Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Kekhwatiran Flora


__ADS_3

Bunyi alarm di ponsel Gio seolah menggema di kamar hotel yang ditempati oleh Flora dan Gio. bunyi alarm itu berhasil mengusik tidur Flora. Tubuh Flora menggeliat, tangannya terulur untuk mencari ponsel milik sang suami. Flora bangun dan mengambil posisi duduk sebelum mematikan alarm di ponsel suaminya.


Flora melihat waktu yang muncul di layar ponsel suaminya, waktu menunjukan pukul setengah tujuh waktu setempat. Masih ada waktu 3 jam lebih untuk sampai di jam sepuluh.


Flora lebih dulu bangun dan membiarkan suaminya tidur lebih lama. Flora menurunkan kakinya ke lantai dan beranjak ke kamar mandi. Tangan Flora bergerak untuk menggeser pintu kamar mandi lalu masuk ke dalamnya.


Flora berada di dalam kamar mandi selama setengah jam. Banyak hal yang Flora pikirkan selama ia mandi, terutama Daren.


“Jika Daren anak tante Dini, itu berarti Daren adalah kakak kandung Gio,” batin Flora. “Apa Daren sudah tahu mengenai hal itu? Dan apa dia akan menerima itu?”


Mendadak kepala Flora terasa sakit. Ia pun memejamkan matanya sejenak untuk menghilangkan rasa sakit di kepala.


“Sebaiknya aku bicarakan ini dengan Gio saja,” ucap Flora.


Selesai mandi Flora menyambar handuk kimono yang tergantung tidak jauh dari tempatnya mandi.


Flora keluar dari kamar mandi dan lebih dulu memesan sarapan. Diangkatnya gagang telepon di dalam kamar itu untuk menelpon room service untuk memesan sarapan.


Flora kembali meletakan gagang telepon ke tempatnya setelah selesai memesan sarapannya. Senyum Flora mengembang tiap kali melihat suaminya tertidur. Niat ingin menjahili pun muncul di benak Flora.


Flora mendekati suaminya yang masih tertidur. Jari telunjuknya bergerak untuk menyentuh hidung, pipi, dan bibir Gio.


“Sayang ... ayo bangun.” Nada bicara Flora terdengar sangat manja.


Ulah Flora berhasil membuat tidur Gio terusik. Tubuh Gio mulai bergerak. Namun, bukannya bangun justru Gio berpindah posisi, Gio tidur membelakangi Flora.


“Sebentar lagi, Sayang,” ucap Gio.


“Tapi ini sudah jam 8 lebih,” ucap Flora.


“Tapi aku juga masih mengantuk,” protes Gio.


“Baiklah, jangan salahkan aku jika kamu terlambat untuk pergi meeting,” ucap Flora.


Mendengar kata meeting, Gio pun akhirnya mau membuka matanya.


“Berikan aku satu kecupan agar aku semangat. Morning kiss.” Gio memajukan bibirnya memberi isyarat untuk Flora agar menciumnya.


“Jangan macam-macam, ini sudah siang,” ucap Flora.


“Sekali saja, please,” mohon Gio.


“Baiklah, hanya sebentar saja,” ucap Flora yang langsung dianggukki oleh Gio.


“Selamat pagi, Papa Gio,” sapa Flora setelah mengecup bibir suaminya.


Mendengar panggilan mesra dari istrinya, membuat Gio makin bersemangat. Kini giliran Gio yang memberikan kecupan di bibir Flora dan berlanjut ke perut Flora.


“Pagi anak papa,” ucap Gio.


“Mandi sana, aku sudah pesan sarapan juga,” suruh Flora.

__ADS_1


“Baiklah.” Gio menyibakkan selimut lalu turun dari tempat tidur.


Gio melangkah masuk ke kamar mandi, sedangkan Flora melangkah menuju lemari pakaian. Flora mengambil pakaiannya serta mengambil pakaian untuk suaminya.


Beberapa saat kemudian Gio keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk yang melilit di pinggangnya. Rambutnya yang basah membuat wajahnya terlihat segar.


Air liur Flora seolah menetes melihat pemandangan itu. Mendadak hasratnya terpancing melihat dada telanjang suaminya. Namun, Flora berusaha menahan itu.


“Ck, kenapa aku jadi berpikiran mesum sih?” batin Flora.


“Sayang ... kamu kenapa? Kenapa bengong? Apa yang kamu pikirkan?” Gio memeluk tubuh Flora.


Flora merasakan dingin saat sisi wajahnya menempel di dada bidang suaminya.


“Tidak ada apa-apa.” Flora bicara tergagap.


“Aku sudah menyiapkan pakaianmu.” Flora menjauhkan tubuh Gio agar hasratnya tidak kembali terpancing.


“Terima kasih, Sayangku,” ucap Gio seraya mencuri kecupan di pipi Flora.


