
"Feli." Kenzo menepuk-nepuk pipi Felicia saat istrinya mendadak tidak sadarkan diri. Perasaan cemas jelas tergambar di wajah Kenzo.
Bukan hanya Kenzo yang merasa khawatir, tetapi semua orang yang ada di tempat itu merasa khawatir dengan kondisi Felicia.
"Kenzo, kita bawa Feli saja ke rumah sakit," usul Kenzi.
"Baiklah, ayo cepat," perintah Kenzo.
"Bawa Feli, aku akan mengambil mobil," ujar Kenzi.
Tanpa berpikir panjang lagi Kenzo langsung mengangkat tubuh Felicia, membawanya pergi dari tempat itu.
Kenzo sampai pada pintu keluar bertepatan dengan datangnya mobil yang dikendarai oleh Kenzi. Dengan dibantu oleh teman-temannya Kenzo memasukan Felicia ke dalam mobil.
"Terima kasih untuk bantuan kalian," ucap Kenzo.
"Sama-sama. Hati-hati di jalan," ucap Adit.
"Jangan cemas, istrimu pasti akan baik-baik saja," imbuh Adit.
Setelah berpamitan kepada teman-temannya Kenzo masuk ke dalam mobil dan segera membawa Felicia ke rumah sakit terdekat.
Sepanjang perjalanan rasa khawatir menyelimuti diri Kenzo. Apalagi istrinya belum juga sadarkan diri. Tubuh Felicia Kenzo rengkuh dengan erat, beberapa kali juga Kenzo memberikan ciuman di kening Felicia berharap istrinya itu bisa merasakan sentuhannya dan segera sadar.
Kekhawatiran Kenzo bisa dilihat oleh Kenzi yang sedang mengemudikan mobilnya. Sedikit senyum terlukis di bibir Kenzi saat melihat kekhawatiran saudara kembarnya pada istrinya.
"Jangan khawatir dia pasti akan baik-baik saja," ucap Kenzi.
"Bagaimana aku tidak khawatir ... dia pingsan dan sampai sekarang belum juga sadar," balas Kenzo.
Kenzi diam dan memilih untuk berkonsentrasi mengemudi. Mobil yang dikendarai oleh Kenzi berhenti setelah sampai di rumah sakit. Kenzi lebih dulu turun dari mobil untuk membantu Kenzo mengeluarkan Felicia.
Tubuh tidak sadarkan diri Felicia sudah berada di atas brankar yang sedang melaju. Para perawat dan seorang Dokter akan membawanya ke ruang unit gawat darurat.
"Kalian tunggu di sini. Kami akan memeriksanya." Perawat melarang Kenzo untuk ikut masuk, lalu perawat menutup pintu ruangan gawat darurat.
"Bagaimana bisa mereka tidak membiarkan aku masuk? Aku ini suaminya." Kenzo merasa kesal dengan larangan perawat.
"Sudahlah turuti saja apa kata mereka. Lagipula apa yang bisa kamu lakukan di dalam? Kamu hanya akan bisa mengganggu pekerjaan mereka." Kenzi meledek Kenzo untuk mencoba mencairkan suasana.
"Dalam keadaan seperti ini kamu masih sempat-sempatnya mengejekku, Kenzi." Tatapan mata Kenzo begitu sangat mengerikan. Kenzi akhirnya memilih untuk diam meskipun masih menahan tawanya.
Kenzo tidak memperdulikan saudara kembarnya, bahkan tidak memperdulikan pakaiannya yang basah, ia lebih memilih untuk menunggu perawat keluar dari ruangan UGD. Sudah hampir satu jam Kenzo berjalan mondar-mandir di depan ruangan UGD, tetapi belum ada perawat ataupun Dokter yang keluar dari ruangan itu.
Sekalinya ada perawat yang keluar, perawat itu hanya mengatakan jika Felicia sedang ditangani oleh dokter.
__ADS_1
Kesabaran Kenzo sudah sampai pada batasnya. Jika saja pada saat itu perawat tidak keluar mungkin Kenzo akan memaksa menerobos masuk ke dalam ruangan itu.
"Keluarga pasien atas nama Felicia," panggil seorang perawat.
"Saya suaminya, Sus." Kenzo buru-buru menghampiri seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan UGD.
"Mari silahkan masuk, Pak," suruh perawat tersebut.
"Masuklah Kenzo aku akan tetap di sini," ucap Kenzi.
Kenzo masuk ke dalam ruang UGD mengikuti seorang perawat. Di dalam ruangan itu Kenzo bisa melihat tubuh istrinya terbaring dengan selang infus menancap di pergelangan tangannya serta selang oksigen terpasang di kedua lubang hidungnya.
