Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Ekstra Part Daniel dan Maura


__ADS_3

Sudah hampir satu tahun hubungan Daniel dan juga Maura berjalan. Hubungan keduanya juga tidak selalu lancar layaknya jalan tol. Ada saja masalah di antara mereka.


Apalagi kini keduanya menjalin hubungan jarak jauh. Maura yang awalnya terikat kontrak dengan pekerjaannya harus tinggal sementara di Amerika, karena tidak ingin bolak-balik ke Jakarta.


Selama menjalin hubungan jarak jauh itu keduanya sering bertengkar. Kadang masalah kecil bisa berubah menjadi masalah besar.


Bukan hanya Daniel yang merasa kesal dengan hubungannya dengan Maura. Mariana pun merasa sangat kesal dengan hubungan anaknya. Mariana yang sudah ingin menimang cucu mendesak agar Daniel cepat menikahi Maura.


Mariana bahkan secara terang-terangan meminta pada Daniel untuk menghamili Maura lebih dulu, agar mereka memiliki alasan untuk segera menikah.


Daniel yang mendengar itu hanya mampu menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja.


Kabar kepulangan Maura sudah sampai ke telinga Daniel. Niatnya Daniel akan menemui calon istrinya itu siang hari. Rasa rindu dalam diri Daniel pada Maura akan segera terobati. Namun, siapa sangka saat mereka bertemu, pertengkaran yang justru terjadi.


"Apa karirmu jauh lebih penting dariku?" Nada bicara Daniel terdengar begitu kesal.


"Kamu tahu sebelum kita menjalin hubungan, aku sudah lebih dulu menandatangi kontrak itu," balas Maura.


"Dan mana aku tahu jika mereka mengirim aku ke tempat yang jauh itu," ucap Maura.


Daniel dan Maura sedang bertengkar di apartemen Maura. Sudah hampir empat bulan mereka berpisah. Maura yang sengaja mengambil cuti selama satu minggu kembali ke Indonesia hanya untuk menemui calon suaminya.


Maura mengira dengan kembalinya ke Indonesia maka ia bisa menghabiskan waktu bersama dengan Daniel. Akan tetapi nyatanya mereka berdua kini justru bertengkar.


"Aku sengaja mengambil cuti agar bisa menemuimu. Tapi kamu justru bersikap seperti ini padaku," ucap Maura.


Mata Maura sudah merah dan berkaca-kaca. Bisa dipastikan dalam satu kedipan saja air mata itu bisa tumpah dari matanya.


"Kalau begitu ... lebih baik aku kembali ke Amerika saja," ucap Maura.


Maura berniat pergi dari apartemen. Baru satu langkah Daniel menahan tangannya membuat langkah Maura tertahan.


"Maaf," ucap Daniel.


Maura masih tidak mau menoleh ke arah Daniel. Ia masih berdiri membelakangi Daniel untuk menyembunyikan air matanya.


"Maura, maaf." Daniel berjalan mendekat kepada Maura dan memeluknya dari belakang.


Air mata yang Maura tahan sedari tadi akhirnya tumpah juga.


"Tolong ... maafkan aku. Aku marah karena aku sangat merindukan dirimu." Satu kecupan Daniel berikan di ujung kepala Maura.


Maura berbalik, membuatnya dan Daniel berdiri saling berhadapan.


"Kamu pikir aku bisa jauh darimu?" tanya Maura. "Aku juga selalu ingin dekat denganmu."


"Empat bulan lagi. Tolong tunggu empat bulan lagi dan kita akan menikah," ucap Maura.

__ADS_1


"Baiklah, aku pasti akan selalu menunggumu," ucap Daniel. "Tapi tolong jangan menangis."


Daniel menghapus jejak air mata di pipi Maura sebelum memberikan kecupan di bibir Maura.


"Ayo, kita habiskan waktu bersama selama kamu masih di sini," ajak Daniel yang langsung diangguki setuju oleh Maura. "Kamu mau ke mana?"


"Kalau begitu kita ke rumah Flora sekarang," ajak Maura. "Aku merindukan baby Felicia."


"Baiklah, ayo kita ke sana," ucap Daniel.


Daniel menggenggam tangan Maura dan membawanya keluar dari apartemen pribadi Maura. Sampai di basemant keduanya masuk ke dalam satu mobil yang sama. Daniel melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu menuju rumah sepupunya.


