
Gavindra Abimana Ferdinand, Dia adalah anak kedua dari pasangan Flora dan juga Gio Ferdinand. Pria yang lahir 27 tahun yang lalu mewarisi sikap nakal ayahnya. Dengan postur tubuh tinggi atletis, wajahnya yang tampan, bicara yang manis, dan pandai membual selalu menjadi idaman kaum hawa. Ditambah dengan kekayaan yang dimiliki oleh kedua orang tuanya membuat para wanita siap dan rela membuka kakinya lebar-lebar untuk bisa dekat Gavindra.
Desas-desus mengenai kenakalan Gavindra sampai di telinga Flora juga Gio membuat mereka berencana untuk menjodohkan Gavindra.
"Apa dijodohkan? Aku tidak mau dijodohkan. Ini bukan zaman Siti Nurbaya," tolak Gavindra.
"Kenapa memangnya? Kakak kamu juga kami jodohkan," tanya Flora.
"Aku bisa mencari pasangan hidupku sendiri." Gavindra menolak untuk dijodohkan.
"Bagaimana jika gadis yang kau pilih tidak benar-benar mencintaimu?" tanya Flora.
"Aku akan membuat dia mencintaiku dalam waktu sekejap," jawab Gavindra dengan percaya dirinya yang tinggi.
Flora tertawa sambil menggelengkan kepalanya, lalu menatap suaminya. "Dia sama sepertimu, Sayang. Terlalu percaya diri," ucao Flora.
"Tentu saja. Dia anakku jelas mirip sepertiku," ucap Gio.
"Asalkan jangan mengikuti jejakmu yang suka mempermainkan hati wanita," ejek Flora.
"Tentu saja tidak, Sayang. Itu hanya masalaluku. Sampai detik ini aku hanya tunduk padamu." Gio meraih tangan Flora lalu mengecup punggung tangannya. Gio mencoba untuk merayu istrinya.
Gavindra memutar bola matanya, ia merasa jengah melihat kemesraan kedua orang tuanya, tetapi lucu juga di saat usia kedua orangtuanya sudah tidak muda lagi mereka masih terlihat romantis.
"Boleh aku pergi. Silahkan kalian menghabiskan waktu berdua," ucap Gavindra.
"Silahkan, tapi kamu harus ingat ini. Kami akan tetap menjodohkanmu dengan wanita pilihan kami," ucap Flora.
"Ayolah, Mam. Jangan seperti ini, aku tidak mau dijodohkan. Aku akan mencari pasangan sendiri," tolak Gavindra.
"Baiklah, kalau begitu. Mami sama papi kasih waktu ke kamu satu bulan untuk mencari wanita yang ingin kamu nikahi. Jika kamu tidak menemukannya, maka kamu harus mau menerima perjodohan ini," ucap Flora.
"Bagaimana jika aku tetap menolak?" tanya Gavindra.
"Maka jangan salahkan Mami jika nanti Mami akan menarik semua fasilitas yang Mami berikan padamu," jawab Flora.
"Apa? Ck, Mami ini sangat kejam." Gavindra berdecak lalu menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Dari raut wajahnya Gavindra terlihat sangat frustrasi.
Setelah itu ia melihat ke arah papinya. Tatapannya seolah memohon kepada sang ayah untuk membantunya. "Pap … bantu Gavindra. Please," mohon Gavindra."
"Kamu tahu jika mami-mu sangat kejam. Papi tidak akan berani melawannya," tolak Gio.
"Papi." Gavindra merengek seperti anak kecil.
Gio dan Flora melipat bibir mereka menahan tawa melihat Gavindra bersikap kekanak-kanakan.
"Sudah sana pergilah! Jangan membuang waktumu. Cepat cari wanita yang akan kamu nikahi. Jika kamu sudah menemukannya bawa ke sini!Perlihatkan kepada Mami dan Papi," ucap Flora seraya menahan tawanya.
"Baiklah. Gavindra pergi dulu," pamit Gavindra. "Dah, Mami, Papi." Gavindra mencium pipi Flora dan bertos dengan Gio sebelum pergi meninggalkan rumah itu.
Flora dan Gio memperhatikan Gavindra dengan tatapan penuh arti. "Sayang, apakah benar tindakan kita ini?" tanya Flora.
__ADS_1
"Hanya ini satu-satunya cara agar dia bisa bersikap lebih dewasa," ucap jawab Gio.
"Ya, semoga saja," ucap Flora.
"Sudahlah, ayo kita ke rumah Felicia. Papi kangen sama Keanu," ajak Gio.
*****
Gavindra mengendarai mobilnya dengan santai sambil menggerutu. Pria itu masih tidak habis pikir dengan ultimatum yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Mereka memberikan waktu satu bulan untuk mencari calon istri sendiri. Jika gagal maka tidak ada pilihan lain selain menerima perjodohan itu dan yang lebih menakutkan adalah sang mami mengatakan akan menarik semua fasilitasnya.
"Papi sama mami ada-ada saja. Memangnya nyari istri kayak beli sepatu. Dicoba dulu kalau tidak pas dikembalikan lagi," gerutu Gavindra.
Daripada terus menggerutu tidak jelas dan tidak berfaedah, Gavindra meminta pada Ciko, temannya, untuk mencarikan beberapa wanita yang mau menikah kontrak dengan dirinya.
Tiga hari sudah berlalu, Gavindra menyuruh Ciko membawa wanita-wanita yang mendaftarkan diri. Satu hari Gavindra menyeleksi 3 sampai 5 wanita yang ingin menjadi istrinya, tetapi belum ada wanita yang memenuhi kriterianya.
