Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Ungkapan Rasa Cinta Gio


__ADS_3

Di saat dekat, terkadang tidak merasakan akan kehadirannya, tetapi di saat jauh baru merasa kehilangan.


Hal itu sedang dirasakah oleh Flora. Kini dirinya sedang merasa merindukan kehadiran Gio, laki-laki yang menyebalkan, tetapi selalu ada untuk dirinya.


Flora yang tidak bisa tidur membolak-balikan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya masih tertuju pada Gio. Masih banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Apa alasan di balik perubahan Gio?


Flora bangun dan mengambil posisi duduk, lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding yang ada di belakang tubuhnya. Tangannya meraih kartu ucapan yang diberikan oleh Gio, senyumnya mengembang ketika membaca kata-kata yang tertulis di dalamnya.


Mendadak Flora teringat akan perkataan Daniel yang menyebutkan jika Gio mencintai dirinya.


Apa itu benar? Gio mencintaiku?Apa di balik sikap Gio yang berubah karena aku kembali lagi bersama Daniel jadi dia cemburu, marah, dan patah hati?


Flora merasa itu tidak mungkin. Seorang Gio tidak mungkin bisa patah hati, mengingat betapa banyaknya perempuanya yang mau bertekuk lutut di hadapannya.


Di saat Flora sedang memikirkan hal itu secara tiba-tiba ponselnya berdering dan mengejutkan Flora. Flora meraih ponselnya, ada nama Daniel di layar ponselnya. Segera Flora menekan tombol hijau untuk menerima panggilan dari kekasihnya.


"Hallo," ucap Flora setelah benda pipih itu menempel di dekat telinganya.


Flora dan Daniel mengobrol di sambungan telepon cukup lama. Sampai Flora tertidur secara tidak sadar.


Pada esok harinya, Flora membuka matanya ketika mendengar alarm pada ponselnya. Tangan Flora terulur untuk meraih ponsel dan mematikan alarm itu. Flora bangun lalu mengambil posisi duduk. Sebelum turun dari tempat tidurnya, Flora lebih dulu mengkitat rambut panjangnya. Setelah itu Flora keluar dari kamarnya menuju ke kamar mandi.


"Pagi, Nak," sapa Seruni.


"Pagi juga, Bu," sapa balik Flora.


"Cepat mandi terus sarapan," ucap Seruni yang langsung diangguki oleh Flora.


Selesai mandi Flora bergegas kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Waktu terus berputar membuat Flora harus bergegas untuk bersiap. Setelah selesai bersiap, Flora langsung keluar dari kamarnya dan sarapan bersama ibunya.


Flora makan dengan cepat karena dikejar waktu dan juga karena semalam ia tidur dengan perut kosong.


"Makannya jangan cepat-cepat, Nak. Nanti kamu tersedak," ucap Seruni.


"Ini sudah siang, Bu," jawab Seruni dengan mulut penuhnya.


Dan juga aku sangat kelaparan.


"Aku sudah selesai." Flora mengambil tisu untuk mengelap bekas makanannya yang ada pada bibirnya.


"Aku berangkat." Flora menyalami tangan ibunya.


"Iya, Nak ... hati-hati di jalan." Seruni menggeleng melihat tingkah anak perempuannya.


Flora keluar dari dalam rumah dan bergegas menuju mobilnya. Flora langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi lalu menyalakan mobilnya. Setelah mobil menyala, Flora bergegas tancap gas untuk melajukan mobilnya.


Serapanjang perjalanan berulang kali Flora melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangannya, sudah hampir pukul 7 pagi.


"Semoga bos menyebalkan itu belum datang," gumam Flora.


Beruntung jalanan pagi itu belum padat membuat Flora sampai di kantor lebih cepat. Segera Flora memarkirkan mobilnya ke tempat yang sudah tersedia dan langsung turun dari mobil. Setelah mengunci mobilnya Flora bergegas untuk masuk ke dalam kantornya.


Flora sampai pada meja kerjanya setengah jam sebelum Gio datang. Saat mata Flora melihat kedatangan Gio, segera ia berdiri dari kursinya untuk menyapa Gio. Meskipun Flora tahu Gio tidak akan menyapa balik, tetap saja Flora akan melakukan itu untuk sekedar formalitas dan keprofesioalannya dalam bekerja.


"Selamat pagi, Pak," sapa Flora dengan sedikit membungkukan badanya.


"Pagi," sapa balik Gio.


Flora mendongak saat mendengar sapaan balik dari Gio.


Dia menjawab?


Flora tersenyum pada Gio, tetapi laki-laki itu justru memalingkan wajahnya ke arah lain seolah tidak ingin melihat senyum Flora yang sangat ia rindukan. Melihat itu senyum Flora langsung luntur dari bibirnya dan perlahan Flora menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Flora," panggil Gio.


"Ya, Pak," sahut Flora dan langsung kembali melihat ke arah Gio.


"Berkas yang saya minta sudah kamu siapkan?" tanya Gio.


"Sudah," sahut Flora.


"Antar ke ruangan saya," pinta Gio.


"Baik, Pak."


Flora senang bisa bicara dengan Gio meski laki-laki itu masih bicara dengan nada dingin, tetapi setidaknya pagi itu Gio tidak menampakan wajah galaknya.


Flora melakukan apa yang Gio suruh. Setelah mengambil berkas yang Gio minta dari meja kerjanya, Flora masuk ke ruang kerja atasannya itu.


"Ini berkas nya." Flora meletakan berkas yang ia bawa ke meja yang ada di hadapannya.


