuk bergabung dengan keluarganya. Dalam perjalanan Kenzo bertemu dengan Kenzi, kembarannya. Rasa kesal pada Kenzi mengenai obat perangsang itu masih bersarang di dalam diri Kenzo, membuatnya tidak ingin menyapa Kenzi.
Kenzo sangat yakin jika itu semua adalah ulah Kenzi. Siapa lagi yang suka bermain-main dengan barang-barang seperti itu di keluarganya selain kembarannya.
"Mentang-mentang sudah punya istri, kembarannya dilupakan." Kenzi merangkul pundak kembarannya seraya meledeknya.
Kenzo memilih tetap diam daripada menanggapi ledekan Kenzi yang menurutnya tidak bermutu.
"Oh ya, bagaimana malam pertama kalian?" Kenzi tidak menyerah untuk membuat Kenzo menjadi kesal. "Berhasil, 'kan?"
Langkah Kenzo langsung berhenti setelah mendengar pertanyaan dari kembarannya. Kenzo menatap tajam adik kembarnya. Namun, tatapan tajamnya tidak membuat adik kembarnya takut. Kenzi justru melipat bibirnya untuk menahan tawanya.
"Apa kamu pikir aku bisa menghindari itu?" Nada bicara Kenzo terdengar kesal.
"Benarkah? Bagus kalau begitu," ucap Kenzi. "Cepat berikan aku keponakan yang lucu-lucu."
"Aku tidak suka dengan apa yang kamu dan Gavindra lakukan," tegur Kenzo.
"Kami hanya ingin kalian bisa akur." Kenzi menunjukkan wajahnya seperti orang yang tidak bersalah.
Kenzo tidak merespon perkataan Kenzi, ia memilih untuk pergi meninggalkan kembarannya. Bagi Kenzo percuma terus meladeni ocehan Kenzi, karena kembarannya itu memiliki segudang kata untuk membela dirinya.
Langkah Kenzo berhenti ketika sampai di restoran yang ada di dalam hotel itu. Ia langsung bergabung bersama keluarga dan juga keluarga barunya.
"Pagi semua," sapa Kenzo.
"Pagi Kenzo," jawab Gio mewakili semuanya.
"Kenapa kamu datang ke sini sendiri? Di mana Felicia?" tanya Violetta.
"Masih di kamar, Mah. Tadi bilang masih lama. Jadi dia menyuruhku untuk datang ke sini lebih dulu," jawab Kenzo.
"Oke. Ayo sana kamu sarapan dulu, kami sudah selesai," suruh Violetta.
"Ya, Mah," sahut Kenzo.
Kenzo memilih menu sarapan sandwich daging dan secangkir teh. Sebenernya terlalu siang untuk menyebutnya dengan sarapan, karena waktu sudah menunjukan pukul 11 siang. Sudah hampir satu jam Kenzo duduk di tempat itu. Namun, belum ada tanda-tanda kemunculan Felicia.
"Kenzo kamu mencari siapa?" tanya Flora.
__ADS_1
"Tentu saja dia mencari istrinya tercinta, Tante." Bukan Kenzo yang menjawab, melainkan saudara kembarnya, Kenzi.
Mata Kenzo langsung memicik tajam ke arah adik kembarnya. Membuat Kenzi melipat bibirnya untuk menahan tawanya. Meledek saudara kembarnya bagi Kenzi sangatlah menyenangkan.
"Kenzi berhentilah mengganggu kakakmu," ucap Evano.
"Aku tidak janji, Pah," ucap Kenzi.
Kenzo tidak peduli dengan adiknya, ia sedikit merasa khawatir dengan Felicia. Sebelum dirinya meninggalkan Felicia di kamar istrinya itu masih merasa sakit. Apa rasanya sesakit itu?
"Aku permisi sebentar," ucap Kenzo.
"Kenzo kamu mau ke mana?" tanya Evano saat melihat Kenzo beranjak dari tempat duduknya.
"Ke kamar, Pah. Aku mau lihat Felicia. Ini sudah terlalu lama," jawab Kenzo.
"Cie, sudah mulai khawatir nih." Kini giliran Gavindra yang meledek Kenzo.
Mata Kenzo melirik adik iparnya. Tatapannya sungguh bisa membuat orang merinding karena ketakutan. "Urusanku dengan kalian berdua belum selesai."
Gavindra dan Kenzi tidak merasa takut dengan perkataan Kenzo. Mereka justru tergelak dan bertos ria dengan mengadu kepalan tangan mereka dan sebagai tanda kemenangan mereka.
