
Kehamilan Felicia sudah sampai pada trimester akhir. Hari perkiraan lahir juga hanya tinggal menghitung minggu saja. Awalnya saat menjalani kehamilan pada trimester akhir Felicia merasa sangat berat, ia sulit melakukan aktivitas, kesulitan untuk tidur di malam hari, karena perutnya semakin membesar dan juga berat, belum lagi pikiran negatif yang selalu menguasai dirinya. Namun seiring berjalannya waktu Felicia mulai menikmatinya.
Usia kehamilan yang makin bertambah jelas membuat berat badannya naik, tentu saja membuat bentuk tubuhnya juga berubah. Hal itu membangkitkan pemikiran negatif Felicia pada suaminya. Pasti suaminya merasa minder karena tubuhnya tidak se-langsing dulu.
Belum lagi beberapa hari belakangan Kenzo jarang pulang ke rumah, suaminya lebih sering pulang ke apartemen pribadinya membuat pikiran negatif itu makin bertambah menguasai dirinya. Felicia mengira Kenzo memiliki wanita simpanan. Bukan Felicia namanya jika hanya diam saja jika Kenzo melakukan hal itu padanya. Felicia akhirnya meminta seseorang untuk menyelidiki suaminya. Namun naas, orang suruhannya justru tertangkap basah oleh Kenzo di hari pertama penyelidikannya.
"Apa kamu sudah tidak percaya lagi padaku sehingga kamu menyuruh orang untuk menyelidikiku?" tanya Kenzo sambil menahan rasa kesalnya.
Kenzo malam itu pulang ke rumah, tetapi tidak sendiri. Kenzo pulang bersama dengan Alan dan orang suruhan Felicia.
"Kamu sendiri yang membuat aku ragu padamu," ucap Felicia tidak mau kalah.
"Memang apa yang aku lakukan?" tanya Kenzo.
"Kamu jarang pulang, jarang mengangkat telepon dariku bahkan chat dariku juga tidak kamu balas," jawab Felicia.
"Itu karena aku tidak sempat," jelas Kenzo.
Felicia dan Kenzo berdebat di depan Alan dan orang suruhan Felicia. Kedua pria itu bahkan sampai bingung dengan perdebatan pasangan itu. Alan merasa perdebatan itu akan berakhir lama, ia tidak ingin terlibat lebih jauh karena yang ia hadapi adalah wanita hamil yang pasti akan sangat merepotkan. Belum lagi wanita hamil itu adalah istri dari bos-nya yang pasti tidak akan bisa ia lawan.
"Maaf, Pak sebaiknya kami permisi dulu," pamit Alan.
Alan menarik pria suruhan Felicia menyeretnya keluar dari rumah itu. Namun, langkahnya harus terhenti saat Felicia mencegahnya.
"Jika selangkah lagi kamu maju, maka aku akan mengulitimu, Alan," ancam Felicia.
Jelas ketiga mata pria yang ada di hadapan Felicia dibuat melotot, tubuh mereka bahkan dibuat merinding oleh ucapan Felicia. Wajah Alan bahkan sudah memucat, ia ingin segera pergi tetapi kakinya terasa terpaku.
"Alan!" panggil Felicia.
"I-ya, Bu." Alan berbalik melihat ke arah Felicia dari balik kaca matanya.
"Apa kamu ingin menyembunyikan perselingkuhan bos-mu?" Felicia bicara dengan menaikkan volume bicaranya.
Perselingkuhan?
Jelas Alan merasa bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh istri dari bos-nya.
"Siapa yang berselingkuh, Bu?" Alan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Siapa lagi kalau bukan bos-mu ini?" Felicia menunjuk Kenzo dengan matanya.
Alan ikut melihat ke arah bos-nya dengan tatapan bingung. Sejauh yang ia tahu, Kenzo tipe laki-laki setia, tetapi kenapa Felicia menuduhnya berselingkuh?
__ADS_1
Kenzo mengela napas berat istrinya mungkin sudah salah paham atas sikapnya beberapa hari belakangan.
"Alan, sebaiknya kamu pergi. Periksa lagi berkas yang sudah kita periksa kemarin. Dan jangan lupa bawa pergi pria ini!" suruh Kenzo.
"Baik, Pak." Alan menarik napas lega, ia bersyukur bos-nya menyuruhnya untuk pergi.
"Saya permisi dulu." Alan membungkukkan tubuhnya sebelum pergi dari tempat itu. Alan mengambil langkah seribu untuk pergi dari rumah bos-nya.
Setelah memastikan tidak ada orang lain lagi Kenzo mengajak Felicia masuk ke kamar mereka untuk menjelaskan atas perubahan sikapnya selama beberapa hari belakangan. Kenzo tidak menyalahkan istrinya, harusnya dari awal dirinya menjelaskan kepada Felicia apa yang sedang ia lakukan.
