
Kenzo sedang berdiri di depan meja kompor dengan menaruh kedua tangannya di pinggang. Dirinya sedang dihadapkan dengan kebingungan. Celemek sudah terpasang di tubuhnya, tetapi dirinya tidak tahu apa yang harusnya dilakukan lebih dulu. Sebelumnya Felicia meminta dibuatkan bubur kacang hijau dan sialnya dirinya tidak tahu cara membuatnya.
"Bagaimana cara membuatnya?" Kenzo menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Dari sikapnya jelas sekali menunjukkan kebingungan.
"Ck, ibu hamil itu ada-ada saja maunya. Untung cinta, kalau tidak ... aku tidak akan mau membuatnya," gerutu Kenzo.
"Bapak lagi apa di sini?" tanya bibi.
Kenzo terkejut saat ada suara tiba-tiba masuk ke dalam indera pendengarannya. Ia menolehkan kepalanya ke asal suara dan mendapati asisten rumah tangganya ada di belakanganya.
"Lagi bingung, Bi?" jawab Kenzo.
"Bingung?" Bibi juga terlihat ikut bingung.
"Iya. Eh iya Bi, di rumah ada kacang hijau tidak?" tanya Kenzo.
"Kacang hijau? Buat apa, Pak?" tanya balik bibi.
Kenzo mendesah, tadi istrinya mencoba menguji kesabarannya dan sekarang tinggal asisten rumah tangganya yang mengunjungi kesabarannya dengan terlalu banyak bertanya.
"Felicia ingin makan bubur kacang hijau dan harus saya sendiri yang membuatnya." Kenzo seraya menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.
"Ya Bapak tinggal buat saja. Kacang hijaunya ada di lemari," ucap Bibi.
"Tapi saya tidak tahu cara membuatnya, Bi." Kenzo menahan geraman dan mencoba untuk bersabar.
"Gampang, Pak. Sini saya ajarin," ucap Bibi.
"Serius, Bi. Tapi tidak ribet, 'kan?" tanya Kenzo.
"Kalau bikinnya pakai hati, tentu saja tidak, Pak," jawab Bibi.
Kenzo memutar bola matanya. Umur asisten rumah tangganya sudah tidak muda lagi, tetapi masih mengerti sama yang namanya hati.
"Pertama kacang hijaunya dicuci dulu, Pak," ucap Bibi.
"Ini silahkan dicuci, Pak." Bibi memberikan wadah berisi kacang hijau kepada Kenzo dan menyuruh majikannya untuk mencucinya.
"Terus saya yang harus cuci kacang hijaunya sendiri." Kenzo melakukan protes saat bibi menyuruhnya untuk mencuci kacang hijau itu sendiri.
"Kan ibu minta Bapak yang membuat bubur kacang hijau itu sendiri. Kalau saya yang melakukannya, sama saja saya yang buat," ucap Bibi.
"Iya, iya." Kenzo mengela napasnya, mencoba untuk menahan rasa kesalnya.
Sedangkan bibi sendiri melipat bibirnya untuk menahan tawanya. Kapan lagi bisa suruh-suruh majikannya seperti itu.
"Habis dicuci terus diapain lagi, Bi?" tanya Kenzo.
"Habis itu kacang hijaunya dimasukkan ke dalam panci presto," jawab Bibi.
"Panci presto-nya di mana, Bi?" tanya Kenzo seraya melihat ke sana-sini untuk mencari keberadaan panci presto.
"Ada di lemari atas, Pak." Bibi menunjuk lemari yang tepat di samping Kenzo.
Kenzo membuka lemari yang ditunjuk oleh bibi lalu mengambil panci presto di dalamnya. Setelah itu Kenzo memasukan kacang hijau ke dalam panci, menambahkan air, gula merah, dan sedikit jahe seperti yang bibi arahkan.
"Sudah, Bi. Lalu apa lagi?" tanya Kenzo.
"Sudah, Pak. Tinggal ditutup dan taruh di atas kompor," jawab Bibi.
__ADS_1
"Iya, Bi." Kenzo kembali melakukan apa yang diminta oleh bibi.
"Jangan lupa kompornya dinyalakan ya, Pak," ledek Bibi.
"Iya, Bi." Kenzo mendesah, semoga dirinya diberikan, kesabaran menghadapai asisten rumah tangganya.
"Sudah, Bi. Terus apa lagi?" tanya Kenzo.
"Sambil menunggu kacang hijaunya matang, Bapak masak santannya, Pak," jawab Bibi.
"Oke, Baiklah. Saat ini aku akan melakukan apapun yang bibi suruh. Asalkan istriku bahagia nantinya," ucap Kenzo.
"Hehehe, kapan lagi saya bisa suruh-suruh Bapak seperti ini," ucap Bibi.
Kenzo kembali melakukan apa yang asisten rumah tangganya suruh. Karena tidak ada santan dari kelapa asli, Kenzo menggunakan santan instan saja.
Beruntung Kenzo memiliki sedikit keahlian memasak, membuatnya tidak kaku untuk memasak.
"Sudah selesai, Bi." Kenzo mematikan kompor setelah santan yang ia masak mendidih.
"Ya sudah selesai, Pak. Tinggal tunggu kacang hijaunya matang," ucap Bibi.
"Matangnya masih lama, Bi?" tanya Kenzo.
"Cuma 30 menit, Pak," jawab Bibi.
Kenzo melihat waktu pada jam dinding yang tergantung di depan dapur. Sekiranya sudah 15 menit kacang hijau ia rebus di dalam panci presto.
