Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Kegilaan Bella


__ADS_3

Jika saja bukan karena istrinya yang memintanya untuk menemui Bella, Gio tidak akan mau menemui perempuan itu. Bukan karena seperti kacang lupa pada kulitnya, hanya saja Gio ingin segera mengakhiri akan bayang-bayang Elang dan Bella dalam dirinya.


Genggaman tangan Gio begitu erat dirasakan oleh Flora. Dalam genggaman tangan itu Flora bisa merasakan rasa kesal suaminya. Bukan maksud Flora memaksa Gio, hanya saja mungkin dengan itu dirinya bisa berterima kasih pada Bella karena sudah menolong Gio.


Kini keduanya sudah berdiri di depan pintu ruang VVIP, ruangan tempat Bella dirawat.


“Ayo, Nak ... masuklah!” ajak ibunya Bella.


Flora dan Gio sama-sama menganggukkan kepala mereka. Keduanya masuk ke dalam ruang rawat inap Bella mengikuti ibunya Bella.


“Bella ... lihat siapa yang datang,” ucap ibunya Bella.


Bella yang sedang duduk termenung di atas tempat tidur menoleh ke arah ibunya. Kebahagian jelas terlihat di wajah Bella saat melihat Gio.


“Elang ....”


Namun, kebahagian itu kembali sirna saat melihat Flora di belakang tubuh Gio. Apalagi saat melihat tangan Gio dan Flora menyatu.


“Nak ... mereka datang ingin menjenguk kamu,” ucap ibunya Bella.


“Suruh wanita itu pergi, Mah. Bella gak mau lihat dia,” ucap Bella.


“Flora pergi ... aku juga pergi,” ucap Gio.


Flora mencoba untuk tersenyum dan mencoba untuk bicara baik-baik dengan Bella. Flora menarik tangannya yang digenggam oleh Gio. Flora pun berjalan ke dekat Bella.


“Bella, aku ingin berterima kasih padamu karena sudah menolong suami aku,” ucap Flora. “Tolong jangan siksa dirimu seperti ini. Kamu harus terima kenyataan ini.”


“Dia Elang, calon suamiku. Bukan Gio, suami kamu,” ucap Bella.


“Aku mengerti kesedihanmu, Bella. Tapi kamu juga harus mengerti, dia adalah Gio, suamiku dan ayah dari anak yang sedang aku kandung ini.” Flora mengusap perutnya yang sudah terlihat besar.


Bella mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat untuk menahan amarahnya. Bella menoleh ke arah Flora seraya menunjukan senyum sinisnya.


“Apa kamu kehilangan akal karena suami kamu meninggal, jadi kamu menginginkan calon suami aku?” tuduh Bella.


“Sekali lagi aku tegaskan, Bella ... aku bukan Elang. Aku Gio,” ucap Gio penuh penekanan.


“Gak! Kamu Elang bukan Gio,” tangkis Bella.


“Dan kamu, Flora! Kamu harus ingat ini ... Gio itu sudah mati! Sekarang dia adalah Elang ... calon suamiku,” teriak Bella.


Flora tidak terima saat Bella mengatakan jika Gio sudah mati. Amarah Flora mendadak datang, membuatnya membalas perkataan Bella dengan berteriak.


“Yang mati itu Elang, bukan Gio,” teriak Flora.


Bella tidak terima dengan perkataan Flora. Bella langsung mengambil gelas kaca di atas meja yang ada sampingnya.

__ADS_1


Dengan penuh amarah, Bella melemparkan gelas kaca itu tepat ke wajah Flora. Akan tetapi Gio menghalanginya, sehingga gelas itu tepat mengenai kepala bagian belakang Gio.


Praaaaank


“Gio!” teriak Flora.


Flora dan ibunya Bella sangat terkejut melihat itu. Apalagi saat kepala Gio terlihat mengeluarkan darah .


“Gio, kamu tidak apa-apa?” Nada bicara Flora terlihat sangat cemas.


“Tidak, jangan khawatir,” ucap Flora lirih.


“Kamu keterlaluan, Bella,” teriak Flora.


Bella terlihat syok saat gelas itu justru mengenai kepala Gio.


“Elang ... kamu tidak apa-apa?” tanya Bella. “Maafkan aku. Aku tidak sengaja ... aku ingin memberi pelajaran pada wanita ini.”


“Jangan menyentuhku, Bella!” ucap Gio. “Dengar! Jika kamu berani berbuat kasar pada istriku lagi ... aku tidak akan memaafkan dirimu.”


“Dan ingat satu hal, Bella. Saat aku masih kehilangan ingatanku ... aku juga sama sekali tidak pernah memiliki perasaan padamu. Jadi ... mulai saat ini dan seterusnya jangan pernah berharap lebih padaku,” ucap Gio penuh penekanan.


