Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Penantian Flora


__ADS_3

Kehidupan, maut, jodoh rezeki, semuanya sudah diatur oleh yang Tuhan. Tidak ada orang yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Seperti yang terjadi pada Flora kini. Flora tidak menduga jika dirinya akan berpisah dengan Gio dengan cara yang seperti itu.


Semua rencana yang sudah ia rancang bersama Gio musnah sudah. Yang ada kini hanya tinggal kenangan manis bersama Gio. Yang menjadi semangat Flora untuk menjalani kehidupannya, bersama buah cintanya bersama Gio yang masih bersemayam di dalam perutnya.


Sudah 4 bulan lamanya Flora kehilangan suaminya. Namun, Flora tidak pernah kehilangan harapan, Flora yakin jika suaminya akan kembali bersama dirinya.


Flora berdiri di tepi pantai dengan memejamkan matanya. Mengingat setiap waktu yang ia habiskan bersama suaminya dulu.


Mata Flora kembali terbuka. Pandangannya mengarah ke lautan yang luas di hadapannya. Tetesan demi tetesan air mata jatuh dan bercampur dengan air laut. Suara dari deburan ombak masuk ke telinganya sedikit menenangkan hatinya.


Flora berdiri tepat di tempat dulu ia pernah menghabiskan waktu bersama Gio, di salah satu pantai di pulau Dewata.


Sudah hampir setengah jam Flora berdiri ditempat itu. Tangannya tidak berhenti mengusap perutnya yang sudah membuncit. Usia kandungan Flora sudah melebihi enam bulan.


Flora sangat berharap sebelum dirinya melahirkan, suaminya akan kembali. Itu adalah harapan terbesar Flora, meskipun tidak tahu harapannya akan terkabul atau tidak, Flora tetap menantinya.



Flora tidak tahu sudah dari berapa saat yang lalu seorang laki-laki memperhatikan dirinya dari balik kaca matanya. Laki-laki itu mengembangkan senyumnya melihat betapa cantiknya wanita hamil itu.


“Bu, Flora ....”


Flora menolehkan pandangannya ke asal suara. Ia melihat Susan sedang melangkah mendekatinya.


“Bu, waktu meetingnya sudah hampir tiba,” ucap Susan.


Flora mengangguk seraya mengusap air matanya. “Ayo, Susan.”


“Ibu, baik-baik saja?” tanya Susan.


“Ya,” jawab Flora.


“Ibu masih keinget sama bapak Gio?” tanya Susan.


Flora mengangguk, “Ya, Susan. Rasanya sangat sulit bagiku untuk melupakan dia.”


“Saya tahu, Bu. Memang sangat sulit melupakan orang yang kita cintai,” ucap Susan.


“Ya, sudahlah ... ayo kita pergi,” ajak Flora.


Flora dan Susan melangkah meninggalkan tepi pantai itu. Kini Flora menjadi pimpinan dari F.G Group menggantikan Gio. Awalnya sangat sulit bagi Flora menjalankan perusahaan peninggalan ayahnya di saat kondisinya yang seperti itu.


Namun, berkat dukungan keluarganya akhirnya Flora mampu melewati masa sulit itu. Lagi pula tidak ada pilihan lain bagi Flora untuk menolak jabatan itu.


Flora tidak mungkin mengabaikan perusahaan peninggalan ayahnya. Flora juga tidak bisa meminta Daniel untuk menggantikan suaminya, karena sepupunya itu juga sudah mulai membangun bisnisnya sendiri.


“Ibu duduk di sini dulu, saya ambil bahan untuk presentasi kita di kamar dulu,” ucap Susan.


“Baiklah. Berikan sandalku,” pinta Flora.

__ADS_1


Sebelum pergi Susan menaruh sandal milik Flora tepat di bawah kaki Flora.


“Saya permisi dulu,” pamit Susan yang segera dianggukki oleh Flora.


Flora duduk di sofa yang ada di ruang tunggu hotel. Matanya memandang orang yang sedang berlalu lalang di hotel itu.


Flora merogoh tasnya untuk mengambil ponsel miliknya. Senyumnya mengembang saat melihat foto suaminya yang sedang tersenyum. Hanya itu penyemangat baginya.


“Aku sangat merindukan dirimu,” batin Flora.


“Eh!”


Flora terkejut saat ada yang menyenggol tangannya membuat ponsel dalam genggamnya terjatuh.


“Hei, apa yang kamu lakukan. Apa kamu tidak bisa melihat.” Flora merasa kesal saat orang yang menyenggolnya pergi begitu saja.


“Ck, ke mana jatuhnya ponselku?” Flora membungkuk untuk mencari ponselnya, tetapi terhalang oleh perutnya yang sudah membuncit.


“Ya ampun!”


Flora melihat ke sana ke mari mencari seseorang yang bisa membantunya.


