Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Siang Yang Panas


__ADS_3

“Mas Abi,” panggil Susan.


Gio yang akan mengetuk pintu ruangan Gio pun mengurungkan niatnya.


“Ada apa, Susan?” tanya Abi.


“Mau ketemu sama bapak Gio?” tanya balik Susan.


“Iya.” Abi mengangguk.


“Bapak Gio bilang, beliau tidak ingin diganggu sampai 2 jam ke depan,” jelas Susan.


“Kenapa?” Abi menaikan satu alisnya merasa heran dengan perkataan Susan.


“Ada Ibu Flora di dalam,” ucap Susan.


“Oh.” Abi tidak bertanya lagi saat tahu ada Flora di dalam ruangan atasannya.


“Nanti tolong berikan berkas ini pada bapak Gio,” pinta Abi.


Abi menyerahkan berkas berwana biru pada Susan.


“Ya, Mas nanti saya berikan,” balas Susan.


Abi melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Susan, ini sudah jam makan siang. Lebih baik kita istirahat dan makan siang,” ucap Abi.


“Emm, Mas Abi ngajak aku makan siang?” tanya Susan sedikit ragu.


Abi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Itu juga kalau kamu tidak keberatan.”


Susan menunjukan gelengan kepala. “Tunggu sebentar, aku simpan ini dulu.”


Susan membuka laci di meja kerjanya untuk menyimpan berkas yang Abi berikan. Setelah itu Susan berjalan mendekat ke arah Abi.


“Yuk!” ajak Susan.


“Ladies first,” ucap Abi.


Sementara di dalam ruangan Gio.


Gio yang tidak bisa menahan hasratnya membawa Flora ke sebuah ruangan di sudut ruangan kerjanya. Hanya ada ranjang dan tak buku dan ranjang yang tidak terlalu besar di dalamnya.


Erangan lirih keluar dari mulut Gio dan Flora saat tubuh mereka menyatu. Bunyi decitan ranjang tercipta bersamaan dengan gerakan yang Gio lakukan di atas tubuh Flora.


Tubuh Gio yang awalnya merasa lelah mendadak kembali bersemangat saat menyatukan tubuhnya dengan sang istri.


Gio selalu suka saat melihat wajah sayup dan merah Flora karena terbakar gairah, suara manja istrinya makin membangkitkan hasrat dalam diri Gio.


Gio makin tidak bisa mengendalikan dirinya saat hasratnya akan sampai pada puncaknya. Bersamaan dengan desahan panjang lolos dari bibir Gio dan Flora, maka berakhir sudah pergulatan panas mereka siang itu.


Napas yang masih sama-sama memburu membuat keduanya berlomba untuk meraup udara sebanyak mungkin, untuk mengisi rongga paru-paru mereka.


“Suka?” bisik Gio di dekat telinga Flora.

__ADS_1


Meksipun tidak melihat, tetapi Gio merasakan jika Flora mengangguk. Saat napas mereka sudah kembali normal, Gio memisahkan tubuhnya dengan Flora.


Gio berpindah ke samping Flora, menarik Flora ke dalam pelukannya, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos dirinya dan juga istrinya.


Sesaat suasana menjadi hening. Gio dan Flora sama-sama diam seraya memejamkan matanya sejenak untuk mengusir lelah dalam diri mereka.


Gio memejamkan matanya, tetapi tangannya melingkar di sepanjang pundak Flora seraya mengusap lengan polos Flora.


“Aku merasa ada yang berbeda sama kamu akhir-akhir ini.” Flora mengawali pembicaraan.


“Berbeda? Aku merasa baik-baik saja. Hanya terlihat makin tampan,” gurau Gio.


“Ck, kamu selalu saja percaya diri,” cibir Flora.


Flora mengangkat wajahnya dari dada Gio untuk melihat wajah suaminya secara langsung.


“Beneran, kamu berbeda akhir-akhir ini. Kamu makannya tambah banyak, manja, dan kamu jadi gak bisa nahan hasrat dalam diri kamu. Yang paling aneh kamu malam-malam jadi sering kelaparan,” ucap Flora.


“Lihat nih, perut kamu sudah gak rata lagi.” Flora mengusap perut Gio yang sedikit buncit.


“Aku juga gak tahu. Lihat kamu saja aku jadi pengin, terus malam-malam aku kelaparan mungkin karena aku habis gempur kamu,” ucap Gio.


“Tapi aku gak kelaparan habis digempur sama kamu,” ucap Flora.