“Ini tidak adil bagiku. Aku yang sudah menolongmu,” ucap Bella. “Jika bukan karena aku ... kamu pasti sudah tiada.”


“Aku berterima kasih padamu, Bella karena kamu sudah menolongku, sudah memberikan kehidupan baru untukku. Tapi maaf Bella ... aku tidak bisa membalas perasaanmu,” ucap Gio.


“Tidak! Aku yang berhak atas dirimu. Aku yang sudah memberi nyawa baru,” ucap Bella.


“Tapi istri dan anak aku adalah nyawa bagiku. Tanpa mereka aku tidak akan bisa hidup,” ucap Gio.


“Tidak! Aku tidak akan membiarkan kamu bersama dia, kamu adalah calon suamiku bukan suami dari perempuan itu,” ucap Bella.


“Bella, tenanglah!” ucap ibunya Bella.


“Ayo, Flora ... sebaiknya kita pergi dari sini,” ajak Gio.


Flora mengangguk. “Iya, ayo.”


Gio membawa Flora keluar dari ruang rawat inap Bella. Mereka terus melangkah tanpat mau mendengar panggilan dari Bella, tangis histreris Bella pun tidak mampu untuk menghentikan langkah Gio.


Saat sudah berada di luar ruangan inap Bella, Flora menghentikan langkahnya yang otomatis langsung menghentikan langkah Gio. Flora langsung menangis dan memeluk Gio.


“Maafkan aku. Maaf karena sudah memaksamu untuk bertemu dengan Bella. Jika saja aku tidak memaksamu ... kamu tidak akan terluka seperti ini,” ucap Flora di sela isak tangisnya.


Gio membalas pelukan Flora, mengusap kepala istrinya dengan lembut.


“Sudahlah, jangan dipikirkan. Ini bukan salahmu. Ini juga hanya luka kecil ... jangan khawatir,” ucap Gio.

__ADS_1


“Ayo, kita pulang saja,” ajak Gio.


“Tidak, kamu harus diobati lebih dulu,” ucap Flora.


“Baiklah, ayo,” ucap Gio.


Flora mengajak Gio untuk pergi ke ruang UGD, agar luka di kepala Gio bisa segera diobati. Beruntung luka di kepala Gio tidak seberapa membuat Flora bisa menarik napas lega.


Selesai mengobati luka Gio, pasangan suami-istri itu menuju apotik untuk menebus vitamin Flora.


“Sudah, jangan murung terus,” ucap Gio. “Aku gak apa-apa kok.”


“Aku hanya tidak menyangka jika Bella bisa berbuat seperti itu. Aku ingin menjenguknya, berharap bisa memberikan dia support. Tapi ... kejadiannya malah kacau seperti ini,” ucap Flora.


“Sekarang kamu mengerti, 'kan kenapa aku tidak ingin menemuinya. Aku ingin dia sadar dan menerima kenyataan ini,” ucap Gio.


“Maaf ya, aku tidak akan lagi menyuruhmu untuk menemui dia. Aku juga tidak akan memaafkan dia, jika sesuatu terjadi padamu,” ucap Flora.


“Uluh, uluh, Istriku yang galak.” Gio mencoba menggoda Flora untuk mencairkan suasana, agar Flora tidak terus menyalahkan dirinya.


Saat sedang mengantri di apotik, lagi-lagi Flora dan Gio bertemu dengan ibunya Bella.


“Gio, Flora ....”


Flora dan Gio langsung menoleh ke sumber suara.


“Saya mau minta maaf atas nama Bella,” ucap ibunya Bella. “Luka kamu tidak parah, 'kan?”


“Ya, Tante tidak apa-apa, kok. Lukanya juga tidak terlalu dalam, ” sahut Gio.


“Sebenarnya setelah Elang meninggal dua tahun yang lalu, Bella mengalami depresi. Kami mengirimnya ke Amerika berharap dia bisa melupakan Elang,” jelas ibunya Bella.


“Tapi ternyata kami salah. Dia justru menghidupkan kembali Elang dengan cara seperti ini,” lanjut ibunya Bella.


“Sekali lagi tolong maafkan, Bella,” pinta ibunya Bella.


“Tante, tenanglah ... kami sudah memaafkan Bella. Sampaikan ucapan terima kasihku pada Bella,” ucap Flora.


“Baik, Nak. Kamu perempuan yang baik, pantas saja Gio begitu mencintai dirimu,” puji ibunya Bella.


“Semoga kehamilan kamu lancar sampai hari persalinan.”


“Amin,” seru Flora dan Gio secara bersamaan.


“Ya sudah, saya harus kembali ke kamar Bella. Takut dia bangun,” pamit ibunya Bella.


Flora dan Gio mengangguk bersamaan. Setelah mengambil vitamin untuk Flora, keduanya kembali ke tempat mobil mereka terparkir dan bersama dengan mobil, mereka meninggalkan area rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2