
Seruni turun dari taksi ketika ia sampai di depan rumahnya. Terlihat sekali jika Seruni masih dalam keadaan menangis. Setelah ia membuka pintu, Seruni langsung masuk ke dalam kamarnya.
Seruni berdiri dengan menyenderkan tubuhnya pada pintu kamarnya. Hatinya seperti disayat- sayat. Luka lamanya kembali terbuka saat melihat kenyataan yang baru saja ia ketahui.
Seruni begitu sedih bukan untuk dirinya melainkan memikirkan perasaan anaknya. Bagiamana jika nantinya Flora mengetahui jika kekasihnya adalah kakaknya sendiri.
Waktu terus berputar dan Seruni masih berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Seruni memikirkan kata-kata yang harus ia katakan pada Flora. Ia harus secepatnya mengatakan pada Flora, sebelum semuanya terlambat.
Seruni tahu hati anaknya akan kembali hancur jika mengetahui kenyataan itu
Namun, itu lebih baik. Seruni yakin dengan seiring berjalannya waktu hatinya yang hancur akan kembali menyatu.
Tok tok tok
Seruni terkejut saat ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Ibu."
Seruni segera menghapus jejak air mata yang hampir mengering pada pipinya.
"Iya sebentar."
Seruni membuka pintu dan melihat Flora berdiri di hadapannya.
"Ibu baik-baik saja?" Flora langsung menuntun ibunya untuk duduk di tepi ranjang.
"Ibu baik-baik saja, Nak. Jangan khawatir," ucap Seruni.
Karena harusnya yang merasa khawatir adalah dirinya sendiri.
"Oh iya, Bu ... tadi bapak Farhan sama Gio mau mampir, tapi tidak jadi takut menganggu Ibu," ucap Flora.
"Bapak Farhan juga bilang besok akan datang ke sini untuk membahas ...." Ucapan Flora terhenti karena ibunya menyelanya.
"Membahas apa, Nak?"
Flora menundukkan wajahnya dengan wajah yang tersipu.
"Membahas rencana pertunangan aku sama Gio," jawab Flora.
Seruni yang mendengar itu merasa terkejut. Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi, tidak boleh. Tidak mungkin jika Flora menikah dengan kakaknya sendiri.
"Tidak, Flora!" Seruni berdiri dan melangkahkan ke arah jendela kamarnya. Seruni berdiri membelakangi anaknya. "Ibu tidak akan menyetujui hal itu. Kamu tidak bisa dan tidak boleh menikah dengan Gio."
Giliran Flora yang terkejut mendengar perkataan yang baru saja ibunya lontarkan.
"Ada apa dengan Ibu? Kenapa Ibu mendadak berubah pikiran seperti ini?" tanya Flora.
Mata Flora sudah berkaca-kaca bahkan siap tumpah hanya dengan sekali kedipan saja.
__ADS_1
"Ibu ...." Flora memanggil ibunya dengan suara lirih penuh luka.
Seruni masih diam tidak bergeming sedikitpun atau bahkan berpaling untuk melihat wajah anaknya. Seruni tetap membelakangi Flora untuk menyembunyikan air matanya.
"Ibu ... kenapa, Bu? Kenapa Ibu seperti ini?" Flora terus bertanya pada ibunya.
"Ibu ...."
"Cukup Flora!" Seruni membalik tubuhnya menghadap ke arah Flora. "Kamu tidak bisa menikah dengan Gio, karena dia kakak kamu." Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Seruni.
"Saat ibu tadi akan masuk ke restoran itu, ibu melihat ayah kamu dan Gio," jelas Seruni.
"Tapi mungkin Ibu salah lihat. Papanya Gio namanya Farhan, Bu ... bukan Ferdi," ucap Flora.
"Apalah arti sebuah nama, Flora. Ibu sangat yakin jika itu ayah kandung kamu," ucap Seruni penuh keyakinan.
"Ibu pasti bohong ... Ibu bohong!" Flora tidak terima dengan kenyataan yang baru saja ibunya katakan.
Dengan perasaan hancur Flora keluar dari kamar ibunya dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Flora mengunci pintu kamarnya, tubuhnya merosot ke lantai dengan tangisan begitu pilu.
Apa lagi ini? Begitulah yang dikatakan oleh Flora di dalam benaknya. Kenapa hubungannya dengan seseorang tidak pernah berjalan dengan lancar.
