
Setelah mengganti pakaiannya yang basah Kenzo kembali ke ruang UGD. Ia melihat istrinya masih terbaring di brankar di ruangan itu, tetapi selang oksigen sudah dilepas dari hidungnya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Kenzo seraya mengusap kening Felicia.
"Jangan khawatir, jika ada aku di sini istrimu akan baik-baik saja," jawab Kenzi.
"Aku tidak bertanya padamu," ucap Kenzo.
"Ck, kakakku galak sekali." Kenzi menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya jika orang yang ada di hadapannya adalah kakaknya.
Kenzo memutar bola matanya karena merasa jengah dengan sikap Kenzi, sedangkan Felicia dibuat tertawa oleh sikap adik dari suaminya itu.
"Oh iya, aku sudah pesan kamar untuk istrimu. Mungkin sebentar lagi dokter akan memindahkan istrimu ke sana," ucap Kenzi.
"Terima kasih Kenzi. Kamu memang baik," ucap Felicia.
"Ayolah kakak ipar, aku ini adik iparmu. Jadi jangan sungkan padaku," ucap Kenzi.
"Jangan berterima kasih atau memujinya. Kepalanya bisa bertambah besar nantinya," ejek Kenzo.
"Issh, kamu jangan seperti itu," bela Felicia.
"Baiklah lupakan tentang aku. Sekarang katakan kenapa kamu bisa tercebur ke kolam berenang?" tanya Kenzi.
"Soal itu ...." Felicia diam sejenak untuk mengingat apa yang sebelumnya terjadi sebelum dirinya jatuh ke dalam kolam.
"Waktu itu aku merasa haus. Aku tidak ingin mengganggu Kenzo jadi aku berniat untuk mengambil minum sendiri. Tapi saat aku berjalan di pinggir kolam mendadak kepalaku terasa pusing," jelas Felicia.
"Pusing? Aku sudah bilang sebelumnya untuk tidak pergi ke acara itu. Tapi kami tetap memaksa." Kenzo menyela ucapan Felicia.
"Dengarkan aku dulu," pinta Felicia.
"Waktu itu kepalaku memang pusing. Tapi aku yakin saat melangkah ada yang mencekal kakiku hingga membuat aku tercebur ke dalam air," jelas Felicia.
"Mencekal kakimu?" Kenzo mengulangi ucapan Felicia.
"Iya, aku sangat yakin dengan hal itu," jawab Felicia penuh keyakinan.
"Ck, hari ini aku merasa sial sekali. Tadi siang ada yang mendorongku di trotoar hingga aku jatuh dan lututku terluka. Sekarang ada yang mencekal kakiku, membuatku terjebur ke dalam kolam berenang," keluh Felicia.
Kenzo dan Kenzi saling beradu pandang. Dari pandangan itu jelas mereka mengisyaratkan sesuatu.
Pembicaraan mereka terhenti saat ada perawat yang mengatakan akan memindahkan Felicia ke ruang rawatnya. Kenzo memindahkan Felicia ke kursi roda. Setelah itu ia mendorong istrinya keluar dari ruangan itu.
"Pergilah dulu, nanti aku menyusul kalian. Aku pergi dulu untuk mencari makanan untuk kita," pamit Kenzi.
*****
Kenzo masih setia menemani Felicia. Kini mereka sudah berada di ruang perawatan yang disiapkan untuk Felicia. Kenzo tidur di samping istrinya dan menjadikan tangan kirinya sebagai bantal.
Keduanya merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang ukuranya kecil. Itu membuat mereka tidur berdekatan. Tidak ada jarak di antara mereka. Hanya kain yang menempel di tubuh mereka yang menjadi penghalang.
__ADS_1
Sudah setengah jam keduanya merebahkan tubuh mereka dengan posisi seperti itu. Istrinya juga tidak membiarkan dirinya berada jauh. Kenzo merasa istrinya menjadi manja.
Apapun sikap istrinya saat itu Kenzo sama sekali tidak merasa keberatan. Apalagi ada calon anaknya di dalam kandungan istrinya. Mulai saat itu Kenzo berjanji pada dirinya sendiri, apapun yang istrinya inginkan sebisa mungkin akan ia kabulkan. Seperti saat itu Kenzo merelakan dadanya dijadikan bantal oleh istrinya.
Pandangan Kenzo mengarah ke atas, melihat langit-langit ruangan itu. Tangannya sibuk mengusap pundak Felicia. Pikirannya melayang memikirkan tentang kehamilan Felicia.
Masih teringat jelas di kepala Kenzo jika dokter mengatakan kehamilan Felicia sudah memasuki Minggu ke empat. Itu berarti setelah malam pertama mereka benihnya sudah mulai tumbuh di rahim istrinya.
Namum, timbul pertanyaan dalam diri Kenzo.
Apakah dengan sekali melakukan hubungan suami-istri Felicia bisa hamil?
Apakah malam itu dirinya dan Felicia melakukan hubungan suami-istri lebih dari sekali?
Kenzo berdecak saat dirinya tidak bisa dengan jelas mengingat malam pertamanya dengan Felicia.