Namun, perasaan lega dan bahagia muncul pada diri Kenzo saat melihat istrinya sudah membuka matanya. Kenzo berjalan ke dekat istrinya, akhirnya dirinya bisa melihat senyuman di bibir istrinya lagi.
"Kenzo," panggil Felicia.
"Kamu baik-baik saja, Feli?" tanya Kenzo dengan suaranya yang lembut.
"Iya." Felicia mengangguk.
"Syukurlah." Kenzo mendaratkan kecupan di kening Felicia dalam jeda waktu yang lebih lama.
"Anda jangan khawatir, istri Anda baik-baik saja. Dia hanya mengalami syok saja," jelas Dokter.
"Terima kasih, Dokter," ucap Kenzo.
Tidak lama seorang perawat masuk ke dalam ruangan itu. Perawat tersebut mengatakan jika dirinya membawa hasil tes laboratorium milik Felicia.
Dokter yang memeriksa Felicia menerima hasil tes laboratorium milik Felicia. Ia memberitahukan hasil tes itu pada Kenzo.
"Apa ada yang serius, Dok?" tanya Kenzo.
"Tidak ada, semuanya baik-baik saja. Kandungan istri Anda juga tidak ada masalah," jelas Dokter.
Waktu terasa berhenti setelahnya.
"Apa, Dok ... kandungan istri saya? Maksud Dokter istri saya sedang hamil?" Kenzo bicara terbata-bata, ia merasa tidak yakin dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Menurut hasil lab menunjukan jika istri Anda sedang hamil," jawab Dokter.
"Anda tidak bohong, 'kan, Dok?" Kali ini Felicia yang bertanya kepada Dokter. Dirinya juga merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Iya, Bu. Saya tidak berbohong," jawab Dokter. "Jadi ini artinya kalian belum mengetahuinya."
"Bahkan kami belum berpikir sampai sejauh itu, Dok," jawab Kenzo. "Kami baru menikah selama kurang dari dua bulan."
__ADS_1
Dan kami baru melakukan hubungan suami-istri dua kali.
"Itu benar, Dok. Ini rasanya tidak kami percaya ... secepat inikah?" imbuh Felicia.
"Di dalam laporan hasil tes laboratorium ini masih menunjukkan jika kehamilan Anda baru beberapa minggu," terang Dokter.
"Ibu Felicia, coba ingat-ingat kapan terakhir kali Anda datang bulan?" tanya Dokter itu.
Felicia diam sejenak untuk mengingat-ingat kapan terakhir kali dirinya mengalami datang bulan.
"Satu minggu sebelum kami menikah, Dok," jawab Felicia.
"Harusnya dua minggu yang lalu juga saya datang bulan, tapi sampai sekarang belum," jelas Felicia.
"Itu sudah menjelaskan jika Anda memang benar-benar hamil," ucap Dokter.
Tidak ada lagi yang bisa Felicia dan Kenzo katakan. Mereka terlalu terkejut mengetahui kabar itu. Tidak dipungkiri mereka juga merasa sangat bahagia hingga keduanya tidak tahu harus menggambarkan kebahagiaan itu dengan cara apa.
"Selamat untuk kalian ya," ucap Dokter.
"Terima kasih untuk kabar baik ini, Dok." Felicia sudah tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Kebahagiaan yang sedang dirasakannya membuatnya tidak bisa mengatakan apapun lagi.
"Baiklah, saya tinggal dulu. Oh iya, untuk malam ini istri Anda harus menginap di sini agar kami bisa memantau kondisinya," ucap Dokter.
"Tentu, Dok. Lakukan apapun yang terbaik untuk istri dan calon anak saya," ucap Kenzo.
"Tentu saja. Baiklah saya permisi dulu," ucap Dokter.
Hanya ada Felicia dan Kenzo di ruangan UGD setelah Dokter meninggalkan tempat itu. Kenzo mengubah posisinya, kini ia duduk di hadapan istrinya.
Pandangan mata mereka bertemu pada satu titik yang sama. Terlihat jelas ada kebahagiaan dan kecanggungan yang tergambar di wajah mereka.
"Aku hamil," ucap Felicia.
"Ya, aku dengar tadi saat Dokter mengatakannya," ucap Kenzo.
"Aku sangat bahagia, Kenzo. Ini hal yang tidak terbayangkan." Felicia berucap dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Aku juga tidak pernah membayangkan ini," ucap Kenzo.
"Apa kamu bahagia Kenzo?" tanya Felicia.
"Apa aku terlihat sedang bersedih?" Kenzo balik bertanya pada Felicia.
Felicia menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya. Tidak kuat menahan rasa bahagianya Felicia memeluk tubuh suaminya. Ia menumpahkan rasa bahagia itu di dalam pelukan suaminya.
__ADS_1