Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Bab 198


__ADS_3

Mata Felicia masih menatap ke arah pintu ruangan kerjanya. Beberapa saat yang lalu Wibowo keluar melewati pintu itu. Di tempatnya berdiri Felicia beberapa kali menarik napas lalu kemudian mengeluarkannya kembali untuk meredam emosinya. Perkataan Wibowo benar-benar sudah membangkitkan emosi dalam dirinya.


"Se-enaknya dia menuduh suamiku seperti itu." Felicia berdiri dengan berkacak pinggang setelah itu dirinya menghembuskan napasnya secara kasar.


Setelah merasa lebih baik Felicia mendaratkan bokongnya pada sofa panjang di ruangannya disusul oleh Gavindra.


"Bagaimana bisa seorang istri berbohong dan suaminya justru mendukungnya," gerutu Felicia.


"Sudahlah Kakak, berhenti mengomel," suruh Gavindra.


"Aku merasa sangat kesal saja, Dek. Kemarin mantan pacar kakak iparmu datang ke sini dan dia bilang jika dia sedang hamil dan itu anak kakak iparmu. Dan sekarang suaminya yang datang ke sini, dia juga mempertanyakan hal yang sama. Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu," ucap Felicia.


"Aku tahu, tapi percuma saja Kakak terus mengomel, kedua orang itu tidak ada di sini. Buang-buang tenaga saja," ujar Gavindra.


"Dan Kakak harus ingat Kakak itu sedang hamil. Jangan banyak marah-marah, itu tidak baik untuk kesehatan Kakak dan calon anak Kakak. Aku juga tidak mau nantinya keponakanku bisa jadi pemarah seperti kakak," ledek Gavindra.


"Berhentilah meledekku," omel Felicia.


"Ck, semenjak Kakak hamil kenapa jadi galak," decak Gavindra.


"Sudah aku bilang berhentilah meledekku. Sekarang cepat selesai pekerjaanmu. Setelah itu temani aku makan siang," perintah Felicia.


"Kenapa harus makan siang bersamaku jika suamimu ada di sini." Gavindra menunjuk Kenzo yang sedang berdiri di dekat pintu dengan matanya.


Felicia menoleh ke arah pintu. Matanya melebar saat melihat sosok suaminya ada di sana.


"Kamu di sini?" Felicia sedikit terkejut melihat suaminya datang ke kantornya.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh datang ke sini?" tanya Kenzo.


"Ck, bukan begitu ...." Felicia beranjak dari sofa untuk menghampiri suaminya.


"Ini masih jam kerja kenapa kamu ada di sini?" tanya Felicia.


"Aku ada rapat di dekat sini. Jadi aku mampir ke sini," jawab Kenzo.


Kenzo masih berdiri di tempatnya dengan memperhatikan wajah istrinya. Sepertinya istrinya sedang merasa kesal.


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat kesal?" tanya Kenzo.


"Tidak apa-apa." Felicia menjawab dengan wajah yang tertunduk.


"Tadi ada laki-laki bernama Wibowo datang ke sini. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan hingga membuat kakakku berubah menjadi singa betina," adu Gavindra.


Felicia memicingkan matanya ke arah Gavindra. Niatan Felicia tidak ingin menceritakan akan kedatangan Wibowo pada suaminya. Felicia merasa takut jika suaminya merasa diragukan lagi, tetapi adiknya justru membocorkannya.

__ADS_1


Felicia masih menundukkan wajahnya. Ia tidak berani menatap wajah suaminya yang Felicia tahu sedang menatap dirinya.


Pandangan Kenzo mengarah pada Felicia yang sedang menundukkan wajahnya. Ia raih dagu Felicia dengan tangannya lalu mengangkat wajahnya.


"Ada sesuatu yang mau kamu katakan?" tanya Kenzo.


Felicia masih tetap tenggelam dalam kebisuan.


"Baiklah sepertinya aku harus meninggalkan kalian." Tidak menunda lagi Gavindra keluar dari ruangan kerja kakaknya.


"Permisi," pamit Gavindra yang langsung dianggukki oleh Kenzo.


Setelah Gavindra keluar Kenzo meraih tangan Felicia. Ia menuntun istrinya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Keduanya duduk bersebelahan pada sofa panjang masih dengan tangan yang menyatu.


Kenzo masih melihat wajah Felicia yang masih tertunduk. Tangannya kembali meraih wajah Felicia, menuntunnya untuk melihat ke arahnya.


"Apa yang orang itu katakan?" tanya Kenzo tanpa mengalihkan pandangannya dari Felicia.


Felicia melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Dirinya belum bisa menjawab pertanyaan dari suaminya. Ucapannya seolah tertahan karena sebuah keraguan.


"Feli, apa kamu mendengarku?" tanya Kenzo.


Felicia menatap mata suaminya, ia mencoba mendorong dirinya untuk bicara.


"Hanya itu?" tanya Kenzo.


Felicia menggelengkan kepalanya.


