
Suara burung berkicau mengawali pagi di vila yang Gio sewa untuk acara bulan madu mereka. Suara merdu itu mengusik tidur Flora membuat Flora tertarik untuk bangun dari tidurnya.
Flora mengucek matanya menggunakan punggung tangannya. Beberapa kali juga Flora mengedipkan kelopak matanya agar matanya bisa beradaptasi dengah cahaya yang masuk ke dalamnya.
Saat Flora ingin bangun, ia merasakan berat di perutnya. Flora melihat tangan Gio melingkar di perutnya. Senyum Flora mengembang saat melihat Gio ada di sampingnya.
Sejenak Flora memandang wajah suaminya yang sedang tertidur, sangat tenang. Napasnya terlihat sangat teratur yang menandakan jika suaminya masih terlelap.
Tangan Flora merasa gatal untuk tidak menyentuh wajah suaminya.
“Selamat pagi.” Satu kecupan lembut Flora berikan di pipi suaminya.
Flora menyingkirkan tangan suaminya yang melingkar perutnya, sebelum dirinya turun dari tempat tidur. Gerakannya sangat pelan agar tidak membangunkan suaminya. Setelah itu Flora masuk ke dalam kamar mandi untuk sekedar mencuci wajah dan menggosok giginya.
Suara burung berkicau yang sangat merdu itu masih membuat Flora merasa penasaran. Flora pun memutuskan untuk keluar dari kamar untuk berjalan-jalan.
Langkah kaki Flora mengikuti suara burung itu. Langkah kakinya ternyata membawa Flora ke halaman belakang vila itu. Di tempat itu mata Flora dimanjakan dengan pemandangan yang sangat indah.
Dari tempatnya berdiri Flora bisa melihat padang rumput yang hijau. Ada beberapa tanaman hias serta beberapa hewan peliharaan, dari berbagai macam burung yang ada di dalam sangkar dan juga kelinci berbagai jenis.
Flora tidak tahan untuk mendekat ke tempat itu sampai Flora tidak sabar hanya untuk sekedar memakai alas kaki.
Tangan Flora menangkap satu ekor kelinci berwarna putih yang berukuran besar lalu meletakkannya ke atas pangkuannya.
“Mbak istrinya mas Gio ya?”
Flora tersentak saat tiba-tiba mendengar suara seseorang di belakangnya. Rasa terkejutnya membuat Flora hampir saja melempar kelinci yang ada di pangkuannya.
Setelah debaran jantungnya mulai normal, Flora menoleh ke belakangnya. Matanya melihat ada laki-laki seumuran almarhum ayahnya berdiri di belakangnya.
“Maaf jika saya sudah membuat Mbak terkejut,” ucap Laki-laki itu.
Flora bisa melihat rasa tidak enak pada raut wajah laki-laki itu.
“Tidak apa-apa.” Flora berdiri lalu mengulurkan tangannya ke arah laki-laki itu.
“Saya Flora, istrinya Gio,” ucap Flora.
Laki-laki itu menyambut tangan Flora. “Saya Made. Biasanya mas Gio manggil saya maman atau paman. Saya yang menjaga vila ini.”
__ADS_1
“Salam kenal,” ucap Flora.
“Salam kenal juga, Mbak. Saya tidak menyangka mas Gio sudah menikah. Terakhir dia ke sini waktu masih sekolah SMP,” jelas Made. “Pas waktu saya dengar mas Gio mau ke sini sama istrinya saya seneng banget.”
“Hewan-hewan ini juga bapak yang urus?” tanya Flora.
“Iya, Mbak,” jawab Made.
“Silankah kalau Mbak Flora mau lihat-lihat kelincinya. Saya tinggal dulu, saya masih ada banyak pekerjaan,” pamit Made.
“Iya silahkan, Pak.” Flora tersenyum ramah pada Made.
Puas bermain dan memberikan makan para kelinci-kelinci itu, Flora kembali masuk ke dalam vila untuk memasak. Langkah kaki Flora langsung menuju ke arah dapur.
Flora membuka lemari pendingin dan terkejut melihat isinya.
“Banyak sekali, apa ini untuk jatah satu bulan?”
Flora mengambil bumbu-bumbu, sayuran, dan ayam dari lemari pendingin itu. Dengan telaten dan cekatan, Flora memotong bahan makanan itu hingga siap untuk dimasak.
