
Happy reading all
Flora menoleh mengikuti arah pandang ibunya. Flora mengedarkan pandangannya ke lantai di seberang tempat mereka berdiri saat itu.
"Ibu, mana ayah?" Flora tidak tahu siapa yang sedang ibunya pandang. Banyak orang di sebrang sana.
Seruni mengangkat tangannya lalu mengarah jari telunjuknya ke arah lift yang ada di lantai sebrang.
"Dia masuk ke dalam lift itu?" Mata Seruni sudah berkaca-kaca.
Flora ingin berlari menuju lift tetapi ibunya yang hampir saja kehilangan keseimbangan tubuhnya membuat Flora mengurungkan niatnya. Flora memegangi tubuh ibunya lalu membawanya ke tempat duduk yang tidak jauh dari tempatnya.
"Ibu tidak apa-apa?" tanya Flora.
"Ibu sungguh melihat ayahmu, Flora. Dia tadi di sana …." Seruni kembali menunjuk ke arah lift yang sama.
"Ibu serius? Ibu tidak salah melihat? Maksudku ini sudah 25 tahun." Flora berusaha menjelaskan pada ibunya kemungkinan ibunya salah melihat.
"Flora meskipun ini sudah 25 tahun tetapi ibu masih mengingat wajah ayah kamu."
Flora menundukkan wajahnya. Melihat ibunya begitu yakin membuat Flora tidak bisa bertanya lagi.
"Ya sudah, Bu. Jika memang kita ditakdirkan untuk bertemu dengan ayah pasti kita akan bertemu. Sekarang lebih baik kita makan malam dulu," ajak Flora.
Napsu makan Seruni sebenarnya sudah hilang ketika melihat wajah laki-laki yang bernama Ferdi itu. Namun ia juga harus memikirkan Flora dan juga Tiara.
Seruni beranjak dari tempat duduk itu kemudian mereka melangkah kembali menuju food court. Sesekali Seruni nampak melihat ke belakang ke arah lift yang sama berharap laki-laki itu keluar dari dalam lift. Namun itu hanya sekedar harapan karena kenyataannya hal yang diinginkan Seruni tidak terjadi.
Sejujurnya Flora ingin sekali bertemu dengan ayah kandungnya. Namun ia tidak ingin berharap terlalu banyak, ia belum siap untuk kembali kecewa.
Flora, Tiara, dan juga Seruni duduk di kusri dan saling berhadapan di food court. Mereka bertiga sedang menunggu Adit, suami Tiara.
Flora melihat ibunya tidak bersemangat, tidak seperti sebelumnya sebelum melihat laki-laki itu. Dirinya tahu pasti ibunya sedang memikirkan tentang laki-laki itu.
"Ibu baik-baik saja?" Flora menyentuh tangan ibunya membuat ibunya tersentak.
"Iya, ibu baik-baik saja. Ibu hanya merasa lelah," jawab Seruni.
"Ya sudah habis makan kita pulang ya, Bu," ucap Flora yang langsung diangguki oleh Seruni.
Tidak lama Adit datang bersamaan dengan datangnya pesanan mereka.
"Ayo kita makan!" Tiara berseru untuk mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
"Ayo." Flora dan Adit pun ikut berseru.
Seruni melihat antusiasme ketiga orang di hadapannya dan itu membuatnya tidak enak hati. Seruni yang tidak napsu makan akhirnya ikut makan meski hanya sedikit.
-
"Kami pulang dulu ya Mbak, Mas … ibu keliatan sangat lelah," pamit Flora.
"Iya. Kalian hati-hati di jalan?" ucap Tiara.
Tiara mengusap lengan Flora. Ia tahu apa yang sedang Flora dan ibunya rasakan.
"Mbak juga jangan pulang terlalu malam, banyak istirahat juga," ucap Flora yang langsung diangguki oleh Tiara.
Flora dan Tiara berpisah di food court setelah makan malam bersama. Tiara masih ingin menghabiskan waktu malam Minggu di pusat perbelanjaan itu bersama suaminya.
Flora bersama ibunya melangkah menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Setelah sampai di parkiran Flora membukakan pintu mobil untuk ibunya lalu setelah itu Flora berjalan memutari mobilnya menuju kursi kemudi.
Saat keduanya sudah berada di dalam mobil, Flora mulai melajukan mobilnya meninggalkan area pusat perbelanjaan itu.
Hujan rintik-rintik mengiringi perjalanan pulang Flora dan juga ibunya. Flora menyalakan windscreen wiper untuk menyeka tetesan air hujan di kaca mobil depannya.
Kesunyian sangat terasa di dalam mobil. Flora ataupun ibunya tidak ada satupun yang ingin bersuara mereka. Seruni kembali mengingat kejadian 25 tahun yang lalu dengan kekasihnya. Awal pertemuannya dengan Ferdi di Bandung. Pertemuannya dengan seorang laki-laki bernama Ferdi membuat dirinya terbuai hingga mau melakukan hubungan terlarang yang membuat Flora hidup di dalam rahimnya.