Gio melirik sekilas ke arah Flora sebelum mengambil berkas yang ia minta dan mulai memeriksanya.


"Sudah kamu siapkan semua yang aku butuhkan untuk rapatku nanti siang dengan dengan G.R group?" tanya Gio tanpa mengalihkan pandangnya dari berkas yang ada di tangannya.


"Sedang saya lakukan, Pak," sahut Flora.


"Oke, selesaikan segera," suruh Gio yang langsung diangguki oleh Flora.


Gio mendatangani berkas itu menyerahkannya kembali pada Flora.


Flora menerima berkas yang Gio berikan. Harusnya ia segera pergi dari ruangan itu, tetapi ada sesuatu hal yang menahannya.


"Kamu bisa pergi," ucap Gio.


"Pak Gio ...." Ada rasa ragu dalam diri Flora untuk mengatakan hal yang ingin ia katakan saat itu.


Mendengar nada dingin Gio, Flora akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan kepada Gio.


"Tidak apa-apa. Maaf saya permisi," ucap Flora.


Flora segera melesat keluar dari ruangan itu tanpa menunggu respon dari Gio.


"Flora ...." Ucapan Gio terhenti saat menyadari jika Flora sudah tidak ada di ruanganya.


Gio berdecak, lalu mengusap wajahnya kasar. Gio beranjak dari kursinya lalu berjalan mondar-mandir di balik kursinya. Ingin sekali ia meminta maaf pada Flora atas tindakannya kemarin, tetapi kata-kata itu tidak bisa keluar dari dalam dirinya.


Aku bisa gila karena terus memikirkannya.


Jam sudah menunjukkan waktu makan siang, tetapi Flora masih memiliki banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Mutya bahkan sudah menunggunya sedari tadi.


"Mutya kamu pergilah dulu. Aku akan menyusulmu jika sempat," ucap Flora.


"Apa masih banyak?" tanya Mutya.


Tentu masih banyak, karena sedari tadi di dalam benaknya hanya ada Gio, Gio, dan Gio.


"Ya." Flora mengangguk. "Aku harus segera menyelesaikannya atau bos kita akan marah," gurau Flora.


"Baiklah aku makan dulu," ucap Mutya.


"Mutya ... bisa aku minta tolong pesankan makanan untuk aku juga?" ucap Flora.


"Tentu saja. Aku akan memesankan makanan untukmu," balas Mutya.


"Terima kasih, Mutya. Kamu sudah mau repot untukku."

__ADS_1


"Jangan sungkan, Flora."


Mutya meninggalkan Flora dan melangkah menuju kantin di kantor itu sedangkan Flora kembali mengerjakan pekerjaannya. Bunyi telepon mengalihkan perhatian Flora. Segera Flora menerima panggilan dari ruangan atasannya.


"Flora kamu sudah selesaikan semua berkas untuk rapat ku dengan perusahaan G.R Group?" tanya Gio dari seberang panggilan.


"Sudah, Pak," jawab Flora.


"Antar ke ruangan saya sekarang," suruh Gio.


"Baik, Pak ... segera."


Flora bergegas untuk pergi ke ruangan atasannya untuk mengantar apa yang diminta oleh atasannya itu.


"Ini, Pak." Tanpa membuang waktu Flora menyerahkan berkas yang diminta oleh Gio.


"Ya, terima kasih."


Terima kasih? Dia mengucapkan terima kasih?


"Ada apa Flora?" Flora langsung menoleh ketika Gio bertanya.


Sekilas Flora merasa ragu untuk mengatakan hal yang ingin ia katakan, tetapi Flora sudah tidak bisa menahannya.


"Maaf aku ingin mengatakan hal di luar pekerjaan. Tapi aku butuh penjelasan akan sesuatu hal," ucap Flora.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Gio menatap wajah Flora. Sebenarnya ia pun penasaran dengan apa yang ingin Flora katakan.


"Gio terima kasih untuk bunga dan cokelat yang kamu berikan padaku waktu itu." Akhirnya kata-kata yang sempat Flora pendam bisa ia keluarkan.


Gio tertegun ketika Flora mengatakan hal itu. Dia tahu?


"Apa maksudmu?" tanya Gio berpura-pura tidak mengerti.


"Daniel sudah mengatakan semuanya pada ku, tentang kamu dan perasaanku ...."


"Lalu?"


"Aku hanya butuh penjelasan dari dirimu ... apa semua itu benar?"


Gio beranjak dari kursinya dan berjalan mendekat ke arah Flora.


"Jika itu benar bagaimana?" Gio terus berjalan mendekati Flora membuat Flora berjalan mundur.


"Apa itu alasan di balik sikapmu yang berubah?" Langkah Flora terhenti saat tubuhnya membentur dinding ruangan itu.


Kini keduanya berdiri berhadapan dalam jarak yang begitu dekat. Gio meletakan kedua tangannya di samping pundak Flora untuk mengunci pergerakan Flora.


Pandangan mereka bertemu pada satu titik yang sama. Namun, Flora segera memutus pandangan itu dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain, tetapi Gio mengalihkan kembali pandangan Flora dan mempertemukan kembali pandangan mereka.


"Aku mencintaimu, Flora," ucap Gio.


Cinta?


Satu kata yang bisa menjungkirbalikkan perasaan seseorang.


Cinta?


Sesuatu yang tidak terlihat, tetapi bisa dirasakan semua orang.


Cinta?


Sebuah rasa yang datang dari hati.

__ADS_1


__ADS_2