Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Felicia Aourora Ferdinand


__ADS_3

Jam menunjukan pukul 2 malam, tidur Gio terusik oleh suara rengekan. Gio yang sedang tidur di sofa mulai menggerakkan tubuhnya kemudian mengucek mata menggunakan punggung tangannya.


Gio beberapa kali mengedipkan matanya lalu mengedarkan pandangannya ke ruang rawat Flora untuk mencari sumber suara. Pandangan matanya berhenti pada box bayi, Gio melihat bayinya bergerak di dalam box bayi itu.


Gio beranjak dari sofa, ia melangkah menghampiri bayinya yang ada di dalam box bayi.


“Anak papa kenapa nangis?” ucap Gio.


Tentu saja bayinya hanya merespon dengan suara rengekannya.


“Kamu kenapa nangis, Nak?” tanya Gio lagi.


Mau ditanya ratusan kali pun respon dari anaknya tetap saja cuma rengekan.


Gio membungkukkan tubuhnya, menepuk-nepuk tubuh anaknya. Tangan Gio mendadak merasakan basah di bawah tubuh anaknya.


“Kok basah?” batin Gio. “Apa dia pipis ya?”


Gio merasa bingung apa yang harus dirinya lakukan? Istrinya masih tidur, dan ibu mertuanya? Beliau sudah pulang, karena dirinya yang memintanya untuk pulang.


Gio belum bisa mengganti popok, jadi ia terpaksa membangunkan istrinya.


“Sayang, bangun dong.” Gio menepuk lengan Flora mencoba untuk membangunkan istrinya.


Beberapa kali Gio memanggil dan akhirnya Flora bangun juga.


“Ada apa?” tanya Flora.


“Baby nangis. Kayaknya popoknya basah,” jawab Gio.


Flora menoleh ke arah bayinya yang ada di box bayi. Ia meminta pada suaminya untuk memindahkannya ke tempat tidur.


“Tunggu!” Gio menghentikan istrinya saat akan mengganti popok anaknya.


“Aku saja,” ucap Gio.


Eh?


“Memang kamu bisa?” tanya Flora.


“Kamu kasih tahu saja apa yang harus aku lakukan,” suruh Gio.


“Baiklah,” sahut Flora diikuti senyum tipisnya.


Flora mulai memberitahukan pada Gio bagaimana caranya mengganti popok anaknya. Kekaguman Flora bertambah pada sosok suaminya. Meskipun dari luar suaminya itu nampak tidak bisa serius dan tidak sabaran dengan suatu hal, tetapi malam itu Flora melihat suaminya sangat cekatan dalam mengurus seorang bayi.


“Sudah benar, 'kan?” tanya Gio setelah ia selesai mengganti popok dan memakaikan bedong ke tubuh anak mereka.


Flora memberikan senyumnya lalu memberikan sebuah kecupan di pipi suaminya.


“Aku gak nyangka ya kamu bisa melakukan ini,” puji Flora.


“Iya dong. Masa iya aku cuma bisa lepas baju namanya doang,” goda Gio.


“Kamu ....” Flora memberikan cubitan di perut suaminya.


“Tapi lain kali biar aku saja. Ini tugas aku, tugas kamu adalah kerja, mencari uang yang banyak untuk kami,” ucap Flora.


“Iya, Sayangku,” sahut Gio. “Sama ngerjain kamu juga,” bisik Gio.


“Kamu sudah punya anak ... masih saja suka mesum,” ucap Flora.

__ADS_1


“Mesum sama istri gak apa-apa dong,” ucap Gio. “Tapi sayang ... aku harus puasa empat puluh hari.”


Gio berdecak yang langsung membuat Flora tertawa.


“Sekarang kamu tidur lagi gih,” suruh Gio.


Flora mengangguk, lalu ia memindahkan tubuh bayi kecilnya ke box. Namun, bayinya kembali merengek. Flora pun kembali mengangkat tubuh anaknya, menimangnya dalam gendongannya.


Setelah bayinya tertidur, Flora kembali meletakkan tubuh bayinya ke box bayi, tetapi lagi-lagi bayinya merengek.


“Sepertinya dia lebih nyaman di dekatmu, Sayang,” ucap Gio.


“Mau bobo sama mama, hmmm.” Flora mengecup pipi bayi kecilnya berulang-ulang karena merasa gemas.


Tidak ada pilihan lain selain merebahkan tubuh bayinya di ranjang. Flora pun kembali merebahkan tubuhnya di samping bayinya.


Gio masih duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur. Kepalanya ia rebahkan di tempat tidur, tangannya bergerak untuk menepuk-nepuk tubuh anaknya.


“Anak papa gak mau bobo lagi?” tanya Gio seolah bayi yang ada di hadapannya bisa menjawab pertanyaannya.


“Aku gak ngantuk lagi, Papa.” Flora berucap menirukan suara anak kecil.


Gio terkekeh dengan apa yang dilakukan oleh istrinya. Kedua orang tua baru itu saling menatap satu sama lain, kemudian sama-sama menatap anak mereka.


