
Sebelum membaca bab di karya ini sebaiknya baca deskripsinya lebih dulu, gaes, jadi bisa nebak nih jalan ceritanya, kwkwkwkwkwk.
Happy reading ...
Seruni, gadis polos berumur 19 tahun, berasal dari sebuah desa di daerah Jawa barat. Seruni bekerja di sebuah kedai kopi, di kotanya.
Cantik? Ya pasti.
Seruni bisa dikatakan kembang desa di tempat tinggalnya dan primadona di tempat ia bekerja.
Suatu ketika kedai kopi tempat Seruni bekerja kedatangan tamu dari para pekerja bangunan. Salah satunya adalah laki-laki yang mengaku sebagai Ferdi. Di situlah awal Seruni bertemu dengan Ferdi.
"Kopi hitam satu, Mbak," pinta Ferdi.
"Iya, Kang." Seruni mencatat satu persatu pesanan para tamu itu.
Setelah mencatat pesanan mereka, Seruni menghampiri seorang Barista dan memberikan catatan pesanan kopi para tamu.
"Silahkan, Kang." Seruni meletakkan kopi hitam pesanan Ferdi ke meja yang ada di hadapan Ferdi.
Seruni sebenarnya sedikit bingung, kenapa Ferdi memilih untuk duduk sendiri di meja yang sudut kedai ketimbang berkumpul dengan rombongannya.
Seruni sudah sering melihat Ferdi datang ke kedai itu dan diam-diam Seruni sering memperhatikan Ferdi.
Selalu ketika Ferdi datang, sejujurnya Seruni sering memperhatikan laki-laki itu. Bagi Seruni Ferdi amatlah tampan. Dari sekian banyak laki-laki yang pernah mendekatinya. Seruni tidak pernah merasakan hal ia rasakan pada Ferdi kepada laki-laki yang mendekatinya.
Entah bagaimana Seruni bisa memiliki rasa kagum pada sosok laki-laki pendiam seperti itu.
Suatu ketika, Seruni memiliki kesempatan untuk sekedar bertanya pada Ferdi. Saat kedai kopi tempat ia bekerja akan tutup, Seruni melihat Ferdi masih duduk pada tempat yang sama dan itu dari siang hari.
"Kang, maaf kedai kopinya mau tutup," tegur Seruni.
Tidak ada tanggapan dari Ferdi.
Seruni kembali menegur Ferdi, tetapi dengan menyentuh pundak laki-laki itu.
"Eh maaf." Seruni merasa tidak enak membuat Ferdi terkejut. "Maaf, Kang tempat ini mau tutup."
Ferdi hanya menganggukan kepalanya saja.
"Akang lagi ada masalah." Akhirnya Seruni memberanikan diri mengeluarkan kata-katanya.
Pertanyaan Seruni membuat Ferdi mengurungkan niatnya untuk beranjak dari kursi. Sekilas ia menatap wajah Seruni sebelum Ferdi menyunggingkan senyumnya.
Senyum yang ditunjukan oleh Ferdi membuat Seruni tersipu.
"Maaf saya lancang. Saya perhatikan dari tadi, Akang melamun terus di tempat ini," ucap Seruni.
"Tidak apa-apa. Saya permisi," pamit Ferdi.
__ADS_1
Seruni menganggukan kepalanya kepada Ferdi. "Sekali lagi saya minta maaf."
Seruni masih diam pada tempatnya sambil memperhatikan tubuh Ferdi yang makin menjauh dari pandangannya. Helaan napas berat Seruni saat bayangan tubuh Ferdi sudah lenyap dari matanya.
"Kapan bisa bertemu dia lagi," guman Seruni.
Tanpa Seruni sangka, ternyata Ferdi masih ada dan sedang menunggunya di parkiran kedai kopi itu.
"Akang masih di sini," tanya Seruni.
"Iya," jawab Ferdi singkat.
"Lagi ngapain? Akang tidak pulang ke rumah?" tanya Seruni.
"Saya lagi nungguin kamu," jawab Ferdi.
"Nungguin saya?" Seruni menunjuk dirinya Sendiri.
"Iya, saya lagi butuh temen ngobrol saja, dan kayaknya kamu bisa saya ajak ngobrol," ucap Ferdi.
Mendengar penuturan Ferdi, Seruni merasa bahagia dan ingin sekali melompat-lompat.
"Oh iya, kita belum kenalan ...." Ferdi mengulurkan tangannya. "Saya Ferdi."
Seruni melihat tangan Ferdi yang terulur ke arahnya. Dengan senyum pada bibirnya Seruni menerima uluran tangan Ferdi.
Keduanya saling menjabat tangan mereka lalu kemudian melepaskannya kembali.
"Kamu mau pulang?" tanya Ferdi dibalas anggukan kepala oleh Seruni. "Saya antar," tawar Ferdi.
"Tidak usah, kontrakan saya dekat dari sini," tolak Seruni.
"Tidak apa-apa sekalian kita ngobrol sambil jalan," ucap Ferdi.
