
“Kalian gak mau mampir dulu?” tanya Flora pada Daniel dan keluarganya.
“Gak, Flora ... lain kali saja. Kami ada janji dengan keluarganya Maura,” jawab Mariana.
“Daniel, cepet halalin si Maura jadi kamu gak kesepian,” ucap Flora.
“Iya, bawel,” ucap Daniel.
“Kenapa sih kok jawabnya gak ikhlas gitu?” tanya Gio.
“Gak ada apa-apa ... cuma masalah hati,” jawab Daniel.
“Sudahlah sana kalian masuk saja. Kamu juga Flora harus banyak-banyak beristirahat. Suami kamu sudah kembali jadi kamu bisa tenang,” ucap Mariana.
“Iya, Tante,” jawab Flora.
“Kalian hati-hati di jalan,” ucap Gio.
Flora dan Gio masuk ke dalam rumah mereka setelah mobil yang dikendarai oleh Daniel keluar dari pintu gerbang rumah mereka.
“Ayo masuk, Sayang!” ajak Gio yang langsung dianggukki oleh Flora.
Gio melingkarkan tangannya di sepanjang pinggang Flora. Keduanya masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang begitu lega.
“Kalian cepat istirahat. Ibu mau siapin makan malam dulu,” ucap Seruni.
“Ibu juga jangan terlalu capek, ada bibi sama yang lain 'kan? Yang bisa siapkan makan malam untuk kita,” ucap Flora.
“Iya, tapi ibu mau siapin makan malam kesukaan suami kamu. Anggap saja ini penyambutan untuk kedatangan suami kamu,” ucap Seruni.
“Terima kasih ya, Bu.” Gio langsung memberikan pelukan pada Seruni.
“Iya, Nak. Sekarang bawa istri kamu untuk istirahat,” suruh Seruni.
“Kami ke kamar dulu, Bu,” ucap Flora.
“Ya, Sayang,” sahut Seruni.
Flora dan Gio melangkah ke kamar mereka meninggalkan ruang tengah. Gio heran saat Flora membawanya ke kamar yang ada di lantai bawah.
“Kok kamar kita pindah?” tanya Gio.
“Kandungan aku sudah besar, Suamiku. Jadi ibu nyuruh aku pindah ke kamar bawah agar aku tidak naik turun tangga,” jawab Flora.
“Apa kamu keberatan?” tanya Flora.
“Tidak,” jawab Gio. “Mau di gudang asal sama kamu aku tidak ada masalah?” Gio mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Flora.
“Tapi aku yang gak mau tidur di gudang sama kamu,” ucap Flora lalu melangkah lebih dulu ke kamarnya.
“Dia sudah gak mempan untuk dirayu.” Gio menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menyusul Flora yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.
“Sayang ...,” panggil Gio.
Gio masuk ke dalam kamarnya, tetapi tidak mendapati keberadaan Flora.
“Ke mana dia?” tanya Gio pada dirinya sendiri.
Terdengar bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi dan pada saat itu Gio tahu jika Flora sedang mandi. Gio memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memejamkan matanya sejenak.
Mungkin saat ini Gio terlihat sedang bahagia, tetapi sebenarnya ada banyak hal yang masih mengganggu pikirannya. Sejujurnya Gio masih tidak menyangka jika Daren begitu membencinya, bahkan sampai ingin melenyapkan dirinya.
__ADS_1
“Gio, apa kamu sudah tidur?” tanya Flora.
Gio kembali membuka matanya saat suara Flora masuk ke dalam indra pendengarannya.
“Kamu sudah selesai mandi?” tanya Gio.
“Sudah dong,” jawab Flora.
Gio bangun lalu mengambil posisi duduk. Tarikan napas Gio begitu berat membuat Flora merasa khawatir.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Flora.
“Banyak hal,” jawab Flora.
“Kamu bisa cerita sama aku,” ucap Flora.
“Ini tentang Deren dan wajahku,” jawab Gio.
“Aku tahu kamu pasti terpukul sekali karena kakakmu sendiri yang ingin melenyapkanmu,” ucap Flora. “Tetapi, mengenai wajahmu ... ada apa?”
“Aku tidak apapun. Yang aku ingat ... waktu pertama kali aku membuka mata ... yang aku lihat pertama kali adalah Bella dan om Mahendra,” jawab Gio. “Sebenarnya ini wajah siapa?”
Flora meraih tangan Gio lalu menggenggamnya. Dan satu tangannya lagi Flora gunakan untuk mengusap sisi wajah Gio.
Jika boleh jujur, dirinya pun merasa asing dengan wajah itu. Namun, rasa nyaman jika bersama laki-laki itu membuat rasa asing itu tertutupi.
“Kita akan tahu besok ... saat kita bertemu dengan Bella dan om Mahendra,” ucap Flora.
“Ya.” Gio mengusap kepala Flora. “Pakai pakainmu, jangan sampai kamu kedinginan. Aku akan mandi dulu,” ucap Gio yang langsung dianggukki oleh Flora.
*****
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Gio dan Flora sudah bersiap untuk pergi menemui Bella dan juga Mahendra. Gio harus segera menyelesaikan urusannya dengan Bella.
“Sudah,” jawab Flora.
“Ayo kita berangkat,” ajak Gio.