“Ini ponsel milik Anda.”


Flora terterbengong melihat seorang laki-laki berjongkok di hadapannya seraya menyodorkan ponsel miliknya. Flora termenung sesaat melihat bola mata coklat yang sangat mirip dengan Gio.


“Gio ...,” gumam Flora.


“Anda baik-baik saja, Nyonya?” tanya laki-laki itu.


Flora tidak merespon pertanyaan dari laki-laki. Flora justru terpaku dengan bola mata coklat milik laki-laki itu yang sangat mirip dengan bola mata Gio.


“Nyonya ... halo ....” Laki-laki itu mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan wajah Flora, hingga membuat Flora terkejut.


“Gio.” Flora yang terkejut reflek menyebut nama Gio.


Laki-laki itu pun sebenarnya terkejut saat Flora menyebut nama Gio, tetapi laki-laki itu mencoba untuk bersikap biasa saja.


“Maaf, Nyonya ... ini ponsel Anda,” ucap laki-laki itu.


“Maaf sekali. Melihat matamu mengingatkan aku pada seseorang,” ucap Flora seraya menerima ponsel yang diberikan oleh laki-laki itu.


“Tidak apa-apa, Nyonya,” balas laki-laki itu.


“Ibu Flora, ayo kita pergi!” ucap Susan.


Flora dan laki-laki itu menolehkan pandangannya ke arah Susan.


“Ayo, Susan.” Flora menggerakkan kakinya. Namun, karena tergesa-gesa Flora tidak sadar jika satu sandal miliknya tergeser oleh ke hadapan laki-laki itu.

__ADS_1


“Ya ampun ke mana sandalku yang satu lagi? Kenapa sepertinya benda-benda di sekitarku bisa bergerak sendiri,” gerutu Flora.


Laki-laki itu hanya tersenyum melihat kekesalan Flora. Diambilnya sandal milik Flora yang ada dihadapannya lalu memakainya ke kaki Flora.


Flora tersentak dengan perlakuan laki-laki asing yang ada dihadapan.


“Terima kasih.” Nada bicara Flora tergagap.


“Susan, tolong bantu aku berdiri,” pinta Flora.


“Nyonya, tas Anda.” Laki-laki itu memberikan tas milik Flora kepada Flora.


Flora menepuk keningnya saat ia melupakan barang yang penting miliknya.


“Terima kasih,” ucap Flora.


Flora melangkah meninggalkan tempat itu menuju ruangan meeting. Flora menarik napas kemudian kembali menghembuskannya kembali saat akan masuk ke dalam ruang meeting.


“Anda baik-baik saja, Bu Flora?” tanya Susan saat melihat kegugupan atasannya.


“Aku hanya gugup. Ck, aku tidak mengerti kenapa aku seperti ini. Ini bukan pertama kali aku melakukan presentasi, tapi kenapa aku merasa gugup seperti ini?” Flora menggelengkan kepalanya.


Susan hanya tersenyum melihat kegugupan atasannya. Setidaknya dengan merasa gugup, atasannya tidak menunjukkan rasa sedihnya.


“Doakan aku semoga aku bisa membacakan presentasi dengan baik, Susan,” ucap Flora.


“Beres, Bu.” Susan menunjukkan ibu jarinya pada Flora.


“Maaf, Mba ... saya terlambat,” ucap Abi.


“Ck, kamu ini suka sekali sama yang namanya terlambat,” omel Flora yang langsung ditanggapi kekehan oleh Abi.


Di ruangan itu ada beberapa pimpinan dari beberapa perusahaan. Semua laki-laki dan hanya Flora sendiri yang merupakan seorang perempuan.


Awalnya ada banyak pembicaraan di antara orang-orang yang ada di ruangan itu. Namun, saat ada dua orang laki-laki yang masuk ke ruangan itu, suasana menjadi hening.


Semua orang bangun untuk menyalami seorang laki-laki paruh baya yang terlihat sangat berwibawa. Dia adalah pemimpin dari rapat itu, Mahendra.


“Selamat siang semua?” sapa Mahendra.


“Selamat siang juga, Pak Mahendra.” Semua orang balas menyapa Mahendra.


“Silahkan duduk semua. Sebelum kita memulai ini semua, saya ingin memperkenalkan calon menantu saya. Dia yang akan menggantikan posisi saya memimpin perusahaan yang sedang saya pimpin saat ini.”


“Elang Ardiansyah.” Mahendra memperkenalkan calon menantunya kepada semua orang yang ada di ruangan itu.



Flora ternganga melihat laki-laki yang kini ada di hadapannya. Laki-laki yang bertemu dengannya di ruang tunggu hotel.

__ADS_1


Sama halnya dengan Flora yang sedang melihat ke arah Elang, Elang pun melihat ke arah Flora dengan menunjukkan senyumnya.


__ADS_2