Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Dua Ratus Dua Puluh Empat


__ADS_3

Hujan deras di pagi hari mengguyur ibu kota. Hawa dingin seolah turun bersama air yang turun dari langit, membuat orang malas untuk bangun, termasuk juga Kenzo dan Felicia. Setelah semalam Felicia tidak demam lagi, Kenzo merasa sangat lega dan bisa tidur dengan nyenyak hingga esok harinya.


Harusnya suara alarm dari jam weker yang ada di meja nakas membuat Kenzo dan Felicia terbangun dari tidur mereka. Namun, ketika hawa dingin terasa hingga menusuk tulang membuat mereka enggan untuk bangun.


"Sayang, kenapa jadi begitu dingin?" tanya Felicia dengan matanya yang masih terpejam.


"Mungkin karena turun hujan," jawab Kenzo.


Felicia menarik selimut sampai batas leher agar tubuhnya terasa hangat, tetapi hawa dingin itu masih tetap terasa.


"Aku akan mematikan AC-nya dulu," ucap Kenzo yang langsung dianggukki oleh Felicia.


Kenzo bangun dan mengambil posisi duduk. Ia juga mengucek matanya menggunakan punggung tangannya lalu mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan remote AC. Setelah menemukannya segera Kenzo mengambil remote yang ada di meja nakas. Salah satu tombol yang ada di remote, Kenzo tekan untuk mematikan alat pendingin di kamarnya.


Kenzo kembali merebahkan tubuhnya setelah mematikan pendingin kamarnya dan menaruh remote ke tempat semua. Ia kembali memeluk tubuh Felicia dan kembali menarik selimut sampai batas lehernya.


Baru saja Kenzo akan memejamkan matanya, ponselnya mendadak berdering. Rasanya Kenzo ingin memaki orang yang mengganggunya di pagi yang dingin.


"Ck, siapa orang yang mengganggu tidurku," gerutu Kenzo.


"Jangan begitu, angkat saja. Mungkin itu panggilan penting," suruh Felicia.


"Aku akan mengambilnya." Felicia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya lalu ia turun dari ranjang untuk mengambil ponsel Kenzo yang ada di atas meja rias. Namun, baru Felicia akan bangun Kenzo mencegahnya.


"Jangan, biar aku saja. Kamu tetap di sini," cegah Kenzo.


Kenzo menyibakkan selimut lalu beranjak ke dari tempat tidur. Hawa dingin langsung terasa di kakinya saat kakinya berpijak di lantai.


Ponselnya masih terus berdering saat benda pipi itu berada di tangan Kenzo. Ada nama Alan di layar ponsel itu, tidak menunda lagi Kenzo segera menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari asisten pribadinya.


"Halo," ucap Kenzo saat benda pipih itu berada di dekat telinganya.


Setelah beberapa saat bicara dengan Alan di sambungan telepon, Kenzo mengakhiri sambungan teleponnya. Setelah menaruh kembali ponselnya ke meja nakas Kenzo bergegas mengambil handuk di dalam lemari.


"Ada apa? Kenapa terburu-buru seperti itu?" Felicia bertanya saat melihat suaminya berjalan dengan terburu-buru.


"Investor yang baru datang kemarin akan pergi ke luar negeri. Jadi dia meminta untuk bertemu sebelum dia pergi," jawab Kenzo.


"Baiklah, jangan terburu-buru seperti itu," ucap Felicia.


"Penerbangannya pukul 1 siang. Jadi aku harus sampai ke bandara sebelum pukul 10, Sayang. Aku hanya punya waktu tiga jam saja." Kenzo membuka lemari dan mengeluarkan setelah jasnya. Karena terburu-buru Kenzo tidak sengaja menjatuhkan pakaiannya.


Felicia menggelengkan kepalanya melihat apa yang telah dilakukan suaminya. Dirinya langsung beranjak dari tempat tidur dan mengambil alih untuk menyiapkan keperluan suaminya.


"Sini biar aku saja. Jika kamu terus menjatuhkan pakaianmu seperti ini, semuanya akan kotor," ucap Felicia.

__ADS_1


"Mandilah, aku yang akan menyiapkan pakaianmu," ucap Felicia.


"Tapi kamu —" Ucapan Kenzo dipotong oleh Felicia.


"Aku tahu kamu pasti akan menyuruhku untuk beristirahat. Ck, tapi ini bukan pekerjaan berat. Jika kamu terlalu memanjakan aku, aku bisa menjadi seperti babi pemalas." Felicia berucap seraya mengerucutkan bibirnya.


"Baiklah, lakukan apa yang kamu suka. Tapi jika kamu sudah merasa lelah, istirahatlah," pesan Kenzo.


"Baiklah." Felicia kembali ceria setelah suaminya mengizinkan dirinya untuk melakukan sesuatu.


"Baiklah, Suamiku," seru Felicia.


"Aku mandi dulu." Kenzo melangkah menjauh dari Felicia dan masuk ke dalam kamar mandi.


Felicia masih memandang tubuh Kenzo sampai bayangan suaminya menghilang di balik pintu kamar mandi. Setelah itu Felicia merapikan pakaian yang dijatuhkan oleh suaminya dan memasukannya kembali ke dalam lemari.


