
INT. KANTOR NANDA - R.MEETING - SIANG
Estab shot kantor Nanda..
Mona mondar-mandir gelisah.
MONA
(melihat ke jam tangannya)
Nanda mana nih, kok belum dateng juga siiih?! Padahal satu jam sebelum meeting dia harus nyiapin materi mitingnya.. (beat) Ini kayak bukan Nanda yang biasanya deh!
Mona mengambil HP-nya untuk telepon Nanda.
INTERCUT WITH:
INT. RUMAH SAKIT (RUANG PERAWATAN RAFI). SIANG
Rafi masih terbaring lemah dengan selang infus dan perban yang nempel di perutnya yang terluka. Dia belum sadar.
Nanda duduk di bangku sisi tempat tidur, menatap sedih.
(NOTE: Nanda masih pake baju crosser, sampe ke scene di bawah yang setting rumah sakit).
NANDA
(ekspresinya nyesel banget) Maafin aku ya, Fi. Gara-gara aku, kamu jadi kayak gini.
Nanda masih menatap Rafi..
NANDA
(menghela nafas panjang)
Kamu memang lelaki sejati.. harusnya aku yang terbaring di sini, karena ambil cincin itu. (beat) Pengorbanan kamu, gak akan pernah aku lupain, Fi. Suatu saat, aku akan membayarnya. Kalo perlu.. Dengan nyawaku juga, seperti yang kamu lakuin.
Saat itu HP Nanda bunyi, ada telepon masuk.
Nanda kaget, lalu ambil HP-nya di tas.
POV NANDA/CU: Tertulis di layar.. Incoming call Mona’.
Nanda menjauh dari Rafi untuk terima panggilan Mona.
INTERCUT WITH:
(CUT TO CUT dengan tempat Nanda telpon).
BACKGROUND MONA: Nampak satu per satu klient pada datang untuk meeting.
Sambil telpon, Mona mengangguk hormat ke mereka.
Mona telpon Mona rada berbisik-bisik dan agak jauh dari para klien yang datang.
MONA
(panik) Nanda.. kamu di mana??? Jangan bilang, kalo kamu lupa hari ini ada meeting sama klien!
INTERCUT WITH:
Nanda telponan sama Mona, sambil agak menjauh dari Rafi dan sesekali ngeliat Rafi.
Nanda menghela nafas panjang, bicara dengan nada pelan, takut gangguin Rafi.
NANDA
Mon, aku gak bisa banyak omong nih. Pokoknya, kamu batalin aja semua schedule aku, termasuk meeting sama klien hari ini..
INTERCUT WITH:
JREEEENG! Mona kaget, makin heran, sambil melihat para klien yang sudah mulai duduk.
MONA
Ha?? Kliennya udah pada dateng, Nan!. Kenapa kamu ga ngabarin dari tadi? Ini udah tinggal nunggu kamu doang..
NANDA
Sorry Mon.. Aku juga lagi urgent, pokoknya kamu lakuin aja yang aku bilang... ya. Thanks..
KLIK! Telpon di seberang sana ditutup.
Mona masih belum ngeh dan bicara sama Nanda.
MONA
Nanda..!!! Naaaan???
(liat ke HP-nya)
Kok malah ditutup sih?!
Mona jadi makin panik!
INTERCUT WITH:
Nanda memegangi HP yang sudah dia tutup pembicaraannya. Ekspresi wajah Nanda, seolah gak peduli dengan segala urusan, selain Rafi!
INTERCUT WITH:
Mona makin heran dan curiga.
MONA
(menggumam) Kok jadi gini sih si Nanda??
(Mikir) Lagi urgent apaan?? Hmm, Nanda pasti lagi sembunyiin sesuatu nih dari gue...
__ADS_1
Mona diam-diam menatap ke para klien wajah panik.
BACK TO
Nanda kembali lihat Rafi yang berbaring tak sadarkan diri.
CU: Wajah Nanda yang sendu dan sedih banget.
CUT TO
ESTABLISHED: Suasana siang ke malam..
ESTABLISHED: Rumah sakit Bogor..
INT. RUANG PERAWATAN RAFI. MALAM
Nanda masih duduk di bangku, di samping bed Rafi.
Rafi masih terbaring lemah, tak sadarkan diri.
Ekspresi wajah Nanda nampak kelelahan.
CU: Mata Nanda mulai terkantuk-kantuk.
Nanda gak kuat lagi menahan kantuk, akhirnya dia meletakkan kepalanya di sisi tempat tidur.
Tak lama Nanda pun tertidur, sambil duduk samping bed Rafi.
Tak lama..
CU: HP Rafi yang ada samping tempat tidur bunyi.
Ada telpon masuk.
CU: Mata Rafi yang terpejam mulai kedip-kedip, seolah dengar suara HP-nya.
Akhirnya Rafi pun terbangun dari pingsannya.
CU: Mata Rafi melihat sekelilingnya dengan heran.
Rafi tiba-tiba teringat.
FLASHES
Ketika Rafi turun ke jurang, hendak mengambil cincin Nanda yang jatuh.
Rafi akhirnya menyadari keberadaannya. (Masih belum ngeh, kalo Nanda tidur sambil duduk di bangku sebelah bed-nya).