Gio mengulurkan tangannya kepada Flora dan Flora pun membalasnya. Keduanya keluar dari kamar mereka dengan tangan yang mereka satukan.
Flora dan Gio masuk ke dalam mobil yang sama. Setelah itu Gio melajukan mobil itu menuju rumah Bella.
Kira-kira butuh waktu satu jam untuk sampai di rumah Bella. Namun, jalanan yang macet membuat mereka sampai dalam waktu dua jam.
Mobil Gio berhenti di depan garasi rumah Bella. Saat keduanya akan turun dari mobil, Bella sudah lebih dulu keluar dari rumah dan menghampiri Gio.
“Sepertinya dia sudah menunggumu,” ucap Flora, tetapi Gio tahu jika itu sebuah ejekan.
“Kamu turunlah dulu,” suruh Gio.
“Ya.” Flora pun mengangguk.
Sesuai prediksi Gio, Bella terkejut saat melihat Flora keluar dari dalam mobilnya.
“Kamu!” Bella langsung menghampiri Flora dan langsung mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Bella. “Apa kamu kembali merayunya, hah!”
“Di mana suamimu hingga kamu bisa merayu calon suamiku?” bentak Bella.
Pertanyaan Bella membuat Flora tidak memiliki kesempatan untuk bicara.
__ADS_1
“Dia istriku, Bella,” ucap Gio.
“Istrimu? Apa maksudmu, Elang?” tanya Bella.
Bella terkejut mendengar perkataan Gio. Bella pun langsung menghampiri Gio yang baru saja keluar dari mobil untuk meminta penjelasan.
“Apa maksud kamu, Elang?” tanya Bella.
“Aku bukan Elang, tapi Gio, Bella. Aku Gio ... suami Flora,” ucap Gio penuh penegasan.
“Bukan ... kamu itu Elang,” ucap Bella tidak terima.
Bella ingin memeluk Gio. Namun, dengan segera Gio menghindari Bella.
“Maaf, Bella ... tapi inilah kenyataannya,” ucap Gio.
Bella yang tidak terima langsung masuk ke dalam rumah dengan air matanya yang mengalir deras di wajahnya.
“Bella, tunggu!” Flora mencoba memanggil Bella. Namun, sepertinya Bella tidak ingin mendengar apapun.
Gio dan Flora memutuskan untuk masuk ke dalam rumah untuk menyusul Bella. Mereka harus mendapatkan jawaban atas perubahan wajah Gio dan siapa sebenarnya pemilik dari wajah Gio.
Sampai di dalam rumah Flora dan Gio melihat Mahendra serta Bella yang sedang menangis di pelukan istri Mahendra.
“Elang, kenapa kamu membuat anak saya menangis?” tanya Mahendra.
“Saya bukan Elang, Om. Saya Revaldo Giovanni Ferdinand, suami dari Flora ... wanita yang ada di samping saya ini,” ungkap Gio.
“Bagaimana mungkin?” Mahendra masih tidak percaya.
“Jika kamu memang Gio ... kenapa waktu kalian bertemu di Bali, kamu tidak mengenali istrimu sendiri?” tanya Mahendra.
“Waktu itu saya tidak mengingat apapun. Saya mulai ingat ketika saya mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu,” ucap Gio.
“Ini tidak mungkin,” ucap Mahendra.
“Tapi itulah kenyataannya, Pak Mahendra,” ucap Flora. “Saya sudah memastikan jika laki-laki yang Anda panggil Elang ini adalah suami saya,” ucap Flora penuh keyakinan.
“Kami datang ke sini untuk bertanya hal ini. Di mana Anda menemukan suami saya dan menapa wajah suami saya bisa berubah?” tanya Flora.
“Saya benar-benar tidak tahu, Flora,” jawab Mahendra.
Pandangan Mahendra mengarah pada Bella. “Bella, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Kamu yang membawa Elang dan mengatakan jika dia calon suami kamu?” tanya Mahendra.
“Perempuan itu bohong, Pah. Dia pasti mengarang cerita untuk mengambil Elang dari aku,” tuduh Bella di sela isak tangisnya.
Bella tidak berkata apapun lagi dan memilih pergi meninggalkan semua orang. Bahkan tidak menggubris panggilan dari siapapun.
“Saya tidak bohong, Pak Mahendra,” ucap Flora.
“Saya memang tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi yang saya tahu Bella pernah memiliki seorang kekasih bernama Elang,” ucap istri Mahendra.
“Saya pernah mendengar dari teman Bella jika Elang mengalami kecelakaan dan meninggal. Tapi Bella selalu mengatakan jika Elang belum meninggal,” jelas istri Mahendra lagi.
“Maka dari itu saya tidak bertanya apapun lagi saat Bella membawamu ke sini,” ucap istri Mahendra.
“Saya juga tidak tahu mengenai hal ini. Waktu saya datang ke rumah sakit di Amerika, saya sudah melihat kamu dengan wajah yang seperti ini,” imbuh Mahendra.
“Ini artinya Bella yang sudah menolong suami saya,” ucap Flora.
“Bolehkah saya bertemu dengan Bella. Saya ingin bicara dengannya,” ucap Flora.
__ADS_1
Namun, saat itu mereka mendengar suara teriakkan Bella dan benda-benda pecah.
“Sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Lebih baik kalian pulang, biarkan Bella tenang dulu,” ucap Mahendra yang langsung dianggukki oleh Gio dan Flora.