
Kenzo sedang dibuat bingung oleh sifat dan tingkah Felicia. Semenjak hamil banyak perubahan yang terjadi pada sikap Felicia. Terkadang istrinya menjadi sensitif, dan sangat manja.
Sejak malam Felicia tidak menjauh sedikitpun dari tubuhnya. Istrinya mendekapnya seolah tidak membiarkan dirinya untuk pergi. Kenzo dibuat bingung dan juga gemas pada tingkah istrinya. Meskipun begitu hatinya merasa senang.
Langit berwarna gelap mulai berganti. Malam mulai hilang dan berganti dengan pagi. Kenzo dan Felicia masih tidur di atas kasur yang sama dan saling memeluk, tenggelam dalam indahnya mimpi. Kebersamaan mereka dalam mimpi harus sirna saat suara bising alarm pada jam waker mengusik tidur keduanya.
Kenzo lebih dulu terbangun, ia mengulurkan tangannya untuk mematikan suara gaduh dari jam weker yang ada di meja nakas. Tidak lama setelahnya Kenzo merasakan pergerakan Felicia.
Kenzo merasa tidak rela ketenangan tidur istrinya terusik. Tangan Kenzo yang melingkar di pundak Felicia mengusap lengan perempuan itu berharap bisa memberikan ketenangan dan membuat Felicia terlelap kembali.
Setelah memastikan jika Felicia kembali terlelap Kenzo memindahkan kepala Felicia yang ada di dadanya ke atas bantal. Kenzo melakukan hal itu perlahan agar tidak membangunkan Felicia. Sebelum beranjak dari atas tempat tidur Kenzo lebih dulu memberikan kecupan pada kening Felicia.
*****
Kebimbangan menyelimuti diri Felicia setelah mendengar jika Kenzo akan pergi ke luar kota selama dua pekan. Hatinya langsung mengatakan jika tidak sanggup untuk berpisah dengan suaminya. Kebimbangan itu terbawa Felicia sampai ke alam bawah sadarnya.
Felicia terbangun dari tidurnya saat tangannya tidak merasakan keberadaan Kenzo. Matanya yang tadinya tertutup mulai membuka, rasa kantuk langsung hilang dari diri Felicia.
"Kenzo," panggil Felicia.
Felicia mengucek matanya menggunakan punggung tangannya lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari Kenzo. Saat pandangannya tidak menemukan laki-laki itu, Felicia merasa cemas, ia berpikir Kenzo sudah pergi. Namun, hatinya merasa lega saat mendengar suara aliran air dari dalam kamar mandi.
"Dia sedang mandi rupanya," gumam Felicia.
Sejenak Felicia duduk bersandar pada kepala ranjang. Tidak lama setelahnya Felicia beranjak dari atas tempat tidur. Felicia menuang air putih ke dalam gelas lalu membawanya ke balkon kamarnya.
Felicia minum air putih di tangannya seraya memperhatikan pemandangan perumahan yang ada di sekitarnya. Felicia masih berdiri di balkon kamarnya untuk merenungkan sesuatu. Merenungkan tentang hubungannya dengan Kenzo.
Felicia jelas sudah menyadari akan perasaannya pada Kenzo dan menurutnya Kenzo juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Namun, Felicia malu untuk mengakuinya begitu juga dengan Kenzo. Dirinya menunggu Kenzo yang lebih dulu mengatakan perasaanya.
Akan tetapi mau sampai kapan dirinya memendam rasa itu. Harus ada yang lebih dulu mengungkapkan perasaannya. Setelah memikirkannya Felicia sudah mengambil keputusan, dirinya akan mengungkapkan perasaanya pada Kenzo. Felicia menarik napas lalu menghembuskannya untuk mengumpulkan keberaniannya.
"Felicia."
Suara Kenzo mengusik renungan Felicia. Putri pertama Giovanni Ferdinand itu menoleh ke asal suara, ia mendapati suaminya berdiri tidak jauh dari tempatnya. Felicia melihat Kenzo bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya.
"Sudah selesai mandi," ucap Felicia.
"Apa yang sedang kamu lakukan di situ?" Kenzo melangkah menghampiri Felicia.
__ADS_1
"Selamat pagi," sapa Felicia.
"Pagi juga." Kenzo balas menyapa Felicia.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Kenzo mengulangi pertanyaannya.
"Tidak ada. Hanya sedang merenungkan sesuatu," jawab Felicia.
"Merenungkan sesuatu? Tentang apa?" tanya Kenzo.
