
Kenzo sedang mengemudikan mobilnya dengan rasa heran yang terpendam pada istrinya. Setelah memakan dua mangkuk bakso kini istrinya masih bisa menikmati beberapa tusuk sate ayam.
"Apa kamu tidak takut gendut?" tanya Kenzo.
"Aku hanya makan dua porsi bakso dan dua puluh tusuk sate ini. Aku tidak mungkin akan gendut," jawab Felicia.
Kenzo mendesah dan memilih untuk diam. Berkonsentrasi mengemudi itu adalah pilihan yang terbaik.
"Kamu mau?" Felicia menyodorkan satu tusuk sate yang masih tersisa kepada Kenzo.
"Tidak mau. Kamu habiskan saja," tolak Kenzo.
"Ya sudah kalau begitu." Felicia kembali melahap satu tusuk sate yang masih tersisa.
Kenzo bergidik ngeri melihat porsi makan istrinya yang luar biasa. Tidak seperti biasanya istrinya makan sebanyak itu.
"Kita pulang atau kamu mau ke mana lagi?" tanya Kenzo.
"Kita pulang saja. Aku ingin tidur," jawab Felicia.
Sesuai kemauan istrinya, Kenzo melajukan mobilnya ke arah jalan kembali ke rumah mereka.
"Kenzo," panggil Felicia.
"Ada apa?" Kenzo menoleh sekilas ke arah istrinya.
"Terima kasih sudah mengajakku jalan-jalan," ucap Felicia.
"Aku tidak mengajakmu. Kamu yang memaksaku," ledek Kenzo.
"Kamu mulai lagi." Felicia mengerucutkan bibirnya karena kesal saat Kenzo sudah mulai mengganggunya.
Kenzo tertawa saat melihat wajah lucu istrinya yang sedang kesal. Tangannya ia gerakkan untuk mengacak-acak rambut istrinya.
"Jangan marah. Kamu terlihat lucu," ucap Kenzo.
"Kenzo kamu sangat tampan saat tertawa," puji Felicia.
"Kamu meledekku atau ingin memujiku?" tanya Kenzo.
"Kali ini aku benar-benar memujimu," jawab Felicia. "Aku lebih suka melihatmu saat tertawa. Saat kamu marah wajahmu masam dan tidak enak untuk dilihat."
Kenzo tertawa kecil menanggapi celotehan istrinya. Jujur saja Kenzo sendiri merasa lupa kapan dirinya bisa tertawa lepas seperti itu.
"Oh iya, aku sudah bilang sama mamah untuk mencarikan kita asisten rumah tangga. Kata mamah besok mereka datang," ucap Kenzo.
"Mereka? Kamu pesan berapa asisten rumah tangga?" tanya Felicia.
"Dua. Satu untuk beres-beres dan masak. Dan yang satu tukang kebun," jawab Kenzo.
__ADS_1
Felicia manggut-manggut tanda ia mengerti.
Obrolan mereka terhenti saat mereka sampai di rumah. Seorang penjaga membuka pintu gerbang, Kenzo pun kembali melajukan mobilnya. Setelah mobil terparkir Kenzo dan Felicia turun dari dalamnya.
"Ayo masuk," ajak Kenzo.
Keduanya berjalan masuk ke dalam rumah. Felicia lebih dulu ke kamarnya untuk beristirahat. Felicia membuka pintu kamarnya. Tubuhnya terasa lengket karena keringat. Felicia memutuskan untuk membersihkan dirinya kembali.
Felicia bersenandung kecil saat mandi. Tubuhnya mulai terasa dingin membuat Felicia menyudahi mandinya. Tangannya meraih handuk yang ada di dekatnya lalu memakaikan ke tubuhnya. Lantai kamar mandi yang licin membuat Felicia melangkah dengan hati-hati.
Setelah di kamarnya Felicia lebih dulu menyalakan pendingin ruangan, tetapi ternyata tidak menyala.
"Kenapa tidak menyala? Tadi baik-baik saja,” guman Felicia.
"Kalau AC-nya mati aku bisa tidur kepanasan," ucap Felicia.
Felicia berdecak sebelum menaruh remote AC. Ia melangkah menuju ke lemari pakaian. Pakaian tipis Felicia pilih agar nantinya saat tidur dirinya tidak merasa kepanasan.
"Kalau begini aku tidak akan merasa kepanasan nantinya," ucap Felicia.
Felicia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan masuk ke dalam selimut. Setelah itu ia matikan lampu kamarnya. Baru matanya akan terpejam Felicia dikejutkan dengan suara benda pecah.
