
Aku menyayangimu dan calon anak kita, Feli.
Kalimat yang keluar dari mulut Kenzo beberapa hari yang lalu masih berputar di telinga Felicia. Senyumnya mengembang dan hatinya berbunga-bunga setiap kali mengingat kalimat itu.
"Siapa yang sedang kakak pikirkan hingga membuat Kakak senyum-senyum sendiri?" tanya Gavindra.
"Ck, siapa lagi kalau bukan kakak iparmu." Felicia berucap tanpa sadar.
"Cie, yang sudah mulai jatuh cinta sama Kakak ipar," ledek Gavindra.
"Issssh." Felicia berdesis.
"Mengaku saja jika sebenarnya kakak itu sudah jatuh cinta sama kakak ipar," goda Gavindra.
"Diam kamu." Felicia merobek halaman berkas yang sedang ia periksa sebelumnya lalu mengepalnya menjadi bentuk bulat dan melemparnya tepat mengenai wajah Gavindra.
Gavindra menangkap gumpalan kertas yang baru saja dilemparkan oleh kakaknya. Ia buka gumpalan kertas itu. Keningnya berkerut dan alisnya terangkat sebelah.
"Ini bukannya berkas yang diminta oleh Yuna untuk ditandatangani oleh Kakak," ucap Gavindra.
Mata Felicia terbelalak.
"Hah, mana?" Felicia beranjak dari kursinya dan berjalan memutari mejanya. Ia merebut kertas yang dipegang oleh Gavindra.
"Ya Tuhan!" Felicia menepuk keningnya sendiri.
"Ini semua gara-gara kamu. Aku jadi harus menyalin ini lagi." Mata Felicia memicik tajam ke arah Gavindra yang justru sedang tergelak dengan begitu semangnya.
"Bagaimana aku bisa memiliki adik yang tidak berperasaan seperti kamu," gerutu Felicia.
"Itu takdir, Kakak," ucap Gavindra seraya menahan tawanya.
"Terserah kamu!" Felicia menghentakkan kakinya lalu kembali mendaratkan bokongnya di kursinya.
Gavindra tergelak melihat wajah merah dan raut kesal di wajah kakaknya. "Tenang saja Kakak aku tidak akan membocorkan perasaan kakak pada kakak ipar."
"Aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang kamu katakan," ujar Felicia.
"Itu artinya kakak memang sudah jatuh cinta pada kakak ipar," tebak Gavindra.
Felicia terdiam mendengar perkataan Gavindra. Sejujurnya Felicia merasa bingung dengan perasaannya sendiri pada Kenzo. Dirinya memang merasa nyaman dan bahagia bersama dengan Kenzo, tetapi Felicia merasa ragu untuk menamai perasaanya pada Kenzo sebagai rasa cinta.
"Ck, kenapa harus malu sih, Kak. Jatuh cinta sama suami sendiri itu buka hal yang salah ataupun memalukan," ucap Gavindra.
"Sudah diam. Kenapa kamu teurs saja menyudutkan aku," gerutu Felicia.
"Baiklah aku akan menutup mulutku." Gavindra menggerakkan tangannya di depan bibirnya seolah sedang menguncinya.
"Lebih baik sekarang kamu perhatikan pekerjaanmu. Dan cepatlah gantikan posisiku. Jadi aku bisa cuti lebih awal," ujar Felicia.
"Baik, Bos." Gavindra memberikan hormat pada kakaknya.
Hening mengambil alih suasana di dalam ruangan itu. Keduanya fokus pada pekerjaan mereka. Meskipun begitu Gavindra diam-diam mencuri pandang pada kakaknya yang sedang duduk di hadapannya. Gavindra melihat kakaknya duduk melamun dengan senyuman yang terlukis di bibirnya. Hal itu membuat Gavindra menggelengkan kepalanya seraya menahan tawanya.
Gavindra tahu dengan jelas jika kakaknya sudah mulai mencintai suaminya. Hanya saja kakaknya mungkin masih merasa malu atau juga gengsi untuk mengakuinya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Felicia dan Gavindra. Keduanya menoleh ke arah pintu.