"Kalau begitu saya lihat istri saya dulu ya, Bi. Kalau kacang hijaunya sudah matang, panggil saya," pesan Kenzo.
"Baik, Pak," sahut Bibi.
"Sudah merasa lebih baik?" Kenzo mengecek suhu tubuh Felicia dengan menempelkan punggung tangannya di kening Felicia.
"Syukurlah, demamnya sudah turun," ucap Kenzo.
"Ya, aku sudah merasa lebih baik," jawab Felicia.
Felicia menarik tangan Kenzo dan memberikan kecupan di punggung tangannya.
"Aku tidak apa-apa. Jadi jangan khawatir lagi," ucap Felicia.
"Aku akan khawatir jika kamu sakit seperti ini." Kenzo menggenggam tangan Keisha dengan erat.
"Maaf ya sudah membuatmu merasa cemas," ucap Felicia.
"Sudahlah, jangan dipikirkan." Kenzo mengusap kepala Felicia.
"Jadi mana bubur kacang hijau yang aku minta?" tanya Felicia.
"Lima belas menit lagi matang," jawab Kenzo.
"Sebenarnya aku sudah tidak sabar mencicipi bubur yang kamu buat. Tapi ... baiklah aku akan sabar menunggu." Felicia nampak sangat antusias untuk mencicipi makanan yang dibuat oleh suaminya.
"Kamu harus mencicipinya. Aku sudah berusaha dengan keras untuk membuatnya," ucap Kenzo.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu menghentikan obrolan suami-istri itu. Kenzo menoleh ke arah pintu dan menyuruh orang yang ada di balik pintu untuk masuk.
__ADS_1
"Permisi, Pak. Ini vitamin yang Bapak tadi suruh saya beli." Alan memberikan kantong plastik berisi vitamin kepada Kenzo.
"Terima kasih, Alan," ucap Felicia.
"Sama-sama, Bu," balas Alan.
"Oh ya, Alan. Kamu boleh pulang. Istri saya juga sudah merasa lebih baik," suruh Kenzo.
"Baik, Pak." Alan membungkukkan tubuhnya sebelum keluar dari kamar atasannya.
"Selamat malam, Bapak, Ibu," sapa Alan.
"Selamat malam, Alan." Kenzo dan Felicia membalas sapaan Alan bersama-sama.
Setelah Alan keluar dari kamar Kenzo dan Felicia, Bibi datang dengan membawa nampan di tangannya. Asisten rumah tangga itu nampak berjalan dengan hati-hati sambil membawa bubur kacang hijau yang terlihat masih sangat panas.
"Saya bawakan bubur kacang hijau yang Bapak masak, Bu." Bibi menaruh bubur kacang hijau yang dibuat oleh Kenzo ke meja nakas.
"Ini beneran suami saya yang buat, Bi?" Felicia menatap Kenzo penuh rasa curiga.
"Benar, Bu. Ini Bapak yang buat. Buatnya pake hati lagi," jawab Bibi.
"Bibi bisa saja," ucap Felicia.
"Ya sudah, Bibi keluar dulu. Ibu istirahat terus minum obatnya, biar cepat sembuh," ucap Bibi.
"Iya, Bi." Felicia mengangguk untuk merespon perkataan asisten rumah tangganya.
Setelah bibi keluar, hanya tinggal Kenzo dan Felicia di kamar itu. Kenzo mengambil inisiatif untuk menyuapi Felicia.
"Sekarang aku suapin ya. Kamu harus rasakan bubur kacang hijau buatan aku yang pertama." Kenzo menyendok bubur kacang hijau. Sebelum menyuapkan ke Felicia, Kenzo lebih dulu meniupnya.
Setelah memastikan bubur kacang hijaunya sudah dingin barulah Kenzo menyuapkan ke Felicia.
"Hmmm." Felicia menyesap bubur kacang hijau yang Kenzo buat sambil memilah rasa dari bubur itu. "Ini benar kamu yang buat?"
Kenzo melihat mimik wajah Felicia yang nampak aneh. Mendadak tenggorokannya menjadi kering. Pikiran Kenzo juga sudah jelek saja. Ia menduga ada yang aneh dari bubur kacang hijau yang dibuatnya. Jika benar ada yang aneh maka dirinya akan membuat perhitungan dengan bibi.
"Kenapa? Apa rasanya aneh?" tanya Kenzo.
Felicia menggeleng. "Ini enak sekali. Aku tidak yakin kamu yang buat."
"Benarkah? Itu berarti percobaan pertamaku berhasil," seru Kenzo.
"Bukan bibi yang buat, 'kan?" Felicia menatap Kenzo penuh kecurigaan.
"Bukan, Sayang. Memang bibi yang memberitahukan cara membuatnya. Tapi semuanya aku yang mengeksekusinya," jelas Kenzo.
"Terima kasih karena kamu mau repot-repot bikinin aku bubur kacang hijau ini malam-malam seperti ini," ucap Felicia.
"Sama-sama, Sayang. Aku akan melakukan apapun agar aku bisa melihat kebahagiaan di dalam dirimu," ucap Kenzo.
"Itu manis sekali," seru Felicia.
"Mau peluk aku?" Felicia merentangkan kedua tangannya, meminta Kenzo untuk memeluknya.
"Tentu saja. Aku tidak akan bisa menolaknya." Kenzo berpindah tempat duduk agar bisa lebih leluasa untuk memeluk istrinya.
Segini dulu gaes, author-nya lagi gabut.
__ADS_1