Gio memakai pakaiannya dibantu oleh Flora. Setelah kemejanya sudah melekat di tubuh Gio, Flora mulai mengaitkan kancing kemeja itu.


“Gio ... ada yang ingin aku tanyakan?” ucap Flora.


“Tentang apa?” tanya Gio.


“Daren,” jawab Flora tanpa ragu.


“Dia anak tante Dini yang itu berarti kamu dan Daren bersaudara? Apa dia tahu tentang itu semua?” tanya Flora.


“Aku juga belum tahu, Flora,” jawab Gio.


“Aku khawatir jika Daren tidak bisa menerima itu dan ... kamu tahu 'kan jika kita yang memasukkan ibunya ke kantor polisi. Aku takut —”


“Sttttt, Flora ... aku tahu apa yang kamu pikirkan! Tapi aku minta jangan pikirkan semua itu. Jujur aku juga belum tahu Daren sudah tahu mengenai hal itu atau belum. Aku akan mencoba bicara dengan Daren nanti,” ucap Gio.


Flora menganggukki perkataan suaminya. “Baiklah.”


Gio melihat kekhawatiran pada wajah istrinya. Gio pun menangkup kedua sisi wajah Flora.


“Jangan terlalu banyak pikiran, Flora. Ini tidak baik untuk kondisi kamu sekarang,” ucap Gio yang langsung dianggukki oleh Flora.


Flora kembali mengaitkan kancing kemeja yang melekat di tubuh Gio.


“Sudah selesai. Pakai celanamu sendiri,” suruh Flora.


“Kamu tidak ingin membantuku untuk itu?” Gio bermaksud menggoda Flora.


“Jangan memancingku, Suamiku.” balas Flora.


Gio menarik pinggang Flora untuk mengikis jarak di antara mereka. Kini mereka hanya dipisahkan oleh kain yang melekat di tubuh mereka masing-masing.

__ADS_1


“Tunggu sampai nanti malam. Aku berjanji akan membuatmu tidak berhenti untuk terus memanggil namaku,” bisik Gio.


“Ck, Gio ....” Flora menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan wajah malunya.


Tok tok tok


Bersamaan dengan itu terdengar ketukan pintu di depan kamarnya.


“Kenapa selalu saja ada yang menganggu,” decak Gio.


“Mungkin itu room service yang akan mengantar sarapan kita. Aku akan membuka pintu dulu.” Flora berjalan menjauh dari Gio untuk membuka pintu.


Setelah istrinya menjauh, Gio melajukan untuk bersiap. Ternyata yang datang bukan hanya room service, tetapi juga Abi dan Susan.


“Silahkan masuk,” ucap Flora.


Petugas room service, Abi, serta Susan masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Flora dan Gio.


“Letakan makanannya di meja saja,” suruh Flora.


“Baik, Nyonya.” Petugas room service menata makanan yang telah dipesan oleh Flora sebelumya ke atas meja. Setelah selesai, petugas room service itu keluar dari kamar itu.


“Kalian sudah siap?” tanya Gio.


“Sudah, Pak,” jawab Abi dan Susan secara bersamaan.


“Sayang, sebaiknya kamu sarapan dulu,” ucap Flora. “Mas Abi, Susan ... apa kalian sudah sarapan?”


“Sudah, Bu.” Abi dan Susan menjawab secara bersamaan.


Gio dan Flora memulai sarapan mereka, sedangkan Abi dan Susan, mereka kembali memeriksa berkas-berkas yang akan mereka tunjukkan pada investor yang akan segera mereka temui.


“Kamu yakin tidak ingin ikut, Sayangku?” tanya Gio.


“Tidak, aku sedang malas untuk keluar,” jawab Flora.


“Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Cepat kabari aku, Susan, atau Abi jika kamu membutuhkan sesuatu,” pesan Gio.


Flora mengangguk, “Baik. Kalian hati-hati dan semoga berhasil.”


“Terima kasih, Sayangku,” ucap Gio.


Gio memberikan kecupan di kening Flora sebelum ia bersama dua bawahnya meninggalkan kamar itu.


Flora mengantar suaminya sampai ke pintu. Setelah suami dan dua bawahannya menjauh, Flora kembali masuk ke dalam kamar.


Entah mengapa perasaan Flora mendadak aneh. Ia merasa khawatir dengan suaminya, apalagi setelah ia melihat tatapan Daren semalam yang nampak sangat aneh.


“Semoga Daren tidak berbuat ulah seperti ibunya,” harap Flora.


Flora mengalihkan pandangannya saat mendengar bunyi pada ponselnya. Flora mengambil ponsel miliknya, ada sebuah pesan di aplikasi ponselnya. Flora pun membuka pesan itu, matanya terbelalak saat melihat isi pesan itu.

__ADS_1


Aku pasti akan menghancurkan hidup suamimu!


__ADS_2