"Masuk," suruh Felicia.
Pintu terbuka dari luar dan munculkan Yuna dari baliknya.
__ADS_1
"Yuna ada apa?" tanya Felicia.
"Permisi, Bu. Ada bapak Wibowo ingin bertemu dengan Anda," jawab Yuna.
"Wibowo? Suaminya Vera. Ada apa dia datang ke mari?" batin Felicia.
"Ada alasan apa beliau datang ke mari? Apa beliau mau menawari kita kerja sama?" tanya Felicia.
"Tidak, Bu. Beliau mengatakan ada urusan pribadi dengan Anda," jawab Yuna.
"Urusan pribadi?" guman Felicia.
Felicia berdiam diri di tempatnya. Ada banyak pertanyaan yang timbul di benaknya.
"Ck, kemarin Vera dan sekarang suaminya? Mau apa lagi sih mereka," batin Felicia.
Jika ingin tahu maksud dari kedatangan Wibowo ke tempatnya maka dirinya harus mau menemuinya.
"Baiklah, persilakan beliau untuk masuk," perintah Felicia.
"Baik, Bu." Yuna undur diri dari ruangan itu.
Pandangan Felicia memperhatikan sekretarisnya sampai bayangan Yuna menghilang di balik pintu ruangan kerjanya. Felicia duduk dengan posisi kaki menyilang dengan jari tangannya mengetuk-ngetuk meja.
"Kak Feli," panggil Gavindra.
"Hmm, ada apa?" Felicia bertanya tanpa melihat ke arah Gavindra. Pandangannya tetap lurus ke arah pintu ruangannya yang masih tertutup.
"Siapa bapak Wibowo?" tanya Gavindra.
"Nanti kamu juga tahu," jawab Felicia.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu kembali terdengar. Felicia dan Gavindra sama-sama melihat ke arah pintu. Pintu ruangan itu mulai terbuka dari luar. Dari balik pintu muncul Yuna dan seorang pria mungkin seumuran ayah mereka berdiri di belakang Yuna.
"Apa dia bapak Wibowo itu?" Gavindra berbisik di telinga Felicia.
"Iya." Felicia berjalan ke hadapan Wibowo setelah menjawab pertanyaan dari Gavindra.
Felicia menghentikan langkahnya sekitar dua langkah di hadapan Wibowo. Ia ulurkan tangannya untuk menyambut kedatangan Wibowo.
"Selamat datang Bapak Wibowo," sambut Felicia.
"Terima kasih Nyonya Ferdinand?" balas Wibowo.
"Maaf, sepertinya ada Anda lupa jika saya sudah menjadi nyonya Evano Pramuja." Felicia sengaja menekan kata-katanya.
"Oh iya, maaf. Mungkin ini faktor umur," ujar Wibowo.
"Tidak masalah. Silahkan duduk." Felicia mempersilakan Wibowo untuk duduk pada sofa yang ada di ruangannya.
Felicia melangkah mengikuti Wibowo dan duduk di sofa single. Posisi duduk Felicia tepat di hadapan Wibowo.
"Ada urusan apa Anda hingga mau menyempatkan waktu untuk menemui saya?" tanya Felicia.
"Bisakah saya mengobrol hanya berdua dengan Anda?" tanya Wibowo matanya melirik ke raja Gavindra.
Gavindra tahu maksud dari perkataan Wibowo. Dirinya langsung menolak untuk keluar dari ruangan itu.
"Saya adiknya," ujar Gavindra.
"Gavindra, tidak masalah. Sekarang keluarlah," suruh Felicia.
__ADS_1
"Tapi, Kak ...." Gavindra akhirnya diam setelah kakaknya sendiri yang mengisyaratkan untuk meninggalkan ruangan itu.
Setelah memastikan hanya ada dirinya dan Wibowo di ruang itu, Felicia mulai membuka pembicaraan mereka.
"Apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya?" tanya Felicia.