Prank
Felicia langsung bangun karena terperanjat. Lampu kamarnya ia kembali nyalakan. Felicia keluar dari kamarnya untuk melihat apa yang terjadi. Felicia berjalan menuruni anak tangga. Matanya melihat lampu dapur menyala. Merasa penasaran Felicia melangkah ke arah dapur.
Jika saja orang itu tidak menyumbulkan wajahnya bisa dipastikan Felicia akan memukulnya dengan sapu.
"Kenzo ... apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Felicia.
"Maaf, aku jadi membangunkan kamu," ucap Kenzo.
Felicia menaruh sapu di tangannya ke sudut dapur. Lalu ia melangkah menghampiri suaminya. Kenzo terkejut saat melihat Felicia dari dekat. Pakaiannya yang tipis membuat Felicia terlihat sangat seksi.
"Kenzo kenapa kamu diam saja? Aku memanggilmu dari tadi," ucap Felicia.
Kenzo tersentak saat Felicia mendorong pundaknya.
"Maaf," ucap Kenzo. "Kamu tadi bertanya apa?" Kenzo bertanya dengan nada gugup.
"Kamu sedang apa di dapur?" Felicia bertanya lagi.
"Aku ingin membuat kopi. Tapi tidak sengaja aku menyenggol cangkirnya," jawab Kenzo.
"Kenapa tidak bilang padaku kalau kamu mau kopi," ucap Felicia.
"Aku tidak ingin mengganggumu," ujar Kenzo.
Felicia menghela napasnya. Dirinya meminta Kenzo untuk menyingkir.
__ADS_1
"Aku akan membersihkan ini dan membuatkan kopi untukmu. Kamu tunggulah di ruang makan," suruh Felicia.
"Kamu buatlah kopinya biar aku yang membersihkan ini," ucap Kenzo.
"Baiklah," ucap Felicia.
Felicia berdiri membelakangi Kenzo. Ia mengeluarkan cangkir yang baru lalu mengisinya dengan gula dan juga bubuk kopi hitam. Felicia tidak tahu jika Kenzo sedang memperhatikannya.
Di tempatnya berdiri, Kenzo memperhatikan Felicia. Apa maksudnya istrinya memakai pakaian di tipis itu?
Apa dia sedang mencoba menggodaku?
Glek
Kenzo menelan air liurnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak mengering. Kenzo kembali teringat saat istrinya telanjang di depannya.
"Sial!" Kenzo mengumpat saat pikirkan liarnya datang.
"Felicia," panggil Kenzo.
"Ada apa." Felicia menjawab tanpa melihat ke arah suaminya.
"Kamu memakai baju seperti itu ... apa tidak takut masuk angin?" tanya Kenzo.
"Aku tidak tahu kenapa AC di kamarku mati. Makanya aku memakai pakaian tipis ini agar aku tidak kepanasan nanti," jawab Felicia.
Pakaian tipis!
Kenzo merasa heran pada istrinya. Apa istrinya itu tidak sadar jika dirinya adalah laki-laki normal. Celananya mendadak terasa sesak saat melihat pemandangan itu. Kenzo berulang kali menarik napas lalu menghembuskannya kembali untuk meredam gejolak dalam dirinya.
"Kenzo bisakah kamu memanggilkan tukang servis AC?" tanya Felicia.
"Tentu, aku akan melakukannya." Kegugupan dan rasa gelisah benar-benar sudah menguasai diri Kenzo.
Felicia sendiri masih tidak sadar jika suaminya sedang berdiri dalam gelisah di belakangnya. Ia masih fokus pada aktivitasnya. Air yang sudah mendidih Felicia tuang ke dalam cangkir.
"Mau aku tambahan kreamer?" tanya Felicia.
"Tidak. Malam ini aku ingin minum kopi hitam. Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," tolak Kenzo.
"Baiklah ... ini." Felicia memberikan kopi yang ia buat kepada suaminya setelah mengadukannya.
Kenzo menerima kopi yang Felicia berikan. Setelah meniupnya Kenzo meminum kopi itu. "Terima kasih. Aku harus kembali ke ruang kerjaku."
"Ini sudah malam, Kenzo. Apa kamu tidak bisa menunda pekerjaanmu. Di kantor bekerja dan di rumah kamu masih harus berkerja juga," ujar Felicia.
Kenzo sengaja ingin segera pergi dari tempat itu untuk menghindar dari istrinya yang sangat menggoda itu. Akan tetapi istrinya terus saja menghalanginya untuk pergi. Kenzo merasa sudah tidak bisa menahan hasrat laki-lakinya lebih lama lagi. Cangkir kopi ia taruh di atas meja dapur. Matanya menatap Felicia penuh dengan keinginan.
"Kamu lebih berbahaya dari obat perangsang, Feli."
__ADS_1