
Satu minggu setelah kejadian di kantor calon suaminya, Felicia sama sekali tidak pernah datang lagi ke tempat itu. Jangankan datang, menghubungi nomor Kenzo pun tidak pernah Felicia lakukan. Dalam hal pekerjaan dengan perusahaan Pramuja pun Felicia mempercayakan semuanya kepada asisten pribadinya.
Dalam waktu selama itu pula Felicia sama sekali tidak mendapatkan kabar dari calon suaminya. Mereka seperti saling memutus komunikasi. Namun, satu hal yang membuat Felicia merasa heran yaitu persiapan pernikahannya dengan Kenzo masih berjalan.
Apa laki-laki itu tidak memberitahukan pada kedua orang tuanya? itu berarti dia akan melupakan manatan kekasihnya?
Waktu pernikahan sudah sangat dekat. Terhitung tinggal empat hati lagi. Felicia melihat kebahagiaan di wajah keluarganya. Karena itu Felicia tidak tega untuk memberitahukan masalah yang terjadi antara dirinya dan juga Kenzo.
Felicia kini sedang melakukan perawatan tubuh sebelum waktu acara pernikahannya tiba. Sejujurnya untuk apa ia melakukan semua itu, karena ia juga tidak tahu apakah pernikahan itu akan terjadi atau tidak.
"Feli, Sayang ...," panggil Flora.
Suara mamahnya membuat lamunan Felicia terbuyar. Ia menolehkan pandangannya ke asal suara dan melihat mamahnya sedang melangkah ke arahnya.
"Tolong tinggalkan kami berdua," perintah Felicia pada salah seorang pekerja salon panggilannya.
"Duduk sini, Mah." Felicia bergeser untuk memberi tempat duduk untuk perempuan yang sudah melahirkannya.
Flora pun mengangguk lalu duduk tepat di samping anak perempuannya. Istri dari Giovanni itu terus memandang Felicia penuh arti.
"Ada apa, Mah? Kenapa Mamah melihat aku kaya gitu?" Felicia bertanya pada Flora saat melihat ibunya itu melihatnya dengan tatapan penuh arti.
Flora tidak langsung menjawab, tetapi justru Flora terlihat menitihkan air matanya.
"Mamah kenapa malah menangis? Feli buat salah sama Mamah?" tanya Felicia.
"Tidak, Sayang." Flora tersenyum lalu mengusap salah satu sisi wajah Felicia.
"Mamah tidak menyangka kamu ternyata sudah besar. Rasanya baru kemarin Mamah melahirkan kamu," ucap Flora. "Tapi lihat sekarang ... kamu sudah besar dan akan menikah."
Flora menarik kepala Felicia, menaruhnya di atas pundaknya. "Setelah ini mamah sama papah tidak akan bisa lagi manjain kamu. Karena sudah ada Kenzo yang akan memanjakan kamu," ucap Flora.
"Mamah ...." Felicia merasa terharu dengan perkataan mamahnya. Tidak terasa matanya meneteskan cairan bening.
"Mamah jangan bicara seperti itu. Mamah sama papah masih bisa kok manjain aku. Setelah aku menikah dengan Kenzo ... aku juga masih jadi anak Mamah sama papah, 'kan?" ucap Felicia.
"Iya, Nak." Flora memberikan kecupan di ujung kepala Felicia.
"Mah ... boleh tidak aku bertanya sesuatu?" tanya Felicia.
"Boleh dong! Anak mamah yang cantik ini mau tanya apa?" ucap Flora dengah nada bicaranya yang lembut.
"Kenapa sih Mamah sama papah kekeh ingin menikahkan aku dengan Kenzo?" tanya Felicia.
"Mamah sama papah sudah pernah mengatakan ini, 'kan?" ucap Flora disambut anggukkan kepala Felicia. "Papah kamu sangat menyukai Kenzo. Dia anak yang baik dan tidak banyak bertingkah. Kenzo juga dari keluarga yang baik-baik. Makanya kami kekeh mau kamu menikah dengan Kenzo," jelas Flora.
"Lagi pula kamu sudah mengenal Kenzo dari kecil, 'kan? Kamu tahu jelas sifat dia," ucap Flora.
__ADS_1
"Tapi itu kan sudah lama sekali. Waktu di sekolah juga kami tidak deket. Dia itu usil, Mah. Makanya Feli tidak mau deket-deket sama Kenzo," ucap Felicia.
"Kamu juga nakal kok sama Kenzo. Kamu bikin Kenzo menangis. Karena dia bilang kamu gendut." Flora berucap seraya menahan tawanya. "Padahal waktu itu tubuh kamu memang gendut."
"Kapan? Kenapa Felicia tidak ingat, Mah?" tanya Felicia.
"Waktu itu kamu masih berumur 5 tahun. Kamu tanya saja nanti sama mertua kamu. Mereka pasti mengingatnya," ucap Flora.
"Ya sudah kamu lanjutin perawatannya ya, Sayang. Kamu harus tampil cantik saat hari pernikahan kamu nanti." Flora mencium pipi Felicia sebelum pergi dari tempat itu.
Felicia hanya mampu tersenyum dan menganggukkan kepalanya untuk merespon perkataan mamahnya.
"Daah, Mah. I love you," ucap Felicia seraya melambaikan tangannya ke arah mamahnya.
