
Plak!
Felicia mendaratkan tamparan keras di pipi Vera. Amarah yang sudah tidak bisa Felicia kendalikan membuatnya tidak memperdulikan keberadaan Wibowo di samping Vera.
Tepat di tempat parkir mobil Felicia menampar Vera. Menurut Felicia tindakan Vera sudah melebihi batas dan dirinya benar-benar sudah tidak bisa memberikan toleransi untuk Vera.
"Apa ini rencana yang kamu katakan tadi?" ucap Felicia tanpa basa-basi.
"Ya! Aku hanya ingin Kenzo sadar akan perasaanya padaku!" ucap Vera.
"Aku mencintainya dan aku mencintainya lebih dari kamu!" teriak Vera.
"Itu bukan cinta, Vera. Tapi obsesi." Felicia balas berteriak pada Vera. "Dan karena obsesimu itu kamu menjadi hilang akal."
"Kamu hanya memikirkan perasaanmu sendiri. Kamu egois sampai tidak menghargai perasaan suamimu sendiri," ucap Felicia.
"Diam!" Vera berteriak diikuti dengan air matanya yang menetes.
"Kamu yang harusnya diam!" balas Felicia.
"Apa kamu sudah kehilangan akal, hah?" tanya Felicia. "Apa kamu tidak bisa berpikir? Apa yang sudah kamu lakukan tadi itu bisa memperlakukan suamiku, suamimu, dan juga dirimu sendiri."
"Apa kamu pikir dengan memamerkan kenangan kamu dan Kenzo tadi, bisa membuat hati Kenzo luluh dan kembali padamu?" ucap Felicia.
"Feli, hentikan. Kendalikan emosimu. Jika kamu marah-marah seperti ini tidak akan baik bagi kandungan kamu." Kenzo mencoba menenangkan Felicia.
"Aku sudah mencoba bersabar menghadapi perempuan ini, Kenzo. Tapi tidak untuk sekarang. Aku sudah kehilangan kesabaranku dengan tingkahnya yang memalukan itu," tolak Felicia.
"Nyonya Kenzo —" Ucapan Wibowo langsung dipotong oleh Felicia.
"Sebaiknya Anda diam!" sela Felicia.
Pandangan Felicia mengarah pada Wibowo. Ia menatap Wibowo dengan rasa marah dan rasa iba.
"Apa Anda ingin kembali membela istri Anda yang jelas-jelas sudah mempermalukan Anda?" Mata Felicia nampak memunculkan api amarah.
"Bukan seperti itu, Nyonya Kenzo," jawab Wibowo.
"Lalu apa?" Suara Felicia mulai melemah.
"Saya ingin minta maaf atas nama istri saya. Sungguh saya tidak menyangka jika dia akan berbuat memalukan seperti ini," ucap Wibowo dengan wajahnya yang tertunduk.
Felicia diam begitu juga dengan Kenzo. Melihat wajah Wibowo tertunduk membuat Felicia dan memilih diam. Ia merasa sangat iba dengannya. Mereka berempat sama-sama tenggelam dalam diam, karena tidak tahu apa yang harus mereka katakan.
__ADS_1
"Permisi, Pak. Ini flashdisk yang Bapak minta tadi." Alan memberikan flashdisk kepada Kenzo.
Keempatnya menoleh ke asal suara. Mereka melihat dua orang kepercayaan Kenzo.
"Terima kasih." Kenzo menerima flashdisk yang Alan berikan.
"Vera," panggil Kenzo.
"Kenzo ...." Vera menatap Kenzo dengan matanya yang basah.
"Aku harap setelah ini kamu sadar, jika kamu sudah tidak ada artinya di dalam hidupku." Kenzo menjatuhkan flashdisk di tangannya, lalu menginjaknya.
Flashdisk berisi foto-foto Kenzo dan Vera berubah menjadi kepingan. Sama halnya dengan hati Vera yang hancur berkeping-keping.
"Ayo, Felicia. Kita sebaiknya pergi dari sini." Kenzo melingkarkan tangannya ke pinggang Felicia dan membawanya pergi dari hadapan Vera.
"Alan, Nina, ayo kita kembali ke hotel," ajak Kenzo.
"Baik, Pak." Alan dan Felicia menyahut bersamaan.
"Kenzo!" Vera memanggil Kenzo. Ia bahkan ingin mengejar Kenzo. Namun, dicegah oleh Wibowo.
*****
"Aku bersih-bersih dulu ya," ucap Kenzo.
"Iya." Felicia menganggukkan kepalanya.
Kenzo melepas jas yang dipakainya. Lalu meletakkannya ke atas tempat tidur. Setelah itu Kenzo juga melepas kemejanya yang langsung menampakkan tubuh atletisnya.