"Tolong kendalikan suami Anda. Jangan sampai dia menyakiti istri saya," ucap Wibowo tanpa basa-basi.
"Maaf sebelumnya, saya tidak mengerti dengan perkataan Anda," ucap Felicia.
"Apa Anda tidak tahu jika suami Anda menemui istri saya lalu menamparnya. Istri saya sakit karena itu?" ungkap Wibowo.
Jujur saja Felicia merasa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Wibowo. Felicia benar-benar tidak menduga jika Kenzo bisa melakukan hal kasar seperti itu pada Vera.
"Maafkan saya sebelumnya. Tapi apa Anda tidak bertanya alasan kenapa suami saya melakukan itu?" tanya Felicia.
Kini giliran Wibowo yang terdiam.
"Apa Anda ingin tahu?" tanya Felicia.
"Katakan," suruh Wibowo.
"Bagaimana perasaan anda jika istri Anda disakiti oleh orang lain?" tanya Felicia.
"Saya akan sangat marah dan saya akan membalas orang itu," jawab Wibowo.
"Itulah yang dilakukan oleh suami saya, bapak Wibowo," ucap Felicia.
"Asal Anda tahu ... istri Anda sudah dua kali mencoba mencelakai diri saya. Beruntung saya dan anak dalam kandungan saya masih baik-baik saja," ucap Felicia.
"Dan satu hal yang Anda harus tahu ...." Felicia meredam perkataanya. Ia merasa ragu untuk mengungkapkan pada Wibowo apa yang sudah dikatakan oleh Vera.
"Ada apa? Kenapa Anda berhenti bicara," tanya Wibowo.
"Istri Anda mengatakan jika anak yang ada di dalam kandungannya adalah anak dari suami saya," ungkap Felicia.
"Bagaimana jika itu memang benar? Mengingat hubungan yang pernah terjalin antara mereka dulu?" tanya Wibowo.
Felicia mengepalkan telapak tangannya, ia merasa kesal saat Wibowo menuduh suaminya.
"Saya sangat mempercayai suami saya," tegas Felicia tetapi sepertinya Wibowo masih belum mempercayai hal itu.
"Katakan pada saya, saat malam pertama Anda dengan Vera apakah dia masih suci?" tanya Felicia.
"Ya, dia masih suci," jawab Wibowo.
"Hal itu sudah membuktikan betapa jujurnya suami saya. Jika memang suami saya akan melakukan hal hina seperti itu dengan Vera, tidak mungkin saat Vera menikah dengan Anda dia masih dalam keadaan suci," tegas Felicia.
"Jika Anda meragukan istri Anda itu bukan salah saya ataupun suami saya," ucap Felicia.
"Umur Anda lebih dewasa dari saya ataupun suami saya, harusnya Anda bisa bersikap bijak dalam hal ini," ucap Felicia.
Ucapan Felicia berhasil memojokkan Wibowo, hingga membuatnya tidak bisa lagi bicara apapun.
"Dan satu hal lagi, Anda lah yang harusnya mengendalikan istri Anda. Karena saya yakin suami saya tidak akan pernah bertindak melampaui batasnya," tegas Felicia.
Felicia berdiri dari tempat duduknya dengan menahan amarahnya.
"Maafkan atas sikap saya yang kasar pada Anda. Tapi saya tidak akan terima jika Anda menjelekkan suami saya," ujar Felicia.
"Saya rasa pembicaraan ini sudah cukup sampai di sini. Saya mohon dengan sangat Anda silakan pergi dari sini," suruh Felicia.
Mendapat pengusiran dari Felicia tidak ada alasan untuk tetap berada tempat itu.
__ADS_1
"Sebelumnya saya mohon maaf jika saya sudah mengganggu ketenangan Anda. Saya permisi," pamit Wibowo.
Setelah Wibowo keluar dari ruangan Felicia, adiknya, Gavindra masuk ke dalam ruangan itu dan berkata, " Wah, Kakak aku tidak tahu jika Kakak bisa se-galak itu."