
Flora sedang makan siang saat telepon rumahnya berdering. Flora pun meminta bibi untuk untuk menerima panggilan itu.
“Bi, tolong angkat teleponnya,” suruh Flora.
“Baik, Bu,” sahut bibi.
Flora melanjutkan makan siangnya saat bibi melangkah untuk menerima panggilan itu.
“Bu, ada telepon dari kantornya bapak.” Bibi memberikan gagang telepon keoada Flora.
“Dari kantor?” Flora merasa bingung ada apa orang kantor menelfon ke rumahnya.
“Terimakasih, Bi.” Flora menerima gagang telepon dan mulai berbicara pada seseorang di seberang sana.
Flora terkejut saat orang di kantornya menanyakan keberadaan Gio. Padahal kata bibi, Gio sudah pergi ke kantor dari pagi.
“Baiklah, terimakasih. Saya akan coba untuk mengubungi suami saya,” ucap Flora.
Setelah mengatakan itu, Flora memutus sambungan teleponnya.
“Ke mana Gio?” tanya Flora pada dirinya sendiri.
Flora mengubungi nomor ponsel Gio, tetapi sepertinya Gio sengaja mengabaikannya. Hati Flora merasa cemas karena Gio tidak juga menjawab teleponnya.
Di saat Flora sedang cemas, telinga Flora mendengar klakson mobil yang sering dipakai oleh Gio. Flora segera beranjak dari meja makan dan menuju ke pintu utama rumah itu.
Samar-samar Flora mendengar suara tawa Gio juga seorang perempuan. Flora menghentikan langkahnya saat ada yang membuka pintu utama rumah itu dari luar.
Pandangan Flora langsung bertemu dengan Gio. Hati Flora merasa slait saat melihat Gio berdiri dengan merangkul seorang perempuan.
“Dari mana saja kamu? Orang kantor mencarimu tadi,” ucap Flora.
Gio tidak menjawab, tetapi justru wanita di samping Gio lah yang mengeluarkan kata-kata.
“Jadi ini istri kamu? Terlihat kampungan ya.”
Flora tidak memperdulikan hinaan perempuan itu, yang dia pedulikan hanya suaminya saja.
“Gio, aku bertanya padamu!” ucap Flora.
“Aku bosnya dan aku bebas ke mana pun yang aku mau,” ucap Gio.
“Lalu siapa perempuan ini?” tanya Flora.
“Aku Tina, pacarnya Gio,” sambar Gina.
Mata Flora terbelalak saat mendengar perkataan Tina. Pandangan Flora langsung ia arahkan pada Gio.
“Apa itu benar Gio?” Nada bicara Flora mulai meninggi.
“Kamu sudah mendengar 'kan tadi,” jawab Gio.
“Apa kamu sadar apa yang kamu lakukan ini, Gio?” bentak Flora.
“Turunkan nada bicaramu, Flora!” Gio balik membentak Flora.
Flora merasa tertampar mendengar bentakan Gio.
“Kenapa kalian berdiri di sini.”
Flora, Gio, dan Tina menoleh ke asal suara. Perempuan mungkin seumuran Mariana muncul dari balik tubuh Gio dan Tina.
“Ini loh Tante Dini ada pembantu yang sedang menghadang kita,” hina Tina.
“Jaga bicaramu, Tina," bentak Flora.
Tanpa diduga, Gio mencengkram kedua sisi wajah Flora. Mata Flora yang ber-air melihat kebencian di mata Gio.
“Gio ... sakit,” rintih Flora.
Gio langsung menghempaskan wajah Flora membuat tubuh Flora terpelanting ke belakang. Beruntung ada bibi menahan tubuh Flora, jika tidak, sudah dipastikan Flora akan tersungkur ke lantai.
__ADS_1
“Ibu, tidak apa-apa?” tanya Bibi dan langsung dibalas gelengan kepala oleh Flora.
Pandangan bibi beralih pada Gio. Bibi benar-benar terkejut melihat sikap kasar anak asuhnya dulu berbuat kasar.
“Den Gio kenapa jadi kasar?”
“Bibi jangan ikut campur, pergi ke dapur saja! Pergi!” suruh Dini.
“Bibi pergi saja, aku tidak apa-apa,” ucap Flora.
“Tapi, Bu —”
“Sudah, Bibi pergi saja,” suruh Flora.
Bibi sebenarnya tidak tega melihat Flora diperlakukan kasar oleh ketiga orang itu. Bibi hanya bisa diam dan melihat saja.
“Jadi ini anak dari perempuan penggoda itu? Anak dari wanita yang menyebabkan ibumu meninggal?” Dini mencengkram pipi Flora membuat Flora sedikit meringis.
“Bohong, itu bohong Gio. Bukan ibu yang menyebabkan ibu kamu mengakhirinya hidupnya, tapi rasa bersalahnya pada ayah yang membuatnya memilih jalan yang salah seperti itu,” ucap Flora.
“Bohong Gio, jangan percaya pada perempuan ini. Dia sama seperti ibunya yang suka menggoda laki-laki,” tuduh Dini.
“Jangan bicara seperti itu tentang ibuku. Yang berbohong bukan aku, tapi kamu yang berbohong,” ucap Flora.
Flora menunjukan senyum sinisnya pada Tina. “Jadi kamu yang meracuni pikiran Gio.”
“Jangan bicara sembarangan kamu.”
Plaak
Tamparan keras mendarat tepat di pipi Flora.