Seruni akhirnya menganggukan kepalanya menerima tawaran Ferdi, laki-laki yang diam-diam ia kagumi.
Ferdi mengantar Seruni ke tempat tinggalnya dengan menggunakan motor gedenya. Itulah awal kedekatan mereka. Tidak lama motor gede yang dikendarai oleh Ferdi, berhenti di sebuah rumah kontrakan kecil. Hanya ada ruangan di tempat itu dan itu pun untuk tempat tidur Seruni.
"Silahkan masuk," ajak Seruni.
"Iya," sahut Ferdi.
Ketika berada di dalam, Seruni menyuguhkan air putih untuk Ferdi.
"Silahkan diminum. Maaf ya hanya ada air putih," ucap Seruni.
"Tidak apa-apa," sahut Ferdi.
"Rumah kamu di mana?" tanya Seruni.
__ADS_1
"Rumah aku di Jakarta. Aku di sini karena ada pekerjaan. Aku sedang melakukan pembangunan perumahan di sini. Dan selama aku di sini aku tinggal di hotel," jelas Ferdi dan Seruni hanya manggut-manggut saja.
"Kamu sudah menikah?" tanya Seruni.
Seruni melihat ekspresi wajah Ferdi yang kembali murung. Entah apa yang dipikirkan oleh Ferdi. Apa mungkin ia salah bertanya?
"Maaf saya hanya bertanya. Saya takut nanti ada yang marah kalau Akang ke sini."
"Tidak apa-apa. Saya juga belum menikah. Jadi tenang saja," ucap Ferdi.
Dan setelah pada hari itu, hubungan keduanya semakin dekat. Terhitung satu bulan sudah mereka dekat. Hingga Seruni akhirnya memberanikan diri mengungkapkan perasaannya pada Ferdi.
Sore hari keduanya berjalan-jalan di taman kota. Seruni duduk di atas motor gede milik Ferdi. Dengan perasaan sedikit ragu, Seruni mengakui perasaannya pada Ferdi.
"Aku mencintai kamu, entah dari kapan perasaan ini tumbuh," aku Seruni.
Seruni menundukkan wajahnya. Entah apa yang dipikirkan oleh Seruni saat itu, sehingga ia berani mengatakan kalimat itu.
"Aku juga cinta sama kamu. Aku merasa nyaman jika dekat kamu," ujar Ferdi.
Seruni mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Ferdi dengan jelas. Ada senyum pada bibir laki-laki itu.
"Sungguh! Kamu tidak bohong, 'kan?" Ada harapan besar pada wajah Seruni.
"Iya, Sayang!" Ferdi mengusap sisi wajah Seruni lalu mendaratkan kecupan pada kening Seruni.
*****
Hubungan keduanya sudah terbilang serius. Ferdi juga sudah Seruni kenalkan pada kedua orang tuanya. Dua bulan sudah mereka menjalin hubungan asmara. Selama itu Seruni sering ditinggal oleh Ferdi ke Jakarta. Katanya Ferdi harus melaporkan pekerjanya pada atasannya.
Suatu ketika saat Ferdi kembali ke kota itu untuk menemui Seruni. Ferdi pun mengajak Seruni ke hotel tempat ia menginap. Seruni tidak menolak dan ikut pergi bersama Ferdi. Untuk pertama kalinya, Seruni masuk ke hotel tempat Ferdi menginap.
Tepat pada malam itu, hubungan mereka sampai melebihi batas. Ferdi dan Seruni awalnya hanya sekedar cium di bibir. Namum, lama kelamaan dari ciuman itu, Ferdi menuntut hal lebih dari Seruni.
Awalnya Seruni menolak. Namun, ia terbuai oleh sentuhan Ferdi, dan hasrat dalam dirinya serta janji manis yang Ferdi berikan untuknya. Dan hubungan terlarang itu akhirnya tidak terhidari.
Pada malam itu Seruni menyerahkan keperawanannya pada seorang bernama Ferdi. Berulang kali mereka melakukan hubungan itu.
Rasa sakit yang dirasakan oleh Seruni mulai pudar seiring dengan kenikmatan yang ia dapatkan dari perbuatannya berama Ferdi. Hal itu pun membuat Seruni lupa apa akibat dari perbuatannya itu.
"Terimakasih." Kecupan Ferdi mendarat di kening Seruni.
Setelah malam itu, Seruni tidak lagi bertemu dengan Ferdi. Ferdi pergi tanpa mengabari Seruni, tanpa menemui dirinya, dan justru meninggalkan benih di rahimnya.
Dan setelah 25 tahun lebih tidak bertemu dengan laki-laki itu. Kini Seruni justru melihat laki-laki itu dan tenyata Ferdi adalah ayah dari Gio, laki-laki yang berstatus kekasih anaknya dan sangat dicintai oleh anaknya.
Dada Seruni merasa sangat sesak ketika mengingat masa lalu dan kenyataan pahit itu. Hingga tanpa sadar Seruni menangis di dalam taksi yang ia naiki.
Ini kisah versi Seruni dan kisah versi Farhan pasti berbeda ya gaes.
__ADS_1