Setelah berada di kamar Kenzo mendudukkan dirinya di atas tempat tidur.
"Duduklah!" Kenzo menepuk sisi kanannya menyuruh Felicia untuk duduk di sebelahnya.
Felicia menolak dengan tetap berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dada dan masih memasang wajah kesal.
"Feli ... please," mohon Kenzo.
Felicia akhirnya menuruti permintaan dari Kenzo, ia mendudukkan dirinya tepat di samping suaminya tanpa mau melihat ke arahnya.
"Feli —" Sebelum Kenzo melanjutkan ucapannya, Felicia sudah lebih dulu memotongnya.
"Apa karena tubuhku menjadi gendut, aku menjadi manja kamu mencari wanita lain?" tuduh Felicia.
"Kalau memang bukan karena ini, lalu apalagi alasan kamu berubah seperti ini?" tanya Felicia.
Kenzo kembali menarik napas dalam-dalam, mencoba bersabar saat Felicia mencoba menguji kesabarannya.
"Feli ... dengarkan aku dulu." Kenzo menggenggam tangan Felicia.
"Maafkan aku atas sikapku padamu beberapa hari ini. Tapi sungguh aku tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan," ucap Kenzo.
"Aku bekerja keras untuk menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat agar aku bisa cuti lebih awal," jelas Kenzo.
"Hari perkiraan kelahiran anak kita hanya tinggal dua minggu lagi. Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersamamu. Agar saat kamu akan melahirkan aku bisa ada di sisimu," jelas Kenzo.
Felicia terdiam seketika, ia teringat akan apa yang pernah dilakukan oleh Kenzo saat mereka akan pergi ke negeri sakura. Saat itu dirinya juga sudah menuduh suaminya dengan hal serupa, tetapi pada kenyataannya tidak. Felicia merasa bodoh saat itu.
"Kamu masih ingat, apa yang aku lakukan sebelumnya, 'kan?" ucap Kenzo yang langsung dianggukki oleh Felicia.
Felicia berbalik menoleh ke arah suaminya dengan wajahnya yang tertunduk. Ia merasa malu dengan tindakan yang ia lakukan kepada suaminya sendiri.
"Maaf," ucap Felicia.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf karena tidak memperhatikanmu beberapa hari ini dan tidak jujur padamu dari awal," ucap Kenzo.
Kenzo menarik Felicia, mendekapnya, mengusap pundaknya serta mencium ujung kepalanya.
"Ini sudah malam, istirahatlah!" ucap Kenzo yang langsung dianggukki oleh Felicia.
"Kamu sudah makan?" tanya Felicia.
"Belum, aku tidak sempat," jawab Kenzo.
"Aku akan panaskan makanan untukmu," ucap Felicia.
Felicia berdiri, ia ingin keluar dari kamar itu. Namun, dicegah oleh Kenzo.
"Tetaplah di sini! Biarkan bibi yang menyiapkan makanannya," ucap Kenzo.
"Tidak apa-apa. Biar aku saja. Lagi pula kata Dokter aku harus banyak bergerak agar persalinanku nanti bisa berjalan lancar," ucap Felicia.
"Baiklah!" Kenzo berdiri dan langsung memeluk Felicia.
"Jangan pernah berpikir aku bisa menduakanmu. Jauh darimu sedetik saja rasanya aku sulit untuk bernapas," ucap Kenzo.
Siapa saja yang mendengar kalimat yang Kenzo katakan jelas hatinya akan meleleh. Suara Kenzo yang begitu lembut dan tenang menembus sampai ke jantung Felicia. Air mata Felicia saat itu juga langsung meleleh, dirinya merasa bersalah sudah beberapa kali menuduh suaminya berselingkuh.
"I am so sorry," ucap Felicia.
"Jangan dipikirkan. Maafkan aku juga karena sudah mengabaikanmu," ucap Kenzo.
Kenzo menarik diri lebih dulu, ia usap air mata yang ada di pipi Felicia menggunakan jari telunjuknya.
"Baiklah, tunggu di sini dan aku akan memanaskan makanan untukmu," ucap Felicia.
"Ayo kita keluar bersama. Aku juga akan ke ruangan kerjaku," ajak Kenzo yang langsung dianggukki oleh Felicia.
Kenzo melingkarkan tangannya di sepanjang pinggang Felicia. Saat akan melangkah Felicia justru berhenti. Felicia memejamkan matanya sambil meringis, seperti sedang menahan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Kenzo.
"Tidak ada apa-apa?" jawab Felicia.
"Kamu yakin?" tanya Kenzo lagi.
"Iya." Felicia menjawab sambil mengela napas.
__ADS_1
Felicia merasakan tidak nyaman di area intinya, seperti ada sesuatu yang ingin keluar. Namun, rasa sakit itu menghilang kembali membuat Felicia tidak mengatakannya kepada Kenzo. Ia juga tidak ingin membuat suaminya merasa cemas.