Binar cahaya kebahagiaan terpancar dari mata keduanya, mereka tidak berhenti memandangi keajaiban dari Tuhan itu. Dari setitik cairan berwarna putih berubah menjadi makhluk kecil bernyawa.


“Kita belum pilih nama buat anak kita,” ucap Flora.


“Aku sudah memilihnya,” ucap Gio.


“Benarkah? Siapa?” tanya Flora.


“Rahasia,” jawab Gio.


“Besok aku umumin kalau semua orang ada di sini,” ucap Gio.


“Baiklah,” ucap Flora.


Flora dan Gio sama-sama menepuk tubuh anak mereka. Keduanya berharap dengan begitu anak mereka akan cepat tidur. Namun, yang justru keduanya yang lebih dulu tertidur.


*****


Keesokan paginya, sorot cahaya matahari masuk ke ruangan rawat inap Flora lewat celah gorden. Cahaya matahari menerpa tepat ke wajah Gio dan membuat tidurnya terusik.


Mata Gio berkedip beberapa kali agar matanya bisa beradaptasi dengan cahaya yang ada di dalam ruangan itu. Mata Gio menyipit memandangi ruangan itu. Gio terkejut saat tidak mendapati istri dan juga anaknya.


“Flora,” panggil Gio.


Gio beranjak dari kursi lalu melangkah ke arah kamar mandi. Gio mengetuk pintu kamar mandi seraya memanggil istrinya.


“Flora, kamu di dalam?” tanya Gio.


“Ya,” sahut Flora.


Mendengar sahutan dari istrinya, Gio pun merasa lega. Tidak lama setelah itu pintu terbuka dari dalam dan muncul Flora dari balik pintu kamar mandi.


“Sayang, di mana anak kita?” tanya Gio.


“Ada di dalam kamar mandi. Perawat sedang memandikannya,” jawab Flora.


“Hufff, aku kita kalian ke mana tadi,” ucap Gio.

__ADS_1


Seorang perawat keluar dari kamar mandi dengan membawa bayi mereka yang sudah selesai dimandikan.


“Sayang kamu lebih baik mandi dulu,” suruh Flora.


“Oke,” sahut Gio.


Gio masuk ke dalam kamar mandi saat anaknya dipakaikan baju oleh perawat.


Gio keluar dari kamar mandi saat anaknya sudah selesai dipakaikan baju. Matanya melihat istrinya sedang sarapan. Gio langsung menghampiri anaknya yang sedang ada di tempat tidur.


“Anak papi sudah cantik.” Gio mencium pipi anaknya berulang-ulang hingga membuat bayinya menangis.


“Ya ampun papa, anaknya kok dibikin nangis,” omel Flora.


“Habisnya papa gemas sama baby ini.” Gio terus mencium pipi anaknya tanpa menghiraukan tangis anaknya.


Saat anaknya sudah menjerit barulah Gio berhenti menciumi pipi anaknya.


“Ya ampun papa ....” Flora menjewer telinga Gio. Flora kesal karena Gio membuat anaknya menangis. “Aku belum selesai sarapan.”


“Iya, maaf. Habis aku gemes sih sama baby,” ucap Gio.


Beruntung saat itu ada Seruni, Mariana, dan juga Daniel datang. Membuat Flora merasa lega. Mariana yang melihat cucunya menangis langsung menggendongnya.


“Cucu oma kenapa nangis?” ucap Mariana.


“Tuh sama papanya,” adu Flora.


“Papa kamu memang nakal ya,” ucap Mariana.


Mariana terus menimang cucunya hingga bayi mungil itu berhenti menangis.


“Aduh-aduh ini matanya kok kaya papanya ya? Semoga tidak genit kaya papanya,” ejek Mariana.


Gio diam saja mendengar ejekan tantenya dan juga keluarganya yang sedang menertawakan dirinya.


“Ini bibirnya juga kaya papanya! Jangan suka gombal kaya papa kamu ya, Sayang.” Mariana mengejek Gio lagi.


Ejekan Mariana terhadap Gio kembali membangkitkan tawa seluruh keluarganya termasuk juga istrinya.


Gio hanya mampu diam dan pasrah saat keluarganya menjadikan dirinya bahan tertawa.


“Belum puas ngejeknya, Tante?” tanya Gio.


“Belum,” jawab Mariana. “Tante seneng ngejekin kamu. Biasanya tante yang selalu diejek sama kamu, sekarang giliran tante dong yang ngejekin kamu.”


“Hmmm.” Gio bergumam sebelum mengerucutkan bibirnya.


“Kalau yang jelek-jelek saja miripnya sama aku,” protes Gio.


“Kenyataan,” ucap Daniel yang langsung dibalas cibiran Gio.


“Apa kalian sudah menentukan namanya?” tanya Seruni.


“Sudah, Bu,” jawab Flora. “Gio yang akan menamai anak kami.”


“Siapa namanya, Gio?” tanya Seruni.


“Felicia Aurora Ferdinand,” jawab Gio.


“Nama yang cantik,” ucap Mariana diikuti anggukan setuju oleh semua orang.

__ADS_1


Gio melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi. Gio meminta izin untuk mengurus administrasi rumah sakit, agar istrinya bisa segera pulang.


__ADS_2