
Flora mampir ke tempat Gio setelah keluar dari cafe. Kebetulan jarak dari cafe ke tempat suaminya tidak begitu jauh. Sampai di ruangan kerja Gio ternyata suaminya itu sedang tidak ada, Gio sedang ada di ruangan rapat.
“Kapan suami saya selesai rapat?” tanya Flora.
“Saya tidak bisa memastikan, Ibu,” jawab Susan.
“Ibu silahkan tunggu di ruangan Bapak Gio saja,” ucap Susan.
“Baiklah,” ucap Flora.
“Ibu mau makan atau minum sesuatu?” tanya Susan.
“Tidak, saya masih sangat kenyang,” jawab Flora.
“Baiklah, Bu ... kalau begitu saya lanjutkan pekerjaan saya. Jika Anda butuh sesuatu panggil saya saja,” ucap Susan.
Flora mengangguk, “Terima kasih, Susan.”
Susan keluar dari ruangan kerja atasannya dan kembali ke meja kerjanya. Sedangkan Flora memilih untuk duduk di sofa panjang di ruangan kerja suaminya.
Flora melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah sekitar lima belas menit Flora menunggu suaminya. Rasa kantuk mendadak menghampiri Flora, membuatnya tertidur di sofa itu.
Gio keluar dari ruangan meeting setelah selesai meeting bersama karyawannya yang lain. Gio berjalan bersama Abi dan kembali ke ruangan kerjanya.
Tiba di depan ruangan kerjanya Susan mengatakan jika ada Flora di dalam. Gio langsung masuk ke dalamnya bersama Abi dengan membahas tentang pekerjaan.
Sampai di dalam ruangannya, Gio melihat istrinya tertidur pulas di sofa. Gio pun meminta Abi untuk keluar dari ruangan dan melanjutkan pembahasan mereka.
“Keluarlah, kita lanjutkan besok saja,” perintah Gio.
“Baik, Pak. Saya permisi dulu,” pamit Abi.
Setelah Abi keluar, Gio berjalan menghampiri istrinya. Gio duduk bersimpuh di hadapan Flora, tepat di depan wajah istrinya. Tangan Gio bergerak untuk mengusap sisi wajah Flora, serta menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah Flora.
Tindakan yang dilakukan oleh Gio membuat tidur Flora terusik. Perlahan mata Flora terbuka. Bola mata Flora melihat wajah Gio ada di hadapannya.
“Kamu sudah selesai meeting?” Flora mengambil posisi duduk.
Gio berdiri dan mengambil posisi duduk di samping Flora. Gio membawa Flora masuk ke dalam dekapannya.
“Kamu kenapa tidur di sini? Kamu bisa 'kan tidur di ruang istirahat,” ucap Gio.
“Aku baca majalah terus ketiduran,” jawab Flora diikuti senyumnya.
“Kamu jadi ketemu sama Rossa?” tanya Gio.
“Jadi, selesai ketemu sama dia aku mampir ke sini,” jawab Flora.
“Kalian ngapain saja? Kalian tidak bertengkar seperti dulu waktu kalian baru pertama kali bertemu, 'kan?” tanya Gio.
“Kami hanya makan sama ngobrol,” jawab Flora.
“Ngobrolin apa saja?” Gio bertanya lagi.
“Kepo, mau tahu saja urusan perempuan hamil,” ledek Flora.
“Kamu jadi menyebalkan sekali.” Gio menarik kedua sisi wajah Flora karena merasa gemas.
“Kamu lagi gak mau kepoin mantan kamu, 'kan?” Flora memberikan tatapan tajam kepada suaminya.
“Boleh, Gak?” Gio sengaja ingin menggoda Flora.
“Kamu belum puas dipukul sama pemukul baseball?” Flora melebarkan matanya.
“Uluh, uluh ... menggemaskan sekali kalau cemburu,” ledek Gio dan dibalas cibiran oleh Flora.
Gio melihat pada jam yang tergantung di dinding ruangan itu. Satu jam lagi sudah memasuki jam pulang kerja.
“Kita pulang,” ajak Gio.
“Tapi masih belum waktunya pulang kantor,” ucap Flora.
__ADS_1
“Memang kenapa? Aku bosnya,” ucap Gio.
“Huh, sombong,” cibir Flora.
Gio memberikan kecupan di kening istrinya sebelum beranjak dari sofa. Gio melangkah menuju meja kerjanya untuk membereskan pekerjaannya.
Sesaat setelah itu, Gio menghubungi Abi untuk menyiapkan mobil, karena dirinya dan Flora akan keluar dari kantor.
“Ayo, Sayang,” ajak Gio.
Gio melingkarkan tangannya di sepanjang pinggang Flora, lalu membawanya keluar dari ruangan itu.
“Susan, kamu sudah menyiapkan untuk keberangkatan kita ke Amerika?” tanya Gio.
“Sudah, Pak,” jawab Susan.
“Jangan lupa berkas yang harus kita tunjukkan ke investor itu,” ucap Gio.
“Baik, Pak ... saya sudah menyerahkannya pada pak Abi,” ucap Susan.
“Baiklah saya pulang dulu,” ucap Gio.
“Baik, Pak,” ucap Susan.
“Sampai jumpa Susan,” ucap Flora.
“Sampai jumpa, Ibu Flora,” balas Susan.
Flora dan Gio kembali melangkah. Mereka menuju lift khusus dan turun ke lobi kantor itu. Sampai di lobi, Abi sudah menunggu mereka dengan mobilnya.
Gio dan Flora masuk ke dalam mobil setelah Abi membukakan pintu mobil untuk mereka. Abi berjalan ke sisi lain dan masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
“Abi, antar kami ke rumah sakit,” perintah Gio.
