Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Ending Season 2 (1)


__ADS_3

Dua minggu sudah Kenzo dan Felicia menghabiskan waktu di negeri sakura. Sudah saatnya mereka kembali ke negara asal mereka. Sebelum melakukan perjalanan, Kenzo lebih dulu mengajak Felicia ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Felicia. Rencananya mereka akan melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin anak mereka.


Dengan tangan yang mereka satukan, keduanya berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit menuju ruangan seorang Dokter kandungan. Jantung suami istri itu berlomba berdetak. Mereka merasa gugup karena sebentar lagi akan melihat buah cinta mereka yang belum mereka ketahui jenis kelaminnya. Namun, bagi mereka mau laki-laki ataupun perempuan sama saja yang terpenting dia sehat dan sempurna.


Di tengah perjalanan Kenzo melirik Felicia yang sepertinya sedang termenung, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa? Dari tadi aku perhatikan kamu sepertinya sedang memikirkan sesuatu?" tanya Kenzo tanpa menghentikan langkah mereka.


"Tidak, aku ... aku hanya sedang merasa gugup," jawab Felicia.


"Kenapa begitu?" tanya Kenzo.


"Sebentar lagi kita akan melihat anak kita. Kira-kira dia akan lebih mirip siapa, aku atau kamu?" tebak Felicia.


"Jelas wajahnya akan mirip denganku. Itu benihku," jawab Kenzo dengan asal.


"Itu tidak adil. Aku yang mengandungnya," protes Felicia.


"Ya sudah, kalau anak kita yang pertama ini lebih mirip aku, kita bisa program anak kedua yang mirip denganmu," ucap Kenzo.


"Issh ... kamu ini. Memangnya mudah membuat anak," cibir Felicia.


"Bukannya memang mudah. Kita hanya berapa kali mencobanya dan kamu lihat hasilnya." Kenzo mengusap perut Felicia yang sudah menonjol.


Mata Felicia melotot dan mendaratkan cubitan dipanggang Kenzo. Suaminya mudah sekali mengatakan hal yang bersifat pribadi di tempat umum, tetapi beruntung tidak ada orang yang memerhatikan mereka.


Langkah mereka berhenti setelah sampai di depan ruangan yang merupakan ruangan dokter kandungan di rumah sakit tersebut. Felicia duduk bersama dengan beberapa ibu hamil untuk mengantri, sedangkan Kenzo melangkah ke sudut tempat itu untuk menghubungi Alan menanyakan kabar perusahaannya. Saat giliran Felicia yang diperiksa tekanan darahnya Kenzo mengakhiri sambungan teleponnya dan berjalan ke dekat Keisha.


Setelah diperiksa tekanan darahnya, Felicia kembali mengantri. Beberapa saat menunggu akhirnya giliran Felicia untuk diperiksa oleh Dokter. Kenzo jelas setia menemani sang istri karena dirinya juga ingin melihat anaknya yang tumbuh di kandungan istrinya.


Dokter melakukan beberapa pemeriksaan terhadap Felicia lalu setelah itu Dokter memerintahkan Felicia untuk berbaring pada tempat yang ada di tengah ruangan itu. Dokter akan melakukan ultrasonografi pada kehamilan Felicia.

__ADS_1


Jantung Felicia dan Kenzo berdetak dengan sangat kuat, mereka tidak sabar melihat anak mereka. Tangan kembali mereka satukan, keduanya seolah merasakan rasa gugup satu sama lain.


Layar pada alat USG memperlihatkan dengan jelas gambar seorang bayi, tangan dan kakinya sangat mungil. Melihat itu Kenzo dan Felicia sangat terharu bahkan sampai air matanya kebahagiaan menggenangi mata mereka.


Kenzo terus memandangi layar pada alat USG ia ingin sekali menyentuh tangan buah cintanya dengan Felicia.


Anak aku.


Dokter menjelaskan keadaan janin kepada Felicia dan Kenzo. Setelah itu Dokter bertanya apakah mereka ingin mengetahui jenis kelamin anak mereka?


Tentu saja keduanya menjawab dengan kata iya!