Sudahlah untuk apa dipikirkan? Yang terpenting benihnya sudah tumbuh di dalam rahim istrinya.
Kenzo menghela napasnya untuk mengakhiri lamunannya. Ia menoleh ke arah istrinya, ternyata Felicia sudah tertidur. Tidurnya sangat nyenyak hingga Kenzo tidak tega untuk membangunkannya.
Klek
Kenzo mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang terbuka dari luar. Muncul Kenzi dari baliknya.
"Aku bawakan makanan untuk kalian ...." Kenzi meredam ucapannya saat melihat Kenzo dan Felicia sedang dalam posisi yang mesra.
"Ck, kalian membuatku merasa iri saja?" ujar Kenzi.
"Maaf." Kenzi bicara tanpa mengeluarkan suara.
Kenzo memindahkan kepala Felicia ke atas bantal. Setelah itu Kenzo bangun secara perlahan agar tidak membangunkan Felicia. Kakinya melangkah menuju sofa, tempat Kenzi duduk.
"Aku bawakan makanan." Kenzi meletakan bok putih berisi makanan untuk saudara kembarnya ke atas meja yang ada di sudut ruangan itu.
"Hmmm," ujar Kenzo.
Kenzo membuka bok makanan yang dibeli oleh Kenzi. Nasi goreng seafood ada di dalam box itu. Kenzo menyendok nasi goreng lalu memasukkannya ke dalam mulut.
"Kamu kembalilah ke acara reuni. Aku akan menunggu Felicia di sini," suruh Kenzo.
"Itu gampanglah," ucap Kenzi.
"Oh iya istrimu itu baik-baik saja, 'kan?" tanya Kenzi.
"Iya dia baik-baik saja. Dia hanya syok dan ...." Kenzo meredam perkataanya.
"Dan apa?" Kenzi menunggu jawaban dari saudara kembarnya.
Kenzo menelan makananya lebih dulu. Nampak Kenzo menarik napasnya dalam-dalam untuk mempersiapkan dirinya jika nantinya Kenzi meledeknya.
"Hei!" Kenzi menyenggol lengan Kenzo dengan tangannya. "Ada apa? Kenapa diam?"
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya dengan istrimu? Dia tidak kenapa-kenapa, 'kan?" Kenzi kembali bertanya pada Kenzo.
Kenzo menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Padahal hanya mengatakan jika Felicia hamil, tetapi rasanya kenapa begitu susah.
"Ada apa sih?" Kenzi menaikan satu alisnya melihat ekspresi wajah Kenzo. Dirinya makin penasaran dengan keadaan kakak iparnya yang sesungguhnya.
"Felicia ... hamil," ungkap Kenzo.
Kenzi terbatuk-batuk karena tersedak air liurnya sendiri. Ia merasa terkejut dengan perkataan Kenzo. Akan tetapi tidak dipungkiri ada perasaan bahagia dalam diri Kenzi.
"Hah ... Felicia hamil?" Kenzo bertanya pada Kenzo untuk memastikan apa yang baru saja didengarnya tidak salah.
"Ck, apa ada masalah dengan pendengaranmu?" sungut Kenzo.
Senyum Kenzi melebar, ia merasa sangat bahagia mendengar kabar baik itu.
"Kata dokter usia kandungnya sudah memasuki Minggu ke empat," imbuh Kenzo.
"Wah, hebat belum genap dua kalian menikah dan sekarang Felicia sudah hamil. Empat Minggu lagi," ucap Kenzi. "Kalian bekerja keras rupanya."
Sudah jelas jika perkataan Kenzi ditujukan untuk meledeknya.
"Jangan berpura-pura! Kamu dan Gavindra membuat aku kehilangan kendali dengan obat perangsang itu," ucap Kenzo.
Kenzi tergelak jika mengingat keusilan dirinya dan juga adik dari kakak iparnya.
"Hei, sekarang harusnya kamu berterimakasih kepada kami. Berkat kami Kenzo junior akan lahir ke dunia ini," ucap Kenzi.
"Jangan berharap yang berlebihan." Kenzo berucap setengah hati.
"Sudahlah aku akan pergi. Aku tidak akan mengganggu kalian berdua," ucap Kenzi.
Kenzi beranjak dari sofa yang sedang ia duduki. Namun, panggilan dari Kenzo mengalihkan pandangannya.
"Kenzi," panggil Kenzo.
"Ada apa?" tanya Kenzi.
"Aku minta tolong padamu. Cari tahu siapa yang ingin mencelakai kakak iparmu," ucap Kenzo.
Kenzi menaikan satu alisnya. Tiba-tiba wajah Kenzo nampak serius.
"Jangan khawatir. Orang yang ingin mencelakai calon keponakanku tidak akan aku biarkan hidupnya tenang," ucap Kenzi.
"Dan satu lagi ...," ucap Kenzo.
"Apa?" tanya Kenzi.
"Jangan beritahu pada keluarga kita tentang kehamilan Felicia. Kami yang akan memberitahukan kabar baik ini," pinta Kenzo.
"Baik, Bos."
__ADS_1