"Bukan hanya itu." Felicia berucap lirih.


"Apa lagi yang laki-laki itu katakan?" tanya Kenzo.


"Dia juga meragukan dirinya sebagai ayah biologis anak yang sedang dikandung oleh Vera," jelas Felicia.


"Dia menganggapku ayah dari bayi yang sedang Vera kandung?" tanya Kenzo disambut anggukan kepala oleh Felicia.


Kenzo mengela napasnya dengan begitu kasar lalu mengusap wajahnya. "Bagaimana caranya membuat kalian percaya, bukan aku ayah dari anak yang sedang dikandung oleh Vera."


Inilah alasannya kenapa Felicia tidak ingin membahas lagi masalah Vera. Suaminya akan terlihat sangat frustrasi dan Felicia tidak suka itu.


"Kenzo ...." Felicia meraih lengan tangan Kenzo. "Percayalah, aku percaya padamu."


Tidak ada respon dari Kenzo. Suaminya masih terdiam.


"Baiklah lupakan masalah Vera. Sekarang katakan padaku, apa kamu benar sudah menampar Vera?" Rasa penasaran yang dalam ditujukan oleh Felicia melalui ucapannya.

__ADS_1


Kenzo menolehkan pandangannya dari wajah Felicia, sebelum akhirnya kata 'iya' keluar dari mulutnya.


Alis Felicia terangkat sebelah, dirinya merasa tidak percaya dengan pengakuan Kenzo. Bagaimana bisa Kenzo melakukan hal se-kasar itu dengan seorang perempuan, apalagi perempuan itu adalah orang yang pernah menempati hatinya. Namun, tidak dipungkiri Felicia merasa senang. Itu artinya Kenzo benar-benar ingin mengeluarkan Vera dari hidupnya.


"Hah, kamu serius? Bagaimana bisa kamu melakukan hal itu pada Vera?" Felicia menggelengkan kepalanya, ia masih tidak percaya dengan semua itu.


"Apa yang bisa aku lakukan. Saat itu aku merasa sangat kesal padanya. Apa yang dilakukanya sudah sangat keterlaluan. Dia hampir membuatmu dan calon anak kita celaka," aku Kenzo.


Ada senyuman yang terlukis di bibir Felicia. Perkataan yang baru saja suaminya ucapkan membuat hati Felicia berbunga-bunga.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" Kenzo merasa bingung dengan sikap Felicia.


Felicia memajukan wajahnya tepat kehadapan Kenzo, membuat Kenzo memundurkan kepalanya. Kerutan di antara kedua alis Kenzo terlihat saat Felicia menatapnya dengan penuh selidik.


"Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?" Nada bicara Kenzo terdengar gugup.


"Aku melihat kecemasan di wajahmu untukku. Apa kamu sudah mulai mencintaiku," ledek Felicia.


Kenzo mengalihkan pandangannya dari Felicia lalu berdehem untuk menetralkan kegugupannya.


"Jangan terlalu percaya diri. Aku bukan mencemaskanmu, tapi aku mencemaskan calon anakku. Jika kamu kenapa-napa itu juga berimbas pada calon anakku. Lalu apa yang harus aku katakan pada kedua orang tua kita nanti," kilah Kenzo.


"Oh, hanya karena itu. Tapi kemarin kamu bilang jika kamu menyayangiku." Felicia berucap seraya menahan tawanya. Ia tahu jika suaminya sebenarnya mengkhawatirkan dirinya hanya saja suaminya terlalu gengsi untuk mengakuinya.


"Aku tidak sadar mengucapkannya," kilah Kenzo.


Felicia melipat bibirnya untuk menahan tawanya. Menggoda suaminya sungguh menyenangkan.


"Baiklah jika kamu tidak mau mengakuinya." Felicia merangkul lengan Kenzo lalu merebahkan kepalanya di pundaknya.


"Tenang saja di dalam perutku ini juga anakku. Aku juga akan menjaganya dengan sepenuh hatiku," ujar Felicia dengan senyumnya.


Hening mengambil suasana di ruangan itu hingga beberapa saat kemudian. Felicia masih betah bergelayut manja di lengan kekar Kenzo. Rasanya sangat nyaman! Apalagi saat mencium aroma khas maskulin dari parfum yang dipakai oleh suaminya.


"Sampai kapan kamu akan tetap seperti ini?" tanya Kenzo.


Felicia hanya merespon pertanyaan suaminya dengan anggukan kepalanya saja.


"Kenapa kamu sangat manja?" keluh Kenzo.


"Tidak ada larangan untuk manja dengan suami sendiri," ucap Felicia.


Kenzo menghembuskan napasnya dengan kasar. "Terserah kamu saja."


Felicia terkikik geli, meskipun tidak melihatnya secara langsung, tetapi dirinya tahu jika suaminya sedang merasa kesal. Menurut Felicia jika suaminya sedang merasa kesal wajahnya akan terlihat sangat lucu.

__ADS_1


__ADS_2