
Bella mengamuk di dalam kamarnya, melempar semua barang yang ada di dekatnya. Bella tidak terima saat Elang kembali mengingat masa lalunya.
Bella memang tahu jika laki-laki itu bukanlah Elang, tetapi hanya laki-laki yang ia jadikan sebagai Elang. Berawal dari Bella yang tidak sengaja menemukan Gio di tepi pantai dalam keadaan yang mengenaskan.
Wajah Gio hampir tidak dikenali, karena luka sayatan, seperti luka sayatan dari pisau hampir menutupi wajahnya. Setelah memastikan Gio masih bernapas, Bella langsung membawa Gio ke rumah sakit.
Hampir satu bulan Gio dirawat di rumah sakit dalam keadaan koma. Saat Gio sadar ternyata Gio kehilangan ingatannya. Bella yang masih belum rela kehilangan Elang yang sudah meninggal, memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat Elang hidup kembali dalam diri Gio.
Bella tidak mengira jika ingatan Gio akan kembali secepat itu dan ternyata laki-laki yang ia selamatkan itu sudah memiliki istri. Bella sudah terlanjur jatuh hati pada Gio yang ia jadikan seperti Elang. Itu membuat Bella tidak terima jika Gio akan kembali bersama istrinya.
“Aku akan tetap mempertahankan dia. Dia Elang ... calon suamiku!” ucap Bella penuh amarah.
Sementara itu Flora dan Gio memilih untuk pulang dari rumah Bella. Mereka tidak akan bisa bicara pada Bella dengan keadaannya yang seperti itu. Setidaknya kini mereka tahu wajah siapa yang ada pada Gio.
“Jadi wajah ini wajah kekasih Bella yang sudah meninggal,” ucap Flora.
“Sejujurnya aku membenci Bella. Karena dia sudah merubah wajahmu dengan wajah kekasihnya, tapi aku juga sangat berterima kasih padanya karena dia yang sudah menolongmu,” ucap Flora.
Gio tidak merespon satu pun perkataan Flora, terlihat sekali jika Gio sedang memikirkan sesuatu. Flora menghentikan langkahnya yang otomatis membuat langkah Gio juga berhenti.
“Ada apa?” tanya Flora. “Apa yang sedang kamu pikirkan.”
“Aku memikirkan Bella,” jawab Gio. “Jadi dia menaruh wajah kekasihnya yang sudah meninggal kepada diriku.”
“Mungkin dia begitu mencintai sosok Elang, hingga membuat di tidak bisa menerima kenyataan jika sebenarnya Elang sudah meninggal,” ucap Flora.
“Itu artinya aku akan selalu hidup dalam bayang-bayang Elang dan juga Bella,” ucap Gio dengan wajah tertunduk.
“Sayang ...,” panggil Flora.
“Flora, apa kamu tidak merasa keberatan dengan wajah baruku ini?” tanya Gio.
Flora tersenyum seraya menggenggam kedua tangan Gio.
“Tidak, kamu itu sekarang lebih ganteng. Setidaknya aku tidak akan melihat wajah tengilmu yang dulu.” Flora berharap ucapannya bisa mencairkan suasana Gio.
“Baiklah ....” Flora mengulurkan tangannya ke hadapan Gio. “Anggap saja kita baru pertama kali bertemu. Ayo kita kenalan lagi.”
“Aku Flora Melidia Putri,” ucap Flora.
Gio tertawa seraya membalas uluran tangan Flora. “Aku Revaldo Giovanni Ferdinand.”
Gio kembali tertawa kecil lalu membawa Flora masuk ke dalam pelukannya.
__ADS_1
“Aku mencintaimu, Sayangku,” ucap Gio.
“Aku juga mencintaimu,” balas Flora.
“Ini aneh, kita baru berkenalan dan sudah saling menyatakan cinta,” ucap Flora disambut tawa oleh Gio.
Senyuman bahagia terlukis di bibir Flora dan juga Gio. Namun, tidak dengan Bella. Bella bisa melihat kebahagiaan Flora dan Gio dari balik jendela kamarnya. Kebencian dan rasa iri terlihat jelas di wajah Bella.
“Dia adalah Elang bukan Gio. Dia Elang milikku!” Bella kembali melempar semua benda-benda yang ada di dekatnya hingga menimbulkan kecemasan pada kedua orangtuanya.
“Kita pulang!” ajak Flora.
“Yuk,” sahut Gio.