“Baik, Mas,” sahut Abi.
“Loh, kita mau ngapain ke rumah sakit?” tanya Flora.
“Baiklah.” Flora mengangguk.
Flora merasa sangat bahagia suaminya sangat memperhatikan dirinya dan calon anak mereka.
Mobil yang dikendarai oleh Abi melaju di jalanan kota. Waktu yang belum menunjukkan jam pulang kerja membuat laju mobil itu melaju dengan lancar.
Mereka sampai di lobi setelah menempuh perjalanan sekitar empat puluh lima menit. Abi memberhentikan laju mobilnya tepat di lobi rumah sakit. Abi turun lebih dulu untuk membuka pintu mobil untuk Gio.
“Ayo, Sayangku.”Gio mengulurkan tangannya untuk membantu Flora keluar dari mobil.
Setelah itu Gio dan Flora masuk ke dalam rumah sakit dengan tangan yang mereka satukan. Kedua melangkah menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan Dokter Marisa.
Sampai di depan ruangan Dokter Marisa, Gio dan Flora mengantri dengan pasien lainnya. Namun, karena Gio sudah lebih dulu membuat janji, Gio dan Flora langsung diperkenankan untuk masuk lebih dulu.
“Sore, Dokter,” sapa Flora dan Gio secara bersamaan.
“Sore juga, Bapak, Ibu.” Dokter Marisa membalas sapaan Flora dan juga Gio.
“Ada yang bisa saya bantu?’ tanya Dokter Marisa.
“Saya ingin memeriksakan kondisi istri saya dan calon anak kami sebelum kami melakukan penebangan ke Amerika lusa, Dokter,” jawab Gio.
“Baiklah. Ayo ibu Flora ... silakan berbaring di atas tempat tidur,” ucap Dokter Marisa.
Flora melakukan apa yang diperintahkan oleh Dokter Marisa. Dokter Marisa mulai memeriksa Flora dan juga janin dalam kandungan Flora.
“Semuanya baik-baik saja. Sebelum berangkat Ibu Flora harus banyak-banyak beristirahat, jangan melakukan aktivitas yang berat-berat juga,” ucap Dokter Marisa.
“Baik, Dok,” sahut Flora.
Selesai diperiksa, Flora kembali duduk di samping suaminya.
“Masih ada yang mau ditanyakan?” tanya Dokter Marisa.
__ADS_1
“Sepertinya tidak ada, Dok,” jawab Flora.
“Baiklah, Apa Vitaminya masih ada?” tanya Dokter Marisa.
“Sudah habis, Dok,” jawab Flora.
“Baiklah saya buatkan resep untuk menembus vitaminnya,” ucap Dokter Marisa.
Dokter Marisa memberikan kertas putih bertuliskan beberapa Vitamin untuk Flora. “Bisa ditebus di apotik mana saja.”
“Terima kasih, Dok.” Gio menerima kertas resep dari Dokter Marisa.
“Kami permisi, Dok. Sekali lagi terima kasih,” ucap Gio.
“Sama-sama,” balas Dokter Marisa.
Gio dan Flora beranjak dari kursi. Sebelum mereka keluar, keduanya menyalami Dokter Marisa secara bergantian.
*****
Hari yang ditunggu Flora datang, hari itu ia tengah bersiap untuk segera berangkat ke Amerika.
“Apa kamu sudah membawa semua Vitamin kamu?” tanya Gio.
“Sudah, Suamiku. Semuanya sudah siap.” Flora merasa gemas saat suaminya bertanya beberapa kali tentang vitaminnya.
“Kamu sangat menggemaskan,” ucap Flora seraya memeluk tubuh suaminya.
“Ck, kenapa kamu jadi sangat manja,” ledek Gio.
“Memang gak boleh manja sama suami sendiri,” balas Flora.
“Tapi manjanya jangan sekarang.” Gio membalas pelukan istrinya.
“Memangnya kalau mau manja-manjaan sama kamu harus atur jadwal dulu,” cibir Flora.
“Bukan begitu, Sayang. Setengah jam lagi kita akan berangkat ke bandara. Kalau kamu manja-manjaan seperti ini, aku takut kita akan terlambat ke bandara,” ucap Gio.
“Kenapa bisa begitu?” tanya Flora.
“Karena aku tidak bisa main cepat, Sayang.” Gio berbisik di telinga Flora lalu setelahnya Gio memberikan kecupan di leher Flora hingga meninggalkan warna merah di leher sang istri.
Flora terkekeh mendengar perkataan Gio. Flora tahu jelas maksud perkataan yang dilontarkan oleh suaminya.
“Sore-sore jangan mesum deh,” ledek Flora.
“Gak apa-apa 'kan mesum sama istri sendiri,” ucap Gio.
Kini keduanya sama-sama tertawa kecil.
Tok Tok Tok
Ketukan pintu di depan kamar mereka mengalihkan perhatian keduanya.
“Siapa?” tanya Gio.
“Bibi, Pak. Di depan ada mas Abi sama Mbak Susan,” ucap Bibi.
“Baik, Bi. Suruh mereka menunggu sebentar,” perintah Gio.
“Baik, Pak,” sahut Bibi.
Flora dan Gio sama-sama menarik diri dari pelukan itu. Gio membungkukkan tubuhnya untuk mengecup perut rata istrinya.
“Ayo kita berangkat, Nak.” Gio berucap seolah bayi dalam kandungan istrinya bisa merespon perkataanya.
“Kita berangkat, Sayang,” ucap Gio pada Flora.
“Yuk, aku sudah tidak sabar untuk sampai di sana,” seru Flora.
Keduanya keluar dari kamar mereka secara bersamaan, dengan Flora merangkul lengan suaminya dengan begitu manjanya.
__ADS_1