Saat itu.. barulah Rafi lihat Nanda tertidur, sambil duduk di bangku, dengan kepala terkulai di sisi tempat tidurnya.. di sampingnya..
RAFI
(menggumam) Bu Nanda..
Rafi termenung, kembali teringat beberapa kejadian bersama Nanda, ketika akan mengambil cincin itu.
- Saat Nanda bikin perjanjian, hingga akhirnya mereka balapan.. (Flashes-nya berurutan yaa, pendek-pendek aja, sampe akhirnya Rafi jatuh).
CUT BACK TO PRESENT
Bunyi HP Rafi berhenti, karena gak segera diangkat.
Rafi tersadar dari lamunannya.
CU: Tangan Rafi perlahan terangkat, menepuk dengan gerakan ragu-ragu.. untuk bangunin Nanda.
RAFI
Bu Nanda.. Bu..
(NOTE: Nyuruhnya tetep dengan karakter Rafi).
Nanda terjaga dari tidurnya, kaget dan buru-buru merapikan rambutnya.
NANDA
(lega) Rafi.. Syukur deh.. kamu udah sadar.
Rafi masih bingung
NANDA
Fi, aku minta maaf.. kalau seandainya aku enggak minta kamu ambilin barang berharga itu dari motorku, kamu enggak akan kayak begini..
Rafi hanya diam.
NANDA
Fi, bukannya aku tidak mau mengerti sama kondisi kamu sekarang.. Pertaruhan kita enggak ada yang menang atau kalau... tapi..
Nanda diam sesaat.. hingga Nanda bicara
NANDA
Aku harap kamu bisa menerima tawaran aku untuk menggantikan tunangan aku..
Rafi hela nafas.. masih menahan sakit..
RAFI
(Memotong) Maaf.. Lebih baik ibu pergi.
JRENG!
Nanda bingung, sekaligus kesal. Tapi kayak ragu antara pergi atau tetap jagain Rafi.
CUT TO CUT Wajah Rafi dan Nanda sampe akhirnya Nanda mutusin untuk pergi ninggalin Rafi.
__ADS_1
NANDA
(Hela nafas) Oke, aku pergi.. aku minta maaf..
Nanda akhirnya pergi dengan kesal.
HP Rafi kembali bunyi, ada telpon masuk.
Sambil nahan sakit, Rafi meraih HP di meja sebelahnya.
Rafi melihat siapa yang telpon.
POV RAFI/CU: Tertulis di layar HP.. Incoming call Mama Rani’.
Rafi segera terima panggilan.
INTERCUT WITH:
INT. RUMAH RANI. MALAM
(CUT TO CUT dengan tempat Rafi telpon).
Rani telpon Rafi.
RANI
(cemas) Rafi.. kamu di mana? Kenapa kamu belum pulang?! Udah Mama tunggu-tunggu lho. Mama khawatir.
INTERCUT WITH:
Rafi berusaha menahan sakit, supaya keluhannya gak didengar Rani agar mamanya gak khawatir. Nada bicara Rafi seolah dia baik-baik saja. (Ini awalannya Rafi gak mau terus terang dulu tentang apa yang dialaminya).
RAFI
Maaf Ma.. Egh.. Aku lagi di Bogor, ketemuan sama investor.
RANI
(mengernyit, heran) Mendadak, Fi? Kok enggak pamit dulu sama Mama?
RAFI
Sebenernya, aku sama calon investor aku ke Bogor buat balapan motocross, Ma.
RANI
Ya ampun, aneh banget calon investor kamu.
RAFI
Maunya dia begitu, Ma.
RANI
Masak harus balapan dulu, baru dia mau inves. Kenapa gak ajak main golf ato apa kek yang gak bahaya gitu.
RAFI
(sedikit mengerang kesakitan) Aowh..
RANI
(perasaannya gak enak) Rafi, kamu kenapa? Kamu gak pa-pa?!
RAFI
Tadi aku sempet jatuh, Ma. Sekarang aku lagi di rumah sakit.
INTERCUT WITH:
JREEEENG! Rani kaget banget dengernya. Dia langsung khawatir banget.
RANI
Ya ampun, terus gimana kondisi kamu??? Dirawat di rumah sakit mana??? Mama susuk ke sana!
RAFI
Gak usah, Ma. Aku udah baikan kok. Besok juga udah boleh pulang. Jadi Mama tenang aja, yaa.. (beat) Tunggu aja aku di rumah.
Rafi segera nutup HP-nya sebelum Rani macem-macem lagi.
BACK TO
Rani menutup HP-nya, berfikir dengan ekspresi wajah masih khawatir.
RANI
Kasihan Rafi.. Cari investor sampai luar kota.. sampe harus balapan motocross segala. Haduuh..
Rani mengernyit..
RANI
Aku bisa temuin Wisnu supaya dia mau memberikan kembali haknya Rafi..? Jadi enggak perlu Rafi harus susah-susah cari investor..
Rani jadi mikir dan ngga sengaja lihat kalender.
POV RANI/CU: Kalender.
RANI
Kebetulan besok ulang tahun Mas Wisnu.
Rani pun tampak tersenyum penuh rencana..
CUT TO
__ADS_1