Keduanya berjalan kembali ke mobil mereka. Gio membukakan pintu mobil untuk Flora dan menutupnya kembali setelah Flora berada di dalamnya.
Gio berjalan memutar ke sisi lain mobil. Gio masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi. Setelah menyalakan mesin mobil, Gio melajukan mobilnya meninggalkan rumah Bella.
“Kita mau ke mana lagi?” tanya Flora.
“Pulang,” jawab Gio. “Kamu mesti banyak-banyak beristirahat.”
“Tapi aku pengin jalan-jalan sama kamu,” rengek Flora.
“Sebentar saja ... please,” mohon Flora.
Gio dulu sama sekarang tetaplah sama, laki-laki itu pasti tidak akan pernah bisa menolak keinginan sang istri. Apalagi kalau istrinya sudah memohon.
Gio menarik tangan sang istri untuk ia kecup punggung tangannya.
“Baiklah, Sayangku. Kamu mau ke mana?” tanya Gio.
“Kencan,” jawab Flora. “Aku ingin mengabiskan waktu bersamamu.”
*****
Setelah siang pergi maka datanglah malam. Malam gelap yang terasa sunyi. Namun ramai akan gemerlap bintang di langit.
Flora sedang berdiri di balkon kamarnya. Tangannya tidak berhenti mengusap perutnya yang tiap hari makin bertambah besar.
Setiap kali merasakan pergerakan bayi dalam kandungannya membuat Flora rasanya tidak sabar menunggu kelahirannya.
“Sehat-sehat di dalam ya, Nak,” ucap Flora seolah bayi dalam kandungannya bisa meresponnya.
__ADS_1
Saat tengah berbicara dengan bayi dalam kandungannya, Flora merasakan pelukan dari belakang. Flora tidak butuh untuk melihat siapa yang sedang memeluknya. Dari rasa nyaman itu dan aroma parfumnya Flora bisa tahu jika suaminya yang sedang memeluknya.
Flora menyenderkan kepalanya di dada suaminya seraya memejamkan matanya. Flora sangat merindukan pelukan itu.
“Jangan terlalu lama berdiri di luar malam-malam,” ucap Gio.
Flora merespon perkataan suaminya dengan anggukan kepalanya, tanpa mengubah posisi nyamannya.
“Aku sangat merindukan pelukan ini,” ucap Flora.
“Kenapa kamu begitu mencintaiku?” tanya Gio.
“Karena kamu tampan dan kamu juga sangat kaya,” jawab Flora.
“Itu 'kan dulu. Sekarang yang aku punya sekarang adalah milikmu,” ucap Gio.
“Sekarang aku yang bertanya padamu ... kenapa kamu mencintaiku?” tanya Flora.
“Karena kamu sangat galak,” jawab Gio yang langsung membuat Flora tertawa. “Kamu masih ingat 'kan saat kita baru pertama bertemu ... kamu menamparku di dalam lift.”
“Itu karena kamu kurang ajar padaku. Seenaknya saja main cium-cium,” ucap Flora.
“Dalam dirimu seperti ada magnet yang menarikku untuk menciummu dulu,” ucap Gio.
“Benarkah?” tanya Flora.
“Kamu bisa tidur dengan perempuan lain dengan begitu mudahnya dulu, tapi kenapa kamu bisa menahan saat kita dulu hampir melakukannya sebelum kita menikah?” tanya Flora.
“Memangnya kamu lupa ... waktu itu kamu mencakar punggungku,” ledek Gio yang langsung membuat Flora terkekeh.
Flora membalik tubuhnya dan kini posisi mereka saling berhadapan. Jarak mereka tidak bisa sedekat dulu karena terhalang oleh perut Flora.
Gio langsung menangkup kedua sisi wajah Flora, lalu mencuri satu kecupan pada bibir istrinya.
“Kamu terlalu berharga untuk aku rusak,” ucap Gio.
Flora menjadi salah tingkah setelah mendengar perkataan dari Gio. Itulah suaminya yang selalu membuat dirinya menjadi wanita paling bahagia di dunia.
“Papa Gio ...,” panggil Flora dengan suaranya yang manja.
“Hmmm.”
“Kamu gak mau nengok anak kita,” rayu Flora.
__ADS_1
Gio tersenyum sumringah, tentu saja Gio tahu apa maksud dari ucapan Flora. Tidak menunda waktu lagi, Gio langsung mengangkat tubuh Flora dan membawanya masuk ke dalam kamar.