Seruni masih teringat jelas janji manis Ferdi yang akan menikahinya. Namun kenyataan pahit harus Seruni terima, Ferdi pergi tanpa memberitahukan dirinya bahkan sebelum dirinya memberi tahu pada Ferdi tentang keberadaan Flora di rahimnya.
"Ibu, kita sudah sampai."
Perkataan anaknya membuat dirinya tersentak. Lamunan Seruni pun langsung terbuyar.
"Ada apa ibu?" tanya Flora saat melihat ibunya nampak bingung.
"Tidak, Nak. Ibu hanya merasa lelah. "Ayo kita turun, kamu juga harus istirahat."
Tanpa menunggu perkataan dari anaknya selanjutnya, Seruni turun dadi dalam mobil. Seruni melangkah meninggalkan Flora yang masih duduk di dalam mobil.
Flora memandang ibunya dari dalam mobil dengan tatapan sendu. Flora tahu apa yang sedang ibunya namun apa yang bisa dirinya perbuat.
Flora menarik nafas berat sebelum menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi yang sedang ia duduki. Bohong jika ia tidak ingin melihat ayahnya. Saat ibunya mengatakan jika ada ayahnya ada di tempat yang sama Flora sangat bahagia namun rasa bahagianya itu harus kembali luntur ketika ia terlambat melihatnya.
Akan tetapi setidaknya ia tahu jika ayahnya ada di kota yang sama. Flora berharap bisa segera menemukan ayah kandungnya.
Flora memutuskan untuk keluar dari dalam mobil karena kepalanya merasa sakit. Sampai di dalam rumah Flora langsung masuk ke dalam kamarnya dan tertidur bahkan belum sempat mengganti pakaiannya.
__ADS_1
Dua hari kemudian.
Kepala Flora masih terasa sangat berat padahal hari Minggu kemarin dirinya sudah beristirahat total di rumah. Kini Flora sedang berada di pantry kantornya. Dirinya sedang membuat kopi permintaan dari atasannya, Farhan.
Flora berdiri di depan meja kompor sambil menunggu air yang sedang ia masak mendidih. Ingatannya kembali pada malam di mana ibunya melihat ayah kandungnya. Semenjak hari itu Flora terus saja memikirkan semua tentang ayahnya, apa beliau sudah memiliki keluarga yang baru dan tidak mengingat tentang ibunya?.
Pertanyaan itulah yang sering selalu muncul di pikiran Flora.
Flora terus saja memikirkan hal itu sampai ia tidak menyadari jika ada yang masuk ke dalam pantry itu, orang itu adalah Gio.
Gio tersenyum tipis saat melihat gadis pujaannya sedang melamun. Awalnya Gio ingin menggoda Flora, namun saat matanya melihat tangan Flora akan bergerak ke arah panci panas, Gio langsung berlari dan ternyata ia terlambat.
"Awwwww." Flora menjerit saat pergelangan tangannya menyenggol panci yang sangat panas.
Gio langsung menarik tangan Flora dan menyiramnya dengan air yang mengalir dari kran.
"Dasar bodoh! Apa yang sedang kamu pikirkan?" bentak Gio.
Jika biasanya Flora akan membalas makian Gio, tetapi saat ini Flora hanya bisa diam saja. Tangannya masih sangat terasa panas.
Gio langsung mengambil ponsel dari dalam saku jasnya untuk menghubungi Abi.
"Abi bawakan aku salep untuk luka bakar, sekarang!"
Gio langsung memutus panggilannya tanpa memberi waktu Abi untuk menjawab dari seberang panggilan.
"Masih panas?" tanya Gio.
Flora mengangguk.
"Apa yang sedang kamu pikirkan sehingga membuat kamu tidak fokus seperti tadi? Hah!" tanya Gio.
"Ayah kandungku," jawab Flora.
"Ay-ah kandungmu?" tanya Gio tidak mengerti.
Flora mengangguk dengan wajah tertunduk.
"Kemarin saat aku di moll ibuku melihat ayah kandungku, tetapi sebelum aku melihatnya dia sudah menghilang." Air mata Flora akhirnya tumpah. "Apa aku dan ibuku sangatlah tidak diinginkan olehnya."
Gio langsung menarik Flora ke dalam pelukannya. "Kenapa berkata seperti itu. Mana ada seorang ayah yang tidak menginginkan anaknya," ucap Gio.
"Kalau begitu kenapa dia tidak mencoba untuk mencari kami?" Flora terisak di pelukan Gio.
__ADS_1
"Kita akan tahu alasannya jika kita sudah menemukan dia," ucap Gio. "Jika dia benar ada di kota ini aku akan membantumu untuk menemukan ayah kandungmu … aku janji."
Flora mengangguk seraya membalas pelukan yang Gio berikan.