
Daniel memberhentikan laju mobilnya tepat di depan rumah seseorang yang ia yakini sudah mengirimkan bunga dan cokelat untuk Flora, dia tidak lain adalah Gio, sepupunya sendiri. Daniel yakin saat melihat tulisan tangan di kartu ucapan itu.
Mata Daniel melihat mobil Gio baru saja masuk melewati pintu gerbang rumah besar milik kakak dari ayahnya. Daniel memutuskan untuk keluar dari dalam mobilnya dan melangkah menghampiri Gio.
Daniel melangkah dengan langkah angkuhnya dengan satu tangan ia masukkan ke dalam saku celananya.
"Aku tidak percaya jika seorang playboy sepertimu bisa mendekati seorang gadis secara sembunyi-sembunyi?" sindir Daniel.
Gio yang baru saja keluar dari dalam mobilnya langsung mengubah arah pandangnya ke arah Daniel.
"Apa yang kamu lakukan malam-malam di sini?" tanya Gio. Ada sedikit rasa keterkejutan di diri Gio saat melihat Daniel datang ke rumahnya. "Mengganggu saja."
"Hanya merindukan kakak sepupu ku saja," jawab Daniel asal.
Daniel berhenti melangkah tepat di hadapan Gio lalu ia menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil Gio yang tertutup dengan kedua tangan ia lipat di depan dadanya.
"Konyol," ucap Gio.
"Kamu berusaha mendekati Flora, tetapi pergi berkencan dengan Bianca. Apa itu bagian dari rencanamu untuk mencoba membuat Flora cemburu?" tanya Daniel.
"Tidak. Aku tidak mengira jika Bianca akan datang." Gio ikut menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil tepat di samping Daniel. "Bianca perempuan yang membosankan." Ada tawa kecil di bibir Gio.
"Lalu kamu sendiri? Bagaimana hubunganmu dengan Flora?" tanya Gio pada Daniel.
"Baik-baik saja. Bahkan lebih baik dari saat kami mejadi sepasang kekasih," jawab Daniel.
Pandangan keduanya sama-sama mengarah ke langit malam.
"Kamu tidak ingin mendekatinya lagi?" tanya Gio.
"Aku sedang berusaha, tetapi rasanya kami lebih nyaman seperti ini." Daniel melihat sekilas ke arah Gio.
"Kenapa? Apa ini karena tante Mariana dan om ardi?" tanya Gio.
"Itu salah satunya, tetapi aku melihat kebahagiaan Flora dalam hubungan kami yang sekarang. Aku tidak akan memaksanya untuk kembali bersamaku. Jika dia menginginkan kembali, aku akan menerimanya dengan senang hati dan jika dia tidak ingin dan memilih untuk bersama yang lain aku akan ikhlas," jelas Daniel.
"Ucapan yang bijak. Jadi aku memiliki kesempatan untuk mendekati dia?" goda Gio.
"Silahkan saja, aku tidak akan melarangnya," ucap Daniel. "Aku berharap jika kamu bersamanya nanti, kamu bisa membuatnya bahagia," lanjut Daniel.
__ADS_1
"Jadi itu artinya kamu ingin menyerah?" tanya Gio.
"Aku tidak berdaya Gio, di sisi lain orangtuaku dan di sisi lain perempuan yang sangat aku cintai," jawab Daniel. "Kedua orangtuaku tidak merestui hubungan kami dan di saat mereka mau merestui aku harus mendapatkan kursi kepemimpinan di perusahaan dulu. Aku lelah hidupku selalu di atur oleh mereka," keluh Daniel.
"Ayolah Daniel ini tidak seru! Kamu menyerah sebelum berperang," ucap Gio. Daniel hanya tersenyum tipis dan menggeleng kecil menanggapi ucapan Gio.
"Ayolah kita bersaing siapa yang bisa mendapatkan hati Flora?" tanya Gio.
Daniel mengubah arah pandangnya ke arah Gio dengan satu alis terangkat. Daniel nampak berpikir sejenak sebelum menyetujui perkataan Gio. "Oke," sahut Daniel.
"Bagus. Kita tidak akan saling bunuh jika dia memilih salah satu dari kita, 'kan?" tanya Gio nyeleneh.
Daniel menatap tajam ke arah Gio dan di sambut kekahan oleh Gio.
"Apa separah itu kebencian kita satu sama lain?" ledek Daniel disambut tawa kecil keduanya.
"Bagaimana jika Flora tidak memilih di antara kita?" tanya Daniel.
"Jangan menakutiku?" ucap Gio.
Gelak tawa Daniel terdengar di indra pendengaran Gio dan langsung membuat Gio mendengus kesal. "Apa yang kamu tertawakan?" sungut Gio.
