
“Dia bilang aku kampungan? Kita lihat siapa yang kampungan!”
Flora menggerutu saat dalam perjalanan pulang dari salon. Permainannya dengan Mariana akan segera dimulai. Dan Flora memulainya dengan mengubah penampilannya. Itu pun karena saran dari Mariana.
“Tenyata tante Mariana tidak jahat, hanya bermulut cabai saja,” batin Mariana.
Meskipun alasan Mariana membantu Flora karena rasa tidak suka pada Dini dan tidak rela jika harta keluarga Ferdinand jatuh ke orang lain, tetap saja Flora sangat berterimakasih padanya.
Tin Tin Tin
Flora membunyikan klakson mobilnya saat tiba di depan gerbang rumahnya. Tidak lama pintu gerbang dibuka oleh seorang penjaga di rumahnya. Flora kembali melajukan mobilnya dan memarkirnya tepat di garasi rumah itu.
Setelah mobil terparkir, Flora pun keluar dari dalam mobil.
“Selamat sore, Bu,” sapa seorang penjaga di rumah itu.
“Selamat sore juga,” sapa balik Flora.
Penjaga itu memperhatikan penampilan baru ibu bosnya yang sangat berbeda. Bersamaan dengan itu, ada sebuah taksi berhenti di depan rumah itu dan tenyata penumpangnya adalah Dini dan Tina.
“Pak Roni, siap untuk berakting?” tanya Flora.
“Siap dong, Bu.” Penjaga rumah itu mengacungkan ibu jarinya.
Selain Mariana, semua pekerja di rumah itu juga membantunya.
“Bagus,” balas Flora. “Ya sudah, saya masuk dulu,” lanjut Flora.
“Silahkan, Bu,” ucap Roni.
Flora melangkahkan kakinya menuju dalam rumah. Namun, langkahnya terhenti saat Dini berbicara untuk mengejeknya.
“Jadi kamu sengaja berdandan untuk menarik perhatian Gio. Itu tidak akan mempan. Gio sudah sangat membencimu,” ejek Dini.
“Mau kamu merubah penampilan kamu kaya apapun dan bahkan sampai kapanpun, kamu tidak akan bisa mengalahkan kecantikan aku,” imbuh Tina.
“Untuk apa mempunyai wajah cantik, tapi hanya dimanfaatkan untuk hal yang tidak benar. Seperti menggoda suami orang.” Flora menekan kata-katanya untuk menyindir Tina.
“Apa kamu sedang menyindirku?” Tina nampak tidak suka dengan perkataan Flora.
“Bagus kalau kamu sadar,” ucap Flora diikuti senyum mengejek.
“Dasat tidak perempuan tidak tahu diri,” maki Dini.
“Apa kalian sudah selesai bicaranya?” tanya Flora. “Jika sudah, aku akan masuk,” lanjut Flora.
Tidak ingin berada lebih lama bersama Dini dan Tina, Flora memilih untuk masuk ke dalam rumah.
-
-
Jam sudah menunjukan pukul 8 malam saat Gio baru pulang dari kantornya. Flora yang sedang berada di balkon kamarnya bisa melihat wajah lelah sang suami. Rasanya ingin menyambutnya dengan memberikan sebuah pelukan, tetapi itu tidak mungkin mengingat sikap Gio terhadap dirinya.
Flora pun memilih untuk mengirim pesan pada bibi untuk memberikan air putih pada Gio. Namun, jawaban bibi membuat Flora kesal.
Pelakor sudah maju duluan, Bu.
__ADS_1
Begitulah pesan dari bibi yang sedang Flora baca.
“Dasar perempuan tidak tahu malu,” maki Flora.
Flora kembali membuka ponselnya saat ada pesan dari seseorang. Sudut bibir Flora tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Ternyata pesan dari Mariana yang merupakan kode untuk permainan selanjutnya.
Setelah mengirim pesan balasan dari Mariana, Flora menarik napas dalam-dalam sebelum turun ke lantai dasar rumahnya. Dengan langkah anggun, Flora berjalan menuruni anak tangga.
“Kamu sudah membaca pesan dariku, 'kan?” tanya Flora pada Gio saat sampai di ruang tengah.
Gio tidak menjawab dengan kata-kata hanya anggukan kepala saja yang Gio tunjukkan.
“Pesan apa yang kamu kirimkan pada Gio?” tanya Tina.
“Kenapa kamu ingin tahu? Ini urusan antara suami-istri, jadi orang luar tidak perlu tahu,” jawab Flora dengan nada tidak perduli.
Tin tin tin
Bunyi klakson mobil di luar rumah itu mengalihkan perhatian mereka.
“Sepertinya mereka sudah datang,” ucap Flora.
Flora melangkah meninggalkan ruang tengah menuju pintu utama rumah itu untuk membuka pintu.
“Selamat malam, Flora,” sapa Mariana.
“Selamat malam juga,” balas Flora. Pandangan Flora beralih pada Daniel Dan juga Ardi. “Selamat malam Om Ardi, Daniel.”
“Selamat malam juga, Flora,” balas Daniel dan Ardi bersamaan.
“Ayo silahkan masuk,” ajak Flora.
Flora menggiring mereka ke ruang tamu dan mempersilakannya mereka untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
“Aku buatkan minum dulu,” pamit Flora.
Flora melangkah kakinya ke dapur dan melewati Gio, Tina, dan Dini tanpa melihat ke arah mereka.