Tangan Felicia dan Kenzo masih saling menggenggam. Mereka sangat antusias ingin segera mengetahui jenis kelamin anak mereka.


"Baiklah, ayo kita lihat jenis kelamin anak kalian." Dokter menggerakkan alat USG yang menempel di perut Felicia.


"Selamat Tuan dan Nyonya, anak pertama kalian berjenis kelamin laki-laki," ucap Dokter.


Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dari itu. Hingga Kenzo tidak mampu menahan air matanya untuk menetes. Ia terharu karena sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah.


Secepat itu statusnya berganti, dari seorang anak menjadi seorang suami, dan dari suami menjadi seorang ayah. Sungguh sangat menakjubkan!


Selesai memeriksakan kandungan Felicia, keduanya kembali ke hotel. Mereka harus segera membereskan barang-barang mereka karena harus kembali ke Indonesia malam itu juga.


"Sudah selesai semua?" tanya Kenzo saat keluar dari kamar mandi.


"Tinggal sedikit lagi," jawab Felicia sambil memasukkan barang-barang ke dalam koper.


Terlihat jelas beberapa barang-barang mereka masih berada di atas tempat tidur. Kenzo menaruh handuk di atas sofa dan setelah itu menghampiri istrinya.


"Biar aku saja yang melanjutkannya. Kamu istirahat saja." Kenzo menggeser tubuh Felicia menyuruhnya untuk duduk di atas tempat tidur. Sementara dirinya yang akan melanjutkan untuk membereskan barang-barang mereka.

__ADS_1


"Selesai." Kenzo berucap sambil menutup koper.


Setelah itu Kenzo duduk dengan menekuk kedua lututnya mensejajarkan tingginya dengan Felicia. Kenzo mengusap dan mencium perut istrinya yang sudah membuncit. Tidak lama setelahnya Kenzo merasakan pergerakan di perut istrinya yang membuat senyumnya mengembang.


"Aku tidak sabar menanti kehadiranmu," ucap Kenzo seolah bayi yang ada di perut istrinya bisa mendengarnya.


"Aku juga," sambung Felicia.


Felicia mengarahkan tangannya ke perutnya sendiri, menumpuk tangannya di atas tangan Kenzo. Felicia mempertemukan pandangannya dengan Kenzo, ada kebahagiaan yang terpancar dari matanya. Setelah itu Felicia memutuskan pandangan itu dan langsung memeluk Kenzo.


"Aku mencintaimu," ucap Felicia.


"Aku juga sangat mencintaimu," balas Kenzo.


Mereka masih ingin bersama, saling mendekap satu sama lain. Namun, sayangnya waktu terus berjalan membuat mereka harus segera mengakhiri kebersamaan mereka itu.


"Ini sudah waktunya kita berangkat. Kita harus segera bersiap-siap pergi," ajak Kenzo.


"Sebenarnya aku masih ingin di sini. Tapi sepertinya itu tidak mungkin," ucap Felicia.


"Kapan-kapan kita bisa ke sini lagi. Bersama anak kita nanti," ucap Kenzo yang langsung dianggukki oleh Felicia.


Dengan uang yang mereka miliki jelas mereka bisa berlibur ke luar negeri sesuka hati mereka. Hanya saja waktu luang sulit mereka dapatkan, membuat mereka tidak bebas untuk menghabiskan waktu bersama.


"Ayo kita berangkat," ajak Kenzo.


Kenzo menurunkan koper dan membantu Felicia berdiri. Setelah itu Kenzo melingkarkan tangannya di sepanjang pinggang Felicia mengajaknya pergi dari tempat itu.


Sampai di lobi hotel mereka langsung masuk ke mobil yang sudah dipersiapkan untuk mengantar mereka ke Bandara.


Keduanya duduk di bangku penumpang belakang. Felicia duduk sambil menyandarkan kepalanya di bahu Kenzo. Pandangan matanya melihat ke luar mobil, melihat indahnya pemandangan malam di kota itu.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, mereka sampai di bandara. Kedua turun dari mobil dan masuk ke dalam bandara. Private jet milik mereka sudah menunggu dan siap menerbangkan mereka kembali ke negara asal mereka.


__ADS_2