
Membuka hati untuk Gio demi melupakan Daniel sudah menjadi keputusan final bagi Flora. Dirinya sudah lelah untuk terus bertarung bersama Mariana yang merupakan ibu kandung Daniel. Meskipun dirinya menang dalam pertarungan itu, tetapi tidak menutup kemungkinan hidupnya dan Daniel tidak akan bahagia.
Dirinya tidak ingin sesuatu, Flora hanya ingin dicintai oleh laki-laki yang sangat mencintainya dengan keluarga yang mau menerima keadaannya. Kini hati Flora mulai terbuka untuk Gio. Meski hatinya mencoba menutup, tetapi Gio tahu bagaimana cara untuk membukanya kembali.
Kamu hanya perlu membuka hatimu untuk aku. Dan mencoba mempercayai perasaanku padamu.
Itulah kata-kata yang selalu Gio ucapkan pada Flora dan juga sudah Flora lakukan. Flora sudah sepenuhnya menerima perasaan Gio terhadapnya. Flora hanya perlu mengatakannya secara langsung pada Gio dan juga pada Daniel. Namun, ada kabar yang mengejutkan yang Flora dengar.
"Kamu sudah dengar kabar tentang bos kita."
Flora mendengar obrolan beberapa rekan kerjanya saat berada di toilet.
"Ya! Aku dengar bapak Gio akan dijodohkan dengan seorang model, anak dari pemilik perusahan Wirawan Group."
"Tapi yang aku tahu bapak Gio memiliki hubungan khusus dengan Flora."
"Tidak mungkin benar, palingan Flora juga hanya buat mainan oleh bapak Gio."
Tidak tahan dengan itu, Flora langsung keluar dari bilik kamar mandi.
"Jangan bikin gosip yang tidak-tidak. Aku dan bapak Gio hanya berteman." Setelah mengatakan itu Flora keluar dari toilet dan kembali ke meja kerjanya.
Flora kesal sendiri mendengar gosip tentang dirinya dan Gio atau mungkin merasa cemburu dan kecewa saat mendengar kabar perjodohan Gio.
Flora masuk ke dalam ruangan Gio untuk menaruh berkas yang harus ditandatangi oleh Gio. Saat itu Gio sedang keluar kota. Seandainya saja laki-laki itu ada maka Flora akan menagih penjelasan padanya.
Flora menghela napas berat kenapa di saat ia sudah melabuhkan hatinya pada Gio, laki-laki itu akan pergi dari kehidupannya?
"Baru ditinggal 2 hari sudah rindu."
Kepala Flora mendongak dan melihat Abi ada di hadapannya.
"Titipan dari, Bos." Abi memberikan bunga dan cokelat pada Flora.
"Ini dari Gio, Mas Abi?" Flora memandang karangan bunga yang ada di tangannya.
"Ya." Abi mengangguk.
"Abi ... boleh aku tanya sesuatu?" tanya Flora.
"Tidak jadi," ucap Flora.
Abi dibuat melongo dengan ucapan Flora.
"Ya sudah kalau tidak jadi. Aku masih ada banyak pekerjaan." Abi meninggalkan meja kerja Flora dan kembali ke pekerjaannya.
Seharian ini Flora tidak bersemangat bekerja apalagi tidak adanya Gio. Hari mulai petang dan Flora masih ada di kantor. Berulang kali Flora melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sudah jam 6 sore. Aku harus pulang."
__ADS_1
Flora membereskan pekerjaannya dan mengambil bunga yang diberikan oleh Abi. Ia tatap bunga itu sejenak.
"Aku mulai mencintaimu tapi kenapa seperti ini lagi." Flora mengela napas berat lalu beranjak dari meja kerjanya.
Saat Flora berjalan ke lift, ponsel dalam tasnya berdering. Flora menghentikan langkah kakinya dan merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya. Layar ponselnya memperlihatkan nama Daniel.
"Daniel," gumam Flora.
Flora ingin mengabaikan panggilan dari Daniel, tetapi mau sampai kapan dirinya akan mengabaikan Deniel. Akhirnya Flora menerima panggilan dari Daniel.
"Halo, Daniel," ucap Flora saat panggilannya tersambung dengan Daniel.
"Aku ingin bicara dengan mu, Flora. Aku menunggumu di cafe Melati," ucap Daniel dari seberang panggilan.
"Baiklah, kebetulan ada sesuatu yang juga ingin aku bicarakan padamu," balas Flora.
Flora menutup panggilan itu dan segera melangkah menuju lift. Sesampainya di lantai dasar gedung kantor itu, Flora segera melangkahkan kakinya menuju tempat mobilnya terparkir. Flora segera melajukan mobilnya dan melesat menuju cafe melati.
Jalanan sudah sangat padat membuat laju mobil Flora tersendat. Flora sampai di cafe dua jam setelah ia keluar dari tempat kerjanya. Setelah sampai di dalam cafe, Flora mengedarkan pandangannya untuk mencari Daniel. Pandangannya berhenti saat melihat Daniel tengah duduk di salah satu kursi yang ada di dalam cafe. Segera Flora melangkah untuk mendekati Daniel.