Dari semua wanita yang Ciko bawa memang sangat cantik dan seksi. Jelas selera Gavindra sekali. Namun, sikap yang mereka tunjukkan membuat Gavindra jengah dan kesal. Jika dirinya membawa salah satu wanita itu, tidak butuh waktu lama mami dan papinya akan segera menjodohkannya.
"Sayang, yuk kita ke kamar," ajak satu wanita yang bernama Ola.
"Hah, ngapain?" tanya Gavindra sambil bergidik.
"Ngapain saja. Main bola juga boleh." Wanita itu dengan tidak tahu malunya membuka kancing kemeja Gavindra. Padahal ada Ciko di dekat mereka.
"Apaan sih? Menyingkir dariku!" Gavindra menjauhkan Ola dari dirinya. Ia bergidik ngeri melihat wanita yang sangat agresif itu. "Ciko suruh wanita ini keluar!" perintah Gavindra.
"Baik." Ciko membawa Ola keluar dari apartemennya. Namun, karena Ola menolak membuat Ciko harus menariknya secara paksa.
"Apa yang lucu?" tanya Gavindra kesal.
"Ekpresimu," jawab Ciko. "Wanita tadi mengajakmu main bola di kamar, kenapa tidak mau? Biasanya kau tidak akan menolak jika bersenang-senang di dalam kamar," ucap Ciko.
"Aku sedang tidak mood," jawab Gavindra.
"Masa. Tapi aku rasa kamu sedang stres dengan masalahmu. Jadi anu-mu tidak bekerja dengan baik," ledek Ciko.
Gavindra terbelalak mendengar ucapan Ciko. Temannya tidak tahu saja, mati-matian dirinya menahan hasratnya saat melihat wanita berpakaian mini. Hanya saja Gavindra berpikir itu bukan saatnya, ia harus bergegas menemukan wanita yang diinginkannya.
"Mau aku panggilkan wanita tadi untuk memuaskanmu. Kamu terlihat sangat frustrasi," ucap Ciko diikuti tawanya.
"Diam, kamu!" Gavindra melempar bantal sofa dan tepat mengenai wajah Ciko.
Apa yang dilakukan oleh Gavindra membuat Ciko tertawa puas.
"Ciko, kenapa kamu membawa wanita-wanita seperti mereka?" Gavindra bertanya dengan sedikit kesal.
"Bukankah mereka semua itu tipemu," jawab Ciko.
"Aku tahu. Tapi kamu bisa membayangkan reaksi kedua orangtuaku saat melihat mereka nantinya, 'kan?" ucap Gavindra.
"Kalau begitu daripada kamu pusing-pusing memilih wanita yang sesuai dengan selera kedua orangtuamu, lebih baik kamu terima saja perjodohan itu," saran Ciko.
__ADS_1
"Tidak mau. Akan jatuh harga diriku jika aku menerima perjodohan itu. Semua orang akan menganggap aku tidak laku," tolak Gavindra.
"Bukankah kak Felicia juga dijodohkan. Tapi dia biasa saja," ucap Ciko.
"Diam! Aku tidak ingin berdebat. Daripada kamu terus menceramahiku lebih baik kamu carikan aku wanita yang polos. Jangan seperti wanita-wanita sebelumnya!" perintah Gavindra.
"Ya, baiklah," ucap Ciko.
Ciko akan pergi, tetapi anak buah Gavindra masuk dan mengatakan ada satu wanita yang bersikeras untuk bertemu dengan Gavindra. Anak buah Gavindra mengatakan jika wanita itu ingin menikah kontrak dengan Gavindra.
"Kalau begitu suruh dia masuk!" perintah Gavindra.
"Tapi …." Anak buah Gavindra nampak ragu untuk bicara.
"Ada apa?" Kening Gavindra mengerut.
"Wanita itu terlihat tidak menarik," jawab nya.
"Kalau begitu cepat usir dia!" perintah Gavindra.
"Baik, Pak," sahut anak buah Gavindra.
Gavindra menjatuhkan dirinya di sofa. Ia menggusar rambutnya kasar merasa kesal karena keinginannya tidak tercapai.
"Hei, kenapa kamu tidak melihat melihat dulu wanita itu. Mungkin saja wanita itu seperti apa yang kamu mau," saran Ciko.
"Kamu saja yang melihatnya. Aku sudah tidak mood," tolak Gavindra.
Saat sedang merasa frustrasi Gavindra mendengar keributan yang membuat kepala Gavindra rasanya ingin pecah.
"Menyingkir! Aku ingin menemui bos-mu!"
Kening Gavindra mengernyit mendengar suara teriakan seorang wanita. Namun, karena moodnya sedang tidak bersahabat membuat Gavindra tidak ingin tahu.
"Ciko, urus keributan itu!" perintah Gavindra.
Ciko berdiri untuk melihat keributan yang sedang terjadi, tetapi belum sempat Ciko melangkah ada seorang wanita yang menerobos masuk ke apartemennya.
"Ada apa ini?" tanya Ciko.
"Maaf, Pak. Wanita ini memaksa masuk," jawab anak buahnya.
"Mengurus satu wanita saja tidak becus!" hina Gavindra.
"Aku ingin bertemu dengan laki-laki bernama Gavindra," ucap wanita itu.
"Ada apa kamu ingin bertemu denganku?" Gavindra mendongak melihat ke asal suara.
Bibir Gavindra melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman saat melihat wanita yang berdiri tidak jauh darinya.
"Aku bersedia menikah kontrak denganmu," jawab wanita itu.
__ADS_1