Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Kembali Pulang


__ADS_3

Jam masih menunjukkan pukul satu siang. Flora masih ada di ruang perawatan. Rencananya Flora pulang sore hari nanti.


Ruangan VVIP itu sedang ramai oleh keluarganya ditambah lagi Rossa datang untuk menjenguknya sekaligus untuk bertemu dengan Gio.


Sama halnya dengan yang lain, Rossa pun awalnya tidak mempercayai laki-laki yang ada di hadapannya itu adalah Gio.


“Kamu benar Gio?” tanya Flora.


“Hmmmm,” gumam Gio.


“Masa? Kamu jadi ganteng banget dengan wajah baru ini?” puji Rossa. “Tapi —”


“Tapi apa?” sungut Gio.


“Aku masih gak percaya jika kamu adalah Gio,” ucap Flora.


“Terserah!” ucap Gio tidak peduli dengan perkataan Rossa. “Aku juga gak peduli kamu mau percaya apa gak. Karena yang terpenting bagiku, istriku percaya ... itu sudah cukup.” Gio mengecup pipi Flora di hadapan semua orang tanpa rasa malu.


“Kalian ngobrol dulu ya, kami mau ke kantin dulu,” pamit Mariana.


“Ya, Tante,” sahut Flora.


“Ibu juga sekalian ikut,” sambung Seruni.


Seruni, Mariana, dan Ardi keluar dari ruang rawat Flora bersama-sama. Kini di ruang rawat itu hanya ada empat orang, Flora, Gio, Rossa, dan Daniel. Mereka kembali melanjutkan obrolan mereka.


Kini Rosa yang mengawali pembicaraan. Rosa tetap belum mempercayai sepenuhnya jika laki-laki itu adalah Gio. Untuk memenuhi rasa penasarannya, Rossa mengajukan sebuah pertanyaan yang ia yakini hanya Gio yang mampu menjawabnya.


“Jika kamu Gio ... pasti kamu bisa menjawab pertanyaan yang aku berikan padamu,” ucap Rossa.


“Apa?” tanya Gio.


“Kapan pertama kali kita melakukan hubungan layaknya suami-istri?” tanya Rossa.


Flora, Daniel, serta Gio terkejut setelah mendengar pertanyaan yang Rossa lontarkan. Gio adalah orang yang paling terkejut mendengar pertanyaannya yang mantan kekasihnya itu lontarkan. Bagaimana bisa dengan mudahnya Rossa bertanya sesuatu yang bersifat pribadi.


“Pertanyaan macam apa itu, Rossa,” omel Gio.


“Jika kamu bisa menjawabnya, itu berarti kamu itu Gio,” ucap Rossa.


“Apa kamu tidak berpikir? Pertanyaanmu itu bisa menimbulkan masalah aku dengan istriku,” omel Gio.


“Jawab saja,” ucap Flora.


Gio langsung mengalihkan pandangannya ke arah Flora.


“Apa yang kamu katakan? Kamu jangan mendengarkan perempuan ini!” ucap Gio.


“Hei, Flora sudah menyuruhmu,” ucap Rossa. “Sudah jawab saja! Atau memang kamu bukan Gio makanya kamu tidak tahu jawabannya,” tuduh Rossa.


“Sudah jawab saja,” ucap Daniel yang bermaksud untuk menambah panas suasana di kamar rawat inap itu.

__ADS_1


“Jangan ikut-ikutan,” ucap Gio.


“Ayo jawab,” suruh Rossa.


“Jika istriku marah ... kalian yang harus bertanggung jawab,” ucap Gio.


“Dia tidak akan marah,” ucap Rossa. “Aku hanya ingin memastikan saja jika kamu itu adalah Gio. Karena hanya Gio yang asli yang tahu semua kejadian di masa laluku,” ucap Rossa.


“Tapi pertanyaanmu bisa membuatku dalam masalah,” ucap Gio dengan nada kesal.


“Sudah ayo jawab! Aku juga ingin tahu apa yang terjadi di masa lalu kalian,” imbuh Flora.


“Kamu benar-benar ingin tahu, Sayangku.” Gio melihat ke arah Flora. Raut di wajahnya seolah memberikan peringatan kepada Flora.


“Ya.” Flora membalas tatapan Gio.


Sejujurnya Flora tidak lagi membutuhkan bukti apapun untuk membuktikan jika Elang adalah Gio. Setelah semalam mengabiskan waktu mengobrol dengan laki-laki itu, Flora sudah yakin seratus persen jika Elang adalah Gio.


Namun, pertanyaan yang Rossa lontarkan membangkitkan rasa penasaran Flora pada masa lalu suaminya.


“Ayo jawab,” desak Rossa.


“Malam setelah aku lulus dari SMA. Tepat sebelum aku akan pergi ke luar negeri,” jawab Gio. “Dan itupun karena aku dan kamu sama-sama tidak sadar. Kita minum malam itu.”