Hampir satu jam lebih Flora berada di dapur dan semua masakan Flora sudah selesai juga sudah tertata rapi di meja mini bar.
Sampai di dalam kamar Flora tidak mendapati keberadaan Gio. Flora mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar untuk mencari keberadaan suaminya.
“Ke mana dia?” gumam Flora.
Suara gemericik air dari dalam kamar mandi mengalihkan perhatian Flora, tenyata suaminya sedang mandi. Flora memutuskan untuk menunggu suaminya dengan duduk di atas tempat tidur.
Flora mendengar nada dering di ponsel suaminya. Keningnya berkerut saat melihat nama 'tante Dini' ada di layar ponsel itu. Flora tidak berminat untuk menjawabnya. Panggilan itu akhirnya berhenti sendiri.
Tidak lama ponsel Gio kembali menyala dan ada pesan masuk di ponsel itu.
“Lagi-lagi tante Dini. Apa sih maunya perempuan itu?” batin Flora.
Flora yang merasa penasaran dan bercampur rasa kesal membuatnya memutuskan untuk melihat pesan itu. Flora mengambil ponsel itu yang ternyata tidak terkunci. Dibukanya pesan dari Dini.
Flora mulai membaca kata-kata yang dikirim oleh Dini, berapa saat kemudian air mata Flora menetes dan hatinya terasa sangat sakit membaca apa yang tertulis di layar ponsel itu.
Bersamaan dengan itu, pintu kamar mandi terbuka. Gio bingung melihat Flora terisak dengan memegang ponsel miliknya.
__ADS_1
“Flora, kamu kenapa?” tanya Gio.
Bukan jawaban, melainkan sebuah tamparan keras yang diberikan oleh Flora.
Plaaak
Gio sangat terkejut karena Flora menamparnya. Tidak ada rasa kesal dalam diri Gio saat Flora menamparnya, justru Gio bingung alasan apa yang membuat Flora menamparnya.
“Flora, ada apa? Kenapa kamu menamparku?” tanya Gio dengan rasa cemas.
“Jadi tenyata kamu belum berubah juga ya. Kamu membawa aku atas suruhan tante Dinimu itu? Karena kamu ingin membuat aku hamil agar kamu segera memiliki harta peninggalan ayahku,” ucap Flora dengan penuh amarah.
Gio terkejut mendengar penuturan Flora.
“Gak, Flora. Bukan seperti itu,” ucap Gio.
“Kamu masih mengelak, setelah aku membaca pesan yang dikirim dari tante Dini ke ponselmu?” Flora menunjukan pesan yang dikirim Dini kepada Gio.
Gio menerima ponsel itu dan mulai membacanya. Di dalam pesan itu Dini meminta Gio untuk tetap mendekati Flora kalau bisa buat Flora hamil agar harta peninggalan Farhan bisa segera mereka cairkan.
“Ini rencana kamu dengan dua wanita itu? Hah!” Flora menarik kaos Gio lalu mencengkramnya. “Aku salah karena sudah percaya padamu.”
Flora melepaskan cengkeramannya lalu membereskan barang-barangnya. Melihat itu Gio langsung menghentikan Flora, mencegahnya untuk pergi.
“Flora, kamu mau ke mana?”
“Aku mau kembali ke Jakarta. Jika kamu memang sangat ingin harta itu, aku akan memberikannya. Kamu tidak perlu menyakiti aku seperti ini.”
“Flora tolong dengarkan penjelasan aku dulu.”
“Tidak perlu, pesan itu sudah cukup untuk membuktikan kebenarannya.” Flora menutup kopernya dan berbalik menatap Gio. “Aku tunggu di Jakarta, setelah aku memberikan harta yang diberikan oleh ayah aku akan segera mengurus perceraian kita.”
“Itu tidak akan terjadi, Flora.” Gio menghadang langkah Flora.
“Minggir!”
Gio tidak menyingkir, justru ia menekuk kedua lututnya di hadapan Flora dan memohon untuk mendengarkan penjelasannya.
“Aku mohon, Flora ... tolong dengarkan penjelasan aku dulu. Please ....”
__ADS_1
Flora sudah tidak ingin melihat wajah Gio, tetapi Gio terus memohon membuat Flora luluh. Flora menaruh kembali kopernya dan duduk di tepi ranjang.