Air liur Felicia seakan menetes melihat tubuh suaminya yang nampak menggoda. Segera Felicia memalingkan wajahnya agar tidak terus tergoda oleh perut rata Kenzo, tetapi Felicia diam-diam masih mencuri pandang ke arah Kenzo.
Beruntung Kenzo segera masuk ke dalam kamar mandi. Jika Kenzo berada di kamar sedikit lebih lama, Felicia merasa tidak yakin bisa mengendalikan dirinya. Bisa-bisa dirinya kembali mengajak Kenzo bercinta seperti apa yang pernah dirinya lakukan dulu. Saat bayangan suaminya menghilang di balik pintu kamar mandi, Felicia merasa napasnya begitu lapang.
Felicia melangkahkan kakinya ke arah jendela. Ia buka sedikit gorden berwarna biru yang menutupi jendela kamarnya. Tidak banyak yang bisa Felicia lihat dari tempatnya berdiri. Hanya taburan bintang di langit yang gelap dan juga air laut biru yang sudah berganti warna menjadi gelap. Kedua tangannya melipat di depan dadanya, matanya menutup seraya memikirkan banyak hal.
Tepat di hari kasih sayang Felicia merasa sangat bahagia. Akhirnya sesuatu yang Felicia inginkan dirinya dapatkan tepat di hari itu. Awalnya Felicia sama sekali tidak menduga jika dirinya akan jatuh cinta secepat itu pada Kenzo, tetapi hatinya tidak bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta pada laki-laki yang berstatus sebagai suaminya.
Beberapa saat kemudian matanya yang tertutup kembali terbuka. Senyumnya mengembang saat mengingat segala sesuatu tentang Kenzo. Tawa kecil mulai muncul saat mengingat setiap waktu yang ia habiskan bersama sang suami.
Kenzo, aku sangat mencintaimu.
Beberapa saat kemudian Felicia merasakan pelukan dari seseorang di belakangnya. Felicia tidak perlu melihat siapa yang memerlukannya. Hawa dingin yang terasa di tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi hangat
__ADS_1
"Kamu sudah selesai mandi?" Felicia menyenderkan kepalanya di pundak suaminya.
"Sudah," jawab Kenzo. "Mandi sendiri membuatku kedinginan."
Felicia tertawa mendengar ucapan Kenzo. Dirinya baru tahu jika Kenzo pintar sekali menggoda.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Kenzo.
"Tidak ada. Hanya sedang memikirkan sesuatu," jawab Felicia.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Kenzo kembali bertanya tanpa berniat melepaskan pelukannya.
"Tentang kita," jawab Felicia.
"Memang ada apa dengan kita?" Kenzo mencium pundak Felicia dan merayap ke leher Felicia.
Felicia menjauhkan tangan Kenzo. Ia berbalik menghadap suaminya. Matanya melihat wajah suaminya yang nampak segar, nampak masih ada air yang menetes dari rambutnya. Kaos hitam ketat nampak kontras dengan kulitnya yang putih, tetapi itu membuat Kenzo sangat tampan.
"Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Kenzo.
"Aku hanya sedang memperhatikan kamu. Aku berpikir apakah kamu anak kecil yang suka menangis dulu itu," ledek Felicia diikuti tawanya.
"Dasar gendut." Kenzo menjepit hidung Felicia dengan ibu jari dan jari telunjuknya lalu menggoyangkannya.
Keduanya tertawa sebelum menyatukan kening mereka. Jarak keduanya begitu dekat, hanya tinggal beberapa centi saja bibir mereka menyatu.
Kenzo menarik pinggang Felicia untuk mempersempit jarak di antara mereka. Felicia sendiri memilih untuk melingkarkan tangannya di leher Kenzo.
"Feli ...," panggil Kenzo.
"Hmmm," gumam Felicia.
"Aku mencintaimu," ucap Kenzo.
"Aku juga sangat mencintaimu," balas Felicia.
Hening mengambil alih suasana di antara mereka. Tidak ada yang bersuara, hanya hati mereka yang saling bicara dengan jantung mereka yang sama-sama berdetak lebih kencang dari biasanya.
Kenzo merasa tidak tahan hanya berdiri dan menatap wajah istrinya. Ia lebih dulu mendekatkan wajahnya ke wajah Felicia dengan sedikit memiringkan kepalanya.
Felicia sendiri tetap diam, tetapi tangannya mencengkram kaos Kenzo. Matanya terpejam saat Felicia merasakan bibir Kenzo menempel di bibirnya.
Keduanya saling berbalas kecupan lembut. Namun, makin lama ciuman lembut itu berubah menjadi jauh lebih menuntut. Tangan Kenzo menarik gorden yang ada di belakang istrinya. Ia menutup jendela kamarnya agar tidak ada yang melihat apa yang akan mereka lakukan.
__ADS_1