Kedua orang tuaku sangat bahagia dengan pernikahan ini. Jika sampai kamu membuat mereka kecewa, maka aku akan membuat perhitungan denganmu Kenzo.
*****
Hari pernikahan Felicia dan Kenzo telah tiba. Kini Felicia sedang duduk di salah satu kamar hotel untuk dirias. Sebentar lagi dirinya akan resmi menjadi nyonya Kenzo Pramuja bukan sebagai nona Ferdinand lagi.
Felicia duduk di depan meja rias sambil terus menatap pantulan dirinya sendiri pada cermin yang ada di hadapannya. Berulang kali juga Felicia menarik napasnya untuk menetralkan rasa gugupnya.
Pakaian dan aksesoris adat Sunda sudah melekat sempurna di tubuhnya. Felicia sudah terlihat seperti pengantin. Riasan di wajahnya membuat Felicia terlihat berseri seolah sedang menutupi kekhawatiran di dalam hatinya.
"Kak Feli kamu sungguh cantik! Kakakku pasti akan sangat terpesona nantinya," puji Keisha.
"Kalian bisa saja." Felicia berucap dengan malu-malu.
"Baiklah, aku sudah melihat pengantinya. Aku akan pergi dulu," ucap Keisha.
"Kamu pergilah dulu. Aku masih ada urusan dengan Felicia," suruh Kenzi.
"Baiklah, sampai jumpa Kak Feli." Keisha melambaikan tangannya ke arah Felicia.
"Sampai jumpa, Keisha." Felicia membalas lambaian tangan Keisha.
Felicia memperhatikan Keisha sampai bayangan adik iparnya menghilang di balik pintu kamar itu. Pandangannya kembali Felicia arahkan kepada Kenzi.
"Ada apa?" tanya Felicia.
"Apa kamu dan Kenzo baik-baik saja?" tanya Kenzi.
"Ck, selama kakakmu masih seperti itu apa kami bisa baik-baik saja?" Felicia bertanya balik pada Kenzi.
Kenzi tertawa kecil melihat wajah kesal Felicia.
"Kenapa kamu mendadak bertanya seperti itu?" tanya Felicia.
__ADS_1
"Tidak ada. Hanya bertanya saja," jawab Kenzi. "Oh ya aku sampai lupa." Kenzi menepuk keningnya sendiri.
"Ada apa?" tanya Felicia.
Muncul kekhwatiran dalam diri Felicia saat melihat wajah Kenzi yang sangat serius.
"Aku dan Gavindra sudah menyiapkan kejutan untukmu dan juga Kenzo," ucap Kenzi.
"Hanya itu?" tanya Felicia.
"Iya," jawab Kenzi.
"Ya ampun. Kamu membuatku khawatir karena wajahmu sangat serius tadi." Felicia menarik napas lega seraya mengelus dadanya.
"Jangan terlalu serius, Felicia. Semuanya akan baik-baik saja," ucap Kenzi. "Baiklah aku harus pergi. Sebentar lagi acaranya akan dimulai."
Tidak lama setelah Kenzi pergi, Flora menjemput Felicia untuk membawanya ke tempat akad nikah. Sebuah pelaminan kecil dihiasi dengan berbagai bunga akan menjadi saksi terikatnya Felicia dan Kenzo dalam ikatan suci. Namun, sudah satu jam berlalu dari waktu yang sudah ditentukan Kenzo belum datang juga.
Semua orang sudah khawatir terutama kedua keluarga besar itu. Sudah beberapa kali mereka menghubungi nomor ponsel Kenzo, tetapi tetap tidak ada jawaban.
Felicia mengepalkan telapak tangannya. Ia sudah sangat merasa kesal. Tanpa berpikir panjang lagi Felicia beranjak dari kursinya.
"Felicia kamu mau ke mana, Nak?" tanya Flora.
"Ini sudah cukup, Mah. Aku harus mencari keberadaan pria itu," jawab Felicia.
"Jangan, Nak," cegah Gio.
"Tapi ini sudah keterlaluan, Pah," kekeh Felicia.
Baru saja Felicia akan melangkah. Ia mendengar suara seseorang yang membuatnya berhenti melangkah.
"Maaf saya terlambat."
"Kenzo." Felicia melihat ke asal suara dan melihat Kenzo sedang berlari ke arahnya.
"Kenzo .... kamu dari mana saja, Nak?" tanya Violetta.
"Maaf, Mah. Ban mobilku kempes. Aku dan Alan juga terjebak macet," jawab Kenzo.
"Sudah nanti saja bicaranya. Cepat Kenzo penghulunya sudah menunggu," ucap Evano.
"Iya, Pah," sahut Kenzo.
Kenzo dan Felicia duduk berdampingan di hadapan Gio yang akan menikahkan mereka. Kenzo menjabat tangan Gio untuk melakukan ijab kabul. Dalam sekali ucap Kenzo berhasil menjadikan Felicia sebagai istrinya yang sah.
"Aku pikir kamu tidak akan datang dan memilih kabur bersama mantan kekasihmu itu," ledek Felicia. "Tadinya aku ingin menghabisimu jika kamu tidak datang. Kamu beruntung."
__ADS_1
"Kamu berani meledekku? Lihat saja! Aku yang akan menghabisimu nanti malam," balas Kenzo.