Rossa ternganga begitu juga Flora, sedangkan Daniel terkikik geli. Daniel merasa jika Gio akan menghadapi masalah besar dengan istrinya.


“Puas,” ucap Gio.


“Iya ....” Rossa mengangguk tanpa bisa mengalihkan pandangannya dari Gio.


Flora menarik lengan Gio agar suaminya lebih dekat dengannya. “Setelah sampai di rumah, aku akan menghabisimu.”


Flora berucap lirih. Namun, perkataanya masih bisa di oleh Rossa dan juga Daniel dan langsung membangkitkan tawa mereka. Flora tidak akan marah dengan Rossa ataupun Gio, Flora tahu jika itu hanya kejadian di masa lalu.


“Ya ampun akhirnya aku bisa melihat wajah galakmu ini. Aku sangat merindukan ini,” ucap Gio dan langsung dibalas cibiran oleh Flora.


“Baiklah aku sudah percaya jika kamu adalah Gio. Jadi aku pulang saja,” pamit Rossa.


“Kok pulang, kita bahkan belum mengobrol,” ucap Flora.


“Aku tidak mau menganggu kalian,” ucap Rossa. “Dan lagi aku tidak bisa terlalu lama meninggalkan bayiku di rumah.”


“Baiklah. Tapi jangan lupa Minggu depan datang ke rumahku,” ucap Flora. “Bawa bayi dan juga suamimu.”


“Itu pasti,” sahut Rossa.


Sebelum berpisah Rossa dan Flora saling mencium pipi kanan dan kiri satu sama lain.


“Daniel ayo kita pergi dari sini. Jangan menjadi orang ketiga di antara mereka,” ajak Rossa.


“Benar itu, sana pergi,” usir Gio.

__ADS_1


“Awas loh ini masih di rumah sakit. Jangan berbuat macam-macam,” ucap Daniel dibalas dengkusan oleh Gio.


“Cepat nikahin Maura, jadi gak kelamaan sendiri,” ejek Gio.


“Berisik.” Daniel mengomel, tetapi dibalas tawa oleh Gio.


“Baiklah, aku akan urus administrasi Flora,” ucap Daniel. “Ayo Rossa ... aku akan mengantarmu keluar,” ajak Daniel.


Rossa mengangguk lalu melambaikan tangannya ke arah Gio serta Flora. “Daah ... sampai jumpa lagi.”


Flora dan Gio pun membalas lambaian tangan Rossa.


“Jangan diliatin terus, mantan kekasihmu itu sudah pergi” omel Flora saat Gio terus memperhatikan pintu.


“Aku tidak memperhatikan Rossa, aku hanya memastikan mereka tidak masuk lagi,” ucap Gio.


“Memang kenapa, kalau mereka masuk lagi?” tanya Flora.


Gio tidak menjawab, melainkan langsung memberikan kecupan di bibir Flora.


“Aku sangat merindukan dirimu,” bisik Gio sebelum kembali mengecup bibir istrinya.


Flora terkejut dengan tindakan suaminya. Namun, hormon dalam dirinya membuat Flora membalas ciuman suaminya. Sejujurnya Flora juga merindukan kasih sayang Gio melalui sentuhannya.


“Ibu Flora ... saya periksa dulu sebelum pulang ya.”


Gio dan Flora yang mendengar suara itu langsung memisahkan bibir mereka. Dalam hati mereka berharap jika Dokter dan perawat itu tidak melihat apa yang mereka lakukan. Sayangnya Dokter jaga itu sudah sempat melihat apa yang sedang suami-istri itu lakukan.


“Maaf ... ganggu.” Dokter itu merasa malu sendiri.


*****


Flora dan Gio sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit. Gio merasa senang bisa kembali pulang ke rumahnya. Flora juga merasa senang dirinya bisa berkumpul kembali dengan suaminya. Sepanjang perjalanan Flora bergelayut manja di lengan Flora.


Mobil Alphard berwarna putih mengantar mereka. Flora dan Gio duduk di bangku penumpang paling belakang. Flora terus merangkul lengan Gio dan merebahkan kepalanya di pundak Gio.


Mariana yang sedari tadi melihat mereka hanya tersenyum-senyum saja. Mariana pun jadi memiliki kesempatan untuk menggoda mereka.


“Ya ampun, Flora ... suami kamu gak akan kemana-mana. Sampai segitunya,” ledek Mariana.


“Sirik saja, Tante nih. Bilang aja kepengin,” balas Flora. “Tuh di samping Tante ada om Ardi.”


“No, no, no, tante sama om kalau mau mesra-mesraan di kamar gak di depan umum kaya kalian,” ucap Mariana.


“Tante ada rencana buat kasih Daniel adik,” ledek Gio.


“Husst .... ngawur,” ucap Ardi.


“Wajah kamu berubah, tapi sikap kamu masih saja sama.” Mariana melempar bantal kecil yang ada di dekatnya dan melemparnya tepat mengenai wajah Gio.


Tawa semua orang pun langsung menggelegar di dalam mobil itu.

__ADS_1


__ADS_2