Tidak lama Flora bersama bibi datang ke ruang tamu dengan nampan di tangan mereka berisi beberapa cangkir teh. Flora menata cangkir berisi teh ke hadapan masing-masing orang yang ada di ruang tamu.
“Silahkan diminum,” ucap Flora.
“Flora,” panggil Mariana. “Duduk di samping suami kamu,” suruh Mariana.
“Masih ada sofa yang kosong kenapa harus duduk di tempatku,” protes Tina.
“Kamu siapa?” tanya Mariana.
“Saya sahabatnya Gio,” jawab Tina
Pandangan Mariana mengarah pada Tina dan Dini. “Maaf orang luar silahkan pergi, ini hanya pertemuan untuk keluarga saja.
Gio langsung menyuruh Tina untuk menyingkir dari sampingnya dan membiarkan Flora untuk duduk di sampingnya.
“Baiklah kita mulai saja,” ucap Pengacara Farhan.
“Sebelumya perkenalan saya Zaki, saya pengacara almarhum bapak Farhan. Saya di sini akan membacakan surat wasiat yang ditulis oleh beliau sebelum meninggal dunia,” ucap Zaki.
__ADS_1
“Langsung saya bacakan saja,” ucap Zaki.
Zaki mulai membaca apa yang ditulis dalam surat wasiat itu. Dan Zaki mengatakan jika separuh harta Farhan diberikan pada Flora termasuk rumah dan aset perusahaan mereka, sedangkan Gio mendapatkan 25 persen dari harta Farhan. Dan itupun dengan syarat, mereka baru bisa mencairkan harta itu jika Gio dan Flora sudah memiliki anak.
“Untuk sisanya diberikan kepada bapak Ardi, Daniel, dan ibu Seruni,” lanjut Zaki.
Zaki terlihat menutup map ditangannya pertanda ia selesai membacakan surat wasiat yang ditinggalkan oleh Farhan.
“Itulah isi dari surat wasiat yang ditinggalkan oleh almarhum,” ucap Zaki.
“Ini tidak adil,” protes Dini. “Flora mendapatkan lebih banyak dari Gio.”
“Secara Flora adalah anak kandung kakak iparku. Jadi ... apa salahnya jika Flora mendapatkan lebih banyak," ucap Mariana.
“Gio, kamu kenapa diam saja. Ini tidak adil untukmu,” ucap Dini.
“Sudahlah, Tante terserah mereka saja. Aku sangat lelah aku ingin beristirahat,” ucap Gio. “Saya permisi dan selamat malam.” Gio beranjak dari sofa dan pergi ke kamarnya.
Sepeninggal Gio, Dini dan Tina pun memilih untuk menyusulnya.
Setelah memastikan ketiga orang itu pergi, Mariana langsung mengucapkan terimakasih pada Zaki karena sudah membantu untuk mengganti surat wasiat itu.
“Terimakasih, Pak Zaki atas bantuannya,” ucap Mariana.
“Sama-sama, Nyonya. Jika itu demi kebaikan semua saya siap membantu,” balas Zaki. “Kalau begitu saya permisi dulu.”
Semua orang yang masih ada di ruang tamu berdiri dan menyalami tangan Zaki secara bergantian.
“Tante Ana, terimakasih banyak.” Flora langsung memeluk tubuh Mariana.
Flora dan Mariana nampak sangat senang, membuat Ardi dan Daniel nampak bingung.
Ada apa sebenarnya?
“Awww! Pah sakit. Kenapa papa nyubit aku?” tanya Daniel.
“Mamah kamu sama Flora ... akur. Papa kira ini mimpi,” ucap Ardi.
Daniel pun baru menyadari tentang hal itu. Ardi dan Daniel yang merasa penasaran dengan kedekatan Flora dan Mariana pun bertanya apa yang sedang mereka rencanakan.
Mariana dan Flora pun mengungkapkan apa yang sedang mereka rencanakan, karena mereka juga butuh banyak bantuan.
“Kamu tenang saja, Flora. Kami akan membantumu sebisa mungkin,” ucap Ardi.
“Terimakasih banyak untuk bantuan kalian,” ucap Flora.
“Ya sudah, kami harus pulang ini sudah malam. Jika kamu butuh bantuan segera hubungi kami,” ucap Ardi dibalas anggukan kepala oleh Flora.
Ardi, Mariana, dan Daniel beranjak dari sofa dan melangkah ke arah pintu. Daniel dan Flora berjalan di belakang Ardi dan Mariana dengan mengobrol.
“Kamu yang sabar ya. Gio tidak mungkin bisa membencimu semudah itu,” ucap Daniel.
“Tapi pada kenyataannya seperti itu, Daniel,” ucap Flora.
“Aku sangat mengenal Gio, Flora. Aku yakin sekali dengan apa yang aku katakan tadi. Mungkin Gio masih terkejut dan terpukul dengan kenyataan jika dirinya bukan anak om Farhan dan tentang ibunya,” ucap Daniel.
“Aku berharap seperti itu,” ucap Flora.
__ADS_1
“Ya sudah, jaga dirimu baik-baik. Aku pulang dulu,” pamit Daniel.
Daniel dan keluarganya masuk ke dalam satu mobil yang sama dan meninggalkan rumah itu. Setelah mobil yang membawa Daniel beserta keluarganya lenyap dari pandangannya, Flora kembali masuk ke dalam rumah.