“Kamu sih enak hanya tiduran sama terlentang gak gerak kaya aku,” ucap Gio.


Mendengar perkataan yang dilontarkan oleh suaminya membuat Flora mengigit dada suaminya karena merasa gemas.


“Awww!” pekik Gio.


“Itu memang kenyataan, Sayangku,” ledek Gio.


“Mau aku gigit lagi,” ancam Flora.


“Selain kamu kaya kucing yang suka nyakar, sekarang kamu jadi suka gigit orang kaya vampir,” ledek Gio diikuti tawa kecilnya.


“Gio ... kamu ....”


Gio langsung menarik kembali tubuh Flora, mengecup pipinya berulang-ulang.


“Istriku yang galak,” ledek Gio.


Gio tidak berhenti menciumi pipi Flora membuat mereka tertawa bersama. Bahkan Flora sampai mengeluarkan air mata di sudut matanya.


“Sudahlah, hentikan!” Flora mengusap air mata di sudut matanya.


Gio mengambil jam tangan yang tergeletak di sampingnya. Jam itu menunjukan pukul setengah 2 siang.


“Setengah jam lagi aku ada rapat,” ucap Gio.


Keduanya sama-sama bangun dari atas tempat tidur. Mereka bergantian untuk mandi di dalam kamar mandi yang ada di ruangan itu.


Flora selesai lebih dulu dan sudah kembali memakai pakaiannya. Tidak lama Gio keluar dari dalam kamar mandi.


“Aku sudah siapin baju ganti buat kamu,” ucap Flora.

__ADS_1


Flora membantu Gio untuk memakai pakaiannya seperti biasa. Tidak lupa juga Flora menyemprotkan parfum yang biasa Gio pakai.


“Sudah rapi,” ucap Flora.


“Aku suka wangi parfum kamu,” ucap Flora seraya membetulkan dasi Gio.


Gio menarik pinggang Flora, mempersempit jarak di antara mereka. Gio menelusupkan wajahnya ke perpotongan leher istrinya.


“Aku lebih suka bau tubuh kamu.” Gio mengendus leher Flora, menikmati aroma tubuh istrinya.


“Sudahlah jangan seperti ini terus.” Flora menjauhkan tubuh suaminya.


“Ya itu benar. Tidak baik jika kita seperti ini terus ... bahaya,” bisik Gio di dekat telinga Flora.


Keduanya saling menunjukkan tawa mereka sebelum mempertemukan kening mereka.


“Aku sangat mencintaimu, Flora,” ucap Gio.


“Aku juga sangat mencintaimu,” balas Flora.


“Ayo kita keluar,” ajak Gio. “Atau aku akan berubah pikiran dan menjatuhkanmu lagi ke atas ranjang,” goda Gio.


Flora terkekeh mendengar perkataan yang dilontarkan oleh suaminya.


“Ayo,” ucap Flora.


Gio melingkarkan tangannya di sepanjang pinggang Flora dan membawanya keluar dari ruangan itu.


Gio langsung menuju meja kerja dan kembali fokus pada laptop di hadapannya. Flora yang melihat itu langsung ingin menggangu suaminya.


Flora melangkah kecil ke samping suaminya lalu merangkul pundaknya.


“Flora ....” Gio tersentak karena tidak menyadari kehadiran Flora.


“Kamu serius sekali sampai tidak menyadari aku mendekat ke sini,” ucap Flora seraya menyandarkan kepalanya di pundak Gio.


“Aku sedang memeriksa e-mail yang masuk. Investor dari Amerika ingin bertemu langsung denganku,” ucap Gio.


“Jadi kamu harus pergi ke sana?” tanya Flora.


“Ya. Dia ingin bertemu langsung denganku,” jawab Gio.


“Kira-kira akan berapa lama?” tanya Flora.


“Mungkin 2 sampai 3 minggu,” jawab Gio.


“Itu lama sekali. Aku akan sangat merindukanmu,” ucap Flora lirih.


Gio menjauhkan kepalanya untuk menatap wajah istrinya. Gio melihat mata istrinya sudah berkaca-kaca.


“Aku akan usahakan untuk cepat menyelesaikan pekerjaanku di sana. Aku akan kembali dengan cepat,” ucap Gio.


Flora kembali memeluk leher suaminya. “Janji ya.”


“Iya, Sayangku.” Gio memberikan kecupan di ujung kepala Flora. “Aku juga tidak bisa lama-lama berpisah denganmu.”

__ADS_1


__ADS_2