"Playboy sepertimu takut patah hati," ledek Daniel.
"Berhentilah tertawa! Dasar menyebalkan!" gerutu Gio.
Daniel perlahan melunturkan tawanya saat melihat wajah kakak sepupunya sudah mulai kesal.
"Sudah selesai tertawa?" sungut Gio. "Kalau sudah … cepat pulang sana aku mau istirahat!" usir Gio.
Gio mengendurkan ikatan dasinya yang seolah sudah mencekiknya seharian itu. "Pekerjaan ini sangat melelahkan," gerutu Gio. "Apa kamu sudah tidak berniat untuk berebut kursi kepemimpinan itu dengan ku?" tanya Gio.
"Aku sudah tidak berminat. Aku merasa bebas dengan hidupku sekarang dan aku tidak ingin hidupku di kendalikan oleh kedua orang tuaku," jawab Daniel.
"Tapi ini sudah di sungguh melelahkan," keluh Gio.
"Nikmati saja tanggung jawab mu itu dan aku sekarang yang akan menikmati kebebasan ku," ucap Daniel seraya merenggangkan otot-ototnya yang kaku seraya menghirup udara kebebasan.
"Sudahlah aku akan pulang," pamit Daniel.
__ADS_1
"Bagus! Sudah sana pulang, lebih cepat lebih baik," ucap Gio. "Aku bosan melihat wajahmu di sini?"
Daniel tidak marah mendengar pengusiran yang dilakukan oleh Gio, ia justru malah tertawa puas karena berhasil membuat kakak sepupunya itu kesal.
"Baiklah … selamat malam," ucap Daniel.
"Selamat malam juga," balas Gio.
Daniel melangkah ke arah mobilnya yang terparkir di depan gerbang rumah besar milik kakak sepupunya. Namun saat Daniel teringat akan sesuatu ia memberhentikan langkah kakinya.
Daniel kembali berbalik menghadap ke arah Gio. "Oh iya aku melupakan sesuatu."
"Apa lagi …?" kesal Gio karena Daniel tidak cepat pergi.
"Kata Flora tulisan tanganmu lebih buruk dari cakaran ayam," ucap Daniel.
"Hah! Apa seburuk itu?" Gio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Mungkin?"
Setelah mengatakan itu Daniel berbalik dan kembali meneruskan langkahnya menuju mobilnya.
Mata elang Gio melihat mobil yang dikendari oleh Daniel melaju meninggalkan rumahnya dan Gio pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya.
Gio masuk ke dalam rumah dan langsung melangkah menaiki anak tangga menuju ke kamar tidurnya. Gio membuka pakaian atasnya lalu melangkah ke arah balkon kamarnya dengan bertelanjang dada.
Ada satu batang bernikotin yang terselip di sela jarinya. Gio memainkannya satu batang rokok di jarinya sebelum memutuskan untuk membakar ujungnya dengan korek api.
Ada banyak pertanyaan tentang perasaannya pada Flora yang masih belum bisa Gio jawab. Bagaimana dirinya bisa jatuh hati pada gadis itu. Awalnya dirinya hanya ingin menggoda Flora karena ia pikir Flora sudah berani menggoda papanya. Namun ternyata ia salah mengira.
Perlahan saat Gio tahu yang sebenarnya tentang Flora, makin membuat rasa ingin melindungi datang dan lama kelamaan ia dekat dengan Flora sebuah rasa peduli itu berubah menjadi sebuah rasa suka. Bagi Gio ada daya tarik tersendiri di diri Flora yang membuatnya jatuh hati.
Gio menghisap rokok lalu mengepulkan asapnya. Ada tawa kecil di bibir Gio mengingat persaingannya dengan Daniel.
"Dasar bodoh." Gio mengatai dirinya sendiri, bagaimana dirinya bisa terjebak perasaannya sendiri pada Flora.
Setelah menghabiskan satu batang bernikotin itu, Gio kembali masuk ke dalam kamarnya. Langkah Gio kemudian mengarah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara di tempat lain Daniel sedang mengemudikan mobilnya menuju tempat tinggalnya. Pikirannya pun sama dengan Gio yang dipenuhi oleh nama Flora saja.
__ADS_1
Rasa cintanya pada Flora masih sama seperti dulu. Jika boleh jujur Daniel masih sangat ingin menjalin ikatan atas nama cinta dengan Flora, namun Daniel tidak bisa menanggung resiko lagi jika kedua orangtuanya kembali menyakiti Flora. Daniel juga tidak bisa melawan kedua orangtuanya sendiri. Daniel hanya berharap suatu saat nanti Flora bisa menemukan seseorang yang dapat menjaga dan membahagiakannya lebih baik dari dirinya.
Masih slow up gaes