Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Ekstra Part Daniel dan Maura


__ADS_3

Sejak saat itu Daniel sama sekali tidak pernah bertemu lagi dengan Maura. Terkadang Daniel datang ke club malam berharap bisa bertemu lagi dengan Maura, tetapi tidak sama sekali. Perempuan itu seperti menghilang bagai ditelan oleh bumi. Meskipun pertemuannya sangat singkat, tetapi jujur itu sedikit berkesan di hati Daniel.


Kadang Daniel merasa lucu pada dirinya sendiri ketika mengingat awal pertemuannya dengan Maura. Untungnya juga tidak terjadi sesuatu pada malam itu.


Terhitung sudah hampir satu bulan setelah peristiwa itu. Daniel merasa dirinya tidak akan bertemu lagi dengan Maura.


"Di mana perempuan itu?" pikir Daniel.


"Daniel ada yang ingin mamah bicarakan denganmu," ucap Mariana.


Ucapan ibunya berhasil memecah lamunan Daniel. Daniel buru-buru ke meja makan untuk menghampiri ibu dan juga ayahnya.


"Ada apa, Mah? Apa yang kalian mau bicarakan?" tanya Daniel.


"Duduk dulu, Nak," suruh Ardi.


Daniel menarik salah satu kursi yang ada di meja makan. Lalu mendudukkan tubuhnya pada kursi itu.


"Mamah sama Papah sudah memutuskan untuk menjodohkan kamu dengan putri pertama dari keluarga Wirawan," jawab Mariana.


"Bukankah dulu keluarga mereka membatalkan perjodohan itu?" tanya Daniel.


"Itu dulu, karena anaknya juga menolak. Dan beberapa hari yang lalu mereka kembali menghubungi papahmu. Mereka bilang siap untuk kembali melakukan perjodohan itu," jelas Mariana.


"Bisa gak kalian tidak bicara tentang perjodohan itu lagi? Aku masih belum ingin menikah," tolak Daniel.


"Belum mau menikah atau kamu belum bisa melupakan si anak haram itu," sindir Mariana.


"Mah, berhentilah. Jangan menghina Flora lagi dengan sebutan itu," mohon Daniel.


"Terus saja kamu membela dia. Lagi pula kamu harus ingat, anak itu sudah memilih bersama kakak kamu si Gio," ucap Mariana.


"Gio juga bodoh bisa terjebak oleh perempuan itu," ucap Mariana.


"Mah sudah cukup!" Daniel menghela napas berat.


"Oke, aku menerima perjodohan itu. Lakukan saja apa yang Mamah mau," ucap Daniel.


"Aku berangkat ke kantor dulu," pamit Daniel.


"Kamu tidak sarapan dulu, Nak?" tanya Ardi.


"Aku sudah kenyang, Pah," sahut Daniel.


"Daniel, jangan lupa nanti malam keluarga kita akan bertemu dengan keluarga Wirawan," ucap Mariana.


"Iya." Daniel menyahut dengan rasa malas.


Daniel menyalami dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian. Setelah itu Daniel pergi dari ruang makan.


Daniel keluar dari dalam rumah itu dengan mengendarai mobilnya sendiri. Sepanjang perjalanan Daniel memikirkan tentang perjodohan itu. Apakah keputusannya tepat untuk menerima perjodohan itu?

__ADS_1


Mungkin dengan itu bisa membuat ibunya berhenti mengganggu Flora, dan juga bisa membuat dirinya melupakan Flora.


"Kaya apa sih anaknya om Wirawan?" batin Daniel.


*****


Daniel tengah bersiap di kamarnya. Rencananya malam itu ia dan keluarganya akan makan malam bersama keluarga Wirawan. Pertemuan dua keluarga itu untuk kembali membahas rencana perjodohan itu.


"Daniel kamu sudah siap?"


Daniel mendengar suara ibunya yang memanggilnya dari lantai dasar.


"Ya, Mah sebentar lagi." Daniel menyahut dari dalam kamarnya dengan sedikit berteriak.


Setelah memakai arloji ke pergelangan tangannya Daniel keluar dari kamarnya. Ia berlari kecil di anak tangga untuk menghampiri kedua orang tuanya.


"Semuanya sudah siap?" Mariana bertanya pada suami dan juga anaknya.


"Sudah, Mah," jawab Ardi yang langsung diangguki oleh Daniel.


"Ayo kita berangkat. Malu kalau kita telat," ajak Mariana.


Ketiganya berjalan bersama menuju ke teras rumah mereka dan masuk ke dalam satu mobil yang sama.


Mobil berjenis Alphard berwana hitam melaju melewati gerbang rumah itu.


"Kenapa muka kamu masam begitu, Daniel?" tanya Mariana.


"Kamu harus kelihatan ceria di depan calon istri kamu loh," suruh Mariana.


"Dia itu gadis yang baik, cantik, dia itu seorang model. Dan yang pasti keluarga mereka sepadan dengan keluarga kita," ucap Mariana.


"Terserah, Mamah saja." Daniel memilih diam dari pada meladeni perkataan mamahnya, karena Daniel tahu pasti ujung-ujungnya akan terjadi perdebatan.


"Dengar Daniel! Kamu itu anak kami satu-satunya. Kami ingin yang terbaik untukmu. Lupakan Flora, dia juga sudah bahagia bersama Gio," ucap Ardi


Daniel diam mencoba mencerna kata-kata ayahnya. Ada benarnya juga perkataan ayahnya. Dirinya juga harus mencoba membuka hatinya untuk perempuan lain dan melupakan Flora.


"Oke ...." Daniel menyahut dengan nada lirih.


"Nah begitu dong. Itu baru anak Mamah sama Papah," ucap Mariana.


Sudut bibir Daniel tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.


Mobil yang satu keluarga itu naiki berhenti setelah sampai di sebuah restoran. Ketiganya turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran. Mereka diarahkan untuk ke ruangan VIP oleh salah satu pegawai di restoran itu.


"Maaf kami telat," ucap Mariana.


"Tidak apa-apa kami juga baru sampai," sahut Diki. "Silahkan duduk."


"Perkenalkan ini anak kami, namanya Maura." Talita memperkenalkan Maura pada calon besannya.

__ADS_1


"Cantik sekali! Lebih cantik dari foto yang ada di majalah-majalah itu," puji Mariana.


"Terima kasih banyak, Tante," ucap Maura.


Mendengar nama Maura di sebutkan, Daniel langsung mengalihkan pandangannya. Benar saja Maura itu adalah perempuan yang sama, yang pernah bertemu di club malam.


Daniel melihat ke arah Maura. Begitu juga dengan Maura yang melihat ke arah Daniel. Keduanya mempertemukan pandangan mereka pada satu titik yang sama.


"Kamu!" ucap Maura dan Daniel bersamaan.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Diki.


"Hanya pernah bertemu." Daniel langsung menjawabnya dengan cepat.


Daniel tidak mau jika sampai Maura lebih dulu menjawabnya dan mengatakan apa yang pernah terjadi di antara mereka.


"Papah mau jodohin aku sama pria dingin ini?" tanya Maura.


"Pria dingin?" Diki nampak terkejut dengan perkataan Maura.


"Namanya Daniel, Maura," ucap Talita.


"Maura sudah tahu, Mah," balas Maura.


"Siapa juga yang mau dijodohkan sama kamu? Dasar perempuan pemarah, suka menuduh orang sembarang." Daniel membalas makian Maura.


Eh?


Kedua orang tua masing-masing hanya bisa melihat dan saling menggelengkan kepalanya mereka. Ada tawa kecil di sudut bibir mereka melihat pertengkaran anak-anak mereka.


"Eh, sudah." Talita melerai pertengkaran Muara dan juga Daniel. "Kalian ini sudah sama-sama dewasa, tapi masih bertengkar seperti anak kecil."


"Daniel, bicara yang sopan sama perempuan," ucap Mariana.


"Kamu juga Maura, jangan seperti itu," ucap Talita.


"Memang benar, Mah dia itu pria yang tidak punya perasaan." Muara kembali memaki Daniel.


"Dasar perempuan pemarah!" balas Daniel.


"Sudah cukup. Kalau kalian seperti ini terus papa jadi gak sabar untuk cepat menikahkan kalian," ucap Diki.


"Hah!"


Perkataan Diki langsung membungkam mulut Maura dan Daniel. Akan tetapi keduanya masih sama-sama menunjukan rasa ketidaksukaan satu sama lain.


"Ayo kita makan malam dulu. Baru setelah itu kita bahas tentang anak-anak kita," ajak Diki.


"Ya, itu ide yang bagus," imbuh Ardi.


Memang sudah tidak ada perdebatan di antara Maura dan Daniel, tetapi justru keduanya saling mencuri pandang dengan sudut bibir melengkung membentuk sebuah senyuman.

__ADS_1


__ADS_2