“Dasak kamu perempuan tidak tahu diri!”maki Dini.
Dini ingin melayangkan tamparannya kembali ke wajah Flora. Namun, belum sampai pada wajah Flora, tangan Dini ditahan oleh Gio.
“Gio lepaskan tangan tante! Tante mau beri dia pelajaran.”
“Ayo, Tante malas lihat perempuan ini,” ucap Dini.
Dini, Gio, dan Tina berniat pergi. Namun perkataan dari Flora membuat mereka menghentikan langkah mereka.
“Kalau kamu begitu membenciku, kenapa kamu mau menikah denganku, Gio?” tanya Flora.
Gio melangkah menghampiri Flora yang terduduk di lantai. Diraihnya dagu Flora dan mengangkat wajahnya.
“Kamu ingin tahu kenapa aku menikahimu?”
Flora tidak berani menatap raut wajah Gio yang nampak sangat menakutkan.
“Alasanku menikahimu adalah agar aku bisa dengan mudah menyakitimu,” jawab Gio.
Melihat Flora menangis, Gio tersenyum sinis lalu pergi dari rumah itu bersama Dini dan Tina.
Setelah kepergian ketiga orang itu, Flora bangun dan langsung pergi ke kamarnya. Flora mengunci pintu kamarnya dari dalam dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil terisak.
“Kenapa dia tega melakukan ini padaku?”
Flora masih terus menangis dan masih berada di dalam kamarnya. Tidak terasa hampir 3 jam Flora mengurung dirinya di dalam kamarnya, bukan sedang menangis, tetapi memikirkan cara untuk menjauhkan Gio dari tantenya dan Tina. Flora yakin jika tantenya dan Tina itu yang meracuni pikiran Gio.
“Tapi aku tidak bisa melakukanya sendiri, aku butuh bantuan seseorang,” ucap Flora.
Flora mengigit ujung kukunya sambil memikirkan siapa orang yang kira-kira bisa membatu dirinya.
“Daniel? Tidak, aku tidak ingin mengganggunya. Dia sedang membangun hubungan barunya.”
“Ibu? Ibu pasti akan selalu khawatir mengetahui tentang masalahku ini.”
“Abi? Dia anak buah Gio.”
Flora berdecak saat tidak menemukan orang yang bisa membantunya.
__ADS_1
Dalam kebingungannya tiba-tiba ada yang menggedor pintu kamarnya.
“Flora, buka pintunya!"
Flora terlonjak saat mendengar teriakan seseorang di luar kamarnya.
“Nyonya Mariana?”
Dengan segera Flora berlari untuk membuka pintu kamarnya, sebelum Mariana menghancurkan pintu itu dengan kemarahannya.
“Ya, Nyonya,” sahut Flora.
“Bagus! Kamu mengurung diri di dalam kamar, sedangkan suami kamu sedang asik bermesraan dengan perempuan lain di pusat perbelanjaan,” ucap Mariana.
Flora hanya bisa menundukkan wajahnya saat mendengar perkataan Mariana.
Tanpa permisi, Mariana masuk ke dalam kamar Flora dan menutupnya.
“Kamu ada masalah dengan Gio?” tanya Mariana.
Flora ingin menggeleng, tetapi Flora yakin jika Mariana sudah bisa menebaknya.
“Iya,” jawab Flora.
Mariana melihat wajah Flora yang memerah.
“Apa ini perlakuan Gio?” Mariana menyentuh pipi Flora.
“Bukan, Nyonya. Tante Dini yang menampar saya,” jawab Flora.
“Dini, kakaknya mamanya Gio?” tanya Mariana.
“Nyonya kenal?”
“Sangat. Dia adalah wanita ular,” jawab Mariana. “Almarhum mas Farhan pernah mengusirnya dari sini, karena dulu wanita itu pernah menggodanya,” ungkap Mariana. “Huh, saya sangat tidak suka melihat dia ada di sini.”
Flora berpikir sejenak, mungkin Mariana mau membantunya.
“Nyonya, saya ingin menceritakan sesuatu,” ucap Flora.
Dan akhirnya Flora menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Gio.
“Keterlauan Dini. Dia pasti ingin memanfaatkan Gio untuk menguasai harta keluarga ayah kamu,” tebak Mariana.
Mariana sangat yakin dengan tebakannya. Pasalnya ia mengenal Dini semenjak ibunya Gio masih hidup.
“Aku takut Gio akan salah jalan jika terus dipengaruhi oleh tante Dini,” ucap Mariana.
“Kalau begitu kamu juga harus bisa mengendalikan Gio,” ucap Mariana.
“Caranya?”
Mariana berpikir sejenak sebelum membisikan sesuatu di telinga Flora.
Flora nampak mengangguk seakan mengerti apa yang dikatakan oleh Mariana.
“Kamu mengerti, Flora?” tanya Mariana disambut anggukan kepala Flora.
“Bagus! Kamu fokus pada Gio dan saya akan beri pelajaran pada si Dini itu,” ucap Mariana.
“Terimakasih, Nyon—”
“Tante! Panggil saya tante,” ucap Mariana.
Flora mengangguk dan langsung memeluk Mariana. “Terimakasih banyak, Tante. Sekarang aku merasa lega.”
“Ya sudah, kita mulai permainan kita hari ini juga.”
Flora mengangguk dan kemudian bertos dengan mengadu telapak tangan mereka.
Yah pada seuzon sama Mariana nih, hihihi.
__ADS_1