Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Si Cantik Buruk Rupa


__ADS_3

Gavindra berdiri, berjalan ke dekat wanita yang baru saja membuat kekacauan. Langkah Gavindra terhenti berdiri hanya beberapa langkah di hadapan wanita itu. Gavindra melihat wanita itu dari atas hingga bawah. Wajah wanita itu tidak secantik wanita-wanita yang biasa ia kencani selama ini. Tubuhnya tidak se-seksi wanita-wanita sebelumnya, juga terlihat kurus, penampilannya biasa saja, kaos oblong dipadukan dengan celana jeans, rambutnya dikuncir seperti ekor kuda, dan yang paling tidak Gavindra sukai adalah kaca mata yang dipakainya.


"Siapa namamu?" tanya Gavindra.


"Aura... Aura Anandita Putri." Wanita itu menjawab dengan suara yang terbata-bata. "Kamu bisa memanggilku, Aura," imbuh Aura.


"Apa tujuanmu datang ke sini?" tanya Gavindra.


"Apakah tadi perkataanku kurang jelas? Aku mengatakan bersedia untuk menikah kontrak denganmu," jawab Aura dengan begitu tegas.


"Lalu apa kamu pikir aku mau menerimamu untuk menjadi istri kontrakku dengan penampilanmu yang seperti ini?" Gavindra tersenyum seolah sedang mengejek Aura.


Aura terdiam lalu melihat penampilannya sendiri, ia tahu penampilannya memang biasa saja. Menyadari itu rasanya Aura ingin mundur, tetapi Aura sangat membutuhkan uang.


"Aku tahu penampilanku memang jauh dari kata sempurna. Tapi aku yakin aku lebih baik daripada wanita-wanita yang sebelumnya datang dengan pakaian mini tadi," jawab Aura.


"Aku suka dengan rasa percaya dirimu," puji Gavindra. "Tapi... itu saja tidak cukup," imbuh Gavindra.


Rasa percaya diri Aura seketika hancur mendengar ucapan Gavindra.


"Aku butuh uang," aku Aura dengan wajah yang tertunduk.


"To the point sekali," ucap Gavindra.


"Ibuku dirawat di rumah sakit. Aku butuh uang untuk biaya perawatan beliau," ucap Aura.


"Itu bukan urusanku," ucap Gavindra.


"Aku tahu. Maka dari itu aku mau melakukan ini. Dan apa kamu pikir aku mau melakukan ini jika tidak karena terpaksa," ucap Aura.


"Baiklah, sekarang jawab satu pertanyaanku ini! Dari mana kamu tahu aku sedang mencari istri bayaran?" tanya Gavindra.


"Dari iklan yang tidak sengaja aku baca di halaman pencarian jodoh," jawab Aura.


"Apa halaman pencarian jodoh!" Gavindra menatap Ciko yang sedang terkikik geli. "Apa kamu pikir aku tidak laku sampai kamu memasang iklan di tempat seperti itu." Gavindra kembali melempar bantal sofa ke wajah Ciko.


"Itu cara tercepat untuk mendapatkan wanita-wanita tadi," ucap Ciko masih dengan tawanya.


Gavindra kembali menatap Aura, kembali memerhatikan wajahnya. Gavindra seolah bisa melihat kecantikan di balik kaca mata yang Aura pakai.


"Sedang apa kamu di sini! Pergi!" usir Gavindra.


Aura merasa kecewa dengan pengusiran yang dilakukan oleh Gavindra. Penolakan itu membuat Aura merasa harapannya untuk mendapatkan uang sudah hancur. Dengan wajah yang menunduk menahan air matanya untuk tidak terjatuh. Namun, gagal, air mata itu tetap terjatuh meskipun Aura sudah berusaha dengan keras untuk menahannya. Aura akhirnya pergi dengan sejuta kekecewaan.


"Hei, kamu mau ke mana?" cegah Gavindra.


Aura menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke arah Gavindra.


"Kenapa diam? Aku bertanya padamu!" ucap Gavindra dengan nada bicara yang terdengar begitu arogan.

__ADS_1


"Bukankah tadi kamu memintaku untuk pergi," jawab Aura.


"Ck, maksudku pergilah ke dapur! Buatkan aku makanan," ucap Gavindra.


Kening Aura mengerut merasa bingung dengan sikap Gavindra. Jika memang menginginkannya untuk memasak seharusnya pria itu bisa bicara dengan jelas.


"Kenapa melihatmu seperti itu? Ini salah satu tes untukmu. Jika kamu bisa memasak makanan yang enak untukku itu bisa menjadi pertimbangan untuk menjadi calon istriku," jelas Gavindra.


"Baiklah aku akan memasak untukmu. Terima kasih untuk kesempatannya." wajah sedih Aura kembali cerah.


"Kalau begitu cepatlah! Untuk apa kamu berdiri di situ terlalu lama!" suruh Gavindra.


"Di mana dapurnya?" tanya Aura.


"Astaga!" Gavindra menggeram seraya menggusar rambutnya ke belakang. "Dapurnya ada di sebelah sana!" tunjuk Gavindra.


Aura melihat ke arah yang Gavindra tunjuk. Tidak menunggu waktu lama Aura pergi ke dapur dengan sangat bersemangat. Sampai di dapur Aura membuka lemari pendingin. Ada banyak bahan masakan di dalamnya. Melihat bahan masakan yang ada, Aura sudah tahu akan memasak apa. Namun, saat akan mulai memasak Aura tercengang melihat kemewahan dapur itu. Rasa semangatnya tiba-tiba menghilang. Aura sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Semua barang-barang yang ada di dapur itu nampak sangat asing baginya.


