
Flora sedang mengantri di sebuah warung yang menjual berbagai menu bakso. Sebelumnya Flora sudah memberitahukan pesanannya pada salah seorang pegawai di warung itu. Kini Flora duduk seraya menunggu pesanannya siap.
Flora menunggu seraya berulang kali menarik napasnya. Sedari tadi Flora sudah diteror oleh suaminya melalui pesan di aplikasi ponselnya. Suaminya memintanya untuk segera datang ke kantornya.
“Kenapa sekarang dia tidak sabaran sih?” Flora berdecak saat membaca pesan ke sekian kalinya yang dikirim oleh Gio.
Saat Flora sedang membalas pesan dari suaminya, salah seorang pegawai warung itu datang dengan membawa pesanannya.
“Ini, Mbak.” Salah seorang pegawai di warung itu memberikan makanan yang Flora pesan.
“Oh iya, terima kasih.” Flora mengurungkan niatnya untuk membalas pesan dari Gio dan memusukkan ponselnya ke dalam tasnya.
“Berapa, Bang?” tanya Flora.
“Semuanya jadi 75 ribu, Mbak,” jawab pegawai di warung itu.
Flora mengambil uang dari dalam dompetnya lalu membayar tagihan makanan yang ia pesan dengan uang pas.
“Terima kasih ya, Bang,” ucap Flora.
“Sama-sama, Bu.”
Flora beranjak dari kursi di warung itu dan melangkah kembali menuju tempat mobilnya terparkir.
Flora langsung melajukan mobilnya menuju kantor suaminya. Jarak dari tempat loundry ke kantor suaminya tidak begitu jauh. Dalam waktu 45 menit saja Flora sampai ke gedung pencakar langit milik keluarganya.
“Siang, Bu,” sapa salah seorang penjaga di kantor itu.
“Siang, juga.” Flora balas menyapa. “Tolong parkiran mobilnya ya, Pak,” pinta Flora.
“Baik, Bu,” ucap Penjaga itu.
Flora masuk ke dalam kantor dengan menenteng kantong plastik berisi makanan yang suaminya mau. Para karyawan di kantor itu menyapa Flora dengan ramah. Namun, masih ada juga yang tidak menyukai Flora. Mereka iri karena Flora menjadi kini atasan mereka.
Sampai saat ini karyawan di kantor itu belum ada yang mengetahui jika Flora adalah anak kandung Farhan, kecuali Abi dan Mutya.
“Ibu Bos makin cantik saja,” ucap Mutya saat melihat Flora melintas di hadapannya.
“Terima kasih untuk pujiannya. Tapi setelah ini jangan minta naik gaji ya,” ledek Flora dibalas cibiran oleh Mutya.
Flora terkekeh melihat ekspresi wajah Mutya yang menurutnya sangat lucu.
“Aku temuin suami aku dulu ya. Nanti kita ngobrol lagi,” ucap Flora dan langsung dianggukki oleh Mutya.
Flora kembali melangkah menuju ruangan kerja suaminya. Ketika sampai di depan ruangan suaminya, Flora berhenti untuk menyapa Susan.
“Siang, Susan,” sapa Flora.
Susan yang melihat kedatangan Flora langsung berdiri. Susan membungkukkan tubuhnya untuk membalas sapaan dari istri atasannya.
“Selamat siang, Ibu Flora.” Susan membalas sapaan Flora.
“Bapak ada di ruangannya?” tanya Flora.
__ADS_1
“Ada, Bu. Silahkan! Langsung masuk saja,” ucap Susan.
Flora melangkah masuk, tetapi kembali berhenti saat ia teringat akan sesuatu.
“Susan, boleh aku minta tolong?” tanya Flora.
“Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” Susan balik bertanya.
“Tolong suruh salah seorang office boy untuk mengambilkan peralatan makan dari pantry, masing-masing dua dan bawa semua itu nanti ke ruangan bapak,” suruh Flora.
“Baik, Bu. Akan segera saya laksanakan,” ucap Susan.
“Baiklah, terima kasih.” Flora melangkah masuk ke dalam ruangan kerja suaminya.
Setelah masuk, Flora tidak melihat suaminya duduk di kursinya, melainkan sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan menutup wajahnya dengan lengan tangannya.
Flora mengembangkan senyumnya seraya menggeleng kecil.
“Ck, sampai ketiduran begitu,” ucap Flora lirih.
Flora melangkahkan kakinya menuju tempat suaminya berada. Setelah meletakan bungkusan berisi bakso dan sop buah, Flora menggoyangkan kaki Gio untuk membangunkannya.