"Bukan apa-apa," jawab Felicia.
"Sudahlah ayo cepat masuk. Aku tidak mau ada perempuan lain yang melihat tubuhmu ini." Felicia menarik Kenzo masuk ke dalam kamar mereka.
"Tunggu di sini, aku akan siapkan pakaian untukmu." Felicia menjauh dari Kenzo, ia membuka lemari pakaian untuk menyiapakan pakaian kerja Kenzo.
Felicia mengeluarkan setelan jas dan pakaian dalam milik Kenzo lalu menatanya di atas tempat tidur.
"Terima kasih. Pilihanmu bagus juga." Kenzo memakai pakaian dalam yang Felicia siapkan untuk dirinya.
"Sama-sama. Kalau begitu setiap hari nanti aku yang akan menyiapakan pakaian kerja untukmu," ucap Felicia.
"Tidak usah, biarkan bibi saja yang melakukannya. Kamu istirahat saja," larang Kenzo.
"Tidak masalah. Aku tidak melakukan pekerjaan yang berat," kekeh Felicia.
"Baiklah terserah padamu," ucap Kenzo.
"Oh iya, kamu belum mengatakan jam berapa penerbanganmu," ucap Felicia.
"Sore nanti. Tapi aku harus ke kantor untuk mengecek beberapa berkas," jawab Kenzo.
"Baiklah, kamu bersiaplah. Aku akan siapakah sarapan untukmu," ucap Felicia. "Tapi sebelum itu minum obatmu yang sebelumnya makan. Aku sudah siapkan di atas meja."
"Hmmm," gumam Kenzo.
Felicia keluar dari dalam kamar. Dirinya pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk sang suami.
"Pagi, Bibi," sapa Felicia.
__ADS_1
"Pagi, Bu," sapa balik Bibi.
"Bi, biarkan saya yang membuat sarapan. Aku ingin membuat sarapan kesukaan Kenzo," ucap Felicia.
"Baik, Bu." Bibi memilih menyingkir dari dapur dan membiarkan majikannya untuk memasak.
Setelah berkutat selama setengah jam di dapur nasi goreng seafood kesukaan Kenzo sudah siap. Felicia meminta pada asisten rumah tangganya untuk menatanya ke meja makan. Sementara dirinya kembali ke kamar untuk memanggil Kenzo.
Felicia menekan handel yang terpasang pada papan pintu. Setelah terbuka Felicia masuk ke dalamnya.
"Kamu sudah selesai?" tanya Felicia.
"Sudah. Tapi dasi ini ...." Kenzo menunjukkan dasi berwarna hitam dengan corak garis berwarna putih kepada Felicia.
Felicia tahu apa yang diinginkan oleh suaminya. Ia mengambil dasi dari tangan Kenzo lalu memasangkannya ke leher Kenzo.
"Sebelumnya kamu bisa melakukan hal kecil ini sendiri. Lalu kenapa sekarang kamu selalu menyuruhku memasangkan dasi." Felicia berucap seraya mengikat dari di leher Kenzo.
"Kalau semuanya aku yang melakukannya, lalu apa tugasmu sebagai seorang istri," ucap Kenzo.
"Ck ... kamu selalu saja bicara dengan nada seperti ini padaku. Bicaralah yang lembut padaku." Felicia mengerucutkan bibirnya.
"Kamu tidak ingat ada anak kita di dalam perutku. Bagaimana jika dia mendengarnya," ucap Felicia.
"Jangan gunakan anak kita untuk menguasaiku," ucap Kenzo.
Felicia hanya menyambut ucapan Kenzo yang dingin dengan tawanya. Ia sudah mulai terbiasa dengan perkataan Kenzo yang dingin.
"Selama dua minggu ini kamu bisa bebas. Aku tidak akan mengomel dan merepotkan dirimu," ucap Kenzo.
"Tapi aku lebih suka mendengarmu mengomel dan juga merepotkan aku dari pada aku harus berada jauh darimu," aku Felicia.
"Dasar, sudah pandai menggombal rupanya." Kenzo mengacak-acak rambut Felicia.
Kenzo berbalik, berdiri membelakangi Felicia dengan menghadap ke cermin. Ia mematut dirinya untuk melihat penampilannya sendiri. Saat sedang mengaitkan kancing rompinya Kenzo dikejutkan oleh Felicia yang memeluknya dari belakang.
"Aku mencintaimu, Kenzo," aku Felicia.
Tubuh Kenzo membeku seketika.
__ADS_1