Satu setel jas dan pakaian dalam milik suaminya sudah Felicia siapkan dan menaruhnya di atas tempat tidur. Sambil menunggu suaminya selesai mandi, Felicia keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya.


Langkah Felicia menuju ke dapur, ia membuat sandwich telur dan kopi untuk suaminya. Setelah selesai, Felicia membawa makanan yang ia buat ke kamar. Karena tangannya penuh, Felicia membuka pintu dengan menggunakan sikunya. Namun, ternyata kenzo membantu dengan membukakan pintu dari dalam.


"Ini sarapannya." Felicia meletakan nampan ke meja yang ada di sudut kamarnya.


"Kamu yang membuat ini?" Kenzo melihat secangkir kopi dan dua buah sandwich yang di meja.


"Iya," jawab Felicia.


"Sudah aku bilang jangan terlalu lelah. Kamu baru saja sembuh," ucap Kenzo.


"Ini tidak melelahkan, Suamiku." Felicia bicara sambil memasang dari ke leher Kenzo.


"Sudah selesai," ucap Felicia.


"Terima kasih," ucap Kenzo.


"Sama-sama," balas Felicia.


Padahal memasangkan dasi sudah selesai, tetapi Kenzo tidak berniat untuk melepaskan Felicia. Dirinya masih betah memandangi wajah istrinya setelah bangun tidur. Cantik alami, dua kata yang pas untuk menggambarkan penampilan istrinya.


"Kenzo, lepaskan. Bukankah kamu harus bergegas," ucap Felicia.


"Sebentar lagi saja. Aku masih ingin melihat wajahmu," tolak Kenzo.


"Setelah pulang bekerja, kamu bisa memandangi aku sepuasnya," ucap Felicia.


"Tapi wajah ini hanya bisa aku lihat saat kamu baru bangun tidur," ucap Kenzo.

__ADS_1


"Aku suka dengan wajah ini. Cantik-nya begitu alami," puji Kenzo.


Pujian yang Kenzo berikan membuat wajah Felicia memerah dan menjadi salah salah tingkah. Wajahnya Felicia benamkan ke dada Kenzo untuk menyembunyikan wajahnya yang merah.


"Berhentilah menggodaku," ucap Felicia.


"Aku tidak menggodamu. Aku hanya mengatakan yang sejujurnya." Kenzo memeluk tubuh Felicia dan menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Felicia.


Keduanya masih betah memeluk satu sama lain. Saling menunjukkan cinta mereka dari pelukan itu.


"Kenzo, geli." Felicia tertawa karena merasa geli saat Kenzo menciumi lehernya. Bukan hanya mencium, tetapi Kenzo juga memberikan gigitan kecil di lehernya.


"Kenzo, hentikan." Felicia benar-benar sudah tidak tahan dengan ulah suaminya, ia pun melepaskan pelukannya dari suaminya dan berniat pergi.


Namun, tidak semudah itu untuk Felicia pergi. Kenzo menahan pinggang Felicia dengan sangat erat.


"Kenzo ...." Felicia menundukkan wajahnya, ia tidak kuat melihat tatapan Kenzo yang menggoda itu.


"Ka-mu harus sa-rapa-n. Ji-ka tidak kamu bisa ... hmmmmp." Felicia belum menyelesaikan ucapannya, tetapi Kenzo lebih dulu membungkam mulut Felicia dengan ciumannya.


Ciuman lembut yang Kenzo berikan membuat Felicia lama-lama terbuai. Tangan yang tadinya ada di dada Kenzo merayap naik dan melingkar di leher Kenzo. Tidak menunda lagi Felicia membalas kecupan yang Kenzo berikan. Mata Felicia pun mulai terpejam, menikmati ciuman yang diberikan oleh Kenzo.


Ciuman yang awalnya lembut makin lama kian menuntut. Kenzo meninggalkan bibir Felicia dan turun ke lehernya.


Tin tin tin


"****." Kenzo mengumpat saat suara klakson mobil mengganggu kebersamaannya dengan Felicia.


Tidak perlu melihatnya secara langsung, Kenzo dan Felicia tahu siapa yang membunyikan klakson mobil.


"Sepertinya Alan sudah datang," ucap Felicia.


"Aku akan memberinya pelajaran nanti karena sudah berani mengganggu kita," ucap Kenzo.


"Jangan seperti itu." Felicia menahan tawanya saat melihat wajah kesal suaminya.


"Ck, jika seperti ini kamu bisa melenyapkan aku." Kenzo yang menjauhkan kepalanya di pundak Felicia, menyembunyikan wajah frustrasinya.


Felicia sendiri terkikik geli melihat tingkah suaminya. Kondisi Kenzo saat itu seperti orang yang hidup segan, matipun tak mau.


"Sayang, kita masih memiliki banyak waktu untuk berduaan," ucap Felicia.


"Sekarang kamu sarapan dan pergilah. Jangan sampai terlambat," ucap Felicia.


"Hmmmm, sepertinya aku harus bersabar sampai nanti malam," ucap Kenzo disambut tawa oleh Felicia.

__ADS_1


"Aku pasti akan menunggu." Felicia mencuri satu ciuman di bibir Kenzo yang berhasil mengembalikan semangat dalam diri Kenzo.


Maaf gaes up nyicil. Lagi menikmati liburan, hihihi


__ADS_2