“Gio ... bangun!” ucap Flora.
Berulangkali Flora mencoba untuk membangunkan suaminya, tetapi suaminya belum ada tanda-tanda untuk bangun. Flora sudah merasa frustasi untuk membangunkan suaminya.
“Ck, kenapa susah sekali untuk dibangunkan,” decak Flora.
Flora tidak tahu jika sebenarnya Gio sudah bangun saat pertama kali mendengar suaranya. Gio hanya berpura-pura tidur untuk menggoda istrinya.
Dengan cepat Gio menarik pergelangan tangan Flora. Membuat istrinya kehilangan keseimbangan akan tubuhnya dan jatuh tepat di atas tubuhnya.
“Aaaa!” pekik Flora.
Flora hampir saja terkena serangan jantung saat itu, sedangkan Gio justru tertawa. Gio langsung melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya untuk menahannya agar tidak bangun dari atas tubuhnya.
“Gio ... apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!” Flora memukul dada suaminya menggunakan dua kepalan tangannya.
“Ini hukumanmu karena sudah membuatku lama menunggu,” ucap Gio.
“Aku terlambat juga karena beliin makanan yang kamu mau dulu,” ucap Flora.
Tok tok tok
Gio dan Flora mengalikan pandangan mereka saat mendengar ketukan pintu.
“Gio ... lepaskan! Ada yang datang.” Dengan segera Flora bangun dari atas tubuh suaminya lalu membuka pintu ruangan itu.
“Permisi, Bu ... ini peralatan makannya.”
“Tolong taruh di atas meja saja,” suruh Flora.
Flora bergeser untuk memberikan jalan untuk office boy yang peralatan makan yang sebelumnya ia minta.
__ADS_1
“Ada lagi yang Ibu butuhkan?” tanya office boy itu dengan sopan.
“Tidak ini saja. Kamu bisa pergi,” ucap Flora.
“Baik, Bu. Saya permisi,” ucap office boy itu sebelum pergi dari ruangan atasannya.
Setelah menutup pintu ruangan itu, Flora kembali ke tempat suaminya berada.
“Aku sudah membelikan makanan yang kamu minta.” Flora menuang bakso dan sop buah ke mangkuk.
Flora membeli dua porsi bakso dan sop buah, untuknya dan juga suaminya.
“Ini untukmu.” Flora memberikan satu porsi bakso dan sop buah kepada Gio. “Ayo makanlah!”
“Asik,” seru Gio.
Gio menggulung lengan kemejanya sampai batas siku. Gio langsung memakan bakso dan sop buah itu dengan lahap.
“Pelan-pelan, aku tidak akan memintanya,” ucap Flora.
Gio tidak merespon perkataan Flora dan justru memakan makanan itu makin lahap. Flora pun hanya mampu memperhatikan suaminya makan dengan senyumannya.
“Sudah habis?” tanya Flora yang langsung dianggukki oleh Gio.
Gio melihat ke arah Flora dan mendapati makanan milik istrinya masih utuh.
“Kamu tidak makan?” tanya Gio.
Flora menggelengkan kepalanya, “Aku tidak lapar.”
Flora menyilangkan rambutnya ke samping dan langsung membuat lehernya terbuka. Flora tidak tahu jika hal itu berhasil membangkitkan hasrat Gio.
Glek
Gio menelan air ludahnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa kering.
“Ada apa?” tanya Flora saat melihat sikap aneh pada suaminya.
Gio tidak menjawab, tetapi justru menarik pinggang Flora.
“Aku sangat menginginkan kamu, Sayangku,” bisik Gio.
Flora memicik tajam ke arah Gio. “Kita sudah sepakat jika kita akan melakukannya nanti malam ya.”
“Tapi aku sangat menginginkannya sekarang, Sayang,” rengek Gio.
“Please, please, please.” Gio memohon dengan menyatukan kedua tangannya.
Melihat wajah suaminya yang terlihat memelas, membuat Flora luluh. Akhirnya Flora mengangguk untuk mengiyakan permintaan suaminya.
“Yes.” Gio berseru.
Segera Gio beranjak dari sofa. Gio menghubungi Susan, memintanya untuk tidak ada yang mengganggunya selama 2 jam ke depan.
__ADS_1
“Yuk, Sayang.” Gio mengajak Flora untuk masuk ke dalam ruangan yang biasanya Gio gunakan untuk beristirahat.
Awalnya Flora tidak yakin akan keanehan Gio beberapa hari, tetapi setelah melihat dan memperhatikan sikap Gio hari itu, Flora merasa yakin ada yang aneh dengan sikap suaminya.