Flora melihat ibunya berbicara penuh dengan keyakinan, tetapi hati Flora tidak mampu untuk menerimanya. Perasaanya sudah terlalu dalam untuk Gio, membuat Flora tidak mampu menerima apa yang dikatakan oleh ibunya.
-
-
Flora terbangun saat alarm pada ponselnya memanggil dirinya. Rasanya begitu berat untuk bangun. Jika saja ia tidak ingat harus bekerja, rasanya malas sekali untuk bangun.
Flora menarik tubuhnya untuk mengambil posisi duduk. Kepalanya terasa sangat berat, matanya pun terasa sangat perih.
Sejak semalam Flora tidak berhenti menangis dan membuatnya tidak bisa tidur. Saat ia tertidur itu pun karena rasa lelahnya karena menangis.
Saat kesadarannya pulih, Flora meraih ponselnya untuk mematikan alarm. Tangannya mengambil penjepit rambut untuk menjepit rambut panjangnya.
Flora kembali mengingat ucapan ibunya yang mengatakan jika dirinya dan Gio kakak beradik. Flora berharap jika itu adalah sebuah mimpi buruk, tetapi itu adalah sebuah kenyataan. Memikirkan hal itu membuat air mata Flora yang sudah mengering kembali menetes.
Tok tok tok
"Flora kamu sudah bangun?"
Segera Flora mengusap air matanya setelah mendengar suara ibunya. Flora menarik napasnya sebelum turun dari atas tempat tidur untuk membuka pintu kamarnya.
"Flora ... kamu baik-baik saja, Nak?" tabay Seruni.
"Flora baik-baik saja kok, Bu. Ibu jangan khawatir." Flora melihat jejak air mata pada mata ibunya. Flora bisa menebak ibunya juga tidak bisa tidur semalam seperti dirinya.
"Flora ... ibu tahu pasti ini berat buat kamu, ini juga berat untuk ibu. Tapi ...." Ucapan Seruni terpotong oleh Flora.
__ADS_1
"Bu, Flora mohon jangan bahas ini dulu. Flora harus pergi kerja," mohon Flora.
"Flora ...."
"Bu, Flora mohon."
Seruni mengangguk dengan wajah yang tertunduk.
"Jaga diri kamu baik-baik." Seruni mengusap lengan Flora dengan menahan air matanya.
Flora kembali ke dalam kamarnya setelah mandi. Dengan pandangan kosong, Flora mencoba untuk bersiap diri. Flora memandang wajahnya pada cermin di depannya, matanya masih terlihat sembab meksi ia sudah mencoba menutupi dengan make-up.
"Bu, Flora berangkat dulu." Flora menyalami tangan ibunya sebelum berangkat berkerja.
"Sarapan dulu, Nak," suruh Seruni.
Flora menggelengkan kepalanya. "Flora tidak lapar, Bu."
"Flora berangkat," lanjut Flora.
Flora pergi tanpa menunggu respon dari ibunya. Setelah itu Flora masuk ke dalam mobil dan melajukannya.
Rasa kecewa begitu terasa dalam hatinya. Jika memang benar Gio kakaknya, lalu bagaimana nasib hubungannya dengan Gio? Flora tidak bisa membayangkan itu semua.
Laju mobil Flora berhenti saat ia sampai pada tempatnya bekerja. Setelah memarkirkan mobilnya, segera Flora turun dari dalam mobil.
Untuk sejenak Flora menyenderkan tubuhnya pada badan mobil. Rasanya kakinya begitu berat untuk melangkah.
"Flora ...."
Flora menoleh saat ia mendengar seseorang memanggilnya.
"Mutya."
"Hai, selamat pagi calon Ibu bos," sapa Mutya.
Sebutan Mutya untuk dirinya bagai anak panah yang diselasatkan dan tepat mengenai jantungnya.
Sakit!
"Selamat pagi," balas Flora dengan memaksakan senyumannya.
Timbul pertanyaan pada benak Mutya saat melihat sikap Flora yang nampak aneh.
"Flora, kamu baik-baik saja? Kamu terlihat pucat." Mutya menahan langkah Flora.
"Ya, aku baik-baik saja. Hanya semalam aku kurang tidur saja," sahut Flora. "Sudahlah ayo kita masuk! Jangan sampai kita terlambat," ajak Flora dibalas anggukan kepala oleh Mutya.
Setelah membaca jangan lupa tinggalkan jejak. Tekan love, jempol, dan komentarnya. Gratis kok, hihihi
__ADS_1