Sepanjang perjalanan keduanya mengobrol tentang banyak hal, terutama tentang Felicia. Maura sudah tidak merasa cemburu dengan Flora saat ia tahu ternyata Flora adalah kakak sepupu Daniel.


"Aku tidak sabar ingin melihat anak Flora dan juga Gio," seru Maura.


"Sebentar lagi kamu akan melihatnya," ucap Daniel seraya mengecup punggung tangan Maura.


Daniel memberhentikan laju mobilnya ketika mereka sudah sampai di rumah Flora. Setelah memarkirkan mobil itu keduanya segera turun dari dalam mobil.


Daniel lebih dulu turun dari dalam mobil. Ia berjalan memutar ke sisi lain untuk membukakan pintu untuk Maura.


Saat masuk ke dalam rumah Flora, keduanya kembali menyatukan tangan mereka, mengisi setiap ruang pada sela jari mereka.


"Selamat sore," sapa Maura saat mereka sudah ada di dalam rumah Flora.


"Maura ... kapan kamu pulang?" tanya Flora


"Baru tadi pagi aku pulang," jawab Maura.


"Di mana keponakanku? Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya," ucap Maura.


"Dia ada di kamarnya," jawab Flora.


"Boleh aku melihatnya?" tanya Maura.


"Tentu saja," jawab Flora.


Maura sudah ingin bertemu dengan bayi kecil itu. Ia langsung menghampiri bayi kecil yang memiliki nama Felicia.


Cukup lama Maura dan Daniel berada di rumah Flora. Maura juga sudah puas melihat Felicia. Anak dari Diki Wirawan itu pun pamit untuk kembali pulang.


"Jaga dirimu, Maura," ucap Flora.


"Kamu juga jaga dirimu. Dan sekali lagi selamat karena kamu sudah menjadi ibu," ucap Maura.


"Kamu juga harus cepat menyusul," ucap Flora.

__ADS_1


"Doakan kami ya," ucap Maura.


"Tuh Daniel ... kode keras tuh buat kamu," ledek Flora.


"Kami pulang dulu ya," pamit Maura.


"Hati-hati di jalan." Flora melambaikan tangannya ke arah Daniel dan Maura yang sudah masuk ke dalam mobil.


Waktu sudah menunjukan pukul 6 sore. Daniel ingin mengantar Maura pulang ke rumah kedua orangtuanya, tetapi Maura menolaknya. Ia masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan tunangannya itu.


"Bagaimana kalau kita ke apartemenmu. Aku akan memasak makan malam untuk kita nanti," usul Maura.


"Ide yang bagus," ucap Daniel.


Daniel lebih dulu mengarahkan mobilnya ke supermarket di sebelah gedung apartemennya. Mereka harus berbelanja terlebih dahulu sebelum kembali ke apartemen.


Selesai berbelanja, Daniel dan Maura langsung kembali ke apartemen pribadi milik Daniel.


"Jadi ... sekarang kamu mau masak apa?" tanya Daniel. "Aku akan membantumu."


"Tidak usah. Kamu tidak perlu membantuku," larang Maura. "Kamu hanya perlu duduk manis saja."


"Kamu yakin?" tanya Daniel.


"Iya aku yakin." Maura mengangguk penuh keyakinan.


"Baiklah kalau begitu," ucap Daniel.


Daniel meninggalkan Maura sendiri di dapur apartemennya, membiarkan calon istrinya memasak. Sementara dirinya ke ruang tengah untuk menonton acara yang ada televisi.


Lebih dari satu jam Maura berkutat di dapur bersama bahan masakan yang sudah dibelinya. Usahanya tidak sia-sia semua makanan yang ia masak sudah tertata rapi di atas meja makan.


"Ayo kita makan," ajak Maura.


Kini keduanya sudah duduk di meja makan dan mulai makan masakan yang Maura masak.


"Aku sudah sangat kenyang," ucap Daniel. "Terima kasih untuk masakannya."


"Aku tidak menyangka kamu ternyata bisa masak makanan seenak ini," puji Daniel.


"Karena hari ini aku memasaknya dengan penuh cinta," ucap Maura di sambut tawa oleh Daniel.


"Baiklah aku akan membereskan kekacauan yang aku buat di dapurmu," ucap Maura.


"Kali ini jangan larang aku untuk membantumu," ucap Daniel.


"Baiklah, calon suamiku," ucap Maura diikuti tawa kecilnya.

__ADS_1


__ADS_2