Ya tuhan bagaimana ini? Aku tidak tahu caranya menggunakan benda-benda seperti ini.


"Ada apa? Aku menyuruhmu memasak Kenapa kamu hanya melamun di sini waktumu tidak banyak. Jadi cepatlah masak!" perintah Gavindra.


"Jika kamu ingin cepat, makan saja semuanya secara mentah," ucap Aura.


Mata Gavindra terbelalak mendengar perkataan Aura. "Berani sekali dia?" Gavindra bicara dalam hatinya.


Reaksi Ciko berbeda jauh dari Gavindra, pria yang merupakan sahabat dekat Gavindra tertawa puas. Tidak ada wanita yang berani bicara seperti itu pada Gavindra sebelumnya.


"Baiklah, aku diam." Ciko melipat bibir menahan tawanya.


"Apa yang kamu lihat! Cepat masak!" perintah Gavindra.


"Aku ... tidak tahu caranya menggunakan kompor ini," ucap Aura dengan wajah yang menunduk.


"Ya Tuhan!" Gavindra merasa kesabarannya sudah habis. "Ciko, kamu urus wanita ini! Kesabaranku sudah hampir habis." Gavindra pergi dari dapur dan kembali ke ruang tengah.


Sementara itu Ciko membantu Aura memberitahu cara menyalakan kompor listrik. Tidak sulit bagi Ciko untuk mengajari Aura, wanita itu mudah sekali untuk mengerti.


"Sudah mengerti?" tanya Ciko.


"Sudah." Aura menganggukkan kepalanya. "Terima kasih sudah membantuku," imbuh Aura.


"Sama-sama. Masaklah yang enak," suruh Ciko.


"Tunggu." Aura mencegah Ciko pergi.


"Ada apa?" tanya Ciko.


"Boleh aku bertanya?" tanya Aura disambut anggukkan kepala oleh Ciko. "Pria arogan itu suka makanan pedas atau tidak?" tanya Aura.

__ADS_1


"Oh, itu. Dia suka sekali makanan pedas," jawab Ciko.


"Baiklah, aku akan mulai memasak," ucap Aura.


"Semangat, panggil aku jika kau butuh bantuan." Setelah mengatakan kalimat itu Ciko pergi dari dapur menyusul Gavindra ke ruang tengah.


Waktu sudah berjalan satu jam, Gavindra yang sedang bermain dengan ponselnya mencium aroma yang sangat sedap berasal dari dapur. Mencium aroma itu membuat Gavindra tidak sabar untuk mencicipi masakan yang dibuat oleh Aura.


"Hei, coba kamu lihat apakah dia sudah selesai atau belum!" suruh Gavindra.


"Baiklah, jika dia sudah selesai aku akan menjadi yang pertama mencicipi masakannya. Mencium aromanya saja sudah membuat aku kelaparan," ucap Ciko.


"Kamu memang harus mencicipinya lebih dulu. Jika dia menaruh racun ke dalam makanan itu maka kamu yang akan mati lebih dulu," ucap Gavindra.


Ciko tergelak mendengar perkataan Gavindra. Tidak ada sedikitpun rasa marah di hati Ciko, ia tahu Gavindra hanya bergurau saja.


Sepuluh menit menunggu Ciko tak kunjung kembali. Jangan-jangan wanita itu benar-benar meracuninya?


"Ck, masa iya seperti itu?" batin Gavindra.


Merasa penasaran Gavindra memutuskan untuk menyusul Ciko. Gavindra lebih dulu membuka pakaiannya karena merasa kepanasan. Lalu pria itu berjalan ke arah dapur dengan bertelanjang dada.


Semakin dekat dengan dapur Gavindra bisa mencium aroma yang sangat sedap memancing rasa laparnya. Sampai di dapur Gavindra justru dibuat terkejut dengan teriakan Aura.


"Aaaa!" teriak Aura.


"Hei, kenapa kamu berteriak!" Gavindra menutup kedua telinganya.


"Kenapa kamu telanjang?" tanya Aura seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Ini rumahku! Aku bebas melakukan apapun," jawab Gavindra. "Lagipula jangan pernah berpikir aku bernapsu saat melihatmu," lanjut Gavindra.


"Dasar pria tidak tahu malu!" maki Aura.


Makian Aura dianggap angin lalu oleh Gavindra. Pria itu memilih duduk di meja makan sambil memperhatikan Ciko.


"Hei, aku menyuruhmu untuk melihat situasi di sini! Kenapa malah asik makan?" sungut Gavindra.


"Kamu menyuruhku untuk lebih dulu mencicipinya. Ini rasanya sangat enak. Delicious," puji Ciko.


Gavindra terheran-heran saat Ciko makan dengan sangat lahap bahkan sampai tidak peduli dengan keberadaan dirinya. Gavindra pun merasa penasaran dengan rasa masakan Aura.


"Hei, kamu masak apa?" tanya Gavindra kepada Aura.


"Aku hanya memasak soto daging," jawab Aura masih dengan menutupi wajahnya.


"Sudah cepat buka matamu dan layani aku," suruh Gavindra.


"Melayanimu! Apa maksudmu!" Aura bergidik ngeri.

__ADS_1


"Jangan berpikiran yang macam-macam. Sudah aku bilang aku tidak napsu padamu. Melihatmu dadamu saja tidak membuat milikku tegang." Ucapan Gavindra berhasil membuat Ciko tersedak.


Reaksi Aura sendiri berbeda, ia terkejut sekaligus merasa malu sendiri mendengar perkataan Gavindra. Ingin rasanya Aura menyiram soto panas ke kepala Gavindra agar pikiran kotor pria itu menghilang.


__ADS_2