Langkah Kenzo berhenti tepat di depan kamar pengantinya. Ia mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam kamar itu. Setelah menunggu beberapa saat pintu di hadapannya terbuka dari dalam.
"Kamu sudah kembali?" tanya Felicia.
Kenzo menaikan satu alisnya saat Felicia hanya menyumbulkan kepalanya saja. Istrinya seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Kenzo masuk tanpa memperdulikan istrinya yang berdiri di balik pintu.
"Apa yang kamu lakukan di kamar ini? Kenapa kamu lama sekali untuk turun. Keluargamu sudah menunggumu," ucap Kenzo
"Bagaimana aku bisa menemui mereka," ucap Felicia.
"Kenapa memangnya?" tanya Kenzo.
Felicia menarik rambutnya ke samping dan menunjukan tanda merah di lehernya kepada Kenzo.
"Aku malu jika mereka nantinya melihat ini." Felicia berucap dengan wajah yang tertunduk untuk menyembunyikan rasa malunya.
Mata Kenzo membulat melihat tanda merah di leher istrinya. Kenzo merasa yakin jika dirinya yang menciptakan tanda merah itu.
__ADS_1
"Ehmmm." Kenzo berdehem. "Aku tidak sengaja melakukan itu. Kamu tahu 'kan semalaman aku tidak sengaja minum obat perangsang itu," ucap Kenzo.
"Ya, ya, ya, aku tahu itu. Kamu tidak perlu menjelaskannya lagi," ucap Felicia.
Tidak lama setelah Kenzo kembali ada orang lain lagi yang mengetuk pintu kamar itu. Felicia berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Pastinya dengan menutupi tanda merah di lehernya menggunakan rambutnya.
Pintu kamar itu kemali Felicia buka dan memperlihatkan Tania di depan kamar itu.
"Selamat siang, Bu. Ini barang yang ibu minta." Asisten pribadi Felicia memberikan paper bag berisi barang yang Felicia minta.
"Terima kasih, Tania." Felicia menerima paper bag yang diberikan oleh Tania.
"Apa ada lagi yang Anda butuhkan?" tanya Tania.
"Tidak ada," jawab Felicia.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu," ucap Tania yang langsung disambut anggukan kepala oleh Felicia.
Felicia menutup pintu setelah Tania pergi dan kembali ke dalam kamarnya. Felicia langsung masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa paper bag yang diberikan oleh Tania.
Di dalam kamar mandi Felicia mengeluarkan barang yang ada di dalam paper bag, sebuah pakaian model turtleneck tanpa lengan berwarna merah muda.
"Dengan pakaian ini tanda merah di leherku tidak akan terlihat," ucap Felicia. Dengan pakaian itu juga Felicia tidak perlu malu jika bertemu dengan orang lain.
Felicia tidak menunda lagi untuk memakai pakaian itu. Warna merah muda sangat cocok dengan kulitnya yang putih seperti susu. Kini pakaian itu sudah melekat di tubuhnya dan sangat cocok dipadukan dengan celana jeans yang sudah ia pakai sebelumnya.
Setelah selesai memakai pakaiannya Felicia keluar dari kamar mandi. Wanita itu berjalan ke meja rias tanpa mempedulikan suaminya yang sedang memperhatikannya dari saat ia keluar dari dalam kamar mandi.
Felicia sedang menyapukan blush-on di pipinya. Pandangannya bertemu pandangan suaminya melalui cermin yang ada di hadapannya.
"Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?" Felicia bertanya tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Tidak apa-apa? Hanya saja kamu tidak cocok memakai pakaian seperti itu," jawab Kenzo.
Felicia mendengkus mendengar jawaban Kenzo. Jika tahu suaminya akan berkata seperti itu Felicia memilih untuk tidak bertanya padanya. Dengan kasar Felicia memasukan kuas blush-on ke dalam tas make-upnya lalu beranjak dari meja rias.
"Aku akan lebih cepat tua jika terus menghadapimu." Felicia memilih keluar lebih dulu dari kamar itu meninggalkan Kenzo.
Kenzo masih duduk di tempatnya seraya memperhatikan Felicia. Sejujurnya ucapannya kepada Felicia tidak sepenuhnya benar. Penampilan istrinya nampak berbeda dengan pakaian model seperti itu. Hanya saja Kenzo terlalu gengsi untuk mengakuinya.
__ADS_1