"Maaf aku terlambat," ucap Flora.
"Tidak masalah aku juga baru sampai," balas Daniel.
Flora menarik kursi yang ada di depan Daniel. Kini keduanya duduk dengan saling berhadapan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Flora.
Flora menarik tangannya yang digenggam oleh Daniel.
"Aku lelah, Daniel. Aku lelah terus bertarung dengan ibumu, maka dari itu aku memilih untuk menghindar dari mu."
"Kamu ingin menyerah?" tanya Daniel.
"Ya aku menyerah Daniel. Dan ... kini aku sudah mencintai orang lain," ucap Flora. "Maaf Daniel."
"Apa orang itu adalah Gio, Flora?" Flora langsung mengangguk.
"Maafkan aku, Daniel ... maaf."
Daniel kembali menarik tangan Flora dan menggenggamnya. "Flora ... untuk apa kamu minta maaf. Kamu tidak salah. Aku malah senang jika kamu sudah mendapatkan cinta yang lain."
"Apa maksudmu?" tanya Flora.
"Jujur aku juga sangat lelah terus menerus bertengkar dengan ibuku. Dan aku juga tidak ingin membuatmu selalu menjadi sasaran kemarahan ibuku."
"Aku senang jika kamu sudah menemukan cinta yang lain, Flora. Setidaknya aku akan tenang karena ada yang akan menjagamu dan mencintaimu lebih dari aku," ucap Daniel.
"Tapi meskipun begitu sudah terlambat, Daniel. Aku mendengar kalau Gio akan dijodohkan dengan perempuan lain," ucap Daniel.
__ADS_1
"Untuk hal itu masih belum dipastikan, Flora. Lagipula, om Farhan tidak akan menyetujui jika Gio tidak menginginkan perjodohan itu. Aku bisa pastikan, kamu akan menjadi kakak iparku, Flora."
Ada rasa lega dalam hati Flora setelah mendengar perkataan Daniel.
"Daniel ...." Flora memandang Daniel dengan mata-mata yang berkaca-kaca. "Apa aku sudah menyakitimu?"
"Tidak, Flora. Kamu sama sekali tidak menyakitiku, ini adalah kabar baik bagiku. Mungkin dengan ini Gio akan berhenti menjadi seorang playboy." Flora tertawa mendengar ejekan Daniel untuk Gio.
"Jadi ... apa kita putus lagi?" tanya Daniel diikuti tawa kecilnya.
Flora mengangguk dan setelah itu ia dan Daniel tertawa bersama. "Tapi kita masih bertaman, 'kan?"
"Itu tidak mungkin Flora. Jika Gio tahu pasti dia akan melarang kita," ucap Daniel diikuti tawa Flora.
"Ayo kita makan malam dan setelah itu aku akan mengantar kamu pulang," ucap Daniel.
"Apa makan malam ini untuk merayakan perpisahan kita?"
"Anggap saja begitu."
"Ini konyol Daniel." Flora menggelengkan kepalanya.
Daniel mengangkat tangannya untuk memanggil salah satu pelayan cafe dan tidak lama seorang pelayan cafe datang dengan membawa buku menu.
"Silahkan, Mas, Mbak, mau pesan apa?" tanya pelayan itu.
Flora dan Daniel membuka buku menu dan memilih makanan dan minuman yang ingin mereka makan.
"Mbak, aku mau nasi goreng seafood dan untuk minumnya jus mangga saja," ucap Flora. Pandangan Flora beralih pada Daniel. "Kamu mau pesan apa?" tanya Flora.
"Aku samain saja dengan pesanan kamu," sahut Daniel.
"Itu saja, Mbak." Flora menyerahkan kembali buku menu pada pelayan cafe.
"Di tunggu pesanannya." Pelayan cafe meninggalkan meja yang diduduki oleh Flora dan Daniel.
"Kamu tahu, Flora." Flora menggelengkan kepalanya. "Hari ini aku sangat bahagia?"
Flora menaikan satu alisnya, "Bahagia? Kenapa?"
"Karena kamu selingkuh dariku," jawab Daniel nyeleneh.
"Hah! Baru kali ini orang diselingkuhin merasa bahagia," ledek Flora.
"Jika saja bukan Gio orangnya aku tidak akan bahagia, Flora. Aku tahu dia pasti bisa melindungi mu lebih dari aku," ucap Daniel.
"Kamu sangat percaya kepadanya?" tanya Flora.
"Ya, karena dia kakakku dan aku sangat mengenal dia."
__ADS_1
Maaf semua baru bisa up. Aku kejar yang di ******* dulu. Sikankan mampir ke karya ku di sana dengan judul 'Mencintai Suami Kakakku' untuk kalian yang punya aplikasi *******. Terima kasih.