Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Dua Ratus Sepuluh


__ADS_3

Kenapa Vera bisa ada di sini?


Pertanyaan itu baru saja Felicia tanyakan kepada Kenzo.


"Karena perusahaan milik Wibowo juga berkerja sama dengan perusahaan yang sama denganku," jawab Kenzo.


"Aku merasa tidak suka dengan keberadaan mereka. Terutama Vera," aku Felicia.


Kenzo melepas jas berwarna biru dan kemejanya. Kini Kenzo hanya memakai kaos dalam ketat berwarna putih dan menampakan tubuh atletisnya. Ia berjalan menghampiri Felicia yang tengah duduk di tepi tempat tidur. Kenzo duduk menekuk kedua lututnya di hadapan sang istri yang tengah cemberut. Ia meraih tangan Felicia untuk ia genggam.


"Jangan merusak suasana hatimu dengan memikirkan keberadaan mereka di sini. Anggap mereka tidak ada di sini," ucap Kenzo.


Felicia mendesah, mungkinkah dirinya bisa melakukan itu? Felicia sangat meragukan dirinya sendiri.


"Baiklah aku akan mencobanya." Felicia menarik napas lalu menghembuskannya kembali.


"Aku mau mandi dulu." Kenzo berdiri lalu memberikan kecupan di kening Felicia. "Kamu belum makan dari tadi sore, 'kan? Pesan makanan jika kamu mau."


"Hmmm." Felicia berguman.


Felicia terus memperhatikan Kenzo sampai bayangan suaminya menghilang di balik pintu kamar mandi. Sampai beberapa saat Felicia masih duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi pintu kamar mandi yang masih tertutup. Jujur ia masih memikirkan tentang keberadaan mantan kekasih Kenzo. Dirinya ingin memenangkan hati Kenzo, tetapi jika Vera ada di tempat yang sama Felicia menjadi pesimis.


"Apa yang harus aku lakukan?" Felicia menggusar rambutnya ke belakang seraya berpikir tindakan apa yang harus dirinya ambil selanjutnya.


Dalam kebingungannya nama 'Kenzi' melintas di benaknya. Bagaimana bisa dirinya melupakannya, adik iparnya selalu memiliki segudang cara untuk memecahkan masalahnya yang berhubungan dengan Kenzo.


Felicia mengambil tas yang ada di sampingnya. Tangannya merogoh bagian dalam tas untuk mengambil telepon genggamnya. Setelah mendapatkan benda yang ia cari, Felicia langsung mencari nomor ponsel adik iparnya.


Felicia lebih dulu memastikan pintu kamar mandi masih tertutup. Setelah itu Felicia berjalan ke dekat jendela dan langsung menekan nomor ponsel Kenzi yang ada di layar ponselnya.


Sambungan teleponnya tersambung dengan Kenzi. Felicia tidak menunda untuk mencurahkan isi hatinya kepada laki-laki berstatus adik iparnya. Menghubungi Kenzi adalah pilihan tepat, itu terbukti adik iparnya selalu memiliki ide yang cemerlang.


Felicia : Terima kasih Kenzi, bicara denganmu hatiku merasa lega.


Kenzi : Jangan sungkan kakak ipar. Aku juga ingin si dingin itu bahagia.


Felicia tertawa setiap kali Kenzi mengejek Kenzo.


Klek


Felicia menoleh ke arah pintu kamar mandi yang mulai terbuka. Sepertinya Kenzo sudah selesai mandi. Ia merasa harus segera mengakhiri sambungan itu.


Felicia : Kenzi, sepertinya aku harus mematikan telepon. Kenzo sudah selesai mandi. Kita bicara lagi nanti.

__ADS_1


Kenzi : Baiklah, jaga diri kalian.


Felicia : Kamu juga.


Felicia meletakan ponsel miliknya ke atas meja nakas setelah mematikan sambungan teleponnya. Segera ia membuka koper milik Kenzo untuk mengambil pakaian milik Kenzo.


Kenzo sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk saat ia melihat Felicia sedang membongkar koper miliknya.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Kenzo.


"Aku sedang mengambil pakaian untukmu." Felicia menyerahkan piyama tidur di tangannya kepada Kenzo.


"Terima kasih." Kenzo menerima pakaian yang diberikan oleh Felicia.


"Kamu pakai pakaianmu. Aku juga mau mandi." Felicia lebih dulu mengambil pakaian tidurnya lalu pergi ke kamar mandi setelahnya.


Felicia melangkah dengan hati-hati karena lantai di kamar mandi nampak licin. Sampai di tempat mandi Felicia menanggalkan kain yang menempel di tubuhnya.


Ia memutar keran air ke mode hangat. Tidak lama shower di atas kepalanya mengeluarkan air hangat yang mengguyur seluruh tubuhnya. Rasa lelah seakan luntur terbawa oleh air.


Puas bermain air di dalam kamar mandi Felicia menyudahi mandinya. Tubuhnya juga sudah mulai dingin, terlihat dari munculnya keriput di kulit jari tangannya. Felicia mematikan keran air lalu menarik handuk yang tergantung tidak jauh dari tempatnya mandi.


Felicia mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Saat tubuhnya sudah mulai mengering Felicia lebih dulu memakai piyama tidurnya sebelum ia keluar dari kamar mandi.


Piyama tidurnya sudah melekat sempurna di tubuhnya. Felicia keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk. Sampai di dalam kamarnya matanya melihat suaminya sedang berkutat dengan laptopnya.


"Aku hanya sedang memeriksa email yang masuk saja," jawab Kenzo. "Jika kamu lelah kamu istirahatlah lebih dulu."


"Ck, aku tidak bisa. Kamu tahu, 'kan? Aku tidak bisa tidur tanpamu. Aku tidak bisa tidur jika kamu tidak mengusap perutku," ucap Felicia.


"Kenapa kamu jadi manja seperti ini." Kenzo tertawa kecil. Setelah itu Kenzo menutup laptopnya lalu berjalan menghampiri istrinya.


"Ayo, tidurlah. Aku akan mengusap perutmu," ucap Kenzo membuat Felicia berseru.


Mereka sama-sama merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur. Posisi tidur Felicia memunggungi Kenzo. Ia membiarkan Kenzo mengusap perutnya yang asih rata. Tidak lama mata Felicia terpejam begitu saja begitu juga dengan Kenzo.


*****


Felicia terbangun saat tangannya tidak merasakan keberadaan Kenzo. Matanya ia kucek menggunakan punggung tangannya sendiri sampai matanya tidak lagi terasa lengket. Beberapa kali juga Felicia mengedipkan matanya agar bisa beradaptasi dengan cahaya yang ada di ruangan itu.


"Di mana Kenzo?" Felicia bangun lalu mengambil posisi duduk. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari Kenzo.


Tidak mendapati keberadaan Kenzo di kamar Felicia memutuskan untuk mencarinya ke kamar mandi. Felicia menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.

__ADS_1


Saat kakinya berpijak ke lantai dinginnya lantai marmer langsung menyerang. Felicia tidak menghiraukan rasa dingin itu. Ia tetap melangkah ke kamar mandi sambil memanggil nama suaminya.


Tok tok tok


"Kenzo," panggil Felicia.


"Apa kamu di dalam?" Felicia masih mengetuk pintu kamar mandi.


Tidak ada sahutan.


Felicia mencoba menarik handel yang terpasang di papan pintu. Ternyata pintunya tidak terkunci.


"Kenzo." Felicia menyumbulkan kepalanya untuk melihat ke bagian dalam kamar mandi.


Tidak ada siapapun.


"Apa dia sudah berangkat ya?" batin Felicia.


Felicia menoleh ke arah jam yang tergantung di dinding kamar. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi.


"Dia jelas sudah pergi. Kenapa dia tidak membangunkan aku." Felicia berdecak.


Tok tok tok


Rasa kecewanya teralihkan saat ia mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dengan berat hati Felicia melangkah untuk membuka pintu, ia berharap jika itu adalah Kenzo.


"Selamat pagi, Nyonya."


Felicia kembali merasa kecewa. Ternyata bukan Kenzo yang datang, tetapi pegawai hotel.


"Selamat pagi." Felicia balas menyapa pegawai hotel tersebut meskipun hatinya merasa kecewa.


"Saya dari layanan kamar. Ingin mengantar sarapan untuk Anda," ucap Pegawai hotel itu.


"Tapi saya belum memesan apapun," ujar Felicia.


"Suami Anda yang memesannya Nyonya. Suami Anda juga meminta kami untuk mengirimkan bunga ini untuk Anda." Pegawai hotel itu lebih dulu menyerahkan satu buket bunga lili putih kepada Felicia.


Senyum Felicia mengembang saat menerima bunga lili dari Kenzo. Felicia tidak menyangka jika Kenzo akan se romantis itu.


"Bawa masuk sarapannya," suruh Felicia.


"Baik, Nyonya." Petugas layanan kamar itu masuk ke dalam kamar sesuai perintah Felicia.

__ADS_1


Sementara itu Felicia masih berdiri di dekat pintu dengan terus memandangi bunga lili di tangannya. Saat akan masuk ia melihat pintu kamar tepat di depan kamarnya terbuka. Matanya melebar saat melihat siapa yang baru saja keluar dari kamar itu